The Devil's Touch

The Devil's Touch
#158



Berbeda dengan Maxime yang menghabiskan malam di pasar malam, Arsen dan Miwa memilih makan malam di sebuah restaurant yang berada di dekat pantai.


Pantai menjadi pemandangan indah untuk restaurant tersebut, mereka biasanya datang ke restaurant sore hari untuk melihat senja.


Arsen mengisi wine ke dalam gelas kecil dan memberikan nya kepada Miwa, Miwa dan Tessa dari dulu memang sering minum alcohol.


Miwa kembali mendorong gelas kecil tersebut meminta wine kembali.


"Sudah cukup, jangan banyak-banyak," sahut Arsen.


"Tapi kan--" ucapan Miwa berhenti ketika Arsen menatapnya tajam seakan sebuah peringatan untuk Miwa.


Miwa menghembuskan nafas lalu menyenderkan punggung nya di sandaran kursi seraya menatap deburan ombak pantai di malam hari.


"Mau ke sana?" tanya Arsen menatap pesisir pantai di depan.


Miwa menoleh ke arah Arsen lalu menganggukan kepala. Akhirnya mereka berdua berjalan di pesisir pantai dengan Miwa yang mengikuti langkah Arsen dari belakang.


Miwa sudah tidak canggung lagi bersama Arsen yang kini menjadi kekasihnya. Dia kembali menjadi Miwa yang cerewet dan menyebalkan.


Seperti sekarang, Miwa menendang-nendang pasir sampai mengenai celana Arsen. Dia menggulum senyum di wajahnya. Arsen terlihat mendengus kasar lalu membalik.


"Miwa!"


"Apa? bukan aku! kaki ku." Miwa mengangkat kaki kanan nya. Arsen menggeleng kecil lalu berjalan mendekati Miwa dan menggenggam tangan perempuan itu.


Miwa tersenyum, bukan hanya mereka berdua yang berjalan di pesisir pantai, banyak pengunjung yang juga menikmati pantai malam bersama kekasih dan teman-teman mereka.


Miwa menyadari sedari tadi ada sekelompok perempuan yang memandangi mereka. Perempuan itu terlihat menatap Arsen dengan tersenyum seraya berbincang-bincang dengan teman-teman nya yang lain.


Miwa dengan hati-hati memasukan tangan nya ke dalam tas, merogoh sesuatu di dalam tas nya. Sebuah pistol ia arahkan ke arah sekelompok perempuan tadi.


Walaupun perempuan, tetap saja Miwa adalah anak Javier De Willson dan kembaran Maxime. Pistol dan benda-benda tajam bukan hal menakutkan lagi bagi nya, Miwa juga mempunyai kemampuan bela diri yang baik, memanah dan berkuda. Semua itu di ajarkan Javier dan di latih ketika dewasa oleh Maxime dan Arsen.


Miwa membidikkan pistol tersebut, menarik pelatuk lalu ketika hendak menembak, Arsen berbalik dengan cepat, mengarahkan pistol tersebut ke atas dan langsung menc*um Miwa.


DOR


Peluru itu terlepas begitu saja ke atas membuat yang lain menjerit kaget dengan Arsen dan Miwa yang masih berci*man.


Mereka semua mencari-cari siapa yang bermain pistol sembarangan di pantai sampai akhirnya mata mereka mendapati wajah Arsen.


Mereka ingin marah, tapi melihat wajah Arsen melunakkan kemarahan mereka.


"Loh, itu bukan nya Tuan Arsen dan Nona Miwa?" bisik para pengunjung pantai.


"Bukankah mereka adik kakak?"


"Mereka tidak sedarah, tapi aku tau hubungan mereka dari kecil hanya sebatas adik kakak."


"Tapi kenapa mereka berci*man?"


"Ini berita besar, ayo kita sebarkan."


Arsen melepas cium*n nya. "Kenapa kau mengeluarkan pistol Miwa?!"


"Mereka melihat Kak Arsen dari tadi," sahut Miwa lalu menoleh ke arah para pengunjung yang sedang mengangkat ponsel mereka.


"Dan sekarang mereka memotret kita," lanjut Miwa membuat Arsen pun menoleh ke arah yang lain.


Sontak mereka semua menurunkan pistolnya dan buru-buru pergi menjauh dari Arsen dan Miwa.


Arsen menghembuskan nafas. "Pasti sudah tersebar di internet. Keluarga kita akan melihatnya."


"Aku akan menyuruh mereka menghapusnya!" Miwa hendak pergi tapi tangan nya di tahan oleh Arsen.


"Tidak perlu, biarkan saja."


Arsen menarik tangan Miwa, keduanya kembali berjalan di pesisir pantai dengan Arsen yang merangkul pundak Miwa.


"Miwa ..."


"Ya?"


"Bisakah jangan memanggilku Kakak lagi?" Arsen menatap Miwa.


"Lalu mau di panggil apa?" Miwa balik bertanya.


"Terserah!" sahut Arsen lalu mengalihkan pandangan nya ke arah deburan ombak.


Miwa memikirkan panggilan apa yang cocok untuk Arsen.


"Boo ..."


Arsen menghentikan langkahnya lalu menatap Miwa seraya menaikkan satu alisnya. "Boo?"


"Ya, bahasa Perancis artinya kekasih."


Arsen menyunggingkan senyumnya lalu mengacak-ngacak gemas kepala Miwa. "Itu bagus, Bee ..."


"Bee?" Miwa mengerutkan dahi nya. "Itu kan lebah."


"Mulutmu sama tajam nya dengan sengatan lebah," sahut Arsen membuat Miwa melebarkan matanya.


Panggilan Bee itu karena Miwa yang cerewet. Arsen menyamakan mulut Miwa dengan sengatan lebah.


Arsen tersenyum lalu berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Miwa.


"Berani sekali mengataiku seperti itu," teriak Miwa lalu berjalan mengejar langkah Arsen dan Arsen tertawa seraya berlari menjauhi Miwa.


Mereka sering menghabiskan waktu berdua dari dulu, tapi statusnya masih adik kakak. Berbeda dengan sekarang, panggilan Boo dan Bee itu menjelaskan status mereka yang kini sebagai pasangan kekasih.


Bersambung