
Milan turun dari sepedah melihat ke sekeliling pasar malam yang cukup ramai malam ini, lampu warna-warni, beberapa wahana yang ramai di nikmati para pengunjung. Maxime dan Milan masih berada di parkiran.
"Maxime ayo naik itu ..." Milan menunjuk bianglala.
Maxime menggeleng. "Tidak!"
"Kenapa?" Milan terlihat kecewa karena Maxime menolak.
"Aku takut kau jatuh," sahut Maxime lalu menggenggam tangan Milan masuk ke pasar malam tersebut.
"Maxime jangan bilang kau takut ketinggian. Lagi pula jatuh bagaimana, kita kan terkurung di dalam sana." Milan kembali menunjuk bianglala yang sedang berputar.
"Aku tidak suka naik itu, bentuknya seperti sangkar burung."
Milan tertawa. "Tapi aku mau ..." rengeknya dengan manja seraya menggoyang-goyangkan lengan Maxime.
Maxime menghentikan langkahnya lalu menatap Milan. "Lagi ..."
"Apa?" tanya Milan.
"Seperti tadi," titah Maxime.
"Seperti apa?"
"Merengek seperti tadi."
Milan dengan sikapnya yang tomboy tidak pernah menunjukan rengekan manja seperti tadi, ini kali pertama Maxime mendengarnya dan ia suka itu.
Milan melepas tangan nya dari genggaman Maxime lalu bersedekap dada. "Tidak!" ucapnya seraya membuang muka ke arah lain.
Maxime menghela nafas kasar. "Cepatlah sekali lagi saja!"
Milan tetap menggeleng.
"Oh yasudah tidak usah naik!" ucap Maxime lalu berjalan beberapa langkah tapi langkahnya tersebut kembali berhenti dengan rengekan manja Milan.
"Maximeeeee ..."
Maxime menyunggingkan bibirnya senyum lalu berbalik mendekati Milan dan merangkul gadis itu. "Oke sayang ..."
Milan tersenyum senang, keduanya berjalan mencari-cari makanan terlebih dahulu. Milan tak henti-henti nya celengak-celinguk menatap para penjual di pasar malam yang lebih banyak pria matang dengan tubuh berotot dari pada pria tua seperti biasanya.
"Mau makan apa sayang?" tanya Maxime.
"Maxime, aku lupa berapa lama aku tidak ke sini. Dulu yang jualan lebih banyak pria tua, kenapa jadi pria berotot seperti ini ..."
Bahkan Milan melihat beberapa gadis yang sibuk menggoda para penjual tersebut karena tampan, tinggi dan berotot.
"Mungkin mereka anak si pria tua itu sayang," jawab Maxime asal.
"Kau suka permen kapas?" tanya Maxime. Dia ingat Miwa, adiknya itu suka sekali permen kapas dan Miwa bilang semua perempuan hampir suka.
Milan mengangguk. Maxime pun membawa Milan ke salah satu gerobak yang penuh dengan permen kapas. Tapi sayangnya penjualnya malah tidak ada di sana.
Maxime mendengus kesal. "Dimana penjualnya?" tanya Maxime kepada si penjual jagung bakar di sampingnya.
"Maxime mungkin mas-mas nya sedang ke kamar mandi," bisik Milan.
"Dimana?" tanya Maxime lagi kepada si penjual jagung bakar.
"I-itu Tuan ..." dengan ragu-ragu pria itu menunjuk wahana carousel di depan sana. Maxime dan Milan mengikuti arah pandang pria tersebut dan mendapati salah satu anak buah Maxime yang di tugaskan berjualan malam ini malah teriak-teriak tidak jelas menaiki Carousel bersama anak kecil.
"Astaga ..."
Maxime mencabut salah satu permen kapas di gerobak itu dengan kasar lalu menarik tangan Milan untuk pergi.
Sebenarnya Maxime bisa saja mengambil makanan seenaknya, tapi dia ingin semuanya terlihat seperti sedang di pasar malam dengan memberikan uang kepada penjual tersebut, tapi anak buah nya malah asik sendiri.
"Maxime kita belum bayar," ucap Milan.
"Nanti kita bayar kalau penjualnya sudah waras sayang," kesal Maxime lalu mengajak Milan duduk di salah satu meja yang ada di sana.
"Mau makan apalagi sayang?" tanya Maxime.
Milan pun mengedarkan pandangan nya ke arah beberapa gerobak lalu menunjuk penjual telur gulung dan sate ayam.
Maxime mengikuti telunjuk Milan lalu mengangguk. "Tunggu di sini, jangan kemana-mana hm."
Milan mengangguk, Maxime pergi setelah mengelus kepala Milan.
Dan lagi, hal menyebalkan terjadi. Si penjual telur gulung sulit menggulung telurnya membuat Maxime mendengus kasar seraya tangan bersedekap dada.
Mendengar dengusan nafas Maxime, pria yang bernama Ezar itu malah semakin gugup.
"Kau jualan apa?" tanya Maxime datar.
"Te-telur gulung Tuan," sahut Ezar.
"Tapi menggulung telurnya saja kau tidak bisa! apa Chef Juna tidak mengajarkan mu?!!"
Ezar menggeleng.
"Hal seperti ini tidak belajar pun semua orang pasti bisa!! minggir!!" titah Maxime.
Ezar pun mundur beberapa langkah dengan menunduk dan Maxime lah yang membuat telur gulung untuk Milan.
Beberapa pria yang sedang melayani pembeli yang lain diam-diam curi pandang ke arah Maxime dan berdoa semoga gerobak jualan mereka tidak di hampiri Maxime.
"Siapa namamu?" tanya Maxime kepada Ezar yang berdiri di belakang.
Ezar mendongak dengan melebarkan matanya, kenapa Tuan nya itu tiba-tiba menanyakan nama nya. Apa ia akan di hukum.
"E-Ezar Tuan."
Maxime mengangguk-ngangguk tanpa berkata lagi membuat Ezar menelan saliva nya susah payah. Berharap semoga nyawa nya aman dari hukuman tidak bisa menggulung telur.
Bersambung