
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman mansion, semua orang sontak menatap ke arah pintu utama. Keenan dan yang lain tidak terlalu penasaran karena memang sudah tahu hubungan Arsen dan Miwa.
Jantung Sekretaris Han seakan berhenti mendadak menatap pintu utama yang sebentar lagi putranya akan masuk.
Sekretaris Han menghela nafas kamudian pintu utama terbuka dan Arsen dengan stelan jas hitamnya berjalan menghampiri mereka.
Mereka masih belum sadar jika Arsen lah yang akan melamar Miwa. Miwa tersenyum sementara yang lain memasang wajah datar dan Sekretaris Han yang duduk bersilang kaki menggerak-gerakkan kakinya tidak jelas karena merasa khawatir dengan kedatangan Arsen.
Arsen duduk di depan Javier, Miwa dan Sky.
"Kau mengagetkan kami semua, Ar. Kami kira pria yang akan melamar Miwa yang datang," ucap Kara lalu kembali menatap pintu utama dengan wajah kecewa karena lama menunggu pria yang akan melamar Miwa belum kunjung datang juga.
"Aku yang melamar Miwa, Mom."
Ucapan Arsen membuat Sky, Liana, Kara, Xander dan Rania sontak melebarkan matanya.
"A-apa?" tanya Sky.
"Aku yang akan melamar Miwa dan menjadikan dia istriku Mommy Sky," ulang Arsen membuat Sekretaris Han menghela nafas panjang.
Sekretaris Han langsung menatap wajah Maxime dan Javier yang terlihat datar.
"Ar, jangan bercanda!" ucap Kara.
"Aku tidak bercanda, aku dan Miwa sudah berpacaran dan sekarang kami berniat bersama sebagai suami istri."
Kara sontak langsung menoleh ke arah Javier. Ia ingat tentang janji ke empat anak mereka yang tidak boleh saling menyukai satu sama lain. Dan sekarang malah putranya yang menyukai Miwa.
"Kenapa kalian menatapku?" tanya Javier menatap bergantian Kara dan Sekretaris Han.
"Tentu saja aku tidak setuju," lanjutnya membuat Sekretaris Han sontak mengusap wajahnya kasar.
"Arsen, kau serius dengan Miwa?" tanya Xander dengan suara seraknya.
"Iya grandpa, kami saling mencintai."
"Iya, kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Jadi tidak boleh ada yang menghalangi kami menikah," sambung Miwa.
"Aku tidak setuju!' ucap Maxime dengan wajah datar menatap Arsen. Begitupula dengan Arsen yang menatap datar Maxime.
"Tu-tunggu, masalah ini kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Sekretaris Han.
"Putraku ..." Sekretaris Han menepuk paha Arsen. "Dia memang salah karena mencintai putrimu, Javier. Tapi, aku harap tidak ada hukuman untuk masalah perasaan seperti ini, tidak ada orang yang bisa mengendalikan perasaan mereka. Iya kan?"
"Ya, aku setuju dengan suamiku. Dua anak kita sama-sama bersalah karena menjalin hubungan diam-diam, seandainya aku tahu putraku mencintai Miwa, mungkin aku akan segera mencarikan perempuan lain untuk Arsen," sambung Kara.
"Loh, Mommy Kara kenapa bilang seperti itu. Memangnya Mommy Kara tidak mau aku menjadi menantu mommy?"
"Dia takut anaknya kena bogem Javier dan Maxime," ucap Aiden dengan terkekeh pelan.
Kara menoleh ke arah Aiden dan berdesis kesal meminta pria itu untuk tidak ikut campur.
"Lagi pula aneh sekali, mereka sudah bersama dari kecil sebagai adik kakak, sekarang malah mau menikah," timpal Sergio.
"Diam kalian semua! jangan membuat suasana semakin buruk saja!" pekik Thomas.
"Dasar menyebalkan!" sambung Liana menatap penuh kebencian Keenan dan yang lain. Mereka hanya berdecak dengan tatapan Liana.
"Daddy Javier ... bagaimana keputusanmu. Bolehkah aku memiliki Miwa?" tanya Arsen.
Lagi-lagi Javier menggelengkan kepalanya. Lalu Arsen menatap Maxime dan Maxime pun melakukan hal yang sama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawa Miwa kabur saja kalau kalian tidak merestui.''
Ucapan Arsen sontak membuat Sekretaris Han marah sampai menoyor kepala putranya itu.
"Hati-hati kalau bicara!'
"Aku serius, aku ingin menikahi Miwa. Sudahlah, ini hanya membuang-buang waktu, aku akan tetap menikahi Miwa."
Arsen berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Miwa yang duduk di depannya. Sontak tangan Arsen di tepis kasar oleh Javier.
Sekretaris Han yang melihat itu segera beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Arsen.
"Berani kau menyentuh putraku, aku yang akan melawanmu!"
Javier menarik ujung bibirnya tersenyum. "Bisa apa kau?!"
"Bisa apa kau, Han?!" Javier menarik kerah baju Sekretaris Han membuat semua orang sontak melebarkan matanya sempurna. Terkecuali Maxime, yang sibuk memberikan anggur kepada Milan.
"Maxime ..." mata Milan menatap takut Javier yang terlihat sedang marah.
"Sudah, jangan dilihat. Biarkan saja mereka, acaranya sebentar lagi selesai," sahut Maxime seraya memasukan anggur ke mulutnya.
"Aku tidak pernah berpikir untuk bermusuhan denganmu, Javier. Tapi kalau kau berani menyentuh putraku, kita akan menjadi lawan yang seimbang!!" ucap Sekretaris Han lalu menepis tangan Javier dari kerah bajunya.
"Cukup, sayang. Cukup." Sky mencoba meleraikan.
"Hei kalian kenapa kalian diam saja!" teriak Kara kepada yang lain.
"Aku tidak akan memberikan putriku untuk Arsen!"
Miwa menghela nafas mendengar itu, ia tahu Ayahnya hanya akting. Alhasil Miwa memilih mengambil jeruk dan mengupasnya, lalu asik sendiri makan jeruk. Maxime sendiri asik suap-suapan bersama Milan.
Thomas yang melihat Maxime begitu santai menghadapi masalah ini, tidak berniat membantu. Ia hanya menebak kalau Maxime sudah tahu hubungan Arsen dan Miwa, kalau Maxime belum tahu, pria itu seharusnya juga marah seperti Javier.
Dan kemungkinan Javier juga sudah tahu hubungan putrinya, hanya itu tebakan Thomas di dalam otaknya.
Javier mendorong tubuh Sekretaris Han lalu melayangkan kepalan tangan nya ke udara hendak memberi bogeman mentah kepada Arsen. Sekretaris Han maju lebih dulu dan segera memukul Javier membuat semua orang menjerit seketika.
Keenan dan para buntutnya bertepuk tangan seraya menggelengkan kepalanya. Tak lupa senyuman terlukis di wajah mereka.
"Cukup, hentikan!" teriak Xander.
"Aku sudah memperingatimu Javier!!" ucap Sekretaris Han.
Sky membantu Javier berdiri, Javier mengusap ujung bibirnya. "Si*l!! padahal aku ingin memeluk Arsen!"
Ucapan Javier membuat Sekretaris Han melebarkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin memeluk menantu laki-laki ku, puas kau?!!"
Javier kembali mendorong tubuh Sekretaris Han lalu memeluk Arsen seraya menepuk-nepuk pundak pria itu.
"Selamat datang di keluarga De Willson ..."
Sekretaris Han celengak-celinguk mencari jawaban, apa yang sebenarnya terjadi. Keenan hanya mengangkat kedua bahunya enggan menjelaskan.
Begitupula dengan Sky, Liana, Kara, Xander dan Rania yang juga terlihat kebingungan. Thomas terlihat menggelengkan kepala karena merasa tebakannya benar.
"Hai, calon besan. Berani sekali memukulku!!" ucap Javier lalu memeluk Sekretaris Han.
"Ada apa ini?" Sekretaris Han mendorong tubuh Javier.
"Jangan bilang, kau juga sudah tau hubungan Arsen dan Miwa?" tanya Sekretaris Han.
"Tentu saja aku sudah tau, putriku selalu terbuka denganku," sahut Javier.
"Kau juga sudah tau Max?"
Maxime mengangguk dengan mengunyah anggur di mulutnya.
Sekretaris Han mendengus kasar dengan memercak pinggangnya. "Kenapa kalian tidak bilang sial*n!! aku sampai mencari Rumah Sakit terbaik untuk putraku! ambulance juga sudah menunggu di depan!!"
"Kau ayah terbaik Dad." Arsen menepuk punggung Sekretaris Han.
"Sayang kenapa kau tidak memberitahuku?!" kesal Sky kepada Javier.
"Tanya saja anakmu, dia yang meminta merahasiakannya dulu darimu dan yang lain," sahut Javier menoleh ke arah Miwa.
"Aku pikir keluarga ini akan terpecah belah karena masalah Arsen dan Miwa," sambung Liana.
"Bukan keluarga ini yang terpecah belah, tapi keluargaku!" sahut Kara lalu menjewer telinga Arsen.
"Kau, anak nakal tidak mau memberitahu Mommy ya!!"
"Mom lepas Mom, itu sakit!!" Arsen berusaha melepaskan jeweran tangan Ibunya.
"Jantungku hampir berhenti berdetak melihat keributan kalian semua!" sambung Rania.
"Tenang, Nyonya Rania. Kalau jantungmu berhenti berdetak, tanah kuburan masih banyak yang kosong untukmu," ucap Nicholas yang membuat Keenan dan para buntutnya tertawa.
Kecuali yang lain, menatap datar mereka karena merasa itu bukan lelucon yang bagus untuk di tertawakan. Sontak tawa mereka memudar perlahan.
Bersambung