
Di ruangan itu hanya tersisa Maxime dan Javier yang sedang merokok berdua. Sisa nya sudah turun ke bawah mengisi perut mereka.
Mereka mengobrol berdua sebelum ke bawah, masalah yang menerror mereka tidak perlu di pikirkan berlebihan. Hal seperti ini bukan hal aneh lagi untuk mereka.
Maxime menepuk-nepuk perut Javier seraya terkekeh pelan. "Apa ini Dad, kemana sekarang lebih banyak lemak dari pada otot!"
Javier menepis tangan Maxime yang masih bermain-main di atas perutnya. "Ish kau ini!! semua otot dad hilang karena Ibumu suka sekali menyumpal Daddy dengan makanan."
Maxime kembali terkekeh lalu mengisap rokok nya dan menghembuskan nya ke udara.
"Max ... apa kau punya seseorang yang bisa Dad jodohkan dengan Miwa? Pria sebaik Daniel malah di tolak oleh anak itu!"
"Tidak ada," sahut Maxime.
"Max apa kau tidak mau membantu Daddy? adikmu itu perempuan, bagaimana kalau dia semakin tua semakin tidak ingin menikah! Jarang sekali ada pria yang mau dengan perempuan yang usianya jauh lebih tua ..."
"Dad hanya mengkhawatirkan Miwa?" tanya Maxime.
"Ya, tentu saja. Kau kan pria, setua apapun kau asalkan tetap tampan dan kaya raya gadis tujuh belas tahun pun pasti menginginkan mu," sahut Javier.
"Tapi gadis tujuh belas ku tidak menginginkan ku!" Maxime bergumam dengan pikiran tertuju kepada Milan.
"Apa?" tanya Javier.
"Tidak!" Semoga saja Javier tidak mendengar apa yang di bicarakan Maxime tadi.
"Dad, bagaimana caramu mengikat mom agar terus di sampingmu sampai mom menerima mu?" tanya Maxime.
Javier menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau tanya soal itu? Max jangan bilang kau--"
"Aku hanya bertanya, tidak apa kalau tidak mau jawab," potong Maxime.
Javier menghela nafas. "Kau kan sudah tau Dad mengikat mommy mu dengan pernikahan curang itu dan Mommy mu tentu saja tidak akan bisa kabur karena dia melindungi keluarga angkatnya itu!"
"Bisa-bisa nya kalian menikah padahal tidak saling cinta satu sama lain!"
"Kau benar, awalnya kami menikah tanpa cinta. Tapi lihat lah sekarang, kami masih bersama. Hebat bukan?" Javier menaikkan kedua alisnya seakan bangga dengan dirinya sendiri yang selalu mengalah dengan Sky ketika bertengkar membuat pernikahan mereka baik-baik saja sampai sekarang.
Maxime menekan ujung rokok di asbak. "Kau tidak hebat Dad karena pernah mengusir Mommy dalam keadaan hamil!"
Setelah mengatakan hal itu Maxime beranjak meninggakan Javier yang berteriak.
"Hei, Dad sudah bilang Dad tidak tau kalau ibumu hamil waktu itu!!" teriak Javier karena diantara dua anaknya Maxime lah yang seakan menaruh sedikit dendam kepada dirinya karena pernah mengusir Sky dari mansion tengah malam dalam keadaan hujan dan hamil muda.
"Kak Maxi ..." Miwa dan Tessa yang sedang duduk di meja makan melambaikan tangan dengan semangat melihat Maxime menuruni anak tangga.
Dua perempuan itu ikut datang ke mansion Javier setelah di telpon oleh Liana.
"Dimana Daddy mu?" tanya Sky yang sedang menyendok nasi untuk putra nya itu.
"Di atas, sebentar lagi turun," sahut Maxime. "Terimakasih Mom." Maxime berkata setelah Sky menyimpan nasi di depan nya.
"Mau apa? Ayam?" tanya Sky.
"Boleh," sahut Maxime.
Sky melayani putra nya dengan baik, menyimpan beberapa sayuran juga di piring Maxime.
Maxime yang kini mengunyah nasi di mulutnya tiba-tiba memikirkan Milan. Makanan apa yang gadis itu suka.
Setahu Maxime, selama ia makan bersama Milan. Tidak ada makanan yang tidak di makan oleh gadis itu.
Pikiran nya kembali memutar bagaimana ia makan berdua bersama Milan dan melihat gadis itu makan lahap dengan pipi mengembang penuh makanan.
Tiba-tiba Maxime tertawa lirih, sontak mereka yang ada di meja makan pun menatap Maxime tanpa berkedip. Arsen yang hendak memasukan nasi ke mulutnya saja tiba-tiba mematung dengan sendok di depan mulutnya.
"Kau kenapa?" tanya Athes.
Maxime mendongak menatap mata mereka satu persatu. "Ti-tidak ..."
"Kak Maxi ..." Miwa menggoda Maxime dengan menunjuk wajahnya. "Jangan bilang kak Maxi sedang memikirkan perempuan ..."
Tessa yang duduk di samping Miwa pun menoleh ke arah Miwa lalu kembali menatap Maxime.
"Tidak!" sahut Maxime.
"Kau benar-benar sedang memikirkan perempuan Maxi? kau sudah punya kekasih sekarang?" tanya Sky begitu senang.
Maxime menggeleng. "Tidak Mom ..."
"Oh ayolah, siapa yang bisa membuat pria dingin kita ini tersenyum selain kekasihnya," ledek Kara.
"Ya, sedingin apapun pria dia akan mencair ketika menemukan wanita yang tepat. Iya kan sayang?" Liana berkata seraya tersenyum manis kepada Thomas di sampingnya.
"Thomas tidak termasuk pria dingin semenjak bergabung dengan mereka." Xander menunjuk Athes and the geng dan Philip dengan dagu nya.
"Kita lagi ..." keluh Athes and the geng dan Philip serempak.
Sementara Tessa masih menatap Maxime penuh harap. Berharap tidak ada perempuan yang membuat kakak angkatnya itu sampai tersenyum seperti tadi.
#Bersambung