The Devil's Touch

The Devil's Touch
#131



Milan keluar dari sekolahnya dan mendapati Maxime sedang berdiri menyenderkan tubuhnya di pintu mobil. Mata Milan berbinar senang lalu segera berlari menghampiri Maxime.


Maxime yang sedang menunggu Milan, membuang puntung rokoknya dan menginjak nya dengan sepatu lalu merentangkan tangan nya menyambut pelukan Milan.


Maxime memeluk Milan sedikit mengangkat tubuh gadis itu.


"Kau merindukanku hmm." Maxime berseru lalu mengecup pipi Milan. Milan mengangguk sebagai jawaban.


"Langsung pulang atau mau jalan-jalan?" tanya Maxime melepas pelukan gadis itu.


Milan mendongak menatap Maxime. "Jalan-jalan." Milan menyengir.


"Mau kemana hm?" tanya Maxime seraya mengelus kepala Milan.


Milan terlihat berpikir. "Pantai? bagaimana?"


"Ayo sayang ..." Maxime membuka pintu mobilnya dan Milan pun melenggang masuk ke dalam.


Mobil meluncur meninggalkan sekolah SMA Ganesha, di perjalanan ada hal yang tidak biasa Milan lakukan kepada Maxime.


Yaitu bercerita banyak hal tentang sekolahnya dari pagi sampai siang. Dari mulai Peter dan Oris yang menemaninya sarapan, Shalma yang terus mencari masalah dengannya, si kucing hitam di belakang sekolah, para murid lelaki yang terus mengekorinya hanya untuk menanyakan keberadaan guru Bk mereka. Miss Miwa.


Maxime setia mendengarkan cerita Milan seraya terkekeh mendengar para murid lelaki yang mengekori Milan hanya untuk menanyakan nomor Miwa.


"Bagaimana kabar Tessa?" tanya Milan kini.


"Dia membaik sayang, sudah ada Mom Liana di sana."


Milan mengangguk-ngangguk. "Hmm soal ..."


Maxime menoleh seraya menaikkan satu alisnya.


"Tidak jadi," lanjut Milan seraya tersenyum tipis.


Mereka sampai di pantai, Maxime membuka seatbealt nya begitupula dengan Milan. Milan hendak membuka pintu tapi bahu nya di tahan oleh Maxime.


Ketika ia berbalik menatap Maxime, pria itu mendekat dan segera menci*m Milan. Awalnya cium*n itu lembut sampai akhirnya Maxime menci*m Milan agresif, telapak tangan pria itu memegang kepala Milan agar tidak terbentur pintu mobil.


Setelah melepaskan cium*n nya, keduanya tersenyum. Milan yang terlihat tersipu malu segera keluar dari mobil meninggalkan Maxime yang hanya terkekeh melihat Milan lari mendekati ombak.


Maxime ikut keluar dari mobil berlari mendekati Milan dan memeluk gadis itu dari belakang ketika berhasil menangkapnya.


Dan lagi, Maxime menci*m Milan di dekat deburan ombak pantai. Rambut Milan terhempas angin dengan mereka yang masih berci*man.


"Tadi kau mau menanyakan soal Tessa hm?" tanya Maxime tanpa melepaskan pelukannya.


Milan mengangguk ragu.


"Dia adikku sayang, kau tidak perlu khawatir."


"Aku tau," sahut Milan tersenyum samar.


"Tapi adik angkat," lanjut Milan membatin dalam hatinya.


Mereka menghabiskan waktu sampai sore di pantai, bermain pasir, makan di restaurant seafood, minum air kelapa pinggir pantai seraya bersenda gurau dan Maxime yang tak henti memfoto Milan.


Padahal gadis itu sudah terlihat begitu kesal karena berkali-kali harus bergaya sesuai arahan Maxime.


"Sudah, aku tidak mau foto lagi!" Milan mencebikkan bibirnya.


Maxime hanya terkekeh, merangkul Milan setelah memasukan ponselnya lalu mereka berdua kembali ke mobilnya.


"Sayang ..." Maxime merentangkan kedua tangan nya.


"Apa?"


"Aku belum puas memelukmu ..."


Milan tersenyum, mendekat dan kembali memeluk Maxime.


"Sayang bagaimana kita nabung dari sekarang untuk membuat anak," bisik Maxime yang mendapat cubitan keras di paha nya.


"Akkhhh ... iya-iya tidak jadi." Maxime berseru seraya mengusap-ngusap paha nya.


"Kau mes*m sekali!" ucap Milan.


"Sayang sekali kau tidak sadar saat aku memperk*sa mu hari itu, jadi kau tidak tau bagaimana rasanya ..."


"Maxime!" mata Milan melotot seketika.


"Hehehe bercanda sayang," ucap Maxime mengelus lembut pipi Milan.


*


Mobil kembali melaju meninggalkan pantai menuju mansion Maxime. Sebenarnya beberapa kali ponsel Maxime bergetar, pesan masuk dari Tessa. Tapi Maxime hanya membacanya saja, di Rumah Sakit juga masih ada keluarganya yang menemani Tessa.


Mobil terhenti di halaman mansion, keduanya membuka pintu dan masuk ke mansion tapi Arsen tiba-tiba menghadang di depan pintu.


"Aku harus bicara."


"Apalagi?" tanya Maxime.


"Sayang ganti dulu bajumu aku berbicara dulu dengan Arsen."


Milan mengangguk dan Maxime berjalan mendekati Arsen di sofa.


"Apa?" tanya Maxime.


"Ada yang berusaha mencuri data perusahaan."


"Oh."


"Aku serius Max!"


"Felix, siapa lagi." Maxime beranjak dari duduknya setelah menjawab perkataan Arsen.


Arsen sendiri menggeleng tak habis pikir, manusia satu itu memang santai sekali dalam masalah seperti ini.


Arsen menghembuskan nafas lalu membuka ponselnya yang bergetar. Sedari tadi ia mengirim pesan kepada Miwa masih belum di balas, Arsen sampai berpikir Miwa ada di mansion, itu sebabnya ia pulang. Pria itu membuka pesan masuk di ponselnya.




Arsen bergegas pergi meninggalkan Mansion untuk menyusul Miwa.


Sementara itu Maxime sedang duduk di sofa kamarnya membaca pesan dari Tessa. Dan Milan sendiri sedang di kamar mandi.




Milan keluar dari kamar mandi seperti biasa menggunakan bathrobe dan handuk kecil melilit rambutnya. Ia berjalan membawa sisir dan hairdryer ke sofa.


Maxime yang melihat itu tersenyum.


"Duduk di sini sayang."


Milan mengangguk dan duduk di sofa membelakangi Maxime.


Maxime melepas handuk kecil itu, menyisir sebentar lalu mengeringkan rambut Milan dengan hairdryer.


"Sayang ..."


"Ya?" tanya Milan.


"Aku mau ke rumah sakit, kau mau ikut?"


Hening beberapa detik sampai akhirnya Milan mengangguk.


"Besok aku ada kerja kelompok."


"Di sini saja," sahut Maxime.


"Di rumah Alvin," ucap Milan.


"Tidak! di sini saja atau kau tidak boleh kerja kelompok!"


Milan berdecak lalu terpaksa mengangguk. Setelah mengeringkan rambutnya Milan memakai baju dan Maxime pergi ke dapur untuk membuatkan sup permintaan Tessa.


Selesai memakai baju Milan ikut turun menghampiri Maxime di dapur, ia hanya melihat Maxime memasak dan duduk di minibar seraya meneguk segelas air.


Maxime menghampiri Milan setelah membumbui sup nya. Ia memeluk gadis itu dari belakang seraya mengecup puncak kepala Milan.


"Kau mau makan apa sayang? aku buatkan sekalian ..."


Milan hanya menggeleng sebagai jawaban. "Aku makan masakan Aunty Ara saja."


"Loh kenapa?" tanya Maxime.


"Tidak apa-apa, aku tidak mau merepotkan mu."


"Tidak sayang, kenapa bilang seperti itu hm."


Lagi-lagi Milan hanya menggeleng.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja," sahut Milan.


"Aku boleh minta tolong?"


"Apa?" tanya Milan.


"Ambilkan kanvas di kamar Tessa, setelah itu kita berangkat."


Milan mengangguk pelan kemudian beranjak dari duduknya menaiki tangga ke kamar Tessa. Dan Maxime sendiri sedang mencoba rasa sup yang ia buat.


Setelah semuanya selesai mereka masuk ke dalam mobil dan pergi ke Rumah Sakit lagi. Di perjalanan Milan hanya menatap keluar jendela, sepulang sekolah tadi ia begitu cerewet dan bersemangat membicarakan apa saja kepada Maxime. Sekarang gadis itu tampak diam.


Bersambung