
Sepulangnya dari sekolah, Maxime melihat banyak mobil di mansion nya. Ia pun turun dari mobilnya bersama Milan dan segera masuk.
Ternyata di ruang tamu sudah ada keluarga besarnya. Javier dan yang lain sudah duduk di ruang tamu, Keenan dan ekornya terlihat duduk lesehan di lantai karena memang kursi ruang tamu di mansion tidak banyak. Sengaja, agar Keenan dan yang lain tidak selalu ikut Ayahnya jika datang ke sini, tapi mereka malah santai duduk lesehan.
"Ada ruang keluarga, ada ruang makan dan masih banyak ruangan yang lain kenapa malah duduk di bawah," ucap Maxime seraya mengenggam tangan Milan lalu duduk di salah satu sofa yang sengaja di kosongkan oleh Javier.
"Kau ini kaya raya, kemana kursi di sini. Dulu banyak, sekarang sedikit sekali, kau miskin ya sekarang?" ucap Jonathan membuat Maxime berdecak.
"Aku sengaja membuangnya beberapa, agar kalian tidak selalu mengekori Daddy ku. Tapi masih saja datang ke sini!!"
"Tidak tau, manusia-manusia ini suka sekali membuntuti kita," sambung Liana tidak suka.
"Yasudah karena sudah di sini, pergi cari kursi saja," titah Maxime.
"Tidak mau, kami kepo kenapa kami di undang kemari," ucap Keenan.
"Tidak ada yang mengundang kalian perasaan!" sambung Sky.
"Kalian di undang, kami juga di undang," sambung Aiden yang mendapat anggukan dari Keenan dan yang lain.
Yang lain hanya bisa menggelengkan kepala sebagian hanya bisa menghela nafas menyikapi Keenan dan yang lain.
"Ada apa ini Dad?" tanya Maxime.
"Tidak tau, Miwa menyuruh kami datang."
"Lalu, Dimana Miwa?" tanya Maxime lagi.
"Di atas, katanya sebentar lagi turun," sahut Kara.
Mereka menunggu selama sepuluh menit, ada yang berbincang-bincang, ada yang minum coffe, ada juga yang sibuk makan cemilan yang di bawa Ara dan Oris.
"Ara, tidak bisakah kau menasehati suamimu ini untuk tidak mengekori kami terus-menerus," sindir Liana menatap Athes.
"Aku kesini karena ada istriku, jadi wajar saja," sahut Athes.
"Maaf Nyonya, aku juga sudah lelah mengatur dia," ucap Ara lalu melengos kembali ke dapur di ikuti Oris.
"Kau jahat sekali sayang!" teriak Athes yang di abaikan Ara.
Thomas beberapa kali melihat jam di pergelangan tangan nya lalu menatap anak tangga yang masih saja belum terlihat batang hidung Miwa maupun Tessa. Arsen juga dari tadi entah dimana.
*
Lama menunggu akhirnya mereka mendengar suara pintu terbuka dari lantai atas, sontak mereka menatap ke arah tangga. Terlihat Arsen dan Daniel turun dengan Daniel yang memaki jas rapih berwarna gading dan di belakangnya ada Tessa yang menggandeng tangan Miwa, Tessa terlihat cantik dengan gaun pendek berwarna merah muda.
Semua mata tertuju ke arah mereka, hening dan hanya ada suara dari langkah kaki Arsen, Daniel, Miwa dan Tessa saja.
"Tessa ..." gumam Liana.
Tessa tersenyum ke arah Liana dan Thomas. Sekretaris Han beranjak dari duduknya memberikan tempat untuk Tessa duduk.
Mereka yang duduk lesehan di lantai kini beranjak dan berdiri di belakang sofa menunggu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Daniel dan Tessa terlihat rapih.
"Ada apa ini?" tanya Thomas menatap Daniel.
Daniel berdehem sesaat untuk menghilangkan rasa gugupnya. Dia masih berdiri di dampingi Arsen.
"Begini ... sebelumnya saya---"
Sontak Aiden membuat mereka semua terkejut, terkecuali mereka yang sudah tahu hubungan Daniel dan Tessa.
Daniel menghela napas menatap tidak suka Aiden karena menggagalkan moment romantis nya.
"Apa yang di katakan Paman Aiden benar. Saya, Daniel O'Brien meminta izin untuk---"
"Di izinkan," potong Thomas.
"Hah?"
"Mudah sekali Dad, tidak ada syarat apapun yang harus di penuhi?" ucap Maxime.
"Berikan aku cucu secepatnya. Lama sekali putriku baru menikah sekarang!" ucap Thomas.
"Kau tidak menanyakan pendapatku sayang?" ucap Liana.
"Untuk apa? kau juga pasti setuju. Iya kan?"
"Ya, iya sih."
"Wahh ... wah ... lengkap sudah empat bocil kita sekarang. Menikah satu, menikah semua." Kara tersenyum bahagia.
"Beruntung lah karena putraku menikah, jadi anak kalian juga ikut menikah," sambung Javier.
"Ya, kalau Maxi tidak mau menikah. Aku yakin yang lain juga tidak berniat menikah," sambung Sky.
"Tidak Mom, aku akan tetap menikah dengan Arsen. Iya kan Boo?" Miwa menatap Arsen yang di jawab anggukan dan senyuman samar dari Arsen.
"Kau ini!!" Sky menggeleng menatap Miwa.
"Dimana orang tuamu? kenapa melamar anak orang tidak membawa orang tua?" tanya Sekretaris Han.
"Eumm ... sebelumnya aku minta maaf, orang tuaku ada di luar negeri, belum bisa datang ke sini. Tapi mereka pasti hadir di pesta pernikahan kami nanti."
"Jadi ... apa kami bisa menikah besok?" tanya Daniel dengan penuh semangat.
"Tidak-tidak!!" sergah Philip.
"Kenapa?" tanya Tessa.
"Bisa tidak kalau menikah itu di rencanakan satu bulan sebelum hari H. Jangan satu hari, apa kalian tidak memikirkan beban kami yang membantu mengurus persiapan pernikahan hanya dalam waktu satu hari hah? aku sudah lelah mengurus pernikahan Maxime dan Miwa!!" sahut Philip.
"Tapi kalian juga di bayar kan," sambung Sekretaris Han.
"Ya, tidak usah banyak protes," sambung Kara.
"Ya, kami juga butuh istirahat. Belum lagi kalau selesai acara kami di suruh membantu yang lain lagi," sambung Sergio.
Javier mulai memijit keningnya kalau Keenan dan para ekornya sudah berbicara.
"Kami bukan jin yang bisa membuat candi dalam satu malam ya!!" protes Jonathan.
"Kerjakan!! gajih kalian naik 10x lipat!!"
"OHH OKE SIAP!!" Mereka kompak menjawab ketika mendengar gajih 10x lipat dari Maxime.
Bersambung