The Devil's Touch

The Devil's Touch
#204



"Ada dua janin di rahimnya," ucap Dokter Rani, Dokter Obgyn di Rumah Sakit itu.


Milan yang tidur di ranjang Rumah Sakit melebarkan matanya, Maxime tersenyum seolah bangga dengan hasil kerjanya. Sky yang tersenyum senang memeluk Sky.


"Benarkan, Mommy bilang apa. Pasti kembar. Aaaaa ... aku bahagia sekali sayang." Sky semakin erat memeluk Javier, Javier pun tersenyum haru menatap layar monitor di depannya.


Bukan hanya Milan, Miwa dan Tessa pun sama-sama pergi ke dokter Obgyn. Dan mereka sama-sama mengandung anak kembar.


Para istri duduk di kursi panjang depan ruang Dokter setelah memeriksa kandungan mereka. Jarak usia kandungan mereka hanya berbeda beberapa minggu saja.


Sky langsung Videocall bersama Liana dan Kara memberitahu soal janin kembar yang ada di tubuh Milan, Miwa dan Tessa.


Begitupula Javier yang sedang memberitahu Sekretaris Han dan Thomas.


"Bisa-bisanya, anak kita kembar semua," ucap Miwa.


"Kau juga Tessa, kau beruntung tidak ada keturunan kembar tapi sekarang kau punya anak kembar," lanjut Miwa berbicara kepada Tessa.


"Sepertinya anak kita janjian dulu sebelum masuk ke perut, mereka mengajak satu sodaranya juga biar di perut tidak kesepian," sambung Milan seraya terkekeh pelan.


"Ah ... aku sangat bahagia punya anak kembar." Tessa mengelus-ngelus perutnya penuh sayang. "Kau tau, aku selalu iri melihatmu dan Kak Maxi, aku ingin mempunyai kakak kandung juga dulu."


Sementara para suami sedang berdiri mengobrol satu sama lain, sedikit lebih jauh dari tempat duduk Milan, Miwa dan Tessa.


"Aku tidak mengerti, kenapa bisa kembar semua," ucap Arsen.


"Aku dan kau wajar saja, karena aku kembar. Tapi dia." Maxime menatap Daniel.


"Aku sedang beruntung berarti," ucap Daniel dengan tersenyum.


"Ahh ... aku berharap anakku laki-laki dan perempuan," ucap Arsen.


"Aku juga."


"Aku juga."


"Kau berniat punya anak berapa?" tanya Daniel kepada Maxime dan Arsen.


"Sampai ada laki-laki dan perempuan, aku akan berhenti mempunyai anak. Aku butuh anak laki-laki untuk menjadi penerus dan aku sangat ingin anak perempuan karena mereka lucu," ucap Maxime.


"Ya, aku juga. Aku lihat Daddy Javier lebih menyayangi Miwa dari pada kau," ucap Arsen kepada Maxime.


Maxime hanya berdecak kemudian berjalan menghampiri istrinya. "Ayo kita pulang sayang ..."


Maxime mengenggam tangan Milan menghampiri orang tuanya untuk pamitan. Arsen dan Daniel pun melakukan hal yang sama.


*


Setibanya di mansion ada Keenan dan para buntutnya menyambut kedatangan Maxime.


Maxime dan yang lain menghentikan langkahnya melihat Keenan dan para buntutnya asik makan di ruang tamu.


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Daniel.


"Kita kesini karena belum memberi selamat kepada Milan dan kalian," ucap Philip.


"Ya, ponakanku ini akhirnya punya anak juga," sambung Keenan berjalan menghampiri Arsen kemudian memeluk pria itu.


"Kalian ke sini bukan untuk meminjam uang kan?" ucap Miwa.


"Bukan, memangnya kami semiskin itu," ucap Jonathan yang sedang mengupas jeruk.


"Apa? kenapa melihatku?" tanya Aiden.


Yang lain ikut bergabung duduk bersama Jonathan.


"Kalau hanya untuk mengucapkan selamat atas kehamilan istri kami, terimakasih. Sekarang kalian boleh pulang," ucap Arsen.


"Ih, kita baru sampai. Jeruk saja belum habis," ucap Sergio.


Maxime mengambil jeruk, mengupasnya dan memberikannya kepada Milan.


"Uncle, bagaimana kabar Bumi?" tanya Tessa kepada Keenan. "Sudah lama aku tidak bermain dengan Bumi."


"Ah iya, anak itu sudah masuk SD, keinginannya semakin besar. Ingin itu, ingin ini. Dia melihat temannya pergi liburan bermain salju, dia juga ingin pergi."


"Pergilah kalau begitu," ucap Arsen.


"Iya, tapi masalahnya ..." Keenan berdehem sesaat. "Hotel di sana kan cukup mahal ..."


"Cari yang murah," potong Maxime.


"Ya ada, tapi hotelnya jelek," ucap Keenan.


"Kalau begitu cari yang mahal," ucap Daniel.


"Masalahnya, aku ... eum, sedikit kekurangan Dana. Jadi--"


"Berapa gajih yang di berikan Ayahku sampai Uncle selalu kekurangan dana," potong Miwa.


"Kebutuhan uncle kan banyak Miwa."


"Kalian kan mantan mafia. Membegal orang untuk mendapatkan uang juga bisa," ucap Daniel.


"Astaga ..." Nicholas menggelengkan kepalanya beberapa kali menatap Daniel. "Itu perbuatan buruk. Kami sudah taubat."


"Meminjam uang tanpa membayar juga perbuatan buruk," sindir Maxime.


"Jadi mafia pelit juga perbuatan buruk," sindir Philip.


"Kalian mafia kekurangan duit. Sudah tua tidak punya duit!" ucap Daniel.


"Sudahlah, aku mau istirahat. Ayo sayang." Maxime mengajak Milan ke kamarnya.


"Max ..." panggil Keenan.


"Arsen yang urus," teriak Maxime.


Keenan pun langsung menyengir ke arah Arsen. "Hehe keponakanku yang tampan ..."


Arsen menghela nafas. "Menambah kerjaan ku saja!!"


Arsen pun mengeluarkan ponselnya untuk transfer uang kepada Keenan.


"Siapa saja yang mau pinjam uang?" tanya Arsen.


"Kami!!" sahut Keenan dan para buntutnya.


Tessa dan Miwa hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Mereka selalu hidup mewah membeli barang-barang mahal tapi selalu datang ke mansion Maxime jika kekurangan uang.


Bersambung