The Devil's Touch

The Devil's Touch
#64



"Aku tidak bisa meninggalkan Milan, aku tidak mau dia kabur. Jadi suruh anak buah yang lain mencari pria yang berbicara dengan Oris di pasar," ucap Maxime kepada Arsen dan yang lain.


"Aku akan mengurusnya," sahut Jack.


"Aku akan membantumu," sambung Arsen.


"Tidak perlu," bantah Jack. "Kau fokus mengurusi perusahaan saja, Ar. Dan kau ..." Jack menoleh ke arah Peter.


"Kau awasi Oris di mansion."


Peter mengangguk. Tiba-Tiba ponsel Maxime berdering, ia melihat nama Daddy Javier di tertera di layar ponsel.


Maxime mengangkat panggilan nya, sementara Arsen menyalakan rokok di sampingnya di ikuti Jack.


"Ada apa Dad?" tanya Maxime.


"Max, apa kau baik-baik saja?" terdengar nada khawatir dari Javier.


"Ya, aku baik-baik saja. Ada apa?"


"Ada yang mengirim kucing mati dan fotomu yang di lumuri darah ke mansion Daddy!"


"Apa?!" Maxime menarik tubuh nya dari sandaran sofa karena kaget mendengar berita dari sang Ayah.


"Katakan, apa kau punya musuh besar, Maxi?"


"Tidak, Dad ..." sahut Maxime lalu terdengar suara Sky yang sedang menangis.


"Dad, bilang kepada Mommy untuk tidak mengkhawatirkan ku berlebihan, jangan sampai Mommy sakit ..."


Arsen, Jack dan Peter hanya saling menoleh bingung. Kabar apa yang datang dari Javier.


"Kara dan Liana sedang menenangkan nya, lebih baik kau dan yang lain datang ke mansion daddy besok."


"Dad aku bisa mengatasi nya send--"


"Tidak, Maxi!!" bantah Javier. "Jangan menganggap Dad sudah mati dengan menolak bantuan dari kami. Dad dan yang lain menunggu mu di sini besok."


"Kucing ini berwarna hitam dan satu anaknya juga mati."


"Blacky ..." gumam Maxime. Ia yakin Blacky dan Blackbox yang di bunuh si penerror itu.


Javier mematikan panggilan nya membuat Maxime menghembuskan nafas lalu kembali menyenderkan punggungnya di sandaran sofa dengan pikiran kalut.


"Ada apa, Max?" tanya Arsen.


"Kita ke mansion Daddy ku besok," sahut Maxime.


*


"Mungkin ... kalau aku melihat dia membunuh seseorang di depan mataku, aku akan meninggalkan nya," sahut Milan dengan pandangan kosong menatap jalanan.


"Lebih baik kau hidup sepertiku saja, yang kau butuhkan dari pria hanya kesetiaan dan uang! selama tidak jahat denganmu untuk apa kau tinggalkan!"


Milan menoleh ke arah Miwa. "Kau seperti orang yang terbiasa hidup kelam, cantika!"


"A-aku?" Miwa menunjuk dirinya sendiri. Tidak kelam bagaimana, hidup Miwa di kelilingi para mafia. Pembunuhan dan darah manusia seakan sudah tak asing di penglihatan nya. Yang Miwa butuhkan hanya kesetiaan sekarang.


"Tidak, aku tidak hidup seperti itu!" bantah Miwa.


"Kakak kandungmu pernah membunuh dan kakak angkat mu juga seorang kriminal, sepertinya benar hidupmu memang kelam, Cantika. Memang kedua kakak mu itu siapa? preman?"


"Lebih tinggi dari preman!" sahut Miwa. "Ah sudahlah, tidak perlu membahas mereka!"


"Intinya aku dan kau sama-sama mempunyai pria kriminal, bukan?" lanjut Miwa.


Milan menghela nafas, entah harus menjawab apa.


"Sudahlah Milan, jangan perdulikan dia siapa. Selama dia kaya kau palak terus saja uangnya, itu keuntungan bagimu ... lagipula tipe wajahmu seperti seorang pemalak di sekolah. Iya kan?"


Milan kembali menoleh. "Kenapa kau tau?"


"Dari wajahmu saja sudah terlihat siswa bod*h dan nakal! kalau mau memalak seseorang jangan yang miskin, tapi sekalian yang kaya seperti pria mu itu!!" ucap Miwa.


"Aku juga terus memalak kembaranku, tapi anehnya uangnya tidak habis-habis," lanjut Miwa mengangkat kedua bahu nya.


"Kau terus membicarakan kakak mu, memangnya sehebat apa kakak mu itu?" tanya Milan yang sudah muak mendengar Miwa terus menerus membicarakan kakak nya.


"Dia hebat dan sulit di kalahkan, kau mau aku kenalkan dengan dia? siapa tau dia bisa membantumu kabur dari pria kriminal mu itu kalau kau tetap ingin pergi dari pria mu itu dan tidak mendengarkan saranku" sahut Miwa.


"Memangnya bisa?" tanya Milan.


Miwa mengangguk. "Bisa. Ya, walaupun dia tidak suka ikut campur urusan orang lain tapi kalau aku yang meminta dia pasti mau membantumu. Kau hubungi aku saja kalau mau. Aku akan memaksa dia membantumu."


Miwa merebut ponsel Milan lalu mengetik nomor ponsel miliknya. "Aku sudah menyimpan nomorku, hubungi aku kalau kau butuh bantuan."


Miwa kembali menyimpan ponsel Milan di meja. "Aku pulang dulu Milan."


Perempuan itu beranjak keluar meninggalkan Milan yang kini memainkan ponselnya seraya menatap kepergian Miwa. Harus kah ia meminta bantuan kepada kakak nya Miwa nanti.


Miwa masuk ke dalam mobil yang di balik kemudi ada seorang supir yang menjemput Miwa dan Arsen dari bandara tadi.


"Kembali ke sekolah, Pak." Ucap Miwa kepada supir tersebut.


#Bersambung