The Devil's Touch

The Devil's Touch
#187



Arsen sedang membuka jas nya selepas pulang dari gedung acara. Sementara Miwa langsung masuk ke kamar mandi tepat setelah mereka masuk ke kamar.


Arsen berjalan mendekati meja untuk menyeduh teh hangat malam ini, tapi ketika pintu kamar mandi terbuka pria itu sontak tersedak melihat Miwa keluar dengan memakai lingerie berwarna hitam.


"Miwa astaga kau ..." Arsen berjalan mendekati Miwa mendorong wajah perempuan itu untuk kembali masuk ke kamar mandi.


Miwa mendengus kasar lalu menepis tangan Arsen dari wajahnya. "Kenapa mendorong wajahku!!"


"Miwa, kau ini perempuan ..."


"Ya terus? memangnya perempuan tidak boleh memulai lebih dulu?"


Arsen menghela nafas. "Kau lebih baik menjadi Miwa yang pertama kali kita jadian saja dari pada menjadi Miwa agresif seperti ini."


Sejujurnya Arsen suka dengan Miwa yang canggung saat awal-awal mereka bersama sebagai pasangan kekasih, Miwa yang ketika di pegang tangannya atau di peluk tampak salah tingkah dan Miwa yang lebih banyak diam membuat Arsen ingin menggodanya. Tapi lama kelamaan Miwa kembali ke sikap aslinya, yaitu agresif dan menyebalkan.


"Seharusnya kau beruntung mempunyai istri sepertiku, tidak akan membuatmu kerepotan. Malam pertama kita tidak akan membuatmu keluar dari kamar karena aku pingsan, seperti cerita malam pertama Kak Maxi."


"Darimana kau tau soal itu?"


"Tidak penting, aku memang tau banyak hal! sudah, ayo kita lakukan sekarang."


Miwa menarik tangan Arsen ke ranjang tapi Arsen segera menghempaskan tangannya.


"Miwa---"


"Apa? kau tidak bisa datang bulan untuk dijadikan alasan ya!!"


"Tentu saja, aku ini laki-laki datang bulan bagaimana!"


Arsen berjalan melewati Miwa kemudian duduk di ranjang. Ia menatap Miwa dari atas sampai bawah, pemandangan yang tidak pernah ia lihat karena Miwa mantan adiknya.


Miwa kemudian berjalan melenggak-lenggok bak seorang model mendekati Arsen. Tepat ketika Miwa berada di depan Arsen, Arsen menarik tangan Miwa dan perempuan itu pun duduk di pangkuan Arsen.


Arsen segera menci*m nya lalu mengangkat tubuh Miwa dan membaringkannya ke ranjang. Ia melepas pakaiannya satu persatu kemudian malam pertama mereka berakhir dengan indah sesuai dengan yang diinginkan keduanya.


*


Pagi harinya Maxime turun bersama Milan untuk sarapan, sudah ada Ara dan Oris yang sedang menata hidangan untuk pagi ini.


Maxime menarik kursi dan mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu. Maxime duduk di samping Milan, kemudian Daniel dan Tessa datang menghampiri meja makan.


"Hei, Tessa ..."


"Aunty ..." Tessa tersenyum.


"Bagaimana kabarmu?" Ara memeluk perempuan itu sementara Daniel sudah duduk di meja makan.


"Baik, aunty."


"Kemarin Aunty tidak melihatmu di pernikahan Miwa dan Arsen. Kau sibuk berduaan dengan Daniel huhh ..."


Tessa terkekeh pelan. "Maaf ya Aunty, aku juga lupa tidak mencarimu kemarin."


"Ah sudah biasa, kalian sudah punya kekasih masing-masing sudah mulai lupa dengan Aunty kalian ini."


"Ish, Aunty. Tidak seperti itu."


"Sudahlah, sarapan dulu bersama yang lain."


Tessa mengangguk, Ara kembali ke dapur bersama Oris. Oris sempat menjulurkan lidah tidak suka kepada Daniel.


"Kau juga gila kalau melayani sikap Oris," ucap Tessa.


"Ih kau jahat sekali bilang aku gila sayang."


Tessa tidak menjawab lagi ia malah menanyakan keberadaan Arsen dan Miwa.


"Kak, Kak Arsen dan Miwa belum turun?"


"Belum, mungkin masih tidur," sahut Maxime seraya mengisi gelasnya dengan air sementara Milan sedang menyimpan beberapa lauk ke piring Maxime.


"Tumben, padahal ini sudah hampir siang. Kak Arsen biasanya bangun pagi sekali," gumam Tessa.


"Apa kau lupa mereka baru saja malam pertama," ucap Daniel yang mendapat tatapan dari Maxime, Milan dan Tessa.


"I-iya, aku lupa," ucap Tessa.


Maxime hanya menggeleng kecil kemudian menyuruh Milan untuk makan.


Tak lama kemudian ketika mereka sedang makan, Arsen dan Miwa menuruni anak tangga berjalan ke arah meja makan, Miwa duduk di samping Maxime dan Arsen duduk di samping Miwa.


Pandangan Maxime, Milan, Tessa dan Daniel tertuju ke arah mereka berdua. Apalagi Maxime yang menatap Miwa penuh intimidasi, walaupun sudah merestui tapi rasanya masih aneh melihat Miwa menjadi istri Arsen apalagi memikirkan apa yang terjadi semalam antara mereka.


"Kenapa kak?" tanya Miwa.


Maxime menggeleng kecil lalu kembali makan. Begitupula dengan yang lain, Miwa dengan senangnya melayani sarapan untuk Arsen untuk pertama kalinya.


"Terimakasih," ucap Arsen dengan tersenyum tulus.


"Tessa, kapan kau kesini?" tanya Miwa.


"Aku baru saja sampai," sahut Tessa lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.


Miwa mengangguk-ngangguk. "Eh bagaimana kalau kita shopping bareng? sudah lama kita tidak ke mall bersama. Bagaimana Milan?" Miwa menatap bergantian Tessa dan Milan.


Milan menoleh ke arah Maxime. Maxime pun menganggukan kepalanya memberi izin. Kemudian Miwa menoleh ke arah Arsen dan Arsen pun menganggukan kepalanya.


Maxime dan Arsen pun secara bersamaan mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil blackcard dari dompetnya lalu menyimpan kartu tersebut di meja makan.


Tessa sontak langsung menoleh ke arah Daniel melihat Maxime dan Arsen sama-sama menyimpan blackcard nya di atas meja.


"Mana milikmu?" tanya Tessa seraya membuka telapak tangannya.


Daniel yang sibuk makan pun sontak berhenti lalu menoleh ke arah Tessa kemudian menghela nafas.


"Ayo cepat ..."


"Kau mirip pemalak," ucap Daniel lalu mengambil kartunya di dompet dan memberikannya kepada Tessa.


Tessa tersenyum senang, begitupula dengan Miwa dan Milan.


Kemudian Miwa berniat bercerita dengan semangat. "Oh iya, kalian tau tidak, semalam aku dan Arsen--"


Ucapan Miwa terpotong karena Maxime dan Arsen yang duduk di kanan dan kiri Miwa langsung membekap mulut perempuan itu.


Maxime menatap tajam Miwa begitupula dengan Arsen. Mereka hanya takut Miwa membahas malam pertama di meja makan, perempuan itu mulutnya kadang tidak tahu batasan.


Miwa hanya melotot menatap bergantian Maxime dan Arsen dengan ekor matanya. Daniel dan Tessa menggelengkan kepala sementara Milan hanya menatap Miwa penuh tanda tanya.


Bersambung