The Devil's Touch

The Devil's Touch
#221



Dua bulan kemudian, mansion Maxime di penuhi tangisan bayi. Miwa melahirkan dua bayi perempuan yang di beri nama Lalita dan Laura dan Tessa melahirkan satu bayi perempuan dan satu bayi laki-laki yang di beri nama Nathan dan Nala.


"Cup cup cup ... Winter anak manis, diam ya ..." Keenan yang menggendong salah satu anak Maxime terus menimang-nimang bayi tersebut.


"Itu Summer," ucap Milan yang sedang menggendong Winter. Maxime sedang membeli buah-buahan di mall bersama Arsen dan Daniel.


Ketiga perempuan yang sudah menjadi Ibu itu terus di sumpal buah-buahan setiap hari demi kesehatan bayi mereka.


"Ah, tapi ini sepertinya Winter," ucap Keenan menatap wajah bayi itu.


"Winter yang ini," sahut Milan.


"Uncle, tolong bantu aku!" teriak Miwa dari atas.


"Kau kenapa lagi? bukankah Laura sedang tidur?" ucap Jonathan.


"Dia sudah bangun, aku sudah menyusuinya. Tolong ajak dia main, aku harus menyusui Lalita."


"Ah kau ini ..." Jonathan pun naik ke lantai dua.


Orang tua mereka sedang sibuk membeli baju bayi untuk ke enam bayi tersebut. Javier, Thomas dan Sekretaris Han ikut para istri karena bertugas membawa barang belanjaan.


"Uncle tolong gendong Nathan dan Nala dulu, aku mau mandi," teriak Tessa dari lantai atas. Mereka bisa mendengar suara tangisan Nathan dan Nala.


Sergio pun beranjak dari duduknya menaiki anak tangga. "Kau tidak akan lama kan Tessa. Uncle takut dia nangis terus."


"Tidak uncle, aku tidak akan lama. Lagi pula mereka sudah kenyang sepertinya, tinggal ajak main saja."


"Uncle aku ke kamar mandi dulu. Titip sebentar." Milan menyerahkan Summer kepada Aiden lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


"Eh, Milan ... dia pipis!" teriak Aiden ketika merasa paha nya hangat.


"Apa dia tidak memakaikan popok untuk Summer," ucap Jonathan.


"Dia tidak nyaman pakai popok," sahut Keenan.


Mereka pun mulai bermain-main dengan bayi-bayi tersebut. Summer sesekali tersenyum melihat wajah lucu Aiden, tetapi tidak dengan Winter yang dari tadi memasang wajah datar walaupun Keenan sudah berusaha mengajaknya berbicara dan memberikan ekspresi selucu mungkin di wajahnya.


"Tingkat humor anak ini sangat rendah," ucap Keenan seraya menggelengkan kepala nya beberapa kali menatap Winter.


Samuel pun menghampiri Winter di gendongan Keenan.


"Winter ... Winter ... cilukk ... baaa ..."


"Nah lihat, dia tidak tersenyum kan," ucap Keenan.


"Ya kan dia masih kecil, dia belum mengerti," sahut Samuel.


"Tapi dari tadi dia senyum terus," ucap Aiden menatap Summer di pangkuannya.


Sergio pun datang menggendong Nala dan Athes menggendong Nathan.


"Ibunya masih mandi, dia nangis terus. Sepertinya popoknya sudah penuh," ucap Sergio. "Ada yang bisa mengganti popok?"


"Kau lah, kau kan dulu punya anak masa tidak bisa," sahut Nicholas.


"Menyedihkan ..." ucap Philip.


"Menyedihkan apanya? kau lah yang menyedihkan sudah tua tidak menikah," sahut Sergio.


Philip berdecak seraya memalingkan wajahnya. Keenan masih asik berbicara dengan Winter yang masih memasang wajah datar.


"Winter tampan ... Winter tampan ... nanti sudah besar main dengan Bumi ya, Bumi anak uncle yang paling kecil. Dia masih Sd, nanti Bumi ajak Winter main kelereng. Mau?"


Winter menjawab dengan mengerutkan alisnya.


"Dia tidak mau, kalau mau dia pasti senyum," ucap Samuel.


"Dia memang bayi yang anti senyum sepertinya," ucap Keenan.


"Coba biar aku yang gendong." Philip beranjak dari duduknya dan mengambil Winter di gendongan Keenan.


"Senyum atau aku akan melemparmu ke kolam renang!" ancam Philip. "Ayo senyum!"


Winter mengerutkan kembali kedua alisnya.


"Hah lihat, dia marah," ucap Sergio. "Lihat Nala, dia manis dan ramah walaupun masih bayi. Iya kan Nala?" Bayi itu tersenyum menatap Sergio.


Kemudian para kakek dan Nenek mereka datang ke mansion dengan suami mereka membawa banyak kantung coklat berisi peralatan bayi.


"Winter Summer ... Sini grandma gendong sayang." Teriak Sky berlari kecil dengan semangat menghampiri Winter di gendongan Philip.


"Nalaaaaa ..." teriak Liana mengambil Nala di tangan Sergio dengan antusias.


"Dimana Laura dan Lalita?" tanya Kara.


"Ada, mereka di kamarnya," sahut Philip. Kara pun bergegas menaiki anak tangga untuk membawa cucunya itu.


Kemudian Maxime, Arsen dan Daniel datang ke mansion dengan membawa kantung berisi buah-buahan.


"Kalian beli buah sebanyak itu?" tanya Javier.


"Ini untuk kesehatan Ibu dan anak, Daddy," sahut Arsen.


"Itu apa?" tanya Maxime menatap beberapa kotak di lantai.


"Mainan, pakaian, buku, semuanya ada di sini," sahut Sekretaris Han menunjuk kotak tersebut.


"Mereka masih bayi, sudah di belikan mainan," ucap Daniel.


"Harus persiapan dong," sahut Liana.


"Dimana Ibu mereka? kenapa bayinya di bawah semua?" tanya Maxime.


"Ada yang sedang menyusui, ada yang sedang mandi, ada yang sedang buang air besar," sahut Philip.


Kemudian Javier menerima telpon dari Ibunya. Rania mengabarkan jika Xander masuk Rumah Sakit dan di bawa oleh anak buah yang lain. Sontak berita itu mengangetkan mereka semua, mereka bergegas pergi ke Rumah Sakit. Sebagian ada yang diam di mansion karena harus menjaga si kembar.


Bersambung