
Tessa duduk bersedekap dada di sofa dengan sesekali menatap pintu kamar mandi, ada Daniel yang sedang berjuang dengan perutnya yang terasa melilit akibat makan daging asap pedas.
Tessa yang terlihat khawatir sesekali menatap jam di pergelangan tangan nya, sudah hampir tiga puluh menit Daniel belum juga keluar.
"Apa dia mati di dalam sana," gumam Tessa.
Beberapa menit kemudian akhirnya Daniel keluar dengan wajah lesu memegang perutnya. Tessa segera menghampiri Daniel dan membantu pria itu berjalan untuk duduk di sofa.
"Kenapa kau tidak bilang kalau tidak bisa makan pedas."
"Mau bagaimana lagi, semua makanan yang kau pesan pedas semua," sahut Daniel dengan lemah.
Tessa berdecak. "Aku kan bisa pesan lagi."
Perempuan itu pun berjalan ke dalam kamarnya hanya untuk mengambil obat sakit perut di dalam tas nya. Walaupun sangat suka dengan makanan pedas, tapi terkadang perut Tessa bisa sama seperti Daniel sekarang. Jadi ia selalu menyiapkan obat di dalam tas nya.
Tessa keluar dari kamar dan memberikan obat itu kepada Daniel. "Minumlah."
Daniel mengambil obat tersebut memasukan nya ke dalam mulut lalu mengambil segelas air di meja dan meminumnya.
Tessa kembali duduk di depan Daniel memperhatikan wajah pria itu yang sedikit pucat dengan menyenderkan punggung nya di sandaran sofa.
"Mau ke dokter?" tanya Tessa.
Daniel menggelengkan kepala. "Sepertinya aku butuh kamar untuk malam ini saja."
"Kebetulan ada apartemen kosong didekat sini," sahut Tessa.
"Aku bahkan tidak bisa bangun sekarang." Daniel berkata dengan pelan seraya memejamkan mata dan memegangi perutnya.
"Kalau aku mati sendirian di apartemen yang lain kau mau tanggung jawab Tessa? ini kan ulahmu, gara-gara makanan yang kau pesan." Daniel menatap Tessa.
Tessa terlihat melebarkan matanya. "Kau menyalahkan ku? padahal kau sendit yang tidak bilang kau tidak suka pedas."
"Yasudah kalau begitu biarkan aku menginap di sini semalam saja."
Tessa menghela nafas dan akhirnya mengalah. "Yasudah."
Diam-diam Daniel menyunggingkan senyuman nya."
"Kamar tamu ada di sana." Tessa menunjuk salah satu kamar yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Terimakasih."
Tessa hanya mengangguk lalu beranjak dari duduknya masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Daniel seorang diri.
*
Satu jam kemudian Daniel mendengar suara barang jatuh dari kamar Tessa. Pria itu pun segera berlari membuka pintu kamar perempuan itu, sedari tadi Daniel belum masuk ke kamar tamu. Ia hanya duduk di sofa dengan sesekali memandangi pintu kamar Tessa yang tertutup.
Keduanya sama-sama melebarkan mata, Daniel yang terkejut dengan suara barang jatuh tadi dan Tessa yang terkejut karena Daniel tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Padahal barang yang jatuh itu hanya parfum yang tidak sengaja tersengol saja.
"Berani sekali kau masuk ke kamarku Daniel! keluar!!" Tessa mendorong tubuh Daniel.
"Maaf, aku kaget. Aku pikir kau kenapa-kenapa."
"Apanya yang kenapa-kenapa? aku baik-baik saja!"
"Yasudah, tidurlah. Ini sudah malam, kenapa kau belum juga menghapus make up mu. Kau tidak berpikir tidur dengan riasan di wajahmu itu kan?"
"Kau ini bawel sekali!" ucap Tessa lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar membuat Daniel sedikit terlonjak kaget.
Daniel menghela nafas lalu kembali duduk di sofa dengan menyenderkan punggung nya.
*
Keesokan harinya Tessa keluar dari kamar dan mendapati Daniel sedang duduk di sofa dengan laptop di atas paha nya. Dan Tessa tahu, laptop itu laptop miliknya.
"Daniel itu laptop ku!!" Tessa mengambil laptop di paha Daniel. Perempuan itu pun melihat laptop nya.
"Kau sedang membuat novel baru?" tanya Tessa lalu duduk di depan Daniel.
"Ya."
Mata Tessa masih menatap laptop miliknya, membaca novel yang Daniel buat di laptop nya.
"Judulnya--"
"Bertemu dengannya," potong Daniel.
"Apa ini novel lanjutan dari series perjuangan?" tanya Tessa.
"Ya. Setelah kehilangan Bubu, Tuan D bertemu dengannya.
"Dengan nya siapa yang kau maksud?" tanya Tessa yang penasaran.
Daniel tersenyum miring lalu mengambil laptop di paha Tessa. "Kau tidak perlu tau, novel nya belum selesai di tulis. Aku janji kau orang pertama yang akan membaca novel ku yang ini, aku akan berusaha menyelesaikan nya dengan cepat agar cepat masuk proses penerbitan."
Jari-jemari Daniel terlihat sibuk di atas keyboard laptop, Tessa hanya diam memperhatikan. Beberapa menit berlalu, suasana hening begitu saja, Daniel terus sibuk dengan laptop Tessa dan perempuan itu sedari tadi hanya diam memperhatikan Daniel.
Sampai akhirnya Tessa yang merasa bosan beranjak dari sofa dan membuka kulkas, ia mengambil buah-buahan dan membawa nya ke dapur, Tessa mencuci beberapa buah-buahan tersebut lalu menaruhnya di piring.
Sesekali ia menoleh ke arah Daniel. Pria itu benar-benar fokus dengan novel baru nya.
Bersambung