
"Baik, sebelum mulai kita berdoa dulu," ucap Philip merapatkan kedua tangan nya membuat yang lain mendesis kesal ke arahnya.
"Sehari saja kalian diam apa tidak bisa!" kesal Xander.
"Apa salahnya, aku kan mengajak berdoa," sahut Philip.
"Tuhan mana yang mau membantu manusia untuk membun*h sial*n. Tidak ada agama yang mengajarkan hal itu!" sambung Thomas.
"Kau religius juga ternyata," ucap Nicholas terkekeh pelan membuat Thomas hanya berdecak.
"Ini alasanku tidak mau pulang ke sini," gumam Maxime mendelik ke arah Jonathan dan yang lain.
"Sudah ... sudah ..." Javier menepuk-nepuk meja. "Yang boleh bicara hanya orang yang aku tunjuk saja!"
Kemudian Javier menoleh ke Maxime di sampingnya.
"Sejak kapan ada yang menerror mu?" tanya Javier.
Maxime tidak mungkin menjawab sejak kehadiran Milan si penerror itu ikut muncul ia pun beralibi.
"Saat itu Miwa dan Tessa berada di clab dan ada nomor yang tidak di kenal memberitahu ku dan Arsen keberadaan mereka. Setelah itu dia terus mengirimi terror, bahkan sampai ke perusahaan ..."
Yang lain setia mendengarkan penjelasan Maxime.
"Cctv?" tanya Javier.
"Dia sudah merusak semua cctv sebelum mengirim surat ke perusahaan," sahut Maxime.
"Sudah melacak nomor itu?" tanya Javier lagi.
"Arsen sudah melakukan nya, tapi sangat rapih tidak ada jejak sedikit pun. Dia sudah menghapus semua data di nomor itu."
"Tapi kami curiga dengan Oris," sambung Jack.
"Siapa Oris?" tanya Javier.
Jack menunjuk Maxime dengan dagu nya. "Tahanan yang Max keluarkan dan tinggal di mansion sekarang."
Javier kembali menoleh ke putra nya. "Kau tidak cerita soal itu, Maxi."
"Tidak ada bukti kalau Oris bersalah!" sahut Maxime.
"Tapi semenjak ada dia semuanya aneh. Penerror itu berani muncul," balas Jack.
"Dan lagi aku berhasil menemukan dia ..." Jack melempar beberapa foto yang ia ambil dari saku nya.
Javier, Maxime, Sekretaris Han dan Thomas mengambil masing-masing satu lembar foto itu.
Arsen melihat foto di tangan Ayahnya. "Dia kan pria yang semalam kita bahas."
"Kenapa cepat sekali kau menangkap nya?" tanya Maxime.
"Mudah, karena dia juga seorang preman pasar di sana," sahut Jack.
"Siapa dia?" tanya Javier.
"Pria asing yang berbicara dengan Oris," jawab Jack.
Xander merebut foto itu dari tangan Sekretaris Han.
"Dimana dia sekarang?" tanya Thomas.
"Mati."
Sontak Maxime, Arsen dan Peter menatap Jack tak percaya.
"Siapa yang membunuhnya?" tanya Peter.
Jack menggeser layar ponselnya. "Dengarkan ini ..." Ia memutar rekaman percakapan dirinya dan pria itu semalam. Dan semua orang hening mendengarkan.
"Apa kau kenal Oris?"
"Y-ya ..." jawab pria itu dengan nada gemetar.
"Apa yang kau bicarakan dengan nya?"
"Dia ... dia menyuruhku menerror keluarga De Willson ..."
"Apa alasan dia menyuruhmu menerror keluarga De Willson?"
"Aku tidak tau, aku hanya di suruh dan melakukan tugasku setelah di beri upah."
Rekaman itu selesai membuat Maxime menghela nafas lalu mengusap wajahnya gusar.
"Kau salah karena mengeluarkan tahanan itu, Maxi." Javier berkata seraya mendelik ke arah Maxime.
"Ya, Dad ... aku salah," sahut Maxime.
"Aku salah jika berpikir Oris melakukan hal gila itu!" batin Maxime.
Hati nya seakan tersenyum walaupun wajahnya datar. Dia yakin dengan pendirian nya sendiri, bukan Oris. Bukan Oris yang menerror nya. Pikiran nya tertuju kepada seseorang sekarang.
"Ini masalah kecil kalau Oris benar-benar pelaku nya, tapi Dad takut ada orang yang mengendalikan Oris."
"Dad tenang saja, aku sudah menyuruh Yakuza dan Antraxs berjaga di setiap jalan menuju mansion ini dan mansionku, juga perusahaan," ucap Maxime.
Javier menghela nafas lalu menyenderkan punggung nya di kursi. "Mudork sudah mati semua, Dad yakin bukan Mudork lagi yang mengendalikan Oris."
"Daddy Javier benar pasti ada yang mengendalikan Oris, aku pernah bicara dengan nya dan dia lebih mirip uncle Jonathan dari pada pria jahat."
"Anakmu kurang ajar sekali sekretaris Han!" kesal Jonathan.
"Mungkin anakku berpikir pria yang bernama Oris itu lebih mirip pasien rumah sakit jiwa seperti kalian." Sekretaris Han berkata kepada Jonathan seraya tersenyum samar.
Jonathan hanya berdecak dan memalingkan wajahnya saja.
Ponsel Maxime bergetar ia membuka pesan dari Keenan yang mengirimkan foto Milan sedang makan sushi. Maxime tersenyum lalu memasukan kembali ponselnya ke saku dan ketika mendongak.
Semua mata yang berada di ruangan itu tertuju ke arahnya, termasuk Javier.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Javier.
"Tidak ada," sahut Maxime lalu berdehem kikuk.
"Pasti karena si anak babi itu," bisik Aiden kepada Athes.
"Itu sudah pasti!" sahut Athes berbisik pula.
Javier menatap penuh curiga anaknya, Maxime ini lebih dingin dari nya. Sedikit aneh kalau pria itu tiba-tiba tersenyum bahkan ketika Athes dan yang lain sedang tidak melucu seperti biasanya.
"Sayanggg ... bawa mereka semua makan!" Sky berteriak di depan pintu.
Javier berdecak. "Ibumu akhir-akhir ini lebih cerewet dari biasanya," ucap Javier kepada Maxime.
"Baik Sky, kita ke bawah sekarang!" Jonathan menjawab dengan berteriak pula.
"Soal makan saja langsung connect," ledek Peter.
"Ayo mas bakso, kita makan dulu." Aiden berjalan selepas menepuk pundak Peter.
"Selamat kan aku dari mansion gila ini ..." lirih Peter seraya menghembuskan nafas. Tapi karena ia juga lapar Peter mengikuti Philip dan Athes and the geng.
Bersambung