The Devil's Touch

The Devil's Touch
#159



Arsen dan Miwa kembali ke restaurant, mereka kembali duduk di meja. Belum satu menit mereka duduk, di meja yang lain beberapa orang sedang berbincang-bincang membahas pasar malam hari ini.


"Banya orang pergi ke pasar malam berotot malam ini."


"Maksudmu pasar malam berotot apa?"


"Kau tidak tau?"


Salah satu perempuan di meja itu menggeleng.


"Sudah tersebar di internet, pasar malam sekarang pedagang nya bukan lagi pria tua, tapi pria matang yang berotot. Astaga ... hampir semua pria berotot itu mendorong gerobak warna-warni tadi sore. Video nya sudah hampir satu juta orang yang melihat."


Miwa mengambil ponselnya mendengar perbincangan mereka. Sementara Arsen sedang meneguk wine di tangan nya.


Miwa mencoba mencari video pria berotot mendorong gerobak itu. Ia menyipitkan mata nya kala menonton video itu, Miwa merasa mengenali beberapa orang yang ada di video itu.


"Aldo, Ezar," gumam Miwa.


"Kenapa bee?" tanya Arsen.


"Lihat ini boo ..." Miwa memberikan ponselnya kepada Arsen. "Bukan kah mereka anak buah Daddy."


Arsen menonton video di ponsel Miwa lalu menyimpan nya di meja setelah selesai menonton video tersebut.


"Maxi."


"Kak Maxi?" Miwa mengerutkan dahi nya.


Arsen mengangguk. "Ya, dia pasti mengubah semua penjual di pasar malam itu."


"Boo, bagaimana kita ke pasar malam juga?" Miwa tersenyum dengan mata penuh harap memandang Arsen.


Arsen menggeleng. "Sudahlah jangan ganggu kembaranmu itu bee!"


"Aku ingin ke pasar malam, bukan mau menganggu Kak Maxi!! Sudah lama tidak naik wahana di sana."


"Jangan mengajak ku naik bianglala seperti dulu!" sahut Arsen yang selalu naik bianglala bersama Tessa dan Miwa saat remaja dulu. Maxime selalu ogak naik wahana itu tapi di sisi lain pria itu khawatir dengan Miwa dan Tessa saat masih remaja, alhasil Arsen di paksa ikut naik.


Miwa tertawa. "Ayolah ... kapan lagi kita naik bianglala berdua. Iya kan?"


Arsen menghela nafas kasar sementara Miwa melukiskan senyum di wajahnya.


*


Mereka benar-benar pergi ke pasar malam, keduanya keluar dari mobil. Miwa mengedarkan pandangan nya menatap pasar malam yang begitu ramai, pasti bukan karena mereka sengaja ingin menghabiskan waktu di pasar malam, tapi karena pedagang nya pria berotot semua.


Keduanya masuk seraya menatap satu-persatu pedagang di sana. Ketika mata para anak buah Javier tak sengaja bertemu dengan mata Arsen mereka pun menundukkan kepala nya sopan.


"Hei, kau jualan sosis sekarang? tidak bekerja dengan Daddy ku lagi?" tanya Miwa kepada salah satu anak buah Javier, sebut saja nama nya Ilham.


"Mas, jagung bakar nya satu."


"Mas kok lama sih?"


"Mas saya dua ya."


Ilham menoleh para pelanggan nya. "Sebentar, sabar. Antri ya."


Lalu Ilham menoleh ke arah Miwa yang berdiri di dekat pembakaran bersama Arsen.


"Kami di sini di suruh Tuan Maxime, Nona," sahut Ilham pelan.


"Dimana Maxi?" Tanya Arsen.


Ilham menggeleng. "Tidak tau Tuan, tadi ada di meja sana ..." Ilham menunjuk salah satu meja yang tak jauh dari tempat jualan nya.


"HEI NONA MIWA!!" Teriak Aldo yang sedang menaiki wahana komidi putar atau Carousel.


Miwa menoleh ke arah wahana tersebut lalu mendapati Aldo sedang melambai ke arahnya. Arsen mendengus kasar melihat Aldo naik komidi putar bersama anak kecil.


Miwa tersenyum membalas lambaian tangan Miwa. Sementara itu Maxime dan Milan melihat Miwa dan Arsen dari atas bianglala.


"Bukan kah itu Arsen dan Miwa?" tanya Milan.


Maxime mengangguk. "Ya sayang ..."


Milan hendak berteriak tapi mulutnya di bekap cepat oleh Maxime. Maxime menggeleng lalu melepas bekapan tangan nya.


"Jangan di panggil sayang."


"Kenapa?" tanya Milan.


"Tidak apa-apa, jangan di panggil saja," sahut Maxime.


Sebenarnya Maxime tidak mau Arsen mendapati dirinya menaiki wahana yang tidak menyenangkan ini.


Tapi usaha nya gagal, karena beberapa anak buah Javier membantu Arsen dan Miwa menemukan Maxi.


Arsen dan Miwa mendongak menatap bianglala yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Miwa menyipitkan mata nya mencari-cari keberadaan Maxime.


Lalu perempuan itu mengembangkan senyumnya setelah mendapati Maxime benar-benar sedang menaiki bianglala bersama Milan.


"Kak Maxi!!" teriak Miwa melambaikan tangan.


Bianglala itu terus berputar sampai ketika kereta gantung yang di naiki Milan dan Maxime berada di bawah, Miwa bisa melihat jelas kalau itu benar-benar Maxime. Tidak salah lagi.


Maxime dan Milan keluar dari kereta gantung tersebut menghampiri Miwa dan Arsen. Mau bagaimana lagi mereka sudah melihat Maxime naik wahana tersebut.


"Akhirnya, mau juga kau naik bianglala," ucap Arsen menarik ujung bibirnya tersenyum.


Maxime berdecak. "Milan yang mau!"


"Ah tapi Kak Maxi ketagihan kan?" goda Miwa.


"Iya, dia mau naik lagi tadi," sahut Milan berbohong. Padahal sedari tadi Maxime terus meminta untuk turun dan turun.


"Hahaha kak Maxi sudah merasakan naik wahana itu menyenangkan!'


"Tidak juga, sudah kita pergi saja sayang." Maxime menarik tangan Milan menjauhi Miwa dan Arsen.


"Manusia satu itu!!" kesal Arsen melihat kepergian Maxime.


"Jangan bilang seperti itu, dia kakak ipar mu boo."


Miwa pun berjalan mengikuti Maxime, meninggalkan Arsen sendirian.


"Padahal aku tidak bilang apa-apa," gumam Arsen lalu ikut menyusul Miwa.


Bersambung