The Devil's Touch

The Devil's Touch
#203



Jack, Sherly, Sabrina dan Aron mengantar Maxime sampai gerbang. Sebelumnya Maxime sudah mengatur tombol merah di gerbang itu untuk mendeteksi sidik jari Jack. Dan sekarang Jack bisa keluar masuk ke desa itu kapanpun dia mau.


"Hati-hati," ucap Sherly.


"Bye Paman, Bye Milan ..." Aron melambaikan tangan.


"Bye ..." Milan dan Maxime melambaikan tangan untuk Aron.


Kemudian setelah mobil mereka melaju, gerbang kembali tertutup. Sabrina langsung mendekati Jack.


"Kakak ipar, kapan kita ke kota?"


"Untuk apa kau tanya itu, Sabrina?" tanya Sherly.


"Aku hanya ingin jalan-jalan kak, ini impianku melihat gedung-gedung tinggi, aku senang Kakak menikah dengan kakak ipar dan membuat kita bisa keluar masuk kapan saja dari desa ini ..."


"Intinya kita tidak keluar sekarang," ucap Jack membuat Sabrina menekuk wajahnya.


"Sudah, ayo pulang," ajak Sherly kemudian menyusul Jack suaminya.


"Aku sudah pernah ke kota Aunty, di sana panas. Jangan mau ... enakan juga di sini." kata Aron dengan muka polosnya.


"Huhh, kau kan suka sekali cari keong di sawah jadi tidak suka tinggal di kota. Sudahlah, ayo ..." Sabrina mengenggam tangan Aron dan membawanya kembali ke rumah.


*


Sesampainya di mansion, Maxime keluar dari mobil, mengitari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Pelan-pelan sayang," ucapnya ketika Milan keluar dari mobil.


Ketika mereka masuk ke mansion, sudah ada Javier dan Sky yang duduk di sofa dengan tangan bersedekap dada.


"Daddy Javier ... Mommy Sky ..." ucap Milan.


Sky beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Maxime dan Milan yang berdiri di dekat pintu. Kemudian perempuan itu langsung memukul anaknya beberapa kali. Lengan nya menjadi sasaran Sky.


Plak


Plak


Plak


"Kau anak nakal, istrimu sedang hamil, kau membawanya kemana?!"


"Mommy, kami hanya jalan-jalan," ucap Milan menghalangi tangan Sky untuk tidak lagi memukul Maxime.


"Mom ..." protes Maxime seraya mengusap lengannya.


"Kau ini, seharusnya menjaga istrimu untuk istirahat," sambung Javier berjalan ke arah mereka.


"Aku di sana juga menjaganya," sahut Maxime.


"Di sana dimana?kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi hah?" tanya Sky.


"Tidak ada sinyal, Mom. Aku ada di desa hukuman."


"Desa hukuman? untuk apa kau datang ke sana Maxi?" tanya Javier.


"Mengunjungi Jack."


"Si pengkhianat itu!" kesal Javier.


"Sudahlah, dia sudah berubah juga, Dad."


Javier menghela nafas kemudian menatap perut Milan. "Ada berapa di dalam sana?" tanya nya.


"Hah?" Milan mengkerutkan dahinya. "Maksudnya Dad?"


"Iya, sekalian sama Miwa dan Tessa."


"Besok saja Dad, kasihan. Istriku kelelahan ..."


Sky menghembuskan nafasnya. "Yasudah, besok ya. Kalau begitu Mommy dan Daddy pulang dulu, Miwa dan Tessa juga sedang istirahat di kamarnya.


"Iya mommy," sahut Milan.


Javier dan Sky pun pulang ke mansion nya, Maxime langsung mengajak Milan ke kamarnya. Mereka tidur siang bersama dan bangun sore hari karena Milan meminta Maxime membuatkan nasi goreng resep Ayahnya.


Dulu Maxime pernah bercerita jika dia punya resep khusus nasi goreng dari kakeknya, Ataric yang di ajarkan Javier kepada dirinya.


Maxime pun turun ke dapur, mengambil beberapa bahan di kulkas dan mulai memotong-motong bawang. Kemudian Arsen datang ke dapur untuk mengambil segelas air.


"Peter bilang kau bertemu Jack," ucap Arsen membawa gelasnya ke minibar.


"Ya."


"Bagaimana kabarnya?" tanya Arsen.


"Dia baik-baik saja bersama istrinya dan Aron."


"Dia akan kembali bekerja denganmu?" Tanya Arsen.


"Aku sudah menyuruh dia pergi dari desa itu tapi dia tidak mau." Maxime mulai memanaskan minyak di wajan.


"Oh ..."


"Miwa sedang apa?" tanya Maxime kini.


"Dia hanya main ponsel di kamar, tadi pagi ngidam ingin mangga muda, padahal masih pagi."


"Kau menurutinya kan?"


"Tentu saja, yang di dalam sana anakku!!"


"Dimana Daniel?" tanya Maxime lagi.


"Di perusahaannya, Tessa sedang melukis di kamarnya."


Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun jadi. Maxime memindahkannya ke piring.


"Ada dua nasi goreng lagi, untuk Miwa dan Tessa," ucap Maxime membawa satu piring ke kamarnya. Dua piring sisanya di antar Arsen ke kamar Miwa dan Tessa.


"Sayang ..."


Milan langsung menyimpan ponselnya melihat Maxime datang membawa nasi goreng. Maxime duduk di sisi ranjang.


"Aku suapi?"


Milan mengangguk dengan semangat. Maxime mulai menyuapi istrinya dengan tersenyum, sesekali ia mengelus kepala Milan.


"Kau berharap anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya Milan.


"Laki-laki dan perempuan."


"Kalau isinya hanya satu bagaimana?"


"Tidak apa-apa sayang, kita bisa membuatnya lagi sampai ada laki-laki dan perempuan," ucap Maxime dengan tersenyum.


"Ck. Kau ini!"


Bersambung