Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 98



🌹HAPPY READING🌹


Sela masih menangis di kursi meja makan. Kina dan yang lainnya sudah berusaha untuk membujuk, namun Sela tetap saja menangis. "Sela, sini sama Uncle Thom," ucap Thomas membawa Sela ke pangkuannya.


"Hiks, Buna," ucap Sela menangis sambil mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangannya yang mungil.


Dee dan yang lainnya menggeleng tak percaya melihat semua ini. Kalian tahu semuanya kan? Ya, mulai dari Kevin, keluarga Ibra, keluarga Kenzo, Thomas dan Bu Sari. Mereka semua hanya bisa menggeleng tidak percaya melihat Sela yang menangis sesegukan karena tidak bertemu dengan Bundanya pagi ini.


"Al, coba telfon lagi," ucap Dee meminta Al untuk terus menelpon Kenzo.


"Udah Umi. Ini udah panggilan ke tiga puluh loh," ucap Al melihatkan ponselnya pada Dee.


"Pa, anakmu bikin malu," ucap Melani menutup wajah dengan kedua tangannya. Sungguh, dia sangat malu dengan sikap buas anaknya ini. Benar-benar tidak tahu waktu kalau sudah berhubungan dengan surga dunia.


"Anak kamu juga, Ma. Kembaran kamu, Kinzi," ucap Anggara menatap Kinzi yang duduk di depannya.


"Untuk saat ini dia bukan saudara Kinzi," ucap Kinzi memandang kesal Papanya yang menyalahkan dirinya atas kelakuan Kenzo.


Gue nggak percaya. Minuman yang gue kasi sama Kenzo bisa berefek sekuat ini. Batin Al sambil matanya saling menatap bersama Thomas. Seolah mereka berdua saling mengalahkan atas apa yang mereka lakukan.


Kemarin, setelah makan malam, Al dan Thomas memberi hadiah kepada Kenzo berupa minuman botol yang lebih mirip seperti jamu. Al tidak tahu, bahwa jamu yang dia beli bersama Thomas dipinggir jalan itu akan berefek sekuat ini.


Al tersenyum sendiri membayangkan dirinya yang meminum itu. Dia menatap Bela yang kini menyuapi Adam makan. Besok gue coba. Batin Al nakal menatap Bella.


"Sela, jangan sedih lagi. Mungkin Bunda dan Papi lagi capek," ucap Shasa membujuk saudara sekaligus sahabatnya itu.


"Tah-tapi, Buna tidak kelual-kelual Kamal. Huaaaa, hiks," jawab Sela yang semakin menangis mengingat Bundanya. Rasa kesalnya yang semakin menjadi saat menggedor-gedor pintu kamar Zahra dan Kenzo tadi semakin membuatnya semakin menangis.


"Mama Tamala, ayo bangunin lagi Ayah cama Buna," ucap Sela membujuk Thomas agar mau membawanya ke kamar Kenzo dan Zahra.


Thomas menggeleng. "Kita makan dulu, ya. Setelah itu, kita akan kasih pelajaran untuk Ayah kamu," ucap Thomas membujuk Sela.


"Pelajalan?" beo Sela disela sesegukannya.


Thomas mengangguk. "Kita akan kerjain Ayah kamu nanti, mau?" ucap Thomas berbisik pada Sela.


Sela, anak itu diam sebentar. Setelah itu dia mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Thomas.


"Alhamdulillah," gumam mereka semua lega melihat Sela yang menurut dengan Thomas.


"Ayo kita sarapan," ucap Dee mengajak mereka semua untuk mulai memakan sarapannya.


"Papa," ucap Shasa yang kini duduk di pangkuan Aska. Seperti biasa, anak itu akan terus berceloteh ketika berada di meja makan. Bagaimanapun Aska dan Kina mencegah, yang namanya Shasa tetap melakukan apa yang dia inginkan.


"Iya, Nak," ucap Aska membuang nasi yang ada di sudut bibir Shasa.


"Tadi malam, ada suara aneh dari kamar Papi sama Bunda," ucap Shasa mulai bercerita.


"Cuala aneh?" tanya Sela yang mendengar perkataan Shasa. Anak itu duduk saling berhadapan. Mereka duduk dipangkuan Aska dan Thomas yang kebetulan duduk mereka saling berhadapan.


Shasa mengangguk menjawab perkataan Sela. "Iya suara aneh," jawab Shasa.


"Apa dikamal Ayah dan Buna ada binatang buasnya?" tanya Sela yang akan kembali menangis.


"Bukan suara binatang, Sela," ucap Shasa yang membuat Sela mengangguk lega. Bersyukur bahwa segala pikiran buruk anak itu tidak terjadi.


"Memang cuala aneh cepelti apa?" tanya Sela penasaran. Para orang tua dan yang lainnya hanya mendengarkan sambil terus memakan sarapan mereka. Thomas dan Aska bergantian menyuapi diri mereka sendiri dan juga gadis kecil yang ada di pangkuan mereka.


"Begini. Ahh, uhh, ahh, enakkhh, ah-mpphh," ucap Sela terhenti kala mulutnya langsung dibungkam oleh Kina.


Uhuk.


Ukhuk.


Uhuk.


"Shasa udah diam. Makan!" ucap Kina tegas menyuruh Shasa untuk segera diam.


"Mmmmpp," gumam Shasa tak jelas karena mulutnya masih ditutup oleh tangan Kina.


Kina melepaskan tangannya. "Makan!" ucap Kina menyuapi nasi goreng ke mulut Shasa.


"Twapi Chaca bewlum syeleshai, mwamwa," ucap Shasa dengan mulut penuh nasi goreng.


"Udah diam! Sekarang makan," ucap Kina tegas menatap Shasa. Dengan kesal dan wajah cemberutnya Shasa mengunyah nasi goreng di mulutnya. Anak itu memandang kesal pada sang ibu. Aska yang melihat itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Anaknya ini benar-benar sama seperti Kina sewaktu kecil.


Sela yang mendengar penuturan Sela berpikir keras. "Cuala cepelti itu, cuala apa, Mama Tamala?" tanya Sela menengadah menatap Thomas.


Thomas yang ditanya mengedarkan pandangannya pada mereka semua seolah meminta bantuan untuk menjawab.


"Kita sarapan dulu," suara tegas Ibra menginstruksi mereka semua yang ada disana.


Mereka semua yang mendengar itu mengangguk dan melanjutkan kegiatan sarapan. Sungguh, hari buka puasa Kenzo menjadi hari yang sial untuk mereka semua. Kenzo yang enak, mereka yang susah menjelaskan pada si kecil Sela.


.....


"Shasa," panggil Al. Kini mereka semua yang laki-laki duduk bersama di ruang keluarga. Sedangkan yang perempuan di dapur untuk membuat kue cemilan mereka.


"Iya, Daddy," jawab Shasa yang sedang bermain di karpet berbulu bersama Sela.


"Daddy mau tanya sesuatu, boleh," tanya Al pelan.


"Hem," jawab Shasa berdeham sambil mengangguk. Anak itu nampak fokus bersama Sela memainkan Barbie mereka. Sedangkan Adam memainkan mobil-mobilan miliknya bersama Thomas.


"Kenapa Shasa bisa dengar suara itu dari kamar Papi dan Bunda?" tanya Al penasaran. Sudah sejak tadi mulutnya gatal hendak bertanya, tapi Dee dan Bela selalu mencegahnya.


"Kemarin Shasa haus, jadi mau turun ke dapur. Pas lewat kamar Papi sama Bunda, dengar suara anehnya," jawab Shasa sambil memberi minum teh pada Barbie nya.


"Shasa sendiri?" tanya Ibra yang juga penasaran.


Shasa mengangguk. "Soalnya Sela sudah tidur, Kakek," jawab Shasa.


"Kenzo bangsat."


"Kenzo gila."


"Kenzo hyper."


"Edan emang."


Sumpah serapah dari mulut Ibra, Thomas, Anggara dan Al dan Aska keluar begitu saja mendengar penuturan Shasa. Sungguh, Kenzo benar-benar menuntaskan buka puasa bertahun-tahunnya.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Semua keluarga berkumpul di ruang keluarga.


"Selamat siang," sapa tersangka laki-laki yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan mereka dengan wajah sumringah, berbeda dengan Zahra yang nampak tak enak dengan mereka sejua.


Mereka semua menoleh dan menatap tajam. Sela berdiri dan berjalan dengan wajah kesal mendekati Kenzo dan Zahra.


"Puas membuat adiknya?!" tanya Sela menatap tajam Kenzo dan Zahra.


......................


Maaf jika sedikit membosankan, tapi jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘