
🌹HAPPY READING🌹
DEG
Kenzo terpaku melihat Senyum Sela kepadanya. Senyum ini sangat mirip sekali dengan senyum wanita yang selalu mengisi relung hatinya sampai kapanpun. Senyum itu sangat mirip dengan wanita yang selalu memenuhi pikirannya.
"Zahra," gumam Kenzo tanpa sadar menatap Sela.
Tapi Sayang, gumaman tersebut hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Dia berkata dengan sangat pelan tepat di depan wajah Sela. Anak kecil itu mengerjap lucu. Dia seperti mendengar Kenzo menyebut sebuah nama, tapi dia tidak mendengar dengan jelas. "Ayah memanggil Cela?" tanya Sela polos.
Kenzo tersadar dari lamunannya dan menggeleng disertai senyum tulusnya. "Bukan apa-apa, Sayang," ucap Kenzo.
"Papi, Shasa mau main ya sama Sela," ucap Shasa.
Kenzo mengangguk. "Shasa dan Sela main di kamar itu, ya. Di sana ada banyak mainan dan makanan. Kalau ada apa-apa, kalian bisa teriak panggil Papi atau Daddy," ucap Kenzo.
Shasa mengangguk senang. Dia segera menarik tangan Sela dan memasuki kamar yang tadi ditunjuk oleh Kenzo.
Setelah Sela dan Shasa pergi, Kenzo menghela nafas lega. Dia tersenyum getir mengingat nasibnya dan segera berdiri, begitu juga dengan Al. Mereka berdua berjalan dan duduk di sofa.
"Apa Lo memikirkan hal yang sama seperti yang gue pikir, Al?" tanya Kenzo menatap Al sendu.
Al menatap Kenzo dan mengangguk. "Dia mirip dengan Zahra, Ken," ucap Al.
"Tapi itu tidak mungkin. Kejadian enam tahun lalu telah merenggut nyawa Zahra. Bahkan namanya sudah dimasukkan ke dalam list korban meninggal," lanjut Al.
Kenzo menggeleng. "Zahra pasti masih selamat, Al. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Walaupun bukan untuk gue, Zahra pasti berjuang untuk anak kami," ucap Kenzo sendu.
"Jangan hentikan pencariannya, Al. Gue mau orang-orang Lo tetap melakukan pencarian di Tarim, biar orang-orang gue yang melakukan pencarian disini," ucap Kenzo.
"Apa Lo yakin, Ken? Bahkan ini sudah enam tahun," ucap Al.
"Gue tidak pernah ragu tentang Zahra, Al," ucap Kenzo.
"Tapi hidup Lo harus tetap berlanjut, Ken. Cari wanita yang bisa menerima Lo dan mencintai Lo dengan tulus," ucap Al menasehati Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Tidak ada wanita yang lebih tepat buat gue selain Zahra, Al," ucap Kenzo menatap lurus ke depan. Setelah itu dia beralih menatap Al. "Jika Li di posisi gue, apa Lo akan mencari wanita lain?" ucap Kenzo.
Al menghela nafas pelan. Dia menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. "Kadang gue emang pintar menasehati, Ken. Padahal gue sendiri nggak bakal sanggup untuk berpindah ke lain jiwa," ucap Al mengingat bagaimana perjuangan dia untuk mempertahankan Bella dalam hidupnya.
"Mulai sekarang berhenti meminta gue mencari pasangan, Al," ucap Kenzo sambil terkekeh pelan setelah tadi mendengar jawaban Al.
"Pikirkan orang tua Lo, Ken. Mereka merindukan seorang cucu," ucap Al yang mendapat tatapan tajam dari Kenzo.
"Anak gue sedang bersama istri gue sekarang. Dan tidak akan ada anak lain selain anak yang keluar dari rahimnya!" ucap Kenzo tegas dan langsung berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan menuju kaca besar yang ada di ruangannya. Memandangi aktifitas-aktifitas yang terjadi di jalanan. Al hanya menghela nafas pelan. Jika bukan karena Anggara yang meminta Al untuk membujuk Kenzo, maka Al tidak akan melakukan hal ini. Dalam hatinya masih ada harapan untuk keselamatan adik yang sangat dia sayangi.
Tanpa mereka sadari, Sela mendengar semuanya dari pintu kamar yang tadi dia masuki. Dia hendak mengambil tasnya yang tertinggal disana. Tapi langkah Sela terhenti ketika mendengar perkataan Kenzo mengenai seorang anak tadi.
Ternyata Cela tidak menjadi Anak Ayah cepenuhnya. Batin Sela sendu dengan kepala tertunduk.. Tidak ingin mengganggu pembicaraan Al dan Kenzo, Sela kembali masuk ke dalam kamar dan kembali main bersama Shasa.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Saat ini Kenzo sedang dalam perjalanan mengantar Sela pulang. Sedangkan Shasa tadi pulang bersama Al.
Sela duduk dengan mata yang terus menatap keluar jendela dengan Anna yang selalu dipangkuannya. Kenzo sesekali melirik Sela dan Anna secara bergantian. "Sela," panggil Kenzo lembut.
Sela menoleh dengan tersenyum. "Iya Ayah," jawab Sela.
"Kita beli boneka baru, yuk?" ucap Kenzo meminta persetujuan Sela.
"Kita beli yang lebih bagus, ya," ucap Kenzo.
Sela kembali menggeleng. "Anna caja cukup buat Cela, Ayah. Anna memang jelek, tapi dia belhalga untuk Cela," ucap Cela memeluk Anna.
Kenzo hanya tersenyum dan mengangguk. "Ini boneka pembelian (pemberian) Buna, Ayah. Buna memang tidak membelinya. Anna Buna dapat di tempat sampah waktu pulang kelja. Kalna macih bagus, jadi Buna mengambilnya. Walaupun begitu, tapi Anna belhalga, Ayah," ucap Sela sendu.
"Ayah," lanjut Sela memanggil Kenzo.
"Iya, Nak," jawab Kenzo. Entah kenapa hatinya terasa sangat nyaman selalu didekat anak ini. Anak ini benar-benar memberikan aura positif bagi diri Kenzo.
"Anna cama cepelti Cela," ucap Sela.
"Maksudnya, Nak?" tanya Kenzo dengan dahi berkerut karena tidak mengerti apa maksud Sela.
Sela menunduk. Tangannya terus meremas bagian kaki boneka Anna. "Anna dapat caat dibuang oleh pemiliknya, begitu juga Cela. Cela bisa memanggil Ayah, kalna Cela dibuang oleh Ayah Cela cendili belsama Buna," ucap Sela sendu dengan kepala terus menunduk.
Kenzo menepikan mobilnya mendengar perkataan Sela. "Kenapa bicara seperti itu, Sayang?" tanya Kenzo lembut.
Sela mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca. "Jika nanti Ayah menemukan Anak Ayah yang cebenalnya, jangan lupakan Cela ya, Ayah," ucap Sela dengan suara bergetar. Kenzo terdiam, dia berpikir berarti Sela tadi mendengar perkataannya dengan Al.
Kenzo yang melihat itu segera mengangkat Sela kedalam pangkuannya dengan sedikit kesusahan."Sela, tidak ada Ayah yang membuang anaknya sendiri, Nak," ucap Kenzo.
"Ada Ayah, Cela contohnya," jawab Sela.
Kenzo menggeleng. "Apa Bunda Sela tidak pernah menceritakan tentang Ayah Sela?" tanya Kenzo.
Sela menggeleng. "Buna akan menangis jika Cela beltanya Ayah. Makanya Cela tidak pelnah lagi beltanya Ayah. Cela nggak suka Buna nangis," jawab Sela sendu.
"Apa Sela tau sebabnya Bunda Sela menangis?" tanya Kenzo.
Sela mengerjapkan mata yang berairnya dengan lucu sambil menggeleng, menandakan bahwa dia menjawab tidak tahu akan pertanyaan Kenzo.
"Mungkin Bunda terlalu rindu kepada Ayah Sela, makanya Bunda menangis. Dan mungkin Ayah Sela belum bisa pulang karena bekerja jauh untuk Sela dan Bunda. Ayah Sela pasti akan pulang jika uangnya sudah terkumpul banyak. Dia ingin membeli mainan yang banyak untuk Sela," ucap Kenzo memberi pengertian kepada Sela.
"Tapi Cela tidak pelnah minta mainan. Cela hanya mau Ayah pulang," ucap Sela sendu.
"Sela harus selalu berdoa untuk Ayah Sela, ya. Agar bisa cepat pulang dan berkumpul bersama Sela dan Bunda," ucap Kenzo.
Sela hanya mengangguk, meskipun hatinya tidak yakin atas apa yang Kenzo sampaikan. "Ayah, cetelah hali ini, bicakah kita beltemu lagi?" tanya Sela.
Kenzo mengangguk. "Kita akan selalu bertemu, karena mulai sekarang, Ayah kan jadi Ayahnya Sela," ucap Kenzo.
Sela mengangguk senang dengan senyum manisnya. "Nanti Cela akan kenalkan Ayah cama Buna," ucap Sela.
Kenzo mengangguk. Setelah itu dia kembali mendudukkan Sela di kursi sebelahnya dan melanjutkan perjalanan mereka. Tapi sebelum menjalankan mobilnya, Kenzo mengubungi seseorang melalui pesan. Dia mengirim sebuah foto yang tadi dia ambil secara diam diam.
Selidiki segala hal menyangkut anak ini.
Setelah memastikan pesannya terkirim, Kenzo kembali menjalankan mobilnya.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍