
🌹HAPPY READING🌹
Malam yang sunyi menjadi saksi Pelepas rindu Zahra dan kenzo yang sudah beberapa hari ini tidak saling sapa. Kedua makhluk berbeda gender yang sudah terikat dalam hubungan sah itu saling merenggut nikmat dan bertukar peluh satu sama lain.
“I love you, Zahra,” ucap Kenzo saat merasakan pelepasan duniawi nya.
“I love you more, Mas,” jawab Zahra lemah yang sudah tak berdaya dibawah Kenzo.
Mereka berdua saling pandang dengan senyum yang menghiasu wajahnya. Kenzo menatap wajah cantik yang Nampak Lelah karena ulahnya itu. Kenzo turun dari atas tubuh Zahra dan melepaskan penyatuan mereka.
Gerakan Kenzo terhenti ketika kepalanya mendekat
pada perut Zahra yang sedikit membuncit dan tidak tertutup apapun.
Wajah Zahra merona malu. Meskipun mereka sudah saling melijat lekuk tubuh satu sama lain, tapi tetap saja, perbuatan kenzo dapat menciptakan suasana harmonis dalam hati Zahra. Badan Zahra meremang ketika merasakan bibir kenzo menempel diperutnya.
Cup.
Satu kecupan dari kenzo mendarat diperut Zahra. “Sehat-sehat disana ya, nak. Ayah menantikan kehadiranmu,” ucap kenzo tulus dengan mata berkaca-kaca menatap perut Zahra.
Basah. Batin Zahra merasakan perutnya yang basah seperti terkena air. Jika karena kecupan kenzo, perutnya tidak akan basah ini, melainkan lembab.
Zahra mengumpulkan tenaganya meski terasa lemas untuk duduk berhadapan dengan kenzo. Satu tanganya digunakan untuk menarik dan menahan selimut menutupi tubuh polosnya. Sedangkan satu tangan yang lainnya mengangkat kepala kenzo yang menunduk. Ibu jari Zahra bergerak menghapus air mata yang mengalir dipipi suaminya itu. “Kenapa menangis, Mas?” tanya Zahra lembut.
Kenzo menggeleng. Dia membalas tatapan lembut Zahra dengan sendu. “Aku hanya takut jika kejadian tadi benar adanya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena telah mendiamkanmu dan anak kita, Sayang. Maaf,” ucap Kenzo penuh sesal.
“Maaf juga, karena Zahra sudah buat Mas cemas dan khawatir begini. Kami akan baik-baik saja, Mas. Insyaallah,” lanjut Zahra dalam hati.
Kenzo mengangguk yakin. “Cukup sekali aku bersikap bodoh pada kamu dan Sela. Aku tidak ingin lagi menyia-nyiakan istri dan anakku. Maaf,” ucap kenzo tulus dengan segala penyesalan yang menyeruak dalam hatinya. Hampir saja kebodohan masalalu itu terulang lagi. Jika saja dia tidak bisa mengendalikan sikap egoisnya, maka sudah tidak ada Zahra bersamanya saat ini.
Zahra tersenyum mendengar penuturan suaminya. Bukan bermaksud menertawai tangis dan penyesalan suaminya, tapi Zahra senang karena Kenzo sudah mengetahui bahwa seorang anak dan istri sangat berarti dalam kehidupan seorang lelaki. “Sekarang Mas mengerti, bukan? Bahwa tidak ada kata baik jika kita menyia-nyiakan seorang Wanita, Mas. Dalam agama kita, Wanita sangat dihormati bagaikan ratu. Tapi mas menyia-nyiakan di masalalu,” ucap Zahra lembut yang dibenarkan oleh Kenzo.
“Jangan sampai anakku nanti menerima balasan atas perbuatan ku, Sayang,” ucap Kenzo sendu.
“Doa orang tua adalah penyelamat untuk anaknya, Mas,” jawab Zahra menenangkan.
“Anak dan istriku, dua kata yang selalu bersanding, yang selalu aku iringi dengan kebaikan dalam lantunan do'a ku, Sayang,” ucap kenzo yakin menatap Zahra.
“Terimakasih,”ucap Zahra lembut setelah mendengar penuturan tulus dari Kenzo.
Tanpa membalas, kenzo memeluk Zahra erat. Tidak peduli dengan tubuh mereka yang masih belum tertutup satu helai benang pun. Beberapa menit mereka menikmati pelukan, Kenzo melepaskannya. Dia menangkup wajah Zahra dengan kedua tanganya dan mengecup setiap inci wajah cantik itu dengan bertubi-tubi.
“Mas geli,” ucap Zahra terkekeh pelan merasakan geli di area wajahnya karena bulu-bulu halus yang sudah mulai tumbuh disekitar rahang Kenzo.
“I love you,” ucap kenzo lagi menyatakan cintanya.
“I need proof, not promise,” jawab Zahra yang dianggukki oleh Kenzo dengan yakin.
Kenzo menarik tubuh Zahra dengan mudah untuk bersandar dikepala ranjang. Tanpa beban, kenzo mendudukan Zahra dipangkuannya dengan keadaan tubuh yang hanya tertutup oleh selimut. Zahra Kembali deg-degan karena merasakan kulit belakanganya bersentuhan dengan asset pribadi Kenzo.
Kenzo yang paham dapat melihat kegugupan Zahra.
“ Kita tidak akan melakukan apapun, Sayang,” ucap Kenzo terkekeh pelan.
“Sayang,” panggil Kenzo lembut. Posisi mereka saat ini benar-benar membuat semua mata yang melihat dan membaca menimbulkan keirian karena keharmonisan ini.
“Iya Mas,” jawab Zahra lembut.
“Sudah berapa lama kamu mengetahu yang sebenarnya?” tanya Kenzo penasaran.
Zahra menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan kenzo. “Sejak saat aku sadar dari insiden tembakan yang dilakukan oleh Bunda Sofia, Mas,” jawab Zahra lembut.
Kenzo berdecak kesal. Telinganya sangat tidak menerima jika mendengar Zahra menyebut ‘Bunda Sofia’.
“Dia bukan ibumu, Sayang,” ucap Kenzo ketus.
“Bagaimanapun juga dia merawat Zahra, Mas,” ucap Zahra memperingati.
“Mau lanjut cerita atau tidak?” tanya Zahra cepat memotong Kenzo yang sudah membuka mulutnya untuk Kembali mengumpati orang yang sudah meninggal.
Kenzo mengangguk menurut. Dia juga tidak ingin menghancurkan momen hanya karena Wanita jahat itu.
“Saat Ayah datang keruangan Zahra, Zahra mendengar semuanya, Mas. Zahra hanya berpura-pura tidur. Karena Zahra tahu, ada hal penting yang ingin ayah sampaikan sama kamu. Makanya, Zahra pura-pura tidur dan mendengar semuanya,” ucap Zahra menjelaskan pada Kenzo.
“Sayang,” ucap kenzo tak enak.
“Awalnya Zahra berpikir, kenapa mas berniat menyembunyikan semuanya, padahal ayah ingin sekali meyampaikannya pada Zahra. Zahra sempat kecewa, tapi setelah mendengar alasan yang mas berikan pada ayah, zahara paham. Semuanya untuk kebaikaj Zahra. Kalian semua menjaga perasaan Zahra dari rasa kehilangan. Terimakasih,” ucap Zahra mendongak menatap Kenzo.
Kenzo tak habis pikir dengan istrinya itu. Sudah dibohongi, tapi masih bisa mengatakan terimakasih.
“Belajar untuk mencoba mendengar penjelasan, Mas,” ucap Zahra cepat, sekaligus menyindir saat melihat tatapan kenzo padanya.
“Siap Sayangku,” ucap Kenzo semangat mengeratkan rangkulan tangannya pada perut Zahra. Lelaki ini sungguh berhati kebal, disindir bukannya marah, tapi malah bersemangat.
“Zahra menerima semuanya, Mas. Menenagkan hati bahwa Zahra tidak sendiri. Masih ada umi, abi, ayah, Bu sari dan kamu sebagai keluarga, Zahra. Zahra juga masih memiliki adik dan abang, anak dan keponakan yang sangat menyayangi Zahra. Zahra kuat untuk kalian. Karena jika zahra kuat, maka kalian beban kalian akan sedikit berkurang,” ucap Zahra melanjutkan ceritanya.
“Kamu bukan beban, Sayang,” jawab Kenzo tak terima.
“Aku yakin, umi dan abi jika mendengar ini juga pasti akan kesal,” lanjut kenzo dengan sedikit cemberut.
Zahra hanya tergelak kecil melihat respon Kenzo.
“Lalu bagaimana bisa kamu membuat Türk Mücevher bekerjasama dengan perusahaan ku, Sayang?”
......................
Ribuan maaf author ucapkan pada pembaca setia semuanya karena baru bisa update. Semoga kalian tetap suka dengan tulisan dan karya aku, ya.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏