Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 193



🌹HAPPY READING🌹


"Kakek," panggil Sela yang duduk di karpet bulu bersama Dee dan Shasa. Sedangkan Ibra duduk di sofa sendiri dengan keranjang anggur di pangkuannya.


"Kenapa Sayang?" tanya Ibra.


Sela dan Shasa saling pandang dan tersenyum. Shasa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini Kakek," ucap Shasa memberikan kertas kepada Ibra.


Dee yang melihat tindakan kedua cucunya itu hanya geleng kepala.


Ibra membaca tulisan anak usia enam tahun di kertas itu. Mata Ibra membola membaca isi surat tersebut. "Kalian mau Kakek beli kambing-kambing kalian itu?" tanya Ibra tak percaya.


Sela dan Shasa sama-sama mengangguk dengan senyum sumringah mereka.


"Kenapa kalian jual kambingnya sama Kakek?" tanya Ibra.


"Kan sayang kalau dijual ke orang lain. Mending sama Kakek kan, bisa ketemu lagi sama kambingnya," jawab Shasa.


Dee yang mendengar pernyataan kedua cucunya menggelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu benar-benar tak habis pikir dengan akal dua gadis cilik itu.


"Emang mau jual kambing buat apa, Nak?" tanya Dee lembut.


"Hehe, buat liburan, Nek. Ayah bilang kemaren mau ke Turki tiga Minggu lagi, sekalian ketemu sama Kakek Kevin. Sela mau ke Cappadocia, Nek. Naik balon udara, tapi Ayah bilang uang Ayah nggak cukup. Jadi Sela sama Shasa mau jual kambingnya," jawab Sela menjelaskan.


Dee mengangguk mendengar penjelasan lucu cucunya itu. "Kalau Shasa buat apa uangnya?" tanya Dee beralih pada Shasa.


"Hehe, buat ke Disneyland Paris, Nek. Papa ngajakin liburan Disneyland juga tiga Minggu lagi," jawab Shasa.


"Aku udah ajak Shasa buat ikut ke Turki, tapi Shasa udah ada rencana juga," sambung Sela.


"Yasudah, kalian negosiasi dulu sama Kakek. Nenek mau buat kupas buah dulu ke dapur," ucap Dee berdiri dan berjalan menuju dapur meninggalkan mereka bertiga.


"Jadi Kakek, apakah Kakek bersedia membeli kambing kami?" tanya Sela.


Alis Ibra terangkat. "Kambing kalian sudah ada berapa memangnya? Nggak ada kandang kambing kalau mau dibawa kesini," ucap Ibra. Dia tidak mau nanti kandang kudanya terkontaminasi oleh kandang kambing yang baunya sangat gak dia sukai.


"Udah ada dua puluh lima ekor sama anak-anaknya juga," jawab Shasa setelah menghitung di bukunya.


"Kami punya penawaran lagi buat Kakek kalau emang nggak ada kandang kambingnya," celetuk Sela.


"Apa?" tanya Ibra. Dia benar-benar seperti sedang bicara dengan seorang seles yang menawarkan dagangannya dengan profesional.


"Kakek bisa tetap tinggalin kambingnya di kandang kami. Biar kami yang tetap rawat, jadi kan Kakek nggak perlu repot bersihin kotoran atau kasih makannya juga," jawab Sela yang dianggukki Shasa.


Ibra terkekeh pelan mendengar jawaban polos cucunya itu. Secara tidak langsung, mereka hanya ingin meminta uang untuk liburan. Tapi karena ajaran orang tua yang mengharuskan mereka untuk berusaha dulu, jadi inilah yang mereka lakukan.


"Kalian mau Kakek beli berapa kambingnya?" tanya Ibra. Tidak tega juga mengerjai kedua gadis kecil yang sedang belajar bisnis ini.


"Sepuluh juta," jawab mereka berdua serentak.


Ibra mengangguk. "Sepuluh juta itu sendiri-sendiri atau sekali duanya?" tanya Ibra lagi memberikan penawaran.


Sela dan Shasa saling pandang. "Kakek kan orang baik. Kakek kan sayang sama kita, jadi sepuluh juta itu untuk perorangnya," jawab Shasa dengan sangat manja pada Ibra.


"Iya Kakek. Hitung-hitung sedekah loh sama cucu sendiri," tambah Sela.


Ini cucu, dua-duanya benar-benar gen bapaknya semua. Sangat merugikan. Batin Ibra mengingat kedua menantunya itu.


"Baiklah, tapi Kakek punya syarat untuk kalian," ucap Ibra.


"Apa Kakek?" tanya keduanya serentak.


.....


"Biar kita yang cuci ini, Paman. Paman kerjakan yang lain saja," ucap Shasa pada penjaga kuda tersebut.


Penjaga kuda tersebut tersenyum dan mengangguk. Ini dua bocah, kandang sudah hampir bersih baru minta saya buat kerjain yang lain. Ada-ada saja. Batin penjaga kandang tersebut.


"Kalian bersihkan, ya. Jangan lupa, bagian dalam kandang masih ada kotorannya," jawab Penjaga kandang dan langsung pergi kebagian yang lain.


Sela dan Shasa saling pandang. "Bukan masalah," ucap mereka berdua senang.


Sedangkan di dalam rumah kaca, kedua pasangan paruh baya itu nampak sedang memperhatikan kedua cucunya dari kaca. "Mas, nanti mereka kecapean loh," ucap Dee tak tega melihat kedua cucunya bekerja berat begitu.


Mereka itu perempuan, Mas. Jadi pasti capek buat mereka," sambung Dee.


Ibra tersenyum dan menggeleng. "Semua cucu Ibra, mau perempuan atau laki-laki harus kuat dan mandiri, Sayang. Kita memang mampu, tapi mereka harus punya tanggung jawab untuk semua yang mereka inginkan..A Aku tidak mau mereka tumbuh menjadi gadis manja yang nanti tidak akan baik untuk masa depan mereka," jawab Ibra menjelaskan maksudnya pada Dee.


"Tapi Mas-"


"Kita tidak ada yang tahu kedepannya bagaimana, Sayang. Kita tidak mungkin selalu diatas kan. Ada saatnya nanti kita akan mengalami susah, dan mereka harus siap untuk itu agar tidak canggung nantinya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mengajari cucu-cucuku menjadi anak yang lebih baik," sambung Ibra memotong perkataan Dee.


"Tapi Zahra sama Kina tidak aku ajarkan begini mereka sudah dewasa juga," celetuk Dee.


"Karena mereka dewasa karena keadaan dan sebuah keterpaksaan, Sayang," jawab Ibra sendu.


"Dan aku tidak mau semua cucuku juga seperti itu," lanjut Ibra memandang teduh istrinya.


Dee mengangguk dan tersenyum. Mau bicara bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Ibra ada benarnya juga. "Kakek yang sangat baik," ucap Dee mengusap lembut pipi Ibra.


Cup.


"Dan laki-laki yang sangat bijaksana," sambung Dee mengecup pipi Ibra.


"Sayang, jangan mancing-mancing," rengek Ibra.


Dee terkekeh pelan. "Nafsu kamu Mas," ucap Dee tak habis pikir.


"Hanya sama kamu, Sayang."


.....


"Girls, kita makan siang dulu, ya!" teriak Dee memanggil kedua cucunya dari luar kandang.


Sela dan Shasa yang sedang bermain air itu langsung melepaskan selang dari tangan mereka dan berlari keluar kandang.


Mata Dee membola melihat kedua cucunya yang sudah basah kuyup dengan sedikit noda di rambut mereka. "Kalian mandi dulu, ya. Setelah itu ganti baju, bau," ucap Dee mengibaskan tangannya di depan hidung.


"Kerja keras memang begini, Nek," jawab Shasa.


"Kalau gitu kami mandi dulu ya, Nek," ucap Sela dan berlari bersama Shasa melewati pintu belakang agar tak mengotori rumah.


Dee menggeleng melihat kedua cucunya itu. "Anak-anakku berhasil mendidik cucu-cucuku," ucap Dee senang melihat bagaimana kompak dan.saling sayangnya Sela dan Shasa. Sungguh, Dee bangga dengan ajaran kedua anak gadisnya itu.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏