
🌹HAPPY READING🌹
Tiga mobil mewah sampai di Banda Soekarno Hatta. Mobil pertama ada Sofia, Kevin, Zahra. Mobil Kedua ada Ibra, Dee, Kina dan Aska yang mengendarai mobil. Sedangkan mobil terakhir ada Al bersama Bella.
Mereka semua turun dari mobil dan untuk mengantar Zahra ke tempat pilihannya.
"Zahra, Umi sama Bunda ikut, ya. Biar Umi sama Bunda bisa bantu Zahra," ucap Dee khawatir dengan Zahra yang akan pergi jauh seorang diri. Ini memang bukan yang pertama kali Zahra pergi jauh seorang diri. Dulu dia pernah dari Turki ke Indonesia sendiri dengan keadaannya yang lumpuh seperti itu. Meskipun Kevin dan Sofia sudah berusaha untuk mencegah, tapi yang namanya Zahra akan mengeluarkan seribu cara untuk membujuk Bunda dan Ayahnya.
Zahra menggeleng menolak perkataan Dee. "Izinkan Zahra pergi sendiri, Umi. Zahra hanya butuh doa kalian untuk keselamatan Zahra. Zahra akan berusaha sebaik mungkin menjaga diri. Lagian disana Zahra tidak akan sendiri, ada teman Umi yang akan menanti kedatangan Zahra disana," ucap Zahra meyakinkan Dee.
"Bunda setuju dengan Umi, Nak. Bunda sama Umi ikut kamu, ya," ucap Sofia yang mengkhawatirkan Zahra.
Zahra tergelak mendengar ucapan Sofia. Dia bukan menertawakan Sofia, tapi dia merasa lucu melihat ekspresi Ayah dan Abinya yang cemas jika Dee dan Sofia benar-benar ikut.
"Umi dan Bunda yakin ikut Zahra?" tanya Zahra.
"Kina sama Kak Bella juga mau ikut kalau gitu," ucap Kina polos begitu saja yang memuat semua lelaki disana membulatkan matanya tak setuju.
"Kalian semua kenapa?" tanya Kina mengerjapkan matanya polos melihat Aska, Al, Ibra dan Kevin yang mempelototinya.
Zahra tergelak lepas melihat wajah polos Zahra. "Adek sini deh," ucap Zahra meminta Kina untuk mendekat kearahnya.
Kina menurut dan mendekat kearah Zahra.
"Kalau kalian semua ikut Kakak, lalu yang merawat para lelaki manja itu siapa?" ucap Zahra meledek Ibra, Kevin, Al dan Aska.
Kina menepuk jidatnya dan menyengir polos melihat mereka semua. Dia melupakan sesuatu bahwa ada bayi besar mereka yang harus mereka jaga.
"Adek, boleh Kakak minta sesuatu?" ucap Zahra lembut.
Kina mengangguk. "Apapun akan Adek kasi buat Kakak," ucap Kina yakin.
"Jaga ponakan Kakak baik-baik, ya. Ajarkan dia keikhlasan dan sabar seperti Umi mengajari kita," ucap Zahra tulus.
"Kita akan mengajarkannya bersam-sama, Kak," ucap Kina.
Zahra hanya mengangguk dengan senyumnya. Setelah itu dia beralih menatap Bella. "Kak Bella," panggil Zahra.
"Iya Zahra," jawab Bella bersimpuh di depan Zahra.
"Jaga Abang Zahra, ya. Meskipun terlihat kuat begitu, Abang itu manja," ucap Kina yang diberi ledekan oleh semua orang kepada Al.
Al hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal salah tingkah karena mereka semua.
Zahra mencondongkan badannya memeluk Bella. Bella dengan sigap membalas pelukan Zahra. "Jangan sia-siakan semuanya, ya Kak," bisik Zahra ditelinga Bella.
Bella mengangguk yakin dengan mata yang sudah bsrkaca-kaca. Siapa sangka, gadis yang masih belasan tahun ini sudah melalui hidup dengan ujian yang begitu berat. Dulu, Bella merasa bahwa hidupnya adalah yang paling berat dan takdir sangat kejam kepadanya, tapi masih ada yang lebih berat dari yang dia alami. Bella bersyukur, tapi dia ikut sedih karena mengapa harus adik ipar yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri yang harus melalui semuanya.
Zahra melepaskan pelukannya kepada Bella dan beralih menatap Al. "Abang nggak mau peluk Zahra juga?" ucap Zahra merentangkan tangannya kepada Al.
Al mengangguk dan memeluk Zahra dengan erat. "Adek hati-hati, ya. Harus selalu kasih kabar sama keluarga disini, harus selalu ingat sama Abang dan yang lainnya, ya," ucap Al memeluk sambil mengusap lembut kepala Zahra yang tertutup hijabnya.
Zahra mengangguk dan tersenyum. Meskipun di hati terasa sangat berat, tapi dia harus melakukan ini. Mengejar kedekatan dengan Allah akan lebih baik untuk hidupnya.
"Abang jaga keluarga disini, ya. Zahra sayang Abang," ucap Zahra.
"Abang juga sayang Zahra," jawab Al melepaskan pelukannya pada Zahra.
"Abi, Ayah," panggil Zahra pada Ibra dan Kevin.
Kevin dan Ibra menoleh begitu Zahra memanggilnya. Bukan tidak ingin memeluk Zahra, tapi semua itu akan menambah ketidak relaan mereka untuk melepas Zahra.
"Zahra sayang Abi dan Ayah," ucap Zahra dengan senyum manisnya.
Kevin dan Ibra mengangguk menjawab perkataan Zahra. Bukan tidak ingin menjawab, tapi mengeluarkan kata untuk melepas kepergian anak mereka terasa sangat berat.
"Bunda," panggil Zahra pada Sofia.
"Iya, Nak," ucap Sofia yang berjalan mendekati Zahra.
"Selalu doakan Zahra, ya Bunda. Jangan pernah ulangi kesalahan Bunda, ya," ucap Zahra mengambil tangan Sofia dan menyalaminya.
Air mata Sofia jatuh karena tak kuasa menahan tangisnya. "Zahra sering-sering hubungi Bunda, ya. Jaga kesehatan dan selalu ingat keluarga disini," ucap Sofia memeluk anaknya.
Zahra mengangguk dan mencoba tersenyum. Dia tidak boleh sedih agar kepergiannya tidak menambah kesedihan mereka.
Zahra melepaskan pelukan Sofia. Dia melajukan kursi rodanya kepada Dee yang sudah menitikkan air mata sejak tadi. Meskipun bukan anak kandung, tapi kasih sayangnya kepada Zahra benar-benar tulus. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Zahra memeluk pinggang Dee. Tangisnya bahkan pecah saat memeluk wanita yang bukan ibu kandungnya sendiri, tapi sangat dia sayangi.
Dee menutup mulutnya menahan suara tangisnya agar tak menarik perhatian orang-orang di Bandara. Mereka semua yang melihat itu ikut merasakan kesedihannya, terutama yang wanita.
"Umi harus bahagia, ya," ucap Zahra dengan suara bergetar.
Dee melepaskan lilitan tangan Zahra di pinggangnya lalu bersimpuh di depan Zahra. "Restu dan doa Umi selalu untuk Zahra, ya," ucap Dee mengusap air mata Zahra.
Zahra mengangguk. "Zahra sayang Umi, sangat," ucap Zahra tulus.
"Umi juga, Nak," jawab Dee.
Saat sedang berpamitan, suara panggilan untuk penerbangan yang akan di Zahra lakukan sudah terdengar. Dee melepas pelukannya dan dan beralih menatap Ibra.
"Mas, bilang sama pihak Bandara buat izinin kita antar Zahra sampe pesawat, ya," ucap Dee memohon kepada Ibra.
Ibra mengangguk dan pergi menuju salah satu petugas. Entah apa yang Ibra bicarakan, tapi dia nampak memperlihatkan sebuah kartu yang entah apa kepada petugas tersebut sehingga mereka semua diizinkan untuk ikut mengantar Zahra Samapi pesawat. Kekuasaan Ibra benar-benar sangat bermanfaat dalam hal ini.
.....
Kenzo sampai dirumahnya dengan senyum mengembang. Di sana ternyata sudah ada Melani dan Anggara yang sejak tadi menunggu kedatangannya.
"Masih bisa tersenyum kamu Kenzo?" tanya Anggra pada Kenzo yang baru memasuki ruang tamu.
"Sebentar lagi Kenzo akan memperbaiki semuanya, Pa," ucap Kenzo dengan senyum mengembang menghampiri Melani dan Anggara.
Anggara tertawa kecil, sedangkan Melani khawatir akan Kenzo yang akan mengalami penyesalan atas kabar yang mereka dapat tadi.
"Urungkan niat kamu," ucap Anggara.
"Pa," ucap Melani dengan nada mencegah apa yang akan Anggara sampaikan.
"Apa maksud Papa? Bukannya Papa sangat mendukung jika Kenzo kembali pada Zahra?" tanya Kenzo.
"Apa kamu yakin semudah itu?" tanya Anggara yang membuat Kenzo terdiam.
Anggara tertawa sumbang melihat Kenzo. "Kamu sudah terlambat," ucap Anggara.
"Belum ada yang terlambat, Pa. Kenzo akan siap-siap dulu," ucap Kenzo yang hendak pergi meninggalkan ruang tamu. Tapi perkataan Anggara rasanya menghentikan waktu Kenzo saat itu juga.
"Zahra sudah pergi beberapa jam yang lalu."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz