
🌹HAPPY READING🌹
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Kenzo memasuki ruang rawat Zahra dengan wajah lelah, namun senyum tetap menghiasi bibirnya.
"Akhilnya Ayah datang," seru Sela senang melihat kedatangan Kenzo.
"Maaf Ayah lama, ya," ucap Kenzo menyesal telah membuat anak, istrinya serta Bu Sari menunggu lama.
"Tidak apa-apa, Ayah. Ayok cekalang pulang," ucap Sela turun dari kasur Zahra dan segera menggandeng tangan Kenzo.
"Pulang sekarang, Sayang, Bu?" ucap Kenzo bertanya pada Zahra dan Bu Sari.
"Iya, Mas. Aku mau istirahat di rumah," jawab Zahra yang dianggukki oleh Bu Sari.
"Yasudah. Ayo," ucap Kenzo sambil mengambil tas besar berisi pakaian Zahra. Sedangkan tangannya yang lain menggandeng tangan mungil Sela untuk keluar dari rumah sakit. Sedangkan Zahra dan Bu Sari mengikuti dari belakang.
"Kita pulang kemana, Mas?" tanya Zahra. Kini mereka berdua sudah berada di mobil dengan posisi Sela yang duduk di depan sebelah Kenzo, Zahra dan Bu Sari yang duduk di kursi belakang.
Sela, gadis kecil itu memaksa untuk duduk di sebelah Ayahnya. Dia mau menjadi Ibu bos kali ini.
"Ke rumah kita ya, Sayang?" tanya Kenzo hati-hati. Dia takut Zahra tidak mau lagi kembali ke rumah dimana banyak kenangan pahit disana.
Zahra tersenyum dan mengangguk. Jawaban Zahra menghilangkan kekhawatiran dan kecemasan Kenzo.
Empat puluh menit menempuh perjalanan, mobil Kenzo sampai di depan pagar besar itu. Mobil Kenzo memasuki pekarangan rumah setelah satpam membuka pagar Zahra terdiam menatap rumah yang sudah lama tidak dia datangi. Setelah tujuh tahun, ini adalah pertama kali Zahra menginjakkan kaki di rumah yang memberikan kenangan buruk untuknya.
Setelah menikah untuk ke dua kalinya, Zahra dan Kenzo tinggal sebentar di rumah Dee dan Ibra hingga akhirnya insiden dengan Sofia terjadi.
Kenzo dan Bu Sari saling pandang lewat kaca melihat keterdiaman Zahra. Kenzo menghela nafas pelan. "Kita ke rumah Ayah Kevin saja ya, Sayang," ucap Kenzo.
Zahra mengalihkan pandangannya menatap Kenzo. "Disini saja, Mas," ucap Zahra dan langsung membuka pintu mobil. Dia turun dengan menghirup udara banyak untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.
"Ayo tulun, Ayah," ucap Sela mengajak Kenzo.
Kenzo mengangguk. Mereka turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki memasuki rumah.
"Bu," panggil Kenzo pada Bu Sari.
"Iya Ken," jawab Bu Sari pelan.
"Bisa Ibu bawa Sela ka kamarnya dulu, Bu? Dia sudah tahu dimana kamarnya, karena dulu dia pernah kesini bersama Shasa," ucap Kenzo meminta kepada Bu Sari.
Bu Sari mengangguk. Dia paham, Kenzo dan Zahra butuh waktu berdua untuk berbicara.
"Kita ke kamar, Nak?" tanya Bu Sari pada Sela. Sela mengangguk dan menurut. Anak itu nampak tidak banyak bicara karena menahan kantuk.
Setelah memastikan Bu Sari dan Sela pergi, Kenzo berjalan mendekati Zahra yang kini berdiri di tengah-tengah rumah. "Sayang," panggil Kenzo memegang kedua bahu Zahra dengan lembut.
Zahra tersenyum dan berbalik menatap Kenzo. "Sudah lama aku tidak kesini, Mas. Semuanya masih sama, namun suasananya kali ini berbeda," ucap Zahra tersenyum.
"Maaf Sayang," ucap Kenzo menyesal. "Kita beli rumah baru, ya? Kita beli rumah yang lebih besar, kita beli rumah yang lebih nyaman dari ini. Kita ciptakan kebahagiaan disana, Sayang. Kalau kamu mah kita pindah besok juga," cerocos Kenzo menatap Zahra sendu.
Zahra menggeleng dan memegang salah satu tangan Kenzo yang ada di bahunya. "Mas, melupakan memang sulit. Tapi aku mau melawan ketakutan itu dan menggantinya menjadi sebuah kenyamanan, Mas. Disini memang pernah tercipta luka dan banjir karena air mata, tapi semua itu akan lebih indah mulai sekarang. Kita akan ciptakan banyak kebahagiaan, Mas. Kita penuhi rumah ini dengan canda dan tawa serta masih sayang nantinya. Aku bukannya tidak nyaman disini, aku masih harus menyesuaikan lagi karena ini adalah pertama kali setelah sekian lama, Mas," ucap Zahra menjelaskan pada Kenzo.
"Tapi Sayang-"
Kenzo menggeleng tegas. Tentu saja kasih sayang dan cinta diantara mereka adalah hal yang pasti dan tidak akan terbagi.
"Jadi mengapa kamu takut kita disini?" tanya Zahra lagi.
"Aku hanya takut kamu kembali tersakiti dan kembali ninggalin aku, Sayang," jawab Kenzo sendu.
"Bukankah dulu aku pergi karena sebuah sebab, Mas?" tanya Zahra.
Kenzo mengangguk. "Maaf Sayang," jawab Kenzo dengan mata berkaca-kaca. Kembali berputar di ingatannya bagaimana kejamnya dia melayangkan surat cerai setelah berhasil mengambil mahkota kegadisan Zahra.
"Aku bersyukur," celetuk Zahra tersenyum sambil memandang sekeliling rumah.
Kenzo memandang Zahra dengan wajah penuh tanya. Kesakitan yang dia berikan malah dianggap rasa syukur oleh istrinya???
"Karena semua itu, kita memiliki Sela, Mas. Terimakasih," ucap Zahra tersenyum dan memeluk tubuh Kenzo dari samping.
Minder? Jelas. Kenzo merasa minder dengan Zahra saat ini. Dengan lapang dada, gadis itu memaafkan semua kesalahannya, bahkan dia bersyukur atas apa yang terjadi dan menjadikannya sebuah nikmat dari Pencipta.
"Aku yang harusnya berterimakasih dan bersyukur karena kesempatan kedua yang kamu berikan, Sayang. Terimakasih banyak," ucap Kenzo tulus mengusap lembut lengan Zahra.
Zahra mengangguk. "Ajak Bu Sari tinggal disini ya, Mas?" tanya Zahra ketika mengingat keinginannya itu.
Kenzo mengangguk mantap. "Apapun keinginan kamu, adalah keharusan untuk aku, Sayang," jawab Kenzo.
Zahra tersenyum senang dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Kenzo. Mulai hari ini, mereka akan menciptakan kebahagiaan di rumah yang dulu penuh dengan kesakitan ini.
"Mau ke kamar kita?" tawar Kenzo.
Zahra mengangguk. Dengan bergandeng tangan, mereka menaiki tangga dan berjalan menuju kamar di lantai dua.
"Ini kamar Sela, Sayang. Dia pasti sedang tidur didalam sekarang," ucap Kenzo menunjuk kamar di sebelah kamarnya.
"Bu Sari, Mas?" tanya Zara.
"Kamar Bu Sari ada di kamar utama bawah, Sayang. Aku tidak mau Bu Sari kecapean karena naik turun tangga," jawab Kenzo.
Zahra mengangguk menyetujui perkataan Kenzo.
"Selamat datang," ucap Kenzo ketika membuka pintu kamar mereka.
Zahra menatap sekeliling kamar itu. Kamar yang dipenuhi warna ungu dan Lilac kesukaannya.
Dulu, aku sangat ingin masuk ke kamar ini. Harus melawan ketakutan dulu untuk memasukinya. Harus berkorban air mata dan hati untuk masuk kesini. Tapi sekarang, aku menjadi penghuni kamar ini bersama lelaki hang dulu menolak ku, sekarang menyerahkan hidup dan hatinya untuk mencintaiku. Terimakasih atas semua takdir indah ini, Tuhan. Batin Zahra bersyukur atas semua kebahagiaan yang dia peroleh sekarang ini.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏