Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 43



🌹HAPPY READING🌹


"Kita harus segera memakamkan Zahra, Nak," ucap Ibra lirih.


DEG


Kenzo langsung menatap Ibra tajam setelah mendengar apa yang dikatakan Ibra. "Tidak ada yang perlu dimakamkan, Abi. Istri Kenzo masih hidup!" jawab Kenzo tegas menentang perkataan Ibra.


"Ikhlaskan Zahra, Kenzo. Jangan mempersulit kepergiannya karena sikapmu," ucap Sofia lirih. Dia memandang Kenzo dengan pandangan yang sangat terluka. Kehilangan anak satu-satunya yang dia miliki membuatnya sangat terpukul.


Kenzo memandang sendu Sofia. Dia berjalan mendekati Sofia dan menggenggam lembut tangan wanita yang sudah tidak lagi muda itu. "Bunda, istri Kenzo, Anak kandung Bunda masih hidup. Kenzo yakin Zahra tidak akan pergi meninggalkan kita, Bunda," ucap Kenzo yakin.


Sofia menggeleng pelan mendengar perkataan Kenzo. "Ikhlaskan Zahra, Kenzo,"ucap Sofia sendu.


Kenzo melepaskan pegangan tangannya pada Sofia. "Tidak ada yang harus Kenzo ikhlaskan. Zahra pasti bertahan demi anak kami. Zahra wanita kuat, bahkan lebih kuat dari kita manusia normal, Bunda," ucap Kenzo.


Kenzo beralih pada Dee yang sejak tadi hanya diam. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. "Umi," ucap Kenzo lembut, namun terdengar sangat sendu dan pilu ditelinga Dee.


Dee memandang Kenzo dengan mata berkaca-kaca. Air matanya menetes begitu saja tanpa bisa dia cegah. "Iya, Kenzo," ucap Dee dengan suara bergetar.


"Katakan jika ini salahkan, Umi. Katakan bahwa istri Kenzo masih hidupkan, Umi," ucap Kenzo sendu.


Dee mengangguk yakin. Pikirannya mengatakan bahwa Zahra sudah tidak ada, tapi hati kecilnya membisikan bahwa anak yang selama ini dia anggap seperti anaknya sendiri masih hidup dan berada di tempat yang tidak mereka ketahui. "Harapan akan selalu ada, Ken," ucap Dee yakin.


Kenzo menggeleng. "Ini bukan harapan, Umi. Ini sebuah kenyataan, jika istri Kenzo masih hidup. Tidak ada yang bisa mengambilnya dari dunia ini. Dunia membutuhkan wanita seperti Zahra. Dan pria bodoh ini, membutuhkan istri sekuat Zahra, Umi," ucap Kenzo sendu menunjuk dirinya sendiri.


"Maafkan aku," ucap Yana menangis menyesali kesalahannya yang tidak bisa menjaga Zahra.


"Bibi percaya jika Zahra selamatkan, Bi?" ucap Kenzo lirih menatap Yana.


Yana menggeleng dengan tangis yang keluar dari mulutnya. Tangannya menunjuk kepada mayat yang sudah dibungkus dan diletakkan di tandu yang dipikul oleh tim penyelamat. "Lihatlah," ucap Yana lirih.


Kenzo melihat ke arah tunjuk Yana. Langkahnya dengan sangat pelan mendekat ke arah tandu tersebut. Dengan tangan bergetar Kenzo membuka resleting pembungkus mayat tersebut.


"Ini bukan istriku!" ucap Kenzo tegas setelah matanya melihat mayat yang tidak bisa di kenali tersebut.


"Dia Zahra, Kenzo. Kita menemukan ini, dan ..." ucap Ibra memberikan cincin pernikahan Kenzo dan Zahra sambil menggantung ucapannya.


"Dan apa, Abi?" tanya Kenzo sambil menerima cincin tersebut.


"Dan ... dia juga hamil," ucap Ibra menatap sendu mayat yang sudah ditutup kembali oleh petugas penyelamat tersebut.


Kenzo tertawa sumbang layaknya mendengar cerita lucu dari Ibra. "Banyak wanita hamil, Abi. Bukan hanya Zahra," ucap Kenzo.


"Jangan menyiksa diri seperti itu, Kenzo. Terkadang kamu harus ikhlas, sama yang Zahra lakukan saat menerima semua perlakuanmu," ucap Ibra.


"Jika begitu Kenzo ingin melakukan otopsi dengan mayat ini," ucap Kenzo kekeuh. Harapannya selalu ada untuk keselamatan Zahra.


"Kamu masih ingin menyiksa anakku lagi, Kenzo?" ucap Sofia sendu.


Kenzo menggeleng kuat. "Kenzo hanya ingin memastikan, Bunda," ucap Kenzo lembut.


"Jangan, Kenzo. Tolong jangan siksa Zahra lagi. Cukup selama hidup dia merasakan sakit, jangan beri dia kesakitan lagi dalam kematiannya, Kenzo. Bunda mohon," ucap Sofia memohon dengan kedua tangan di depan dadanya.


Kenzo menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Menatap satu persatu mereka yang ada disana. "Kalian boleh menguburnya. Tapi satu hal yang pasti, Kenzo akan membawa Zahra pulang dalam keadaan selamat dan utuh. Termasuk anak kami yang masih ada dalam perut Zahra. Baik itu sekarang atau beberapa tahun yang akan datang, Zahra pasti akan kembali," ucap Kenzo pergi meninggalkan mereka semua.


Harapan Umi sama denganmu, Kenzo. Tolong bawa Zahra kembali. Buktikan semua ucapanmu. Batin Dee memandang Kenzo yang sudah menjauh.


"Kubur anakku di tanah yang suci ini. Kita akan melakukan pemakan di kota ini," ucap Ibra yang dianggukki oleh mereka semua.


.....


"Aakkhhh," teriak Kenzo menarik rambutnya sendiri. Percayalah, rasa putus asa itu ada dalam dirinya.


"Hiks, Zahra," ucap Kenzo dengan suara bergetar karena tangisnya.


Kenzo menatap cincin pernikahan yang ada digenggamannya. Dia ingat, ini adalah cincin yang Zahra perlihatkan kepadanya dengan perasaan yang sangat bahagia. Kenzo sangat ingat sekali, dua hari sebelum pernikahan mereka, Zahra dengan antusias memperlihatkan cincin yang di desainnya sendiri. Zahra nampak sangat bahagia, hingga akhirnya setelah pernikahan itu terjadi, senyum manis yang selalu diperlihatkan Zahra berganti dengan tangis dan air mata karena ulah Kenzo sendiri.


"Hiks, maafkan aku, Zahra. Kesakitan ini terasa begitu nyata. Sakit sekali rasanya, Zahra. Apa seperti ini sesak yang kamu tahan saat aku selalu menyakitimu? Apa seperti ini pedihnya kehilangan orang yang kita cintai Zahra? Mengapa harus sesakit ini? Dadaku terasa sangat sakit, Zahra. Aku mohon kembali, Istriku, hiks," racau Kenzo pilu. Bahkan neraka terasa sangat nyata bagi Kenzo. Penyesalan ini adalah neraka baginya di atas dunia.


Kenzo menghapus kasar air mata di pipinya. Dia menatap dalam cincin pernikahan tersebut. "Umi pernah bilang, bahwa darahku pun belum tentu bisa membuatmu kembali, Zahra. Apa kematian bisa membuat kita bertemu?" gumam Kenzo sendu.


Kenzo tersenyum pilu sambil menggeleng. "Kamu akan semakin membenciku jika aku menghabisi nyawa pria bajingan ini, Zahra. Kepergian mu sudah membuatku mati setiap waktu. Aku bagaikan tubuh tanpa jiwa. Kamu membawanya pergi, Zahra. Dan dia akan kembali hidup jika kamu kembali," lanjut Kenzo.


Kenzo mencium cincin tersebut dengan sangat dalam. Perasaan hancur dengan hati yang sudah tak berbentuk kini harus ditanggung Kenzo. Kesakitan yang dulu dia berikan pada wanita yang dia cintai hanya karena sebuah dendam yang tak beralasan, kini menjadi Boomerang dan balasan pada hatinya. Bahkan terasa lebih sakit dari pada sebilah bambu yang menghujam jantungnya, sangat sakit sekali.


.....


Mayat yang mereka temukan telah dikubur di kota suci yang diimpikan setiap umat muslim. Kini Ibra, Kevin, Dee, Sofia dan Kenzo kembali ke Tanah Air. Mereka semua sampai di depan rumah Ibra. Terlihat Kina, Bella, Al dan Aska yang menunggu kedatangan mereka.


Dengan senyum mengembang Kina menyambut kedatangan mereka. Keyakinan yang sangat besar akan keselamatan Zahra membuat mereka optimis bahwa Zahra pasti selamat dan baik-baik saja. Ibra dan yang lainnya memang belum memberitahu apa yang terjadi di Kota Tarim.


"Umi," ucap Kina memeluk Dee.


Setelah itu mereka semua bergantian saling berpelukan. Kina menengok kebelakang mereka seperti mencari seseorang. "Kakak dimana, Umi?" tanya Zahra yang membuat mereka semua terdiam.


Al yang melihat semua itu melihat pada Abinya. Ibra yang mengerti tatapan Al menggelengkan kepalanya. Air mata Al jatuh begitu saja melihat jawaban Ibra. Harusnya dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk semua ini. Harusnya dia sudah mempersiapkan dirinya sendiri untuk berita yang akan mereka dengar.


Bella dan Aska melihat semua itu. Sedangkan Kina beralih pada Sofia. "Bunda, dimana Kakak?" tanya Kina dengan nada cerianya.


Melihat Dee dan Sofia yang sama-sama diam. Kina beralih pada Ibra dan Kevin. "Abi, Ayah, Kakak dimana?" tanya Kina lagi.


"Kenapa kalian semua diam? Kakak dimana?" ucap Kina bertanya dengan nada suara yang lebih keras.


Kina beralih mendekati Kenzo yang sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Kak Ken," panggil Kina lembut.


Kenzo mengangkat kepalanya. Mata Kina membulat sempurna melihat wajah Kenzo yang sembab dan pipinya basah karena air mata. "Kakak selamatkan, Kak Ken?" tanya Kina pelan.


Kenzo menggeleng menjawab pertanyaan Kina. "Hiks," tangis Zahra pecah begitu saja melihat jawaban Kenzo.


"Hiks, Kakak pasti baik-baik saja. Kakak pasti selamat. Sekarang ini Kakak pasti menunggu kedatangan kita. Ayo kembali," ucap Kina dengan tangisnya.


Dee yang melihat Kina seperti itu langsung mendekat dan memeluk anaknya. "Kakak pasti baik-baik saja, Umi," ucap Kina memeluk Dee.


Dee mengangguk yakin menyetujui perkataan Kina. "Padahal Kakak udah janji kalau kami akan membesarkan anak kami bersama, Umi. Kaka udah janji pada Zahra untuk selalu ada. Kakak udah janji pada Zahra untuk selalu baik-baik saja. Kakak tidak mungkin mengingkari janjinya kan, Umi? Kakak pasti akan menepati janji kan, Umi?" ucap Kina sendu dalam pelukan Dee yang dapat menyayat hati mereka semua.


Sofia yang mendekat dan mengusap lembut kepala Kina. "Kina sayang dengan Kak Zahra?" tanya Sofia lembut.


"Sangat. Kina sangat menyayangi Kakak," jawab Kina sesegukan.


"Kirim doa terbaik untuk Kakak ya, Nak," ucap Sofia lirih.


"Hiks, kenapa harus selalu Kak Zahra. Seakan takdir sangat senang mempermainkan Kakak. Kakak orang baik, Umi, Bunda," ucap Kina pilu.


Al menutup matanya menahan tangis yang terasa sangat menyesakkan itu. Bella yang melihat itu mendekat dan memeluk suaminya. "Abang dari Zahra dan Kina, suami dari Aruna tidak selemah ini," ucap Bella memeluk Al.


"Kegagalan itu kembali terasa nyata," ucap Al lirih pada Bella.


"Bukan seperti ini yang Zahra inginkan. Bukan kesedihan kita yang Zahra mau. Dia butuh doa kita semua, terutama Abang yang sangat disayangi Zahra ini. Jangan membuat perjuangan Zahra sia-sia karena kesedihan yang berlarut seperti ini. Jangan memberi kesakitan bahkan dalam kematiannya, Al," ucap Bella lembut menasehati Al.


.....


Enam tahun kemudian .....


......................


Akhirnya aku update lagi. Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Sebentar lagi kita akan memasuki babak baru kehidupan Zahra. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍