
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo terbangun dari tidurnya dengan mata bengkak dan air mata di sudut matanya. Setelah sadar, Kenzo menghela nafas pelan. "Andai bukan mimpi," ucap Kenzo.
"Kamu adalah pahatan sempurna pangeran surga, Nak," gumam Kenzo pelan membayangkan bagaimana tampannya Akbar saat tadi dia lihat di mimpi.
Tanpa menunda waktu, Kenzo menghapus kasar air matanya dan segera keluar dari ruangannya. "Arman, saya akan pergi dan tidak akan kembali ke perusahaan. Kamu urus semuanya hingga sore ini," titah Kenzo setelah keluar dan melihat Arman yang duduk di ruangannya yang berada di depan ruangan Kenzo .
"Anda akan kemana, Tuan?" tanya Arman.
"Rumah Akbar," jawab Kenzo singkat dan langsung pergi meninggalkan Arman.
Senyum terbit dibibir Arman melihat punggung Kenzo yang semakin menjauh. "Dia memang beringas m, tetapi dia ikhlas akan cinta pada anak dan istrinya," gumam Arman yang menjadi saksi setiap perjalanan dan penyesalan yang sudah Kenzo alami.
.....
Kenzo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Terukir senyum di bibirnya, karena secara tidak langsung, Tuhan mewujudkan permintaannya untuk dipertemukan dengan Akbar, anak yang belum pernah sama sekali dia lihat wujudnya.
Terimakasih, Tuhan. Batin Kenzo berucap dengan segala rasa syukur yang hinggap di hatinya saat ini.
Lima belas menit perjalanan, Kenzo sampai di pemakaman. Kenzo memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan keluar dari mobil. Sebelum memasuki area pemakaman, Kenzo mewajibkan dirinya untuk membeli bunga yang akan dia berikan kepada buah hati tercinta.
Setelah mendapatkannya, Kenzo berjalan dengan langkah pasti menuju rumah terakhir Akbar.
"Assalamualaikum, Anak Ayah," ucap Kenzo berjongkok di depan pusara Akbar.
"Ayah bawa bunga paling cantik untuk Akbar. Meskipun Akbar lelaki, tapi bunga tidak membuat kamu menjadi wanita, Nak. Bunga melambangkan cinta Ayah untuk Akbar," ucap Kenzo yakin.
Tangan Kenzo terulur mengusap lembut nisan Akbar. Memandang lama nama yang tertera di nisan tersebut. "Kamu memang anugrah terbesar dalam hidup Ayah, Nak," gumam Kenzo lirih.
"Maaf Ayah sudah lama tak berkunjung sampai ada rumput begini. Apa penjaga tidak membersihkannya, Nak? Apa karena ini Akbar meminta Ayah datang?" bicara Kenzo pada nisan Akbar dengan tangannya yang asik mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitaran gundukan tanah pusara Akbar.
"Ayah akan dengan senang hati menjadi tukang bersih rumah kamu, Nak. Karena sudah kewajiban Ayah," ucap Kenzo lagi dengan senyum bahagia bercampur mata yang berembun menandakan bagaimana keinginan Kenzo untuk bertemu Akbar di dunia nyata.
Kenzo benar-benar melakukan kegiatan layaknya pembersih kubur di makam Akbar. Karena ingin makam anaknya bersih, Kenzo sampai meminjam sapu lidi kepada salah satu keluarga yang ikut melayat ke makam yang tidak jauh dari makam anaknya.
Beberapa menit Kenzo selesai dengan kegiatannya. Nampak butir keringat mengalir membasahi dahi dan leher Kenzo. Bukannya lelah, hati Kenzo dipenuhi kesenangan dan kepuasan karena memberi kenyamanan untuk Akbar dengan tangannya sendiri. "Selesai, Nak. Rumah Akbar sudah tidak kotor," ucap Kenzo senang.
Kenzo menampung tangan dan memanjatkan dia untuk Akbar. Setelah sepuluh menit, Kenzo mengusap kedua telapak tangannya ke wajah pertanda lelaki itu telah menyelesaikan doanya.
"Ayah pamit, ya Nak. Nanti Ayah kembali bersama keluarga yang lain. Kedua Nenek dan ketiga Kakek kamu akan ikut kesini, Nak. Ayah akan buktikan bahwa Akbar selalu ada di hati kami. Akbar benar, Nak, bahwa Akbar adalah bagian dari Ayah dan Bunda yang tak bisa dipisahkan. Ayah, Bunda dan Sela sangat menyayangi Akbar. Ayah pamit pulang ya, Nak. Assalamualaikum. Cup," ucap Kenzo panjang lebar untuk berpamitan pada Akbar. Tidak lupa Kenzo mengecup nisan Akbar tepat di tulisan namanya.
Dengan perlahan, Kenzo berdiri dan kembali membawa sapu lidi yang tadi dia pinjam untuk di kembalikan.
"Terimakasih pinjamannya, Pak," ucap Kenzo ramah lada salah satu keluarga yang melayat tersebut.
"Sama-sama, Nak," jawab Lelaki paruh baya tersebut tak kalah ramah.
Setelah itu, Kenzo berjalan menuju mobilnya dan segera meninggalkan area pemakaman untuk menuju rumah.
.....
Sesuai dengan janji mereka, kini seluruh keluarga Hebi dan keluarga Kenzo mengadakan makan malam bersama. Tidak lupa kehadiran Thomas dan juga Arman yang diundang Kenzo atas paksaan Zahra.
Kini, meja makan besar yang biasanya hanya disini oleh lima orang, yaitu Kenzo, Zahra, Sela dan Bu Sari serta Kevin, telah diisi penuh oleh keluarga besar tersebut.
Saat Zahra akan menjawab, Kina lebih dulu menjawab pertanyaan anaknya itu. "Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, Shasa."
Bahu Shasa dan Sela merosot mendengar jawaban Kina. "Mama selalu menghancurkan keinginan kita," gumam Shasa dan Sela bersamaan.
"Dahulukan kebutuhan dari keinginan," jawab Kina lagi. Meskipun sudah menjadi Ibu, jiwa usil wanita itu selalu dia salurkan pada anak dan ponakannya.
Mereka yang lainnya hanya bisa geleng kepala dan terkekeh kecil mendengar perkataan Kina. Karena secara tidak langsung, Kina mengajari Shasa dan Sela untuk selalu bersyukur dan menghargai makanan.
Zahra memandangi keluarganya dengan bahagia. Terutama melihat Kinzi, Al dan Bella yang sudah nampak biasa-biasa saja. Awalnya Zahra takut, karena penyebab dendam Kenzo adalah cinta bertepuk sebelah tangan Kinzi pada Al. Tapi dengan kebesaran hatinya, Kinzi menerima semua dan saling melupakan. Begitu juga dengan Bella yang dengan ikhlas menerima semuanya.
Kenzo yang mengerti arah pandangan istrinya menggenggam tangan mungil itu dari bawah meja. "Dendam itu, terhapus permanen oleh cinta, Sayang," ucap Kenzo berbisik di telinga Zahra.
Zahra tersenyum dan mengangguk mengalihkan pandangannya menatap Kenzo.
"Banyak orang disini," ucap Thomas menyindir sikap romantis Kenzo.
"kamu jadi nyamuk, Thomas," celetuk Ibra santai dengan tangan Dee yang juga berada dalam genggamannya dibawah meja.
"Nggak mertua, nggak menantu, sama saja bucinnga. Nggak tahu tempat emang," gerutu Thomas kesal menjawab perkataan Ibra.
Semua yang ada disana terkekeh kecil melihat tingkah Thomas. Dia seperti anak kecil yang tidak diberi mainan oleh orang tua jika sedang kesal seperti ini.
"Tenang Mama Tamala, ada Cela cama Chaca yang akan menjadi pendamping Mama," ucap Si kecil Sela yang langsung dianggukki oleh Shasa.
Thomas rasanya ingin tenggelam saja jika Sela dan Shasa sudah bicara. Panggilan Mama Tamara itu tidak pernah berubah keluar dari mulut kedua gadis kecil itu. Tapi dia tidak menyesal, karena menjadi Mama Tamara itu, dia bisa membuat Kenzo dan Zahra saling menyatakan cinta.
"Sudah, ayo kita makan. Tidak baik terlalu lama mendiamkan makanan," ucap Anggara yang sejak tadi ikut terkekeh. Bisa-bisa mereka dicabut nikmat oleh Tuhan karena tidak menghargai makanan di depan mata dengan berbicara tanpa henti.
.....
Setelah selesai melaksanakan makan malam, selesai membersihkan sisa makan malam, para perempuan berkumpul di kamar Sela menemani Sela dan Shasa yang sudah tertidur pulas. Kedua gadis kecil itu kekenyangan karena tidak mendengar nasehat agar tidak terlalu banyak makan.
Di sana hanya tinggal Dee, Kina, Bella, Zahra dan Bu Sari, sedangkan Melani dan Kinzi pamit pulang bersama Anggara yang harus segera kembali untuk perjalanan bisnis mereka. Perusahaan Anggara dan kesibukan Kinzi mengembangkan sayapnya untuk sebuah brand muslimah di Paris mengharuskan mereka bisa untuk membagi waktu.
Bu Sari dan Kina duduk di sebelah Dee, sedangkan Bella dan Zahra duduk di bawah dengan karpet berbulu dengan kepala mereka masing-masing bersandar di lutut Dee dan Bu Sari.
"Ayo cerita masa muda, Umi," ucap Bella.
"Masa Muda?" beo Dee.
Mereka semua mengangguk. "Mereka penasaran dengan kisah cinta kamu, Dee," ucap Bu Sari ikut menimpali.
"Rumit dan penuh liku, Bu Sari. Jika diibaratkan, ada neraka dan surga dalam kisah itu."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏