
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun, saat di anak tangga pertama, panggilan Bu Sari menghentikan langkah kakinya.
"Nak Kenzo," panggil Bu Sari dari arah dapur.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Kenzo berbalik.
"Itu, kamu suruh Zahra turun untuk makan, ya. Sialnya dari tadi siang, Zahra nggak mau makan. Diet katanya," ucap Bu Sari memberitahu.
"Diet?" beo Zahra bingung.
Bu Sari mengangguk mengiyakan. "Iya, Zahra diet karena merasa perutnya yang agak membuncit. Dia tidak mau badannya terlihat jelek nanti," jawab Bu Sari.
"Aneh sekali, Bu," ucap Kenzo.
"Makanya, kamu tolong bujuk Zahra makan, ya. Ibu takut dia sakit perut atau bagaimana nanti," ucap Bu Sari khawatir.
Kenzo mengangguk. "Iya, Bu. Kenzo akan coba untuk bicara dan bujuk Zahra. Kalau begitu Kenzo keatas dulu, Bu," ucap Kenzo pamit.
"Iya, Nak," ucap Bu Sari mengizinkan. Setelah itu, Kenzo melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Kenzo melihat keadaan kamar yang sedikit gelap. Dia menghidupkan lampu dan melihat Zahra yang berbaring tidur nyenyak di kasur.
Kenzo tersenyum dan berjalan mendekati Zahra. "Lelah banget pasti," gumam Kenzo tak tega.
Kenzo meletakkan tas kerjanya dan pergi ke kamar mandi untuk langsung membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, Kenzo kembali ke tempat tidur dengan pakaian santainya.
"Sayang," panggil Kenzo lembut membangunkan Zahra.
Satu kali cukup. Zahra langsung menggeliat dalam tidurnya dan membuka mata. "Mas," ucap Zahra ketika melihat wajah tampan suaminya yang sudah segar.
"Mas sudah pulang?" tanya Zahra mendudukkan dirinya.
Kenzo tersenyum. "Kalau belum pulang, aku nggak disini, Sayang," jawab Kenzo lembut yang dibalas senyuman oleh Zahra. Pertanyaannya sungguh tak berguna.
"Sela mana, Mas?" tanya Zahra.
"Sela lagi main kayaknya, Sayang," jawab Kenzo.
"Kamu capek banget, ya?" lanjut Kenzo bertanya mengusap lembut kepala Zahra yang tak tertutup hijab.
"Sedikit," jawab Zahra.
"Kita cari pembantu aja, ya. Biar bisa bantu kamu sama Bu Sari. Aku nggak mau kamu kecapean gini," ucap Kenzo khawatir.
Zahra menggeleng. "Zahra masih bisa urus rumah sendiri, Mas. Nanti kalau memang udah nggak sanggup, Zahra pasti akan bilang dan minta Mas buat cari pembantu," jawab Zahra.
Kenzo menghela nafas pasrah. "Yasudah, tapi yang pasti kamu nggak boleh kecapean. Aku nggak mau kamu sakit," ucap Kenzo.
"Iya, Mas," jawab Zahra. Kenzo menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang dan membawa Zahra kedalam dekapannya.
"Aku dengar-dengar ada yang diet," ucap Kenzo sambil menunduk menatap Zahra.
Zahra tersenyum tanpa dosa menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Sekali ini aja, ya Mas. Perut aku udah buncit gitu, badannya juga gemuk kan. Diet sedikit nggakpapa, ya?" ucap Zahra meminta izin pada Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Kamu harus tetap makan, Sayang," ucap Kenzo tegas.
"Iya makan, tapi porsinya dikurangin dikit?" pinta Zahra lagi.
"Aku nggak mau kamu sakit. Nggak usah diet, ya," ucap Kenzo lembut.
Mata Zahra berkaca-kaca mendengar penolakan Kenzo. "Kamu mau lihat aku gendut?" tanya Zahra dengan bibir melengkung ke bawah, bersiap mengeluarkan tangis dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
"Terus gimana? Kamu nggak izinin aku diet berarti kamu mau aku gendut kan? Kamu mau semua orang bilang aku jelek kan? Kamu mau semua orang bilang kalau istrinya Kenzo nggak bisa ngurus badannya, iya kan?" tanya Zahra beruntun.
"Enggak gitu, Sayang," ucap Kenzo tak percaya dengan apa yang dipikirkan suaminya itu. "Yasudah, kamu boleh diet. Tapi jika kamu ngerasa agak nggak enakan karena diet, kamu harus berhenti diet," ucap Kenzo akhirnya mengizinkan Zahra.
Dan benar saja, senyum cantik langsung terbit dari wajah Zahra. "Terimakasih, Mas," ucap Zahra mengeratkan pelukannya kepada Kenzo.
Aneh, tapi lucu, Sayang. Batin Kenzo yang merasa gemas sendiri dengan tingkah istrinya. Saat ini Kenzo seperti melihat Zahra versi anak kecil. Kadang-kadang merengek, kadang-kadang bahagia tak terduga.
.....
Sela sibuk dengan kegiatannya. Anak itu dengan serius menghias kuburan kucing yang ada di taman belakang rumahnya. Tangannya dengan lihai membongkar kelopak bunga dan menaburnya di gundukan tanah kecil itu.
Selain itu, dia juga menghias pinggir kuburan kucing dengan kelopak bunga dan beberapa batu kecil di pinggirnya. Tidak lupa juga Sela memberi sebuah papan kecil dan memberi identitas untuk kuburan tersebut dengan nama 'Ozenk'. Itu adalah nama pemberian Sela untuk kucingnya yang mati beberapa hari lalu. Jika Kenzo melihat nama kucing ini, maka bisa-bisa lelaki itu murka. Yang benar saja, kebalikan namanya digunakan oleh anaknya sendiri untuk nama kucing yang sudah meninggal, Kenzo tak akan sudi menerimanya.
"Cantik," gumam anak itu selesai dengan kegiatannya.
Sela menatap sisa buket bunga yang masih cantik. Dia mengambil dan mengangkatnya dengan sedikit kesusahan buket bunga besar itu untuk dibawa ke teras belakang rumah.
"Ini buat dikacih Chaca juga. Kan dirumah Nenek ada kubulan cicak," ucap Sela meletakkan buket bunga tersebut di teras belakang.
Setelah meletakkannya buket bunga tersebut, Sela kembali berlari ke kuburan kucingnya. Anak itu berjongkok dan mengambil ponsel yang dia biarkan tergeletak tak berdaya diatas tanah. Ponsel yang berlogo buah digigit ujungnya itu dengan tiga kamera dibelakangnya terlihat tak berarti untuk Sela. Bahkan ponsel itu sudah kotor karena pasir dan tanah.
Tangan mungil Sela membersihkan pasir dan tanah yang menempel, lalu meniup-niupnya. Setelah dirasa bersih, anak itu membuka aplikasi tiktok kesayangannya.
"Bakalan efyepe," gumam anak itu setelah menyelesaikan caption dan menekan tombol selanjutnya untuk mengunggah video tersebut.
.....
"Bunda, Cela minta maaf, ya," ucap Sela yang kini sedang tiduran bersama Zahra di karpet berbulu ruang keluarga. Setelah melaksanakan sholat isya, keluarga kecil itu berkumpul untuk sekedar bertukar cerita. Tadi, mereka semua makan malam dengan masakan buatan Kenzo dan Sela. Hingga Zahra terpaksa makan karena tidak mau membuat anak dan suaminya kecewa. Tapi, mereka memang belum mengatakan maaf kepada Zahra untuk hal tadi pagi.
"Minta maaf kenapa, Nak?" tanya Zahra.
"Maaf kalena udah belantakin isi lemali," ucap Sela.
Kenzo yang tadi ikut merebahkan kepala kini berubah posisi menjadi duduk ketika mendengar perkataan Sela. "Katanya kamu nggak pernah salah, kenapa sekarang minta maaf?" tanya Kenzo.
"Itu kalau cama Ayah. Cama Buna nggak boleh. Culga ditelapak kaki Ibu, bukan kaki Ayah," jawab Sela santai.
Sedangkan Kenzo, lelaki itu menendang kesal bantal dikakinya begitu mendengar jawaban Sela. Anaknya itu semakin lama semakin membuatnya darah tinggi saja.
Zahra tersenyum mendengar perkataan Sela, begitu juga Bu Sari. "Meskipun begitu, Sela nggak boleh jahat sama Ayah. Harus hormat, sayang dan patuh, Nak," ucap Zahra memperingati.
Sela mengangguk setuju. "Kan tadi Cela nggak ngelawan, Buna. Cuma bilang aja," jawab anak itu yang membuat Zahra menghela nafas pasrah. Anaknya ini benar-benar pintar sekali dalam berbicara.
"Buna maafin Cela, ya?" ucap anak itu lagi.
Tiba-tiba ide jahil terlintas dalam pikiran Zahra. "Mas kamu nggak mau minta maaf juga?" tanya Zahra.
"Iya Sayang. Aku juga minta maaf," ucap Kenzo.
"Aku akan maafin, tapi dengan satu syarat," ucap Zahra.
"Apa?" tanya mereka serentak dengan semangat.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏