Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 191



🌹HAPPY READING🌹


Malam ini terasa begitu dingin bagi Zahra. Kenzo, suaminya kembali sering termenung setelah apa yang tadi dia bicarakan tadi pagi mengenai Kinzi.


Zahra berjalan memasuki kamar dari arah balkon mendekati Kenzo yang duduk diatas ranjang dengan laptop di pangkuannya.


"Alas pakai bantal, Mas. Nggak baik laptop langsung ditaruh di paha begitu," ucap Zahra memberikan banyak pada Kenzo.


"Terimakasih, Sayang," jawab Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Zahra menghela nafas dan mengangguk. Wanita itu membuka outer satinnya dan berdiri tepat di depan Kenzo. Menyisakan gaun tidur yang sangat tipis diatas paha, belahan dada rendah dan sedikit renda diarea dadanya.


Zahra tersenyum miring melihat suaminya yang sok tidak melihat itu. Sampai kapan kamu akan menolak, Mas? Batin Zahra geli melihat tingkah suaminya itu.


Zahra mengambil laptop Kenzo beserta dengan bantalnya. Tanpa aba-aba, Zahra langsung duduk dipangkuan lelaki itu. "Aku tahu kamu tidak ada pekerjaan penting, Mas. Cek e-mail bisa diselesaikan besok," ucap Zahra sensual dengan tangan melingkar indah di leher sang suami.


Kenzo menatap datar istrinya. Pandangannya beralih pada perut Zahra yang sedikit menonjol dari balik kain tipis itu. "Mencoba merayu, Hem?" tanya Kenzo dengan pandangan jahilnya.


"Niatnya bukan merayu. Tapi kebetulan suami aku tukang ngambek, dan ini salah satu caranya, ya kenapa enggak," jawab Zahra menaik-turunkan alisnya.


"Aku kalau dirayu susah nolak loh, Sayang," ucap Kenzo mengusap lembut pipi Zahra.


"Aku kalau udah ketagihan, nggak mau berhenti," jawab Zahra dengan suara berbisik tepat di telinga Kenzo.


Kenzo memicingkan mata merasakan deru nafas Zahra yang semakin turun ke lehernya. Perlahan namun pasti, Zahra melancarkan serangannya menggoda suaminya itu.


Tidak tahan dengan melakukan istrinya, Kenzo berdiri dengan Zahra yang kini gendong ala koala di tubuhnya. "Anak kita aman bukan?" tanya Kenzo.


"Dia juga rindu dijenguk Ayahnya," jawab Zahra nakal.


"Istri nakal, ya. Ukhti in publik, Naughty in private," ucap Kenzo senang.


"Just for my prince," jawab Zahra mengecup lama bibir Kenzo. Hanya mengecup, menyalurkan kasih sayang dan cintanya untuk lelaki itu. Entah apa pesona Kenzo, namun yang pasti Zahra sangat mencintai lelaki ini.


Kenzo merebahkan Zahra dengan perlahan ke kasur. Saling mencecap bibir satu sama lain. Perlahan tangan Kenzo turun ke benda kenyal yang ada di dada Zahra. "Ini semakin seksi, ya," ucap Kenzo parau.


"Karya kamu, Mas," jawab Zahra menangkup kedua pipi Kenzo dengan kedua telapak tangannya. Dari bawah sini, Zahra dapat melihat wajah Kenzo yang memerah dengan rambut acak-acakan karena dirinya. Bibir pink sang suami yang sedikit bengkak karena permainan mereka.


"Suamiku semakin tampan," ucap Zahra lagi.


Benar saja, telinga dan wajah Kenzo semakin bersemu. Tidak tahan, Kenzo langsung menyerang bibir Zahra dengan bibir miliknya. Bunyi bibir saling bertautan memenuhi kamar mereka. Tangan Kenzo tak tinggal diam menguasai dua benua Zahra yang semakin berisi dan semakin enak untuk digenggamnya.


"Ahh," satu ******* lolos dibibir Zahra ketika bibir Kenzo turun ke lehernya. Di sana, Kenzo meninggalkan bekas indah miliknya.


Kenzo mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka. Padahal pakaian mereka masih terpasang semua, tapi Kenzo sudah menarik selimut saja dengan posisi diatas Zahra. Tanpa mereka sadar, pintu kamar yang masih terbuka itu menyebabkan bahaya akan mengintai.


.....


Sedangkan di kamar lain, Sela masih belum memejamkan matanya. Anak itu masih berpikir mengenai rencananya yang akan dia laksanakan besok. "Berhubung besok Sabtu, dan aku libur, jadi bisa jalankan rencana," ucap Sela senang.


"Uang Sela akan banyak," ucapnya girang.


"Tapi gimana cara kesana sendiri, ya?" tanyanya bingung entah pada siapa.


Ting.


Lampu pijar menyala indah diatas kepala Sela. Indah indah terlintas di kepalanya. Tanpa pikir panjang anak itu turun dari kasur dan berlari keluar kamar. "Ayah dan Bunda pasti belum tidur," ucapnya dengan semangat.


Sela keluar dari kamarnya. Dia melihat lampu kamar Bundanya yang masih menyala dan pintu yang sedikit terbuka. Hal itu sontak menambah semangat gadis kecil itu.


Tanpa permisi dan mengetuk pintu, anak itu langsung masuk begitu saja.


Sela memandang bingung Ayah dan Bundanya yang ada di dalam selimut. Bunyi decap-decap seperti orang makan terdengar di telinga nyaringnya.


"Ayah dan Bunda makan apa?" tanya Sela dengan suara polosnya.


Kedua manusia dewasa yang ada dibalik selimut sontak menegang dan menghentikan kegiatan saling memberi rasa itu. Kenzo langsung turun dari tubuh sang istri dan membuka sedikit selimut untuk mengintip.


"Ayah sama Bunda makan apa?" tanyanya lagi.


Kenzo menghela nafas kasar. Nafsunya sudah diujung tanduk, tapi makhluk kecil itu selalu saja mengganggu kesenangannya. "Astagfirullah Sela!" ucap Kenzo geram


Zahra gugup tak terbantahkan. Dia merapikan rambut dan pakaian tidurnya dari balik selimut. Dengan cepat, wanita itu mengambil outer yang ada di kepala ranjang dan memasangnya dengan cepat. Setelah selesai, dia membuka selimut dan menatap anaknya dengan senyum gugup.


"Sela belum tidur, Nak?" tanya Zahra lembut, berusaha menghilangkan kegugupannya. Sungguh, tidak enak sekali kepergok oleh anak sendiri.


"Belum Bunda. Ayah sama Bunda tadi makan apa?" tanya Sela sedikit memanjangkan kepalanya melihat ke arah kasur.


"Kok nggak ada piringnya?" tanya Sela lagi.


"Makan bibir, Nak," jawab Kenzo asal.


"Mas!" tegur Zahra ketika mendengar jawaban tak senonoh suaminya.


"Ayah sama Bunda nggak makan, Nak," jawab Zahra kembali lembut pada Sela.


"Terus kok bunyinya ckckckck gitu?" tanya Sela lagi dengan segala rasa penasarannya.


"Tadi ada tikus, Nak. Makanya Ayah dan Bunda sembunyi dibalik selimut," ucap Zahra lagi.


"Sekarang udah pergi Bunda tikusnya?" tanyanya sedikit takut.


"Udah. Sekarang malah datang tikus pengganggu!" jawab Kenzo ketus.


Sela menatap sinis pada Ayahnya itu. "Apa sih orang tua!" ucapnya tak kalah ketus.


Kenzo berdecak melihat anaknya itu. Setelah itu dia tersenyum manis dan bersimpuh di depan Sela agar sama tinggi dengan tubuh anaknya. "Sela ada perlu apa, Nak?" tanya Kenzo sangat ramah.


"Sela mau izin, Ayah," ucap anak itu.


"Izin apa?" tanya Kenzo.


"Besok Sela izin ke rumah Nenek dan Kakek sama Shasa, ya," ucapnya semangat melupakan kesalnya pada Kenzo tadi.


"Hanya berdua?" tanya Kenzo lagi.


Sela mengangguk lucu.


"Bunda nggak diajak?" tanya Kenzo.


Sela menggeleng. "Besok kan libur, jadi Ayah boleh main sama Bunda sepuasnya. Biar besok Sela pergi sama Kak Shasa berdua. Tapi Sela pinjam sopir sama mobil Ayah yang kecil itu, ya," ucapnya lagi meminjam Mini Cooper yang memang miliknya sendiri. Tentunya ditemani sopir yang menyetir.


"Apapun untuk ide bagus kamu, Nak," jawab Kenzo semangat. Karena jika tidak ada anaknya, maka dia akan bisa berbuat apa saja dengan istri tercintanya. Mumpung Bu Sari juga masih di panti, jadi dia akan leluasa nanti disetiap sudut.


"Memang Sela mau apa ke rumah Nenek, Nak?" tanya Zahra curiga.


"Mau main kuda sama Kakek, Bunda. Udah janji sama Shasa juga," jawabnya lancar dengan segala akal bulus anak itu. Tentu saja dia bisa, turunan Ayahnya sudah jelas.


"Yasudah kalau begitu. Sekarang Sela tidur, ya. Ayah dan Bunda udah kasih izin," ucap Kenzo memboyong tubuh Sela keluar kamar tanpa izin.


Anak itu berbinar semangat. "Terimakasih Ayah. Selamat malam," ucapnya senang berlari ke kamarnya sendiri.


Kenzo bernafas lega. Dia berbalik menatap Zahra dengan senyum jahil. Satu kakinya menutup pintu dan mengunci dengan tangan. "Ayo lanjutkan, Sayang."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏