
🌹HAPPY READING🌹
"SELA MAU LIHAT AYAH!"
Teriakan nyaring itu terdengar sampai ke ruang tamu kediaman Murat. Mereka semua menoleh mendengar suara nyaring dari arah lantai dua. Di ujung tangga, dia melihat Sela yang memberontak pada seorang pelayan dan ingin menuruni tangga.
"Bawa Sela kemari!" titah Kevin tegas pada pelayan tersebut.
Sela yang mendengar itu langsung berlari menuruni tangga dengan kaki mungilnya. "Jangan lari-lari, Nak," ucap Sela yang kini sudah duduk di sebelah Kenzo lagi.
"Udah Sela bilangin mau ketemu Ayah, masih juga ditahan," gerutu anak itu dengan kaki yang terus melangkah lebar.
"Ayah!" teriak Sela begitu sudah dekat dengan ruang tamu.
"Sela kenapa teriak-teriak, Nak?" tanya Kenzo lembut.
Sela diam. Mata anak itu berkaca-kaca melihat wajah Ayahnya yang hancur sekarang. Tangan mungilnya bergerak menyentuh lembut pipi Kenzo. "Sakit ya, Ayah?" tanya Sela lembut.
Kenzo menggeleng. "Sedikit Nak," jawab Kenzo.
Sela mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang dia tahu tadi memukul Ayahnya. Sela berjalan mendekati pria itu dengan langkah pelan, namun terlihat sangat yakin.
"Maafin Ayah kalau ada salah ya, Kakek. Jangan pukul Ayah Sela lagi. Itu pasti sakit," ucap anak itu memohon dengan kedua tangan menyatu didepan dadanya.
Murat yang melihat itu ingin membawa tubuh Sela ke dalam pelukannya. Namun belum tangannya menyentuh Sela, anak itu sudah berjalan mundur.
"Takut," cicitnya pelan dengan kepala menunduk.
"Tingkah kalian membuat cucuku ketakutan," ucap Dee yang turun tangan dan mengangkat tubuh Sela kedalam gendongannya.
Tangis Sela pecah dalam gendongan Dee. "Takut Nenek," adunya pada Dee.
"Sela jangan takut, ya. Kakek tua itu nggak makan orang kok. Itu buktinya Ayah masih baik-baik saja kan," ucap Dee menenangkan cucunya.
Zahra yang melihat anaknya langsung berdiri. "Sini sama Bunda, Nak," ucap Zahra.
Sela menggeleng. "Mau sama Ayah aja," jawabnya pelan.
Kenzo yang mendengar itu langsung berdiri dan mengambil Sela dari gendongan Dee.
"Ayah baik-baik saja, Nak," ucap Kenzo meyakinkan anaknya.
"Ayah salah apa? Kenapa Kakek itu mukul Ayah?" tanya Sela.
Kenzo menggeleng. "Tadi itu salam perkenalan, Sayang. Bukan karena marah," ucap Kenzo.
Sela menatap bingung dengan mata polosnya. "Memang ada salam perkenalan begitu, Ayah?" tanya Sela bingung.
"Hanya untuk orang-orang tertentu, Nak," jawab Kenzo.
"Ngeri ih! Takut!" ucap anak itu meringis ngilu membayangkan jika nanti dia juga akan seperti itu jika melakukan perkenalan dengan orang baru.
Mereka semua yang ada disana terkekeh kecil melihat bagaimana reaksi gadis kecil itu.
Zahra yang mendengar penjelasan Kenzo pada Sela memukul pelan bahu suaminya itu. "Bukan salam perkenalan, Nak. Tadi itu Ayah dan Kakek lagi belajar bela diri, makanya begitu. Jangan dengerin penjelasan Ayah atau yang lain disini, ya. Yang harus Sela dengar adalah penjelasan Bunda, Nenek Dee, Nenek Nende, dan juga Bibi Eriye. Selebihnya jangan dengar," ucap Zahra mendelik sebal melihat semua lelaki yang ada di rumah itu.
"Memang kenapa gitu Bunda?" tanya Sela lagi.
"Mereka gila!" jawab Zahra kesal. Tidak ada lelaki yang benar dalam keluarganya saat ini. Berharap mendapat Kakek yang akan sedikit waras, namun nyatanya sama saja.
Sela yang sedikit bingung hanya mengangguk saja. Setelah itu dia kembali bersandar di dada Ayahnya.
Kenzo kembali duduk di sofa dan mendudukkan Sela di pangkuannya. "Sela lihat Kakek itu?" tanya Kenzo menunjuk Murat.
Sela mengangguk. "Yang tadi pukul Ayah kan?" tanya Sela.
Kenzo mengangguk. "Dia adalah Kakek buyut Sela. Kakeknya dari Bunda. Keluarga baru Sela," ucap Kenzo memperkenalkan Murat.
"Nanti suatu saat, Sela bakal tahu kenapa tadi Ayah dipukul. Sudah, Ayah sekarang sudah nggak apa-apa. Wajah Ayah juga udah diobati sama Bunda. Jadi Sela jangan khawatir lagi, ya," ucap Kenzo memberi pengertian.
Sela mengangguk. Anak itu turun dari pangkuan Kenzo dan berjalan mendekati Murat. Tepat di depan Murat, kaki mungil anak itu berhenti melangkah.
"Assalamu'alaikum, Kakek," ucap Sela sopan.
Murat tersenyum lembut. "Waalaikumsalam, cucu buyut Kakek," jawab Murat.
Sela berjalan mendekat. Tangan anak itu terulur untuk menyalami Murat. Murat mengangkat tangannya untuk membalas uluran tangan cucu buyutnya itu.
Plak.
Tangan Sela berganti haluan. Bukannya bersalaman, anak itu memukul telapak tangan Murat dengan tangan mungilnya.
"Salam perkenalan, Kakek," ucap Sela dengan wajah jahilnya yang membuat Murat mendengus sebal.
Sela menoleh menatap Kenzo. Satu matanya mengedip menatap Kenzo seolah mengatakan apa yang dia inginkan telah terlaksana.
"Good job, Nak," ucap Kenzo terkekeh geli melihat gaya anak itu.
"Duh, gaya anakku," gemes Zahra.
Sela kembali berbalik menatap Murat. Tanpa aba-aba, anak itu mengambil tangan Murat dan sekarang benar-benar menyalaminya. Bahkan mencium punggung tangan Murat. "Maaf ya, Kakek. Tadi itu kan Kakek nakal juga, jadi dihukum sedikit," ucap Sela dengan cengirannya.
"Benar-benar sifat Bapaknya," gerutu Kevin yang melihat tingkah gadis kecil itu.
Sela mengangguk. Anak itu langsung menenggelamkan tubuhnya kedalam dekapan Murat.
Murat memeluk erat cucu buyutnya itu. Tak hentinya lelaki itu mengecup kecil pucuk kepala Sela.
Sela melepaskan pelukannya ketika merasakan basah mengenai pipinya. "Kakek menangis?" tanya Sela.
"Ini tangis bahagia karena bisa bertemu kamu, Nak," jawab Murat.
"Sela lebih senang lagi. Sekarang keluarga Sela banyak. Kalau dulu hanya berdua dengan Bunda, dan bertiga sama Nenek (Bu Sari). Tapi sekarang banyak sekali, Sela sayang semuanya," ucap anak itu bercerita.
Mereka semua yang mendengar itu tersenyum sendu. Perkataan polos yang keluar dari mulut anak itu menyayat hati manusia dewasa yang ada disana. Terutama Kenzo, manusia dengan segala penyesalannya.
"Mulai sekarang Sela tidak akan sendiri atau bertiga lagi, Nak. Oiya, Nenek Sela nggak ikut?" ucap Murat menanyakan Sari.
Sela menggeleng. "Nenek banyak kegiatan panti, Kakek. Nenek lebih suka di panti sekarang," jawab Sela.
Murat yang kurang paham menatap Zahra meminta penjelasan. "Setiap bulan, Ibu Sari selalu rutin dengan kegiatan pantinya, Kakek. Saat Zahra ajak kesini, Ibu lebih memilih bermain dan ikut kegiatan panti," ucap Zahra menjelaskan yang dibalas anggukan oleh Murat.
"Kakek," panggil Sela lembut.
"Iya Nak," jawab Murat.
"Jangan pernah pukul Ayah kayak tadi, ya. Sela nggak mau Ayah sakit-sakit. Kakek tahu nggak, Sela itu punya temannya saat bertemu Ayah," ucap Sela memulai ceritanya.
"Nak," tegur Zahra agar Sela tak melanjutkan perkataanya.
"Biarkan, Sayang," ucap Kenzo lembut.
"Kakek janji tidak akan begitu lagi, Nak," ucap Murat cepat. Dia tahu semuanya, dan dia tidak mau lagi mendengar Sela menceritakan segala kesedihan itu. Saat ini tugas mereka bukan lagi mendengar setiap kesedihan itu, tapi tugasnya adalah mengganti kesedihan itu dengan segala kebahagiaan untuk gadis kecil ini.
Sela sangat menikmati perkenalan dengan keluarga barunya. Gadis kecil itu tidak hentinya berceloteh tentang apa saja yang dia alami. Dengan sangat antusias dia memamerkan segala yang dia bisa kepada Murat dan juga Nende beserta suaminya, Lukman.
"Ekhem, Kakek," panggil Kenzo. Mendadak semuanya hening mendengar panggilan Kenzo.pada Murat.
"Kenapa Ken?" tanya Murat.
"Ada satu hal yang mau aku sampaikan," ucap Kenzo.
"Apa?" tanya Murat.
Tangan Kenzo terulur mengelus lembut perut Zahra yang memang sudah besar dari balik Abaya yang dia gunakan. "Disini, juga ada calon cucu buyut mu," ucap Kenzo yang memang sengaja menyembunyikan semuanya dari Murat agar bisa memberi kejutan untuk lekaki tua itu.
Wajah Murat terkejut bahagia. Sejak kedatangan Zahra tadi, dia tidak memperhatikan perut cucunya yang memang tertutup kain lebar itu. "Apa itu benar?" tanya Murat.
Si kecil Sela yang berada di pangkuan Murat mengangguk semangat. "Iya, Kakek. Bahkan kembar loh," ucap Sela mewakili jawaban Ayah dan Bundanya.
"Alhamdulillah," ucap mereka semua yang senang mendengar kabar bahagia ini. Mereka semua kecuali Murat memang mengetahui kehamilan Zahra. Tapi megenai cucu kembar, ini adalah kejutan untuk mereka semua.
"Kamu memberi Kakek hadiah terindah, Nak," ucap Murat haru.
"Itu juga karena Sela makanya bisa ada adik, Kakek," celetuk Sela yang juga ingin dipuji.
"Maksudnya, Nak?" tanya Murat.
"Iya. Kalau Sela nggak ada minta adik, pasti Allah belum kasih. Jadi itu semua karena permintaan Sela sama Allah," jawab anak itu dengan bangganya.
"Sela sudah bilang terimakasih sama Allah?" tanya Murat.
Sela mengangguk yakin. "Selalu dan setiap waktu," jawab anak itu yakin.
Mereka semua tertawa kecil mendengar celotehan gadis itu. Namun, mata Zahra menatap hal lain dari sorot mata lelaki yang dia panggil Ayah.
Kevin yang menyadari pandangan Zahra padanya hanya tersenyum. Setelah itu dia kembali mengalihkan pandanganya menatap Sela.
.....
Kini, mereka semua sudah memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
Kevin berdiri memandangi keluar jendela kamarnya. Semuanya bahagia saat ini karena sebuah pertemuan yang sudah lama dinantikan. Tapi tidak dapat dipungkiri, ada kesedihan lain dalam sudut hatinya yang sejak tadi dia tahan.
Saat asik dengan lamunannya, pintu kamar terbuka. Kevin berbalik dan menatap siapa yang memasuki kamarnya tanpa izin. Saat akan marah, niatnya tertunda ketika melihat Ibra yang berdiri diambang pintu.
"Kenapa?" tanya Kevin.
Ibra diam. Dia berjalan semakin memasuki kamar milik Kenzo. "Harusnya gue yang tanya gitu sama Lo. Kenapa?" ucap Ibra.
Kevin berbalik. Lelaki itu mengindari kontak mata dengan Ibra yang terasa sangat mengintimidasinya.
"Gue baik-baik aja seperti yang Lo lihat. Ini adalah hari bahagia," jawab Kevin.
"Gue nggak bilang ini hari sedih. Dan gue juga nggak tanya Lo baik-baik aja atau enggak. Kenapa Lo bisa yakin kalau gue memang bertanya mengenai keadaan Lo?"
......................
Nutrisi sebelum tiduuuuurr!!!!!
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏