Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 131



🌹HAPPY READING🌹


Sela diam. Matanya menatap Bu Nita yang tengah menatap remeh kepadanya. Ibu dari temannya itu menatap hina Sela. Karena dia datang bersama sang suami untuk menemani kyel, anaknya.


"Apa pekeljaan Ayah itu lebih penting dari Cela, Buna?" tanya Sela tanpa mengalihkan pandangannya dari keluarga Kyel.


"Anak adalah aset penting bagi orang tuanya, Sayang. Lebih penting dari apapun," jawab Zahra.


"Kalau penting pasti Ayah datang, Buna," jawab Sela.


"Sela harus sabar, ya. Semoga saja pekerjaan Ayah selesai sebelum perlombaan dimulai," ucap Zahra membujuk Sela.


Sela hanya diam. Matanya terus menatap datar pada Nita yang memanas-manasinya. Zahra yang melihat ekspresi Sela mengikuti arah pandang anaknya itu. Zahra menghela nafas pelan, ibu-ibu julid satu itu terus saja mencari masalah dengan anaknya. "Jangan terpengaruh oleh godaan syetan, Nak," ucap Zahra membisikkan hal tersebut ke telinga Sela.


Maaf, Ya Allah, bukan maksud hamba mengatai ciptaan mu adalah syetan. Hamba hanya sedang berusaha menghibur anak hamba. Ucap Zahra memohon maaf atas bisikan yang dia berikan pada Sela.


Sela menoleh pada Zahra begitu mendengar perkataan Bundanya. "Kok Cyetan, Buna?" tanya Sela.


"Makhluk yang suka menggoda dan mengganggu manusia adalah syetan, Sayang," ucap Zahra memberitahu.


Sela mengulum senyum di bibir mungilnya. Bundanya ternyata bisa juga dalam hal mengatai orang. Bukan kaleng-kaleng, bahkan Bundanya mengatai syetan. "Dan anak baik akan melawan godaan Syetan," ucap Sela senang menatap Zahra. Anak dan Ibu itu ber tos ria menunjukkan semangatnya.


Cela tidak boleh cedih. Hali ini halus gembila. Kehadiran Buna caja cudah cukup. Cela tidak boleh mematahkan cemangat Buna. Batin Sela mengerti akan keadaan Zahra. Zahra melakukan itu untuk menghiburnya agar kembali semangat saat akan melakukan perlombaan.


.....


Para panitia lomba sudah bersiap di depan kelas untuk memberitahu mengenai peraturan lomba. Lomba pertama yang akan mereka lakukan adalah lomba mewarnai antara Ibu dan anak. Sedangkan untuk lara Ayah berdiri dibelakang istri dan anaknya untuk menasehati. Karena, nanti akan ada lomba lainnya yang hanya melibatkan Ayah dan anak.


"Di atas meja kita semua sudah ada kertas dan pewarna yang disediakan oleh panitia. Bunda dan anak dipersilahkan untuk menghias kertas polos itu dengan gambar yang indah. Kerjasama Bunda dan anak akan dinilai dalam hal ini. Dan juga, tema untuk gambar yang akan dibuat adalah bertemakan Ayah. Pada hitungan ke tiga, kegiatan menggambar ini akan kita mulai," ucap Panitia memberi instruksi kepada setiap pesertanya.


Semua mendengar dengan baik. Begitu juga Sela dan Zahra. Kan Cela lagi kecal cama Ayah, kenapa halus Ayah cih temanya. Batin Sela menggerutu.


"Waktu yang akan diberikan adalah tiga puluh menit dari sekarang. 1, 2, 3, Mulai!" teriak panitia semangat hingga membuat semua peserta bergerak di tempat mereka masing-masing.


"Kita buat Ayah apa, Buna?" tanya Sela.


"Ya Ayah Sela, Sayang. Kita akan buat gambar tentang Ayah. Ayo kita mulai," ucap Zahra dan langsung mengambil pensil yang ada didepan mereka.


Sela berfikir sejenak. Tidak lama setelah itu, otak cantiknya mengeluarkan lampu terang menandakan dia mendapat ide mengenai gambar apa yang akan dia buat.


"Biar Cela yang buat gambalnya, Buna. Nanti, Buna bantu Cela walnai, ya," ucap Sela yang langsung dianggukki oleh Zahra.


Zahra membiarkan Sela menggambar apa yang ingin dia gambar. Meskipun tidak terlalu bagus, tapi dia ingin anaknya merasa puas dengan hasil coretanya sendiri. Tidak perlu menang, yang pasti melalui gambar ini, Sela bisa mengungkapkan perasaanya kepada Kenzo.


"Jangan terburu-buru, Nak. Ungkapkan isi hati Sela lewat gambar ini," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh Sela.


Kepala Sela menunduk dalam membuat gambar tersebut. Hingga Zahra saja tidak bisa melihat apa yang dibuat oleh anaknya itu.


Dua puluh menit, Sela selesai dengan gambarnya. "Ini Buna. Buna bantu Cela walnai," ucap Sela menunjukan gambarnya pada Zahra.


"Gambar apa ini, Nak?" tanya Zahra.


"Ini Ayah yang sedang sibuk bekerja di kantor," ucap Sela menunjukan gambar gedung petak yang dia buat beberapa tingkat, dan disebelahnya ada gambar seorang lelaki yang sedang sibuk duduk di kursi menatap meja kerja yang berisi banyak kertas.


"Dan ini kita, Buna," lanjut Sela menunjuk gambar yang ada disisi lain kertas itu. Gambar seorang anak dan ibu yang sedang fokus melakukan kegiatan. Namun, terlihat wajah sang anak yang nampak murung.


Zahra tersenyum melihat gambar anaknya itu. Bisa-bisanya anak itu berencana untuk menyindir Kenzo lewat gambar tersebut. Benar-benar langka pemikiran anaknya ini.


.....


Sedangkan di perusahaan, Kenzo menatap nyalang beberapa orang yang ada di ruangannya. "Kenapa laporannya bisa begini?" tanya Kenzo sambil melempar beberapa kertas itu hingga berserakan diatas mejanya.


Arman yang berada di sebelah Kenzo ikut menatap datar beberapa karyawan tersebut.


"Pasti ada kecurangan yang telah kalian lakukan hingga perusahan rugi seperti ini!" ucap Kenzo marah.


Bagaimana tidak kesal, pagi buta pukul enam, dia sudah mendapat telfon dari Arman mengenai kekacauan ini. Waktu yang harus dia gunakan untuk menemani anaknya harus tersita karena ini.


"Maaf, Pak. Kami sudah membuat laporan sesuai dengan kegiatan yang terjadi di perusahaan, Pak," ucap salah satu diantara mereka memberanikan diri menatap Kenzo.


"Sekarang ambil sampah ini dan kalian baca kembali. Lakukan perbaikan hari ini juga!" titah Kenzo tanpa bisa dibantah yang hanya mampu dianggukki oleh beberapa karyawan tersebut.


"Keluar!" ucap Kenzo tegas.


Para karyawan itu mengumpulkan kembali kertas yang berserakan disana dan segera keluar dari ruangan Kenzo dengan badan gemetar mereka.


"Tuan," panggil Arman ragu.


"Ada apa, Arman? Aku harus segera pergi ke sekolah Sela," ucap Kenzo tak sabar ingin pergi.


"Ini Tuan," ucap Arman menunjukkan sebuah email masuk melalui tabletnya.


"Mengapa harus sekarang?!" tanya Kenzo marah mengusap rambutnya frustasi.


"Mereka baru mengirimkan email tadi malam, Tuan. Jika kita tidak memenuhinya, maka kerja sama ini akan batal, Tuan," jawab Arman.


Kenzo memukul meja keras. Kenapa semuanya terjadi saat di harus memberikan waktu bersama anaknya. Saat melihat email yang Arman tunjukkan, mengenai klien yang meminta untuk mengadakan pertemuan hari ini secara mendadak, membuat Kenzo semakin marah dan kesal. Kerjasama ini sangat penting untuk perusahaanya, jika tidak dilakukan, maka perusahaan akan kehilangan setengah pendapatannya. Bener-benar dilema besar bagi Kenzo.


"Jam berapa?" tanya Kenzo akhirnya pada Arman.


"Pukul sebelas, Tuan. Mereka akan datang kemari," jawab Arman.


"Keluarlah. Hubungi aku jika mereka sudah datang," ucap Kenzo yang langsung dituruti oleh Arman.


Kenzo menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh empat lima, itu artinya lima belas menit lagi kliennya akan datang.


Kenzo mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Zahra. Tiga panggilan, namun Zahra tidak mengangkat.


"Semoga kalian paham jika nanti aku memberi penjelasan," gumam Kenzo berharap Zahra dan Sela akan menerima penjelasanya karena tidak bisa ikut mendampingi Zahra dan Sela di acara sekolah Sela.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏