Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 136



🌹HAPPY READING🌹


"Tumben sekali Abi datang. Biasanya Abi memintaku datang ke perusahaan Abi jika ingin bertemu," ucap Kenzo heran.


Wajah Ibra berubah serius menatap Kenzo yang duduk didepannya. "Jelaskan pada Abi, siapa Zahra sebenarnya?"


DEG


Kenzo memandang lekat Ibra yang nampak serius. "Zahra kan anak Abi," ucap Kenzo masih santai.


Ibra berdecak. "Abi tidak sedang bercanda, Kenzo. Sudah lama Abi ingin mendengar ini. Siapa Zahra sebenarnya?" tanya Ibra lebih tegas lagi.


Arman yang merasakan hawa tegang memilih untuk mundur. Dia merasa bahwa Kenzo dan Ibra perlu waktu berdua untuk bicara. Ini adalah masalah keluarga, dan Arman merasa dia tidak berhak ada disana. "Maaf, Tuan Ibra, Tuan Kenzo. Saya pamit undur diri melanjutkan pekerjaan di ruangan saya," ucap Arman pamit dengan sopan yang langsung dianggukki Ibra. Sedangkan Kenzo hanya dia. Dia sedang menimbang apakah tepat untuk memberitahu Ibra mengenai Zahra atau tidak.


"Jelaskan, Kenzo!" ucap Ibra tegas setelah Arman keluar.


"Apa yang ingin Abi ketahui?" tanya Kenzo dengan nada dinginnya.


"Siapa Zahra sebenarnya?" tanya Ibra untuk kesekian kalinya.


"Turk Mücevher. Zahra adalah pewaris tunggal perusahaan raksasa asal Turki itu," jawab Kenzo singkat, pada dan jelas yang membuat Ibra terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa, jelas Ibra terkejut mendengar semua ini. Ini adalah kejutan besar untuknya.


"Sulit dipercaya," gumam Ibra menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Mencoba untuk merilekskan tubuhnya dari keterkejutan ini.


"Bagaimana bisa?" tanya Ibra menatap Kenzo.


Kenzo mengernyit heran. "Ya bisalah, Abi. Orang Zahra dibuat sama Ayah dan Ibu kandungnya sama kayak Abi buat Al sama Kina bareng Umi," jawab Kenzo nyeleneh.


Tuk.


Kotak tisu yang ada di meja melayang mengenai kepala Kenzo. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ibra yang sudah terlanjur kesal mendengar jawaban aneh lelaki itu.


"Sakit, Abi!" protes Kenzo sambil mengusap kepalanya.


"Siapa suruh jawaban kamu sembarangan!" jawab Ibra tak peduli.


"Abi serius, Kenzo. Bagaimana bisa semuanya terjadi?" tanya Ibra lagi.


Kenzo menghela nafas pelan. Setelah itu dia mulai untuk menceritakan apa yang dia dengar dari Kevin waktu di rumah sakit saat Zahra masih dirawat.


"Dan kalian menyembunyikan ini dari Abu dan Uminya?" tanya Ibra kesal. Karena dia sama sekali tidak dilibatkan disini oleh sahabatnya itu. Benar-benar ingin rasanya Ibra mengutuk Kevin saat ini juga.


"Bukannya menyembunyikan, Abi. Kenzo dan Ayah Kevin hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semua ini," jawab Kenzo membela dirinya dan Kevin.


"Apa Zahra tahu?" tanya Ibra lagi.


Kenzo menggeleng. "Kenzo belum siap menceritakan semua ini pada Zahra, Abi. Mengetahui kedua orang tuanya yang sudah meninggal, pasti akan memberikan kesedihan lagi untuknya," jawab Kenzo.


"Tapi cepat atau lambat, Zahra sangat berhak mengetahui semua ini, Kenzo. Ini hidupnya, ini menyangkut masa depannya juga. Menyembunyikan ini dalam waktu yang lama bukanlah pilihan yang baik untuk saat ini, Kenzo," ucap Ibra menasehati Kenzo.


Kenzo mengangguk setuju. "Saat waktunya tepat, Kenzo akan ceritakan semuanya pada Zahra, Abi," ucap Kenzo.


Ibra mengangguk setuju. "Harus. Sekarang Zahra sudah tidak sendiri. Ada kita yang selalu berada disekelilingnya. Tidak ada salahnya untuk mengumumkan siapa Zahra sebenarnya sekarang. Setidaknya, keamanan Zahra sudah bisa kita jamin sekarang," ucap Ibra.


"Apa Abi akan memberitahu ini pada Umi?" tanya Kenzo.


Ibra mengangguk yakin. "Tentu. Aku tidak mau Dee mengamuk padaku karena tahu hal ini dari orang lain. Bisa-bisa puasa beberapa hari," ucap Ibra santai.


"Udah tua masih aja," gerutu Kenzo.


"Karena tua itu. Berhubungan suami istri itu membuat kita awet muda kalau kamu belum tahu," jawab Ibra menceramahi menantunya itu.


"Ya, ya, ya, yang tua bebas," ucap Kenzo.


"Abi mungkin tidak ngeh mengenai ini semua, tapi aku yakin Al pasti sudah tahu ini, Abi," ucap Kenzo.


"Al?" beo Ibra tak mengerti.


Kenzo mengangguk. "Al adalah ahlinya dalam baca membaca, analisa sudah menjadi kelihaiannya. Di setiap lembar kerja sama Perusahaan Turk Mücevher, Ayah Kevin selalu membuat nama Zahra diujung sebelah kiri atas kontrak kerja sama. Dan tulisan nama itu, pasti akan bisa dibaca oleh orang yang memiliki analisa tinggi, Abi," ucap Kenzo.


"Darimana kamu mengetahui hal itu?" tanya Ibra penasaran.


Kenzo berdiri dan mengambil salah satu contoh kontrak kerja sama Turk Mücevher di laci meja kerjanya. Setelah itu dia membawa kertas itu dan memberikannya kepada Ibra. "Abi perhatikan bagian ujung atas sebelah kiri," ucap Kenzo yang langsung dipatuhi oleh Ibra.


Ibra menatap lekat tinta hitam di tempat yang disebutkan Kenzo tadi.


"Jika diperhatikan sekilas dan biasa, itu hanya serakan tinta hitam yang membentuk bunga, Abi. Tapi, itu adalah tulisan nama Zahra yang dirangkai menjadi bentuk bunga," ucap Kenzo menjelaskan pada Ibra.


Ibra menuruti perkataan Kenzo. Dia menatap dengan mata memicing tinta hitam itu. "Iya, ini nama Zahra," ucap Ibra setelah sadar.


"Bodoh sekali aku baru menyadarinya," ucap Kenzo mengumpatti dirinya sendiri.


"Kontrak kerja sama ini ada pada Al karena perusahaan Abi dan Turk Mücevher menjalin kerja sama, dia pasti sudah mengetahui ini, Abi. Dia memiliki analisa dan kecermatan yang baik," ucap Kenzo.


"Tapi kenapa anak itu tidak pernah memberitahu kita?" tanya Ibra heran. Karena jika Al tahu, harusnya dia memberitahu Ibra dan yang lainnya tentang ini.


"Mungkin Al lelah," jawab Kenzo sekenanya.


Ibra menatap Kenzo tajam mendengar jawaban lelaki itu yang membuatnya kesal. Menantunya yang satu ini benar-benar membuatnya naik darah.


"Ya mana Kenzo tahu, Abi. Pasti Al punya alasan melakukan itu," ucap Kenzo membela diri melihat tatapan mematikan Ibra.


.....


Malam telah menjelang. Kenzo memandangi Zahra yang sudah lelap dalam tidurnya setelah mereka melakukan olahraga panjang. Tangan Kenzo terulur mengelap tetes keringat yang masih membasahi dahi istrinya. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya karena sudah menceritakan siapa Zahra kepada Ibra. Setidaknya, dia tidak sendiri menyimpan rahasia itu. Dan juga kemungkinan Al yang juga mengetahui semuanya.


"Tok, tok, tok," ketukan pintu kamar membuat Kenzo mendengus. Siapa yang berani mengetuk kamarnya tengah malam begini. Kenzo bangun dan memasang celana serta baju tidurnya. Dia tidak ingin tubuh indahnya ini dilihat oleh orang lain selain Zahra.


Ceklek.


"Sela, kenapa Nak?" tanya Kenzo yang melihat Sela berdiri di depan pintu kamarnya. Anak itu nampak sangat berantakan dengan rambut acak-acakan dan sayap di kedua sisi bibirnya.


"Perempuan tapi tidurnya ileran, jorok," ucap Kenzo.


"Lapal Ayah," rengek Sela mengusap-ngusap perutnya.


Tidak mau menggangu Zahra karena suara mereka berdua, Kenzo menggendong Zahra keluar kamar dan menutup pintu kamarnya. "Ini sudah tengah malam, Nak. Tadi Sela udah makan malam juga," ucap Kenzo.


"Lapal Ayah. Cela mau makan nasi goreng buatan Ayah," ucap anak itu memelas dengan wajah sayunya.


"Tunggu besok pagi, ya," bujuk Kenzo.


"HUWWAAAA BUN-"


"Iya-iya, kita makan nasi goreng. Ayo ke dapur."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏