
🌹HAPPY READING🌹
Mendengar jawaban itu, pria tua itu tersenyum senang. Sedangkan lelaki yang berada disebelahnya berdecak pelan. "Sudah aku bilang dia sangat baik. Masih saja tidak percaya," ucapnya sedikit kesal.
"Karena kau tidak mau mempertemukan aku dengannya," jawab pria tua itu tak kalah ketus.
"Kau tahu alasannya, Baba. Tunggu sebentar lagi, aku akan mempertemukan kalian," ucap lelaki itu.
"Aku menunggu hari itu, Kevin," lirih lelaki tua yang duduk di kursi.
"Tuan," panggil pria dari layar yang ada di laptop.
"Iya. Apa ada sesuatu hal yang lain?" tanya pria tua itu.
"Suaminya sudah sangat berubah dan dia adalah lelaki baik," jawab lelaki tersebut dengan wajah berbinar memberitahu pria tua itu.
"Dia memang berubah, tapi dia harus tetap menerima salam perkenalan dariku," jawab pria tua itu dengan yakin.
"Sudahlah, Baba. Jangan aneh-aneh," ucap Kevin yang berdiri disebelahnya.
"Iya, Uncle. Jangan membuat kesan buruk," ucap lelaki satunya yang berdiri di sisi lain pria tua itu.
"Kalian lihat saja nanti Kevin, Emre," jawab pria tua itu tanpa menghiraukan peringatan Kevin dan Emre.
Ya, dua lelaki yang berdiri sebelahnya adalah Kevin dan Emre yang selama ini selalu menemaninya dan sangat berperan penting dalam hidupnya.
"Dan ada lagi, Tuan," lanjut si laki-laki dari layar laptop.
"Apa?" tanya pria tua itu penasaran.
"Anaknya tumbuh dengan sangat baik. Dia menjadi gadis kecil yang sangat dewasa dan juga manja dalam waktu yang berbeda," ucap lelaki di layar memberitahu apa yang dia temui.
Pria tua itu tersenyum senang. "Garis keturunanku adalah orang-orang terpilih. Mereka tidak akan pernah meleset seperti dua pria disebelah ku ini," ucap pria tua itu menggoda Kevin dan Emre yang berdiri di kedua sisinya.
Kevin dan Emre berdecak. "Dasar tua," cibir mereka bersamaan.
"Tidak tahu diri," jawab pria tua itu. Dia tidak marah, bahkan dia nampak senang dengan candaan yang sering mereka lakukan ini.
Pria tua itu kembali menatap ke layar. "Terus laporkan perkembangannya," ucap pria tua itu.
Wanita dan laki-laki yang ada di layar laptop mengangguk patuh mengiyakan perkataan pria tua itu. Setelah itu panggilan video itu terputus.
Lelaki tua itu menghela nafas. Senyum puas dan senang tergambar jelas di wajahnya. "Kevin," panggilnya pada Kevin.
"Hem," jawab Kevin menggumam pelan. Lelaki itu nampak fokus dengan ponsel yang layarnya dia gulir keatas dan kebawah.
"Jangan lupa tanyakan kapan mereka kemari," ucap pria tua itu yang langsung dianggukki oleh Kevin.
"Ada satu hal yang membuat semuanya sedikit lambat, Baba," ucap Kevin.
"Apa?" tanya pria tua itu dengan alis terangkat.
"Kejutan," ucap Kevin dan langsung pergi keluar dari ruangan itu.
"Kejutan apa, Emre?" tanyanya beralih pada Emre.
"Kau pasti akan tahu nanti, Uncle. Selamat malam," ucap Emre membungkuk hormat dan ikut menyusul Kevin keluar.
Pria tua itu berdecak kesal. "Memang Seiya sekata mereka itu," gerutunya sambil mematikan laptop di depannya.
.....
Di ruang kerjanya, Kenzo disibukkan dengan berbagai berkas yang tadi tidak sempat di periksa saat di kantor. Dan dengan sangat terpaksa dia melanjutkan pekerjaannya dirumah. Merelakan waktu berkumpulnya bersama Sela dan Zahra yang saat ini pasti sedang bersantai diruang keluarga.
Saat asyik dengan laptop dan banyak lembar berkas penting, ponsel Kenzo berdering.
Kenzo mengalihkannya pada ponsel yang terletak di sebelah laptop. "Ayah," gumam Kenzo ketika melihat nama Kevin tertera di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Ayah," ucap Kenzo setelah menggeser tombol hijau.
"Waalaikumsalam. Apa kabar, Ken?" tanya Kevin dari seberang sana.
"Alhamdulillah, Ayah. Ayah apa kabar?" tanya Kenzo balik.
"Hanya begini saja," jawab Kevin makna akan maksud yang sama sekali Kenzo tidak tahu.
"Orang-orang disana, bagaimana Ayah?" tanya Kenzo lagi.
"Sangat baik, Ken. Alhamdulillah," jawab Kevin.
"Ada apa, Ayah? Apa ada sesuatu yang terjadi?" ucap Kenzo menanyakan maksud Kevin menelponnya malam-malam begini.
"Kapan kalian akan kesini?" tanya Kevin langsung.
"Kami disini menunggu, Kenzo," ucap Kevin.
Kenzo mengangguk. "Aku pun menunggu hari itu," jawab Kevin.
"Kalau bisa, ajak Abi dan Umi kalian. Aku juga merindukan mereka," ucap Kevin menyebut Ibra dan Dee.
"Kenapa bukan Ayah yang kesini?" tanya Kevin. Karena biasanya, Kevin akan rela bolak-balik Indonesia Turki hanya untuk bertemu Ibra dan Dee.
Kevin terdiam sejenak. "Bukan apa-apa. Ada hal yang tidak bisa aku tinggalkan disini," jawab Kevin.
Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Setelah beberapa menit, Kevin kembali bersuara. "Boleh aku bertanya, Kenzo?" tanya Kevin ragu.
"Tentu Ayah," jawab Kenzo yakin.
Kevin tidak langsung membuka suara. Entah apa yang dilakukan pria itu di belahan dunia sana, Kenzo hanya bisa menunggu. "Tidak jadi. Aku hanya ingin menanyakan yang tadi padamu. Lanjutkan pekerjaanmu. Assalamu'alaikum."
Tut, Tut, Tut.
"Waalaikumsalam," ucap Kenzo sambil menatap ponselnya yang sudah menunjukkan layar hitam. Kevin memutus panggilan tanpa menunggu jawabannya, sepertinya lelaki itu sedang terdesak atau bagaimana. Kenzo mengangkat bahu dan meletakkan ponselnya lagi.
Kenzo meregangkan tubuhnya menghilangkan letih dan keram pada tulang-tulangnya. Rasanya dia sangat malas untuk melanjutkan semua ini. "Pekerjaan ini tidak akan ada habisnya. Sama kayak hari yang tidak akan pernah ada batasnya. Jadi kita akan bertemu lagi besok kertas-kertas," ucap Kenzo dan langsung berdiri meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
.....
Diruang keluarga, Sela dan Zahra sedang asik menonton kartun yang diputar oleh Sela melalui DVD nya. Lebih tepatnya Sela, karena Zahra asik dengan ponselnya karena saling bertukar kabar dengan Kina. Anak itu nampak semangat memberi petunjuk atas pertanyaan yang dilontarkan oleh kartun dengan rambut khasnya yang disebut Dora.
Mereka hanya berdua sekarang, karena Bu Sari mengatakan bahwa dia menginap di panti hari ini.
"Bunda," panggil Sela.
"Iya Nak," jawab Zahra lembut.
"Kenapa Dora temannya cuma monyet, Bunda?" tanya Sela bingung.
"Karena memang begitu aturannya, Nak," jawab Zahra sekenanya.
Gadis kecil itu tidak puas dengan jawaban Bundanya dan kembali bertanya. "Memang tidak ada manusia yang mau berteman dengan Dora? Diakan baik, Bunda," ucap Sela dengan segala pemikirannya.
Zahra yang mendengar pertanyaan anaknya mengalihkan pandangan dari ponselnya. Kalau begini, dia bingung menjawab pertanyaan anaknya itu. Zahra menangkap sosok Kenzo yang mendekati mereka dari ruang kerjanya. "Coba tanya Ayah, Nak. Ayah pasti tahu jawabannya. Bunda ke dapur dulu buat kopi Ayah, ya," ucap Zahra dan langsung melesat pergi ke dapur.
Bukan apa-apa, tapi anak dikandungan Zahra sedang malas berpikir keras saat ini. Catat, bukan Zahra yang malas, tapi calon anaknya.
"Ayah," panggil Sela semangat.
Kenzo tersenyum. Lelah ya seakan lenyap melihat senyum cantik anaknya. Kenzo mendudukkan tubuhnya di sebelah Sela. "Bunda mana, Nak?" tanya Kenzo.
"Ke dapur, Ayah," jawab Sela.
"Ayah."
"Iya Sayang."
"Kenapa teman Dora cuma monyet? Kenapa Ndak ada manusia yang berteman dengannya? Kan Dora pintar, Ayah," tanya Sela.
"Karena berteman sama manusia itu menyakitkan, Nak," jawab Kenzo dramatis.
"Mana ada. Ayah saja yang menyebalkan," jawab Sela enteng tanpa memikirkan raut wajah kesal Kenzo. Baru bergabung saja sudah kena semprot begini.
Anak itu nampak berpikir mengenai pertanyaan yang dia ajukan tadi. Jari mungilnya mengetuk-ngetuk dagu dengan serius. Dia belum puas dengan jawaban Ayahnya itu.
"Apa karena Dora itu keseringan bertanya ya, Ayah, makanya tidak ada yang mau berteman sama dia. Kan Dora suka budeg gitu. Udah kita kasih tahu dimana swipper dia tetap bertanya sampai tiga kali," ucap Sela dengan segala pemikiran absurd nya.
"Kamu yang maha benar, Nak," ucap Kenzo pasrah. Dilawan pun dia akan tetap kalah oleh gadis cilik ini. Tumben sekali Kenzo mengalah.
"Ayah kayaknya cocok deh berteman dengan Dora," ucap Sela sambil berdiri.
"Kenapa?" tanya Kenzo bingung.
Anak itu berdiri dan menjawab. "Karena Ayah penyabar kayak monyet Dora," ujarnya lalu berlari menuju dapur meninggalkan Kenzo yang cengo dengan jawaban gadis itu.
"Maksudnya gue monyet gitu?"
"SELAAAAAAAA!"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏