Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 183



🌹HAPPY READING🌹


Setelah acara tangis-menangis tadi, kini keluarga kecil itu berkumpul di ruang keluarga sambil menunggu waktu magrib.


"Bunda tumben pake daster?" tanya Sela yang melihat tampilan berbeda dari bundanya. Karena biasanya, meskipun dirumah dan itu siang hari, Zahra akan tetap menggunakan gamisnya meskipun tanpa jilbab.


Tapi sekarang, Zahra terlihat cantik dan sedikit seksi dengan daster diatas lutut yang dia gunakan. Sehingga memperlihatkan sedikit perutnya yang agak membuncit.


"Adiknya yang mau. Kayaknya dedek perempuan deh. Soalnya ngidamnya pake baju ini," ucap Zahra.


Kenzo yang mendengar itu tersenyum senang. Dia senang dengan penampilan istrinya yang seperti ini, bahkan sangat tidak masalah karena ini nampak indah dimatanya.


"Lagi pula sekarang tidak ada bibi, jadi nggak apa-apa kalau pakaiannya seperti ini," ucap Kenzo ikut memberi penjelasan.


"Adiknya laki-laki aja bisa nggak, Bunda, Ayah?" pinta Sela.


Zahra dan Kenzo mengernyit bingung. "Kenapa sayang? Bukannya kemarin kamu yang mau punya adik perempuan," ucap Zahra.


"Hu'um, kenapa Nak?" tanya Kenzo yang kini membawa tubuh bohay Sela ke pangkuannya.


"Nanti dia lebih cantik dari Sela gimana?" tanya anak itu merajuk.


Tawa Zahra dan Kenzo pecah mendengar pengakuan anaknya itu. Tetap saja anak ini menjengkelkan meski pada adiknya yang belum lahir.


"Nak, setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cantik itu relatif menurut mata yang memandangnya," ucap Zahra memberi penjelasan.


"Relatif itu apa, Bunda?" tanya Sela bingung.


"Relatif itu tergantung orang yang melihat, Nak. Jika menurut mereka memang cantik ya cantik. Pandangan setiap orang kan beda-beda, Sayang," ucap Kenzo ikut menjawab.


"Dan menurut Ayah, istri dan anak-anak ayah yang paling cantik," lanjut Kenzo yang membuat pipi kedua wanitanya bersemu merah.


"Cie merona," ledek Kenzo dengan tawa di bibirnya.


Sela yang tadinya merona kini berdecak tak suka menatap Ayahnya itu. "Ayah mengganggu momen kita lagi malu-malu," ucap Sela kesal.


Zahra dan Kenzo tak kuasa lagi menahan tawanya. Biasanya orang akan kesal jika dibuat malu seperti ini, tapi anak mereka malah bangga dengan hal itu.


Kenzo menurunkan Sela duduk di sofa. Kini posisinya Sela berada diantara kedua orang tuanya.


"Tapi ngomong-ngomong soal pacaran, memang ada yang suka sama anak Ayah ini?" ucap Kenzo mencolek dagu Sela menggoda anak itu.


Sela mengangguk yakin. "Ada dong," jawab anak itu bangga.


"Siapa?" tanya Kenzo.


"Ya ada. Ayah nggak perlu tahu," jawabnya sombong.


"Bilang saja tidak ada. Sok-sok an ada segala," ucap Kenzo yang mulai menjahili anaknya.


Zahra yang melihat tingkah Kenzo hanya menghela nafas pelan. Bisa dipastikan sebentar lagi akan ada perang dunia anak dan ayah itu.


"Ada ih! Ayah aja yang sok tahu!" ucap Sela berkacak pinggang menatap Ayahnya.


"Mana ada orang yang mau sama tubuh gembul kayak gini. Orang tu sukanya yang badan kayak Bunda tu, slim," ucap Kenzo menatap Zahra.


"Ih, ayah body Sham ,,, Sham ,,, Sham apa Bunda?" tanya nya berbisik pada Zahra.


"Body shamming, Nak," jawab Zahra.


"Iya itu. Ayah nggak boleh body shamming tahu. Lagian Sela tu ndk gembul, orang anaknya bohay dan padat gini dibilang gembul. Gimana sih, ayahnya sendiri nggak tahu sama badan anaknya. Orang nggak perhatian sama anak emang gitu, kayak Ayah ini," ucap Sela menggerutu kesal mengatai Kenzo.


Bukannya marah, Kenzo malah tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Sela.


Sela yang mendengar tawa Kenzo mendelik tak suka. Maksudnya membuat sang Ayah kesal, malah dia yang dibuat kesal.


"Apapun itu, tugas Sela sekarang hanya belajar dan bermain. Jangan mikir yang lebih dulu. Itu tugas orang dewasa, oke," ucap Zahra yang langsung dianggukki eh Sela.


"Denger kalau Bunda ngomong," ucap Sela mengatakan seolah Kenzo yang kena omel.


"Kata-kata bunda itu buat kamu, malah ngatain Ayah," ucap Kenzo kesal.


Zahra tersenyum sambil menggeleng. "Sekarang kita tinggalin Ayah. Ayo mandi," ucap Zahra mengajak anaknya dan langsung berdiri menggandeng Sela ke kamar anak itu.


"Sayang kok aku ditinggal," ucap Kenzo tak terima.


"Kamu mandi juga, Mas. Udah mau magrib," ucap Zahra.


"Mandiin," rengeknya lebih manja dari Sela.


Sela bergidik ngeri melihat tingkah Ayahnya itu. "Ayah bocah. Wlee," ucap anak itu dan langsung berlari setelah mengejek Kenzo dengan lidahnya. Sedangkan Zahra tetap berjalan menyusul Sela dengan tetap berjalan santai.


Kenzo tersenyum melihat anaknya yang kembali ceria. Sungguh, melihat anaknya menangis sesegukan seperti tadi membuat hatinya ikut tercabik. Kini sudah tugasnya melukis tawa dalam hidup anak-anak dan istrinya.


.....


Hari telah berganti. Kini Zahra duduk di bangku taman sekolah Sela untuk menunggui anak itu yang sedang belajar di kelasnya. Zahra sengaja menunggu di taman karena udaranya terasa sangat segar dan menyejukkan mata. Kina saat ini tidak hadir karena memang Shasa sedang libur sekolah. Mereka diborong Aska pulang kampung ke Padang untuk bertemu dengan Nenek dan Kakek Sela dari Aska.


Saat sedang asik duduk dan bermain ponsel, seorang wanita yang sudah berumur duduk disebelah Zahra. Zahra yang menyadari kedatangan seseorang mengangkat kepala dan hanya tersenyum.


"Menunggu anakmu, Nak?" tanya Wanita yang Zahra kira berumur lima puluh tahun itu.


Zahra mengangguk dan tersenyum. Zahra menyimpan ponselnya karena dirasa ada teman untuk mengobrol, jadi tidak sopan jika dia tetap memainkan ponselnya.


"Ibu menunggu cucu, Ibu?" tanya Zahra sopan.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Iya Nak, bersama ibunya juga," jawab wanita tersebut.


Zahra hanya diam dan mengangguk. Dia tidak melihat ibu cucunya yang dimaksud wanita didepannya. Tapi dia tidak enak jika banyak tanya.


"Apa cucu Ibu pindahan? Soalnya saya baru melihat Ibu disini," tanya Zahra.


Ibu itu mengangguk. "Sebelumnya hanya Ibunya yang menunggui, Nak," jawab wanita itu.


"Ah begitu. Oiya, sebelumnya perkenalkan nama saya Zahra, Bu," ucap Zahra menyodorkan tangannya.


Tanpa berlama, Wanita tersebut membalas uluran tangan Zahra. "Panggil saja Bu Nende, Nak," jawab wanita tersebut.


"Baiklah, Bu Nende," ucap Zahra lembut.


Saat akan bertanya lagi, suara bel terdengar sampai ke taman. Itu menunjukkan bahwa waktu pulang sudah datang. Zahra mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Nende Anak-anak pasti sudah pulang," ucap Zahra.


Bu Nende mengangguk. "Pergilah, jemput anakmu. Mungkin lain waktu kita bisa mengobrol banyak," jawab Bu Nende ramah.


Zahra mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Zahra pamit.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Nende memandangi punggung Zahra yang menjauh dari pandangannya.


Setelah Zahra sudah tak terlihat oleh pandangannya, Bu Nende memegang sesuatu yang terpasang di telinganya sambil berucap "Dia sangat cantik dan baik."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏