
🌹HAPPY READING🌹
"Emir Geraldi itu dipindahkan menjadi sopir biasa di perusahaan cabang Türk Mücevher yang ada di Turki itu, Sayang. Sopir biasa yang jadwal penerbangannya hanya di negara Turki. Mungkin mereka akan menetap disana," ucap Kenzo lagi.
Sebesar apa perusahaan ku hingga di perusahaan cabang pun memiliki jet pribadi? Aku tidak menyangka ini. Batin Zahra takjub.
"Kenapa kamu bisa tahu semuanya, Mas?" tanya Zahra menengadah menatap Kenzo.
Kenzo menunduk menatap istrinya itu. Hidung mereka hampir saja bertemu, hanya batas jarak satu centimeter.
"Karena aku tahu siapa pemilik Türk Mücevher itu, Sayang."
DEG
Lagi dan lagi Kenzo membuat jantung Zahra tak karuan. Tapi dengan kepintarannya, Zahra bersikap seperti orang yang tidak tahu apa-apa. "Siapa Mas?" tanya Zahra lagi.
"Salah satu kolega Bisnisku, Sayang," jawab Kenzo pelan.
Zahra hanya mengangguk mempercayai apa yang Kenzo katakan.
Semoga Mas Kenzo nggak curiga. Batin Zahra ketar-ketir sebenarnya.
Ternyata Zahra memang belum tahu yang sebenarnya. Tidak ada salahnya aku menerima tawaran kerjasama itu. Mungkin ini memang keinginan Ayah Kevin. Batin Kenzo lega setelah bicara dengan Zahra.
"Jadi, apa kepindahan Kyel itu ada hubungannya dengan kamu, Mas?" tanya Zahra lagi.
"Hanya sedikit," jawab Kenzo santai semakin mengeratkan pelukannya pada Zahra. Sungguh, memeluk istrinya dalam keadaan pikiran yang kacau seperti ini membuatnya tenang dan mendapat kedamaian.
"Maksud Mas?" tanya Zahra lagi.
"Sayang, tidak ada suami yang rela istrinya dihina dan direndahkan. Tidak ada Ayah yabg rela anaknya dicaci maki di depan umum dan diremehkan. Aku hanya melakukan apa yang harusnya seorang Ayah dan Suami lakukan, Sayang," ucap Kenzo membuat Zahra menghela nafas pelan.
"Masih untuk suaminya hanya dipindahkan dan diturunkan jabatannya, Sayang. Karena jika diberhentikan, maka itu akan bahaya lagi. Setiap pekerja yang diberhentikan di Türk Mücevher tidak akan diterima dimana pun," lanjut Kenzo lagi.
"Tapi-"
"Yang pasti, kita tidak memutus tali rezeki seseorang, Sayang. Kita hanya memberi dia sedikit pelajaran," ucap Kenzo.
Zahra yang mengangguk pasrah. Apa yang dikatakan suaminya benar juga. Kenzo hanya bermaksud memberi pelajaran kepada Nita dan keluarganya. Jadi, dalam hal ini suaminya tidak keterlaluan.
.....
Pagi-pagi sekali, Zahra sudah dibuat kelimpungan oleh dua bayi besar yang kini membuatnya kesal.
"Kemarin pulang dari rumah Nenek, Sela taruh dimana kaos kakinya?" tanya Zahra mencoba sabar.
"Ih nggak tahu, Buna. Kalau Cela ingat pasti udah ketemu dali tadi," jawab anak itu masih mengacak-ngacak lemari tempat penyimpanan kaos kakinya.
"Tapi semua kaos kakinya jangan di serakin gitu, Sayang. Pakai mana yang ketemu aja," ucap Zahra.
"Nggak mau, Buna. Hali ini mau pacangan cama Chaca kaos kakinya," ucap anak itu yang kini sudah berpindah ke kolong kasur.
"SAYANG, DASI HITAM GARIS AKU DIMANA?" teriak Kenzo dari kamarnya.
Zahra menghela nafas pelan. Suami dan anaknya benar-benar merusak paginya. Entah mengapa, apa yang mereka cari tidak ada yang ketemu.
"Sela cari dulu, ya. Bunda mau ke Ayah sebentar," uca Zahra yang langsung dianggukki oleh Sela.
Zahra berjalan ke kamarnya untuk membantu sang suami tercinta yang tingkahnya melebihi anak kecil pagi ini.
"Coba cari di le-, MAS!" pekik Zahra melihat semua isi lemarinya yang sudah tergelatak tak berdaya di lantai.
"Mas kenapa dikeluarin semua pakaiannya?" tanya Zahra kesal dan frustasi. Rasanya wanita itu ingin menangis saja pagi ini.
"Dasi aku dimana, Sayang?" tanya Kenzo dengan tangan tak berhenti mengeluarkan satu persatu pakaiannya.
"Di bagian ujung gantungan baju, Mas," jawab Zahra lemah. Dia sudah membayangkan bagaimana lelahnya nanti memperbaiki isi lemarinya.
"Tidak ada, Sayang. Tadi aku udah cari," ucap Kenzo.
Zahra menghela nafas pelan. Dia berjalan melangkah dan mengindari pakaian yang sudah berserakan di lantai agar tidak terinjak.
Tangan Zahra dengan lincah melihat satu persatu dasi yang ada disana. "Ini," ucap Kenzo menunjukkan apa yang dia temukan.
"Sekarang siapa yang mau beresin ini semua?" tanya Zahra menatap pakaian di lantai.
"Hehe maaf, Sayang," ucap Kenzo menyesal.
"Kamu nggak tahu gimana capeknya beresin pakaian, kan. Jangan seenaknya di tarik-tarik begini. Kamu pikir gampang lipat pakaian biar rapi. Kalau emang nggak ketemu, langsung bilang aku, jangan kamu keluarin semua isi lemarinya. Baru kemarin aku beresin lemari udah diberantakin lagi. Pakai tenaga Mas, beresinnya," omel Zahra dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Hatinya kesal sekali melihat tingkah suaminya. Ditambah anaknya yang tadi juga mengobrak-abrik isi lemarinya juga untuk mencari kaos kaki. Bertambah sudah kekesalan Zahra. Begitulah Zahra, dia hanya akan menangis meluapkan kekesalannya. Karena jika marah, maka sudah jelas dia tidak akan sanggup. Moodnya sekarang benar-benae dihancurkan oleh anak dan suaminya.
"Maaf, Sayang. Aku nggak sengaja," ucap Kenzo menyesali perbuatannya.
"Sudah, tidak apa-apa. Kamu keluarlah. Sarapan sudah disiapin Bu Sari tadi. Aku mau beresin ini dulu," ucap Zahra dengan air mata membasahi pipinya sambil memungut satu persatu pakaian di lantai.
"Sayang, aku bantu, ya," ucap Kenzo ikut memunguti pakaian itu.
Zahra menggeleng. "Kamu turunlah sekarang. Sela pasti udah nungguin. Aku nggak ikut sekarang, ya. Nanti Bu Sari yang akan nungguin Sela di sekolah sama Kina juga," ucap Zahra lembut, namun tak memandang suaminya itu.
Kenzo menghela nafas pelan. Dia merutuki dirinya sendiri karena sudah merusak lagi istrinya.
.....
"Bunda dimana, Ayah?" tanya Sela melihat Kenzo turun sendiri.
"Bunda diatas," jawab Kenzo.
"Kaos kaki kamu ketemu?" lanjut Kenzo bertanya.
Sela mengangguk. "Ada dibawah meja belajar Cela," jawab anak itu polos.
"Sela sudah selesai, Ayah," ucap Sela.
"Ayo kita berangkat," ajak Kenzo.
"Kamu tidak sarapan dulu, Nak?" tanya Bu Sari.
Kenzo menggeleng. Dia juga tidak mood sarapan setelah menghancurkan mood istrinya tadi. Nanti setelah pulang kerja, dia akan membujuk dan meminta maaf pada Zahra. Jika memaksa untuk minta maaf sekarang, itu akan berbahaya untuknya.
"Nanti Kenzo sarapan di kantor saja, Bu," ucap Kenzo.
Bu Sari mengangguk. Mereka bertiga berjalan keluar rumah menuju mobil.
"Cela belum pamit cama Buna, Ayah," ucap Sela saat dia akan naik ke mobil.
"Tadi Bunda pesan kita langsung pergi saja, Nak," ucap Kenzo. Dia tidak mau anaknya nanti malah semakin memperburuk mood istrinya.
.....
"Bagaimana, Tuan?" tanya Arman.
Saat ini Kenzo sudah duduk di kursi kebesarannya dengan Arman yang duduk diseberang mejanya.
Kenzo terdiam sebentar memantapkan lagi keputusannya. Dia tidak boleh egois, banyak karyawan yang harus dia perjuangan kan disini.
"Kita akan menerima kerjasama itu, Arman. Atur saja pertemuannya," jawab Kenzo.
Arman tersenyum senang dan mengangguk. "Akan saya laksanakan, Tuan," ucap Arman.
"Arman," panggil Kenzo saat Arman akan berdiri hendak pergi ke ruangannya.
"Kenapa Tuan?" tanya Arman.
"Hadiah apa yang biasanya bisa membuat mood wanita membaik?"
....................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏