Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 29



🌹HAPPY READING🌹


Zahra duduk di kursi roda sambil menatap rembulan malam yang memberikan cahaya indah pada wajahnya. Berbagai macam pikiran kini hinggap di kepalanya.


"Jika memang Kak Ken tidak datang besok, mungkin ini adalah malam terakhir Zahra memandang langit malam dari kamar ini. Dan Zahra tidak tahu kapan waktu Zahra akan kembali," gumam Zahra dengan wajah sendu.


"Zahra hanya ingin menikah sekali. Mengingat kata perceraian terasa sangat menyakitkan bagi Zahra," lanjut Zahra mengalihkan pandangannya pada surat perceraiannya dan Kenzo yang kini ada dalam genggamannya.


Saat datang ke rumah Kenzo untuk mengambil kopernya, Zahra memang mengambil surat perceraian itu tanpa sepengetahuan Kenzo. Dia memang mengembalikan surat tersebut kepada Kenzo dan tidak ingin menandatanganinya, oleh karena itu Zahra mengambilnya secara diam-diam saat Kenzo membiarkan surat tersebut di meja ruang tamu.


Zahra tahu, jika surat ini hilang, maka Kenzo akan menuduhnya mengambil surat tersebut dan menyusulnya ke rumah Ibra.


Zahra memejamkan matanya merasakan angin malam yang menerpa wajahnya. "Semoga besok suami Zahra datang. Atau jika tidak, maka besok adalah hari terakhir Zahra berada disini," ucap Zahra.


Dari pintu kamar, Kevin mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Zahra. Hati Kevin sakit, sebagai Ayah dia merasa gagal memberikan kehidupan terbaik untuk anaknya.


Kevin berjalan memasuki kamar Zahra. Zahra yang mendengar suara langkah kaki di kamarnya menoleh ke belakang. "Ayah," panggil Zahra.


Kevin tersenyum dan berdiri di belakang kursi roda Zahra. "Zahra belum tidur?" tanya Kevin.


Zahra menggeleng. "Zahra masih mau melihat bulan," ucap Zahra.


Kevin membawa kursi roda Zahra ke tepi ranjang. Kevin memutar kursi roda Zahra menghadapnya dan dia bersimpuh di depan Zahra.


"Nak," panggil Kevin lembut.


"Iya Ayah," jawab Zahra.


"Zahra tidak menyesal punya Ayah seperti Ayah Kevin kan?" tanya Kevin sendu.


"Ayah kenapa bicara seperti itu?" ucap Zahra tanpa menjawab pertanyaan Kevin.


"Dulu, Abi Ibra mengamanahkan Zahra kepada Ayah dengan kepercayaan penuh, Nak. Ayah yang memberi Zahra nama. Suara Ayah adalah suara yang pertama kali Zahra dengar saat Zahra hadir di dunia ini, Nak. Ayah sangat menyayangi Zahra. Ayah hanya tidak mau Zahra bilang kalau Zahra hadir karena sebuah keterpaksaan. Itu tidak benar, Nak," ucap Kevin.


"Kehadiran Zahra memberikan kebahagiaan untuk Ayah dan yang lainnya," lanjut Kevin.


"Bukankah Zahra memang ditakdirkan untuk membayar karma, Ayah?" tanya Zahra.


Kevin menggeleng kuat. "Tidak ada anak yang hidup hanya untuk membayar karma, Nak. Kamu adalah anugrah, tidak ada yang lebih baik dari Zahra untuk menjadi anak Ayah dan Bunda," ucap Kevin.


Zahra menampilkan senyum indahnya kepada Kevin. "Orang bilang orang tua tiri itu tidak baik, tapi Ayah membuktikan bahwa semua itu tidak benar. Ayah sama halnya dengan Abi, pahlawan dalam hidup Zahra," ucap Zahra.


"Ayah sangat sayang sama Zahra," ucap Kevin tulus.


"Zahra juga sayang Ayah," jawab Zahra memeluk tubuh Kevin yang bersimpuh di depannya.


Bagi Kevin, kehadiran Zahra adalah satu anugrah yang menyempurnakan hidupnya. Entah kenapa, kelahiran Zahra dulu memberikannya kehidupan baru. Hatinya seakan terpaut untuk menjadi Ayahnya.


"Zahra ikut Ayah sama Bunda, ya Nak. Kita kembali ke Turki," ucap Kevin.


Zahra terdiam sebentar dan tidak lama setelahnya dia menggeleng. "Zahra ingin pergi ke suatu tempat yang membuat Zahra nyaman, Ayah," ucap Zahra.


"Apa rumah kita tidak nyaman untuk Zahra?" tanya Kevin.


"Bukan Ayah. Tapi ada suatu tempat yang sangat ingin Zahra temui. Di sana Zahra ingin hidup dengan mendekatkan diri Zahra kepada Allah, Ayah. Sisa hidup Zahra ingin Zahra habiskan disana," ucap Zahra.


.....


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Zahra dari tadi duduk diruang tamu untuk kedatangan Kenzo. Jari-jari tangannya saling memilin kuat mencoba menghilangkan segala kecemasan dalam dirinya.


"Sudah siap berangkat, Nak?" tanya Sofia yang muncul dengan menyeret koper milik Zahra.


"Satu jam lagi boleh ya, Bunda?" pinta Zahra dengan wajah memalasnya.


"Umi boleh ya, satu jam lagi?" ucap Zahra berusaha membujuk Dee yang duduk di sebelahnya.


"Lagian pesawat Zahra masih nanti sore kan?" lanjut Zahra lagi.


"Yasudah, kita akan turuti kemauan Zahra. Tapi ini yang terakhir," ucap Kevin memberi keputusan.


Zahra mengangguk antusias dengan senyum mengembangnya mendengar perkataan Kevin. Matanya terus memandang keluar rumah berharap yang ditunggu akan datang dan memintanya kembali dengan sangat baik.


Sedangkan di tempat lain, Kenzo tidak hentinya mengembangkan senyum setelah mendapat persetujuan dari Papa dan Mamanya bahwa mereka akan ke rumah Ibra malam ini untuk memperbaiki semuanya.


Awalnya Anggra tidak mau membantu Kenzo, tapi melihat anaknya yang memohon layaknya anak kecil meminta permen, akhirnya Anggara mengabulkan permintaan Kenzo.


"Kehidupan pernikahan bahagia seperti yang kamu inginkan akan segera terwujud, istriku," ucap Kenzo senang memandangi foto Zahra yang tersenyum manis di atas kursi roda.


"Seperti aku menyiksamu, aku akan memberikan cinta berkali lipat untuk memperbaiki semuanya, Zahra. Memang akan sulit, tapi itu tidak mustahil kan," ucap Kenzo menyakinkan dirinya sendiri.


.....


"Ini udah satu jam, Nak," ucap Dee yang telah menemani Zahra di ruang tamu. Sedangkan yang lainnya entah berada dimana.


Zahra menghela nafas pelan. Pupus sudah harapannya untuk mempertahankan rumah tangganya. Zahra memandang map coklat dipangkuannya. "Umi," ucap Zahra mengalihkan pandangannya kepada Dee.


"Iya Nak," jawab Dee lembut.


"Jika setelah kepergian Zahra, Kak Kenzo datang kesini, Zahra ingin Umi memberikan ini kepada Kak Ken," ucap Zahra.


Dee memandangi map coklat tersebut. "Perceraian memang sangat menyakitkan dan dibenci Allah, Nak. Tapi dari pada hidup dengan luka dan derita, lebih baik pergi dan melepaskan, bukan?" ucap Dee.


Zahra mengangguk. Dia mengeluarkan kertas dari map tersebut dan mengambil pena yang telah dia siapkan didalamnya.


Tangan Zahra menorehkan bentuk abstrak di kertas tersebut yang akan mengakhiri semuanya. "Ini Umi. Suratnya udah Zahra tanda tangani. Mungkin memang ini keinginan Kak Ken. Dendamnya bisa terbalas, dan melepaskan Zahra yabg tidak berguna," ucap Zahra memberikan map surat tersebut kepada Dee.


"Umi tahu ini berat, tapi sebagai wanita harus punya keteguhan untuk kebahagiaan kita, Nak," ucap Dee yang dianggukki oleh Zahra.


"Zahra," panggil Dee lembut memegang tangan Zahra.


"Iya Umi," ucap Zahra.


"Umi memang bukan Ibu yang melahirkan Zahra, tapi kasih sayang Umi tulus untuk Zahra, sama halnya dengan sayang Umi kepada Abang dan Adek," ucap Dee.


"Zahra tau, Umi," jawab Zahra dengan senyum manisnya.


"Sampai dia mengorbankan darahnya sendiri untuk membersihkan luka di hati Zahra, jangan pernah kembali pada Kenzo, Nak," pinta Dee yang mampu membuat Zahra terdiam.


Tidak lama setelahnya, Zahra mengangguk yakin. Dia juga sudah tidak berharap banyak kepada Kenzo. Jika emang Kenzo punya sedikit saja rasa kepadanya, pasti dia akan segera datang kesini untuk memulai semuanya dengan baik.


"Untuk kembali tidak akan mudah, Umi," jawab Zahra yakin.


Dee tersenyum dan memeluk Zahra. Sungguh, dia sangat sayang dengan anak ini.


Sofia uang baru datang dari kamar Zahra tersenyum melihat ketulusan Dee untuk Zahra. Pantas Zahra sangat menyayangimu, Dee. Kau benar-benae tulus. Batin Sofia.


"Kita pergi sekarang?" tanya Al yang datang bersama yang lainnya dari arah dapur.


Zahra mengangguk. "Ayo Abang," ucap Zahra. Mereka semua mengangguk setuju dan meninggalkan rumah untuk mengantar Zahra ke Bandara.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz