Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 154



🌹HAPPY READING🌹


"Ayo ke ruang kerjaku," ucap Kenzo dan langsung diikuti oleh Kinzi.


"Ada apa, Kinzi?" tanya Kenzo. Kini kedua kembaran itu sudah berada di ruang kerja Kenzo.


"Aku ingin menikah, Kenzo," ucap Kinzi tiba-tiba yang menerbitkan senyum dibibir Kenzo. Akhirnya kembarannya itu kembali membuka hati.


"Dengan siapa?" tanya Kenzo antusias.


Kinzi berjalan menuju sofa untuk duduk sebelum menjawab pertanyaan Kenzo. Kenzo yang melihat itu ikut mendudukkan dirinya di depan Kinzi.


"Siapa Kinzi?" tanya Kenzo lagi.


Kinzi menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Kenzo. Gadis itu nampak menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan selanjutnya pada Kenzo.


"Mas, Kak Kinzi," ucap Zahra ikut masuk sambil membawa nampan berisi minum. Karena tadi saat datang, Kinzi tidak sempat minum dan malah langsung berbicara dengan Kenzo.


"Masuk, Sayang," ucap Kenzo melihat Zahra yang masih berdiri di depan pintu.


Zahra mengangguk. Dia berjalan mendekati Kenzo dan Kinzi. "Minum ya, Kak. Tadi Kakak belum minum apapun sejak datang," ucap Zahra.


Kinzi tersenyum senang. "Terimakasih, Zahra," ucap Kinzi tulus.


"Sama-sama, Kak. Kalau begitu Mas sama Kak Kinzi lanjut ngobrol lagi. Zahra keluar dulu," ucap Zahra pamit.


"Tidak. Kamu disini, Zahra," ucap Kinzi.


"Tapi ..."


"Ini juga berhubungan denganmu. Duduklah, Zahra," ucap Kinzi.


Kenzo dan Zahra saling pandang. Zahra mendudukkan tubuhnya di sebelah Kenzo.


"Aku mau menikah, Zahra," ucap Kinzi dengan wajah sedikit tegang. Tapi dia berusaha tetap tersenyum menghilangkan kegugupannya.


Senyum berbinar terbit di wajah Zahra. "Alhamdulillah, Zahra ikut senang, Kak. Ini benar-benar kabar yang sangat baik. Mas," ucap Zahra antusias menatap Kinzi dan Kenzo.


Kenzo mengangguk tersenyum melihat wajah tersenyum istrinya. Zahra nampak sangat tulus mendengar kabar bahagia dari Kinzi.


"Laki-laki beruntung mana yang berhasil merebut hati Kakak ipar Zahra ini?" tanya Zahra menatap Kinzi menggoda.


Kinzi tersenyum. "Dia adalah orang yang sangat dekat dengan kalian. Bahkan, kalian sangat mengenalnya," ucap Kinzi.


"Benarkah? Siapa?" tanya Kenzo penasaran.


"Tapi kalian harus janji untuk memberi restu," ucap Kinzi berharap menatap Kenzo dan Zahra.


"Siapa Kinzi?" tanya Kenzo lagi.


"Janji dulu, Ken," ucap Kinzi kekeuh.


"Kak Kinzi, kami tidak mungkin menghalangi niat baik Kak Kinzi ini," ucap Zahra lembut menatap Kinzi.


"Siapa Kinzi?" tanya Kenzo lagi.


Tangan Kinzi saling bertuautan diatas kedua pahanya. Dia nampak sangat takut dan gugup untuk mengatakan semuanya.


Kinzi mengambil udara banyak untuk pasokan oksigennya. Dia harus berani kali ini. Setidaknya, ini adalah bentuk perjuangannya.


"Kevin," jawab Kinzi singkat.


Kenzo dan Zahra terdiam dengan wajah terkejut mereka.


"Ke-kevin siapa?" tanya Kenzo hati-hati. Dia takut kenyataan yang dia dengar akan membuat mereka terkejut hebat.


"Kevin, Ayah mertuamu," jawab Kinzi yakin.


"Jangan bercanda, Kinzi!" ucap Kenzo tegas.


Sedangkan Zahra sudah terdiam di tempatnya. Kepalanya tiba-tiba pusing mendengar pengakuan Kinzi yang sangat mendadak ini.


"Mas," panggil Zahra lirih memegangi kepala dan perutnya yang terasa sedikit sakit.


"Sayang, kita ke kamar, ya," ucap Kenzo menganggap Zahra dan menggendongnya untuk ke kamar mereka.


"Kita harus bicara! Kau tunggu disini!" ucap Kenzo tegas menatap Kinzi.


.....


Kenzo membaringkan Zahra di ranjang mereka. "Sayang, jangan dipikirkan, ya. Aku akan bicara dengan Kinzi," ucap Kenzo.


"Mas," panggil Zahra pelan.


"Bicara baik-baik, ya. Jangan menyakiti Kak Kinzi," pesan Zahra.


"Dan satu lagi, Mas," ucap Zahra.


"Apa Sayang?" tanya Kenzo.


"Berbicaralah dengan tidak mematahkan hati dan harapan Kak Kinzi. Aku yakin kamu bijak dalam hal ini, Mas. Pikirkan kebahagiaan semuanya," ucap Zahra.


"Aku akan berusaha, tapi aku tidak bisa janji. Kamu istirahat, ya. Aku harus bicara dengan Kinzi," ucap Kenzo yang langsung dianggukki oleh Zahra.


Sebelum keluar, Kenzo menyempatkan untuk mengecup lembut dahi Zahra. Bagaimanapun keadaanya, kebiasaanya itu tidak akan bisa dia tinggalkan.


"Aku akan kembali, Sayang," ucap Kenzo.


Zahra memandangi punggung Kenzo yang hilang dibalik pintu dengan sendu. "Ya Allah, kendalikan emosi dan hati suami hamba," ucap Zahra berdoa agar Kenzo dapat menahan emosi dan sikapnya nanti.


.....


BRAK.


Kenzo menutup kasar pintu ruang kerjanya. Dia tidak ingin pembicaraannya kali ini didengar oleh siapapun.


"Ken," ucap Kinzi sambil berdiri melihat kedatangan Kenzo.


"Ulangi apa yang ingin kamu katakan, Kinzi," ucap Kenzo.


"Aku mencintai Kevin. Dia lelaki hebat yang mampu membuat hatiku bergetar, Kenzo. Aku mencintainya," ucap Kinzi yakin.


"Sejak kapan?" tanya Kenzo tegas.


"Kau mungkin tidak percaya ini, tapi aku mencintainya sejak satu tahun yang lalu. Sejak saat pertama aku melihatnya di rumah Abi Ibra. Saat itu aku hanya memendam perasaanku karena dia sudah memilki seorang istri, dan aku dengan sangat tahu diri mengubur cintaku. Tapi mendengar kematian Sofia, Maaf Ken, cintaku kembali ada harapan untuknya," ucap Kinzi menjelaskan.


"Kubur kembali cintamu, Kinzi. Karena itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Kenzo tegas.


"Kenapa Ken?!" tanya Kinzi tak terima.


"Apa kau tak berpikir? Lelaki yang kau cintai itu Ayah mertuaku, Kinzi! Dia Ayah dari istriku, Zahra!" jawab Kenzo tegas.


"Aku tidak mungkin menguburnya kembali, Kenzo. Aku mencintai Kevin!" teriak Kinzi.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Kinzi! Jika kau bisa mencintainya, jadi kau juga bisa melupakannya!" ucap Kenzo dingin namun terdengar tegas.


"Kali ini saja, Kenzo. Izinkan aku bersatu dengan pilihan hatiku," ucap Kinzi sendu.


"Tapi tidak dengan Ayah mertuaku, Kinzi. Usia kalian terpaut sangat jauh," ucap Kenzo frustasi.


"Cinta tak memandang usia, Kenzo. Jika hatiku sudah memilihnya, maka aku akan hidup bersamanya. Untuk kali ini, izinkan hatiku untuk tidak terluka," ucap Kinzi memohon.


"Tapi tidak harus dengan Ayah Kevin, Kinzi! Masih banyak lelaki lain yang akan jadi pendamping mu," ucap Kenzo mencoba memberi pengertian pada Kinzi.


"Jika aku bisa menentukan hatiku akan jatuh pada siapa, aku juga tidak akan jatuh hati pada Kevin, Kenzo," ucap Kinzi lirih.


"Untuk kali ini maaf. Aku tidak bisa mengabulkan apa yang hatimu pinta!" ucap Kenzo tegas.


"Kenapa?" tanya Kinzi.


Kenzo tersenyum tak percaya menatap Kinzi. "Kau masih tanya kenapa? Sudah jelas-jelas usiamu yang sangat beda jauh. Ayah Kevin itu adalah mertuaku, Kinzi. Apa kata orang jika saudara kembar ku nanti menjadi ibu mertuaku juga? Apa kau gila? Dimana pikiranmu?" ucap Kenzo tak percaya dengan pemikiran kembarannya itu.


"Tapi Agama tidak melarang itu. Zahra dan Kevin tidak ada hubungan darah sama sekali!" ucap Kinzi tegas.


"Tapi itu tabu di masyarakat, Kinzi!" teriak Kenzo marah.


"HATIKU LEBIH PENTING DARI PENDAPAT ORANG-ORANG ITU, KENZO!" teriak Kinzi. Badannya luruh ke lantai tidak kuat menopang rasa sesak yang dia dapat saat ini.


"Kali ini, izinkan aku bahagia. Izinkan aku dan Kevin bersatu, aku mencintainya, Kenzo. Aku mencintainya," ucap Kinzi lemah dengan tangis yang tak dapat dia tahan.


Kenzo menghela nafas berat menghadapi kembarannya. "Pulanglah dulu. Apa Papa dan Mama sudah tahu mengenai ini?" tanya Kenzo mencoba menahan emosinya.


Kinzi menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. Kenzo adalah orang pertama yang diberitahu bersama Zahra.


"Besok aku akan ke rumah membicarakan ini. Bagaimanapun juga, Papa dan Mama harus tahu mengenai ini. Berdirilah!" titah Kenzo.


Dengan sekuat tenaga, Kinzi berdiri menopang tubuhnya sendiri. "Bagaimanapun nanti, apapun yang terjadi, aku yakin Kevin adalah lelaki yang Allah siapkan untukku. Hatiku tidak pernah se yakin ini sebelumnya. Aku pergi!" ucap Kinzi dan langsung berjalan keluar ruangan Kenzo.


"Arrkkhhhh! Benar-benar gila. Bagaimana mungkin?" ucap Kenzo tak percaya dengan suara frustasi mengusap rambutnya kasar dan mencoba mendinginkan kepalanya.


......................


Kevin dan Kinzi bahagia nggak yaaaa????? Tunggu update berikutnya ya teman-teman


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏