Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 143



🌹HAPPY READING🌹


"Kak Kevin," panggil Dee pelan.


"Iya Dee," jawab Kevin setelah meletakkan kembali gelas jus yang baru saja di teguk.


"Tadi Kak Kevin bilang semuanya mengetahui tentang hal ini. Apa semua yang Kak Kevin maksud, Zahra juga mengetahui hal ini?" tanya Dee.


Kevin terdiam. Dia menimbang, apakah harus memberitahu jika Zahra mengetahui atau tidak. Gue harus beritahu semuanya. Tidak ada guna menyembunyikannya lagi.


"Ara tahu semuanya, Umi."


DEG


Ibra, Dee dan Kevin menoleh ke pintu ruang kerja Ibra. Di sana, Zahra berdiri dengan senyum manisnya menatap mereka semua.


Kevin menghela nafas pasrah. Sedangkan Ibra dan Dee menatap Zahra tegang di tempatnya.


Mungkin memang ini yang harus terjadi. Batin Kevin beralih menatap Zahra dan tersenyum.


"Masuklah, Nak," ucap Kevin. Bahkan sang tuan rumah, Ibra masih menatap Zahra dengan tatapan sendunya.


Lagi dan lagi, kamu memendam sendiri, Nak. Batin Ibra menatap Zahra.


Dengan senyum manisnya, Zahra berjalan dan mendekat kearah para orang tua itu.


"Umi," ucap Zahra girang dan langsung memeluk Dee. Sudah lama rasanya dia merasakan pelukan Dee.


"Zahra kapan datang, Nak?" tanya Dee mengelus lembut kepala Zahra.


"Sejak Zahra tahu Ayah mau kesini nyusul Abu," ucap Zahra cemberut menatap Kevin.


Kevin terkekeh kecil. "Apa Paman Emre yang memberitahu mu?" tanya Kevin yang langsung dianggukki oleh Zahra.


*Flashback On*


Zahra mondar-mandir di kamarnya menunggu kabar selanjutnya dari Emre mengenai kerjasama antara Türk Mücevher dengan Perusahaan Kenzo. Karena, Zahra masih melihat Kenzo yang nampak panik memikirkan masalah perusahaannya.


Tidak ingin penasaran, Zahra memutuskan untuk menelpon Emre.


"Assalamu'alaikum, Paman," ucap Zahra ketika panggilan mereka terhubung.


"Waalaikumsalam, Zahra," jawab Emre sopan.


"Em ... Paman, maaf sebelumnya. Zahra mau tanya, mengenai kerjasama itu bagaimana, Paman? Pakan bisa?" tanya Zahra sopan namun terdengar ragu.


"Paman sedang mengurusnya, Nak. Lima menit yang lalu Paman mengirim email ke perusahaan suami kamu. Namun, masih belum ada balasan. Mungkin belum di cek oleh suami kamu, Nak," ucap Emre.


Zahra menghela nafas lega. Dia senang, setidaknya ini akan sedikit membantu masalah yang sedang dialami oleh suaminya.


"Oiya,Zahra," panggil Emre.


"Kenapa, Paman?" tanya Zahra.


"Maaf jika Paman tidak tepat janji. Paman sudah mengatakan pada Ayahmu jika kamu mengetahui identitas mu yang sebenarnya, Nak," ucap Emre memberitahu.


"Kenapa Paman?" tanya Zahra.


"Sudahi rahasia semuanya, Nak. Kalian harus saling terbuka agar semua jelas. Ini semua demi kebaikan kamu, Nak," ucap Emre.


Zahra menghela nafas pelan mendengar alasan Emre. Benar apa yang dikatakan Pamannya itu, ini semua demi kebaikannya.


"Lalu dimana Ayah sekarang, Paman? Zahra mau bicara dengan Ayah. Ponselnya tidak bisa Zahra hubungi," ucap Zahra.


"Ayahmu ke Indonesia, Nak. Menemui Tuan Ibra," ucap Emre yang kembali ember. Padahal Kevin sudah memintanya untuk tidak memberitahu siapa-siapa, namun tetap saja lelaki itu membocorkan pada Zahra.


Maafkan mulutku ini Ya Allah. Aku hanya ingin semua kebaikan untuk mereka. Batin Emre meminta maaf atas mulutnya yang tak bisa di kontrol.


"Kapan Ayah berangkat, Paman?" tanya Zahra sedikit panik. Dia takut, Kevin memberitahu semuanya pada Ibra. Entahlah, hatinya hanya takut jika Ibra dan Dee mengetahui, maka Dee dan Ibra tidak akan lagi menyayanginya. Padahal yang sebenarnya tidak begitu.


"Kemarin sore, Nak. Mungkin siang ini Ayahmu sudah sampai di Indonesia," jawab Emre memberitahu.


"Terimakasih informasinya, Paman. Assalamu'alaikum," ucap Zahra memutus panggilannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Zahra langsung pergi keluar rumahnya. Dengan bantuan sopir, Zahra pergi ke rumah Ibra.


"Emre benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya," gerutu Kevin mengumpatti Emre yang membuatnya kesal.


"Beruntung Paman Emre memberitahu semuanya, Ayah. Jika tidak, akan ada rahasia lagi," jawab Zahra.


"Maaf, Nak," ucap Kevin menyesal.


"Bukan salah Ayah. Semua demi kebaikan Zahra, makanya Ayah menjaga rahasia ini," ucap Zahra lembut.


Zahra beralih menatap Dee dan Ibra. "Abi, Umi," panggil Zahra lembut.


"Iya Nak," jawab Dee dan Ibra bersamaan.


"Sekarang, kalian sudah tahu siapa Zahra? Abi dan Umi masih tetap sayang sama Zahra kan?" tanya Zahra takut.


"Kenapa kamu takut seperti itu, Nak?" tanya Dee.


Zahra menggeleng. "Zahra khawatir Umi tidak sayang lagi sama Zahra karena Zahra-"


"Tidak ada alasan untuk tidak menyayangi kamu, Nak. Zahra tetap adik dari Al, dan Kakak dari Kina. Kalian semua anak-anak Umi," ucap Dee.


Zahra tersenyum. Setelah itu dia menatap Ibra yang sejak tadi hanya diam. "Abi," panggil Zahra pelan.


"Kenapa Zahra senang sekali menyembunyikan rahasia besar ini sama seperti Ayah Kevin?" tanya Ibra menyelidik yang membuat Zahra gugup karena tatapan Ibra.


"Mas," peringat Dee.


"Kenapa Zahra? Apa pundak Zahra sangat kuat hingga mampu menahan semua ini sendiri? Apa Abi dan Umi tidak berhak?" tanya Ibra. Dia harus memberi ketegasan kepada Zahra, bahwa anak itu tidak sendiri. Banyak orang yang peduli padanya.


"Zahra hanya tidak ingin kembali menceritakan bahwa Zahra adalah yatim piatu sejak lahir, Abi. Zahra takut, Abi dan Umi tidak akan sayang lagi pada Zahra. Maaf," ucap Zahra menunduk.


Ibra menghela nafas pelan. "Mulai sekarang, bisakah untuk terbuka pada Abi, Umi dan Ayahmu, Nak?" tanya Ibra.


Zahra mengangguk yakin tanpa ragu. "Bisa, Abi," ucap Zahra.


"Janji?" tanya Dee.


"Janji Umi," ucap Zahra memeluk Dee dari samping menghirup aroma wangi dari wanita yang saat ini adalah ibu baginya.


Kevin yang melihat itu semua menyandarkan tubuh ke sofa dan saling pandang dengan Ibra. Akhirnya selesai. Batin mereka lega karena Zahra menerima semua dengan lapang dada, tidak seperti ketakutan yang mereka pikirkan. Ketakutan akan Zahra yang tidak menerima kematian kedua orang tua kandungnya, dan juga mengenai mereka semua yang menyembunyikan semua ini.


.....


Kenzo duduk di kursi kerjanya dengan kepala menunduk dalam. Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya karena pikiran yang terus-menerus dia paksa untuk menyelesaikan semua masalah perusahaan.


"Tuan," panggil Arman masuk keruangan Kenzo tanpa mengetuk pintu. Bahkan lelaki itu masuk dengan nafas yang terengah-engah dan sebuah Tab ditangannya.


"Bisakah kau mengetuk pintu dulu?" tanya Kenzo mengangkat kepala dan menatap Arman tajam.


"Tidak bisa, Tuan. Ini ada info penting," ucap Arman.


"Apa?" tanya Kenzo penasaran.


Arman menetralkan deru nafasnya. Dia berjalan ke samping kursi kerja Kenzo dan menunjukkan tab itu kepada Kenzo.


"Ini Tuan," ucap Arman membuka salah satu pesan masuk ke email perusahaan.


"Kerja sama?" tanya Kenzo berbinar.


"Iya Tuan," jawab Arman.


"Perusahaan apa?" tanya Kenzo.


"Bukalah sendiri, Tuan," ucap Arman mempersilahkan Kenzo untuk menekan email masuk tersebut


Jari telunjuk Kenzo bergerak menekan layar tab tersebut. Matanya dengan serius menatap pesan yang sudah dibuka itu. "Türk Mücevher," gumam Kenzo menatap Arman yang langsung mengangguk.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏