
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo meninggalkan kediaman Ibra dengan perasaan hancur tak berbentuk. Dia benar-benar sendiri saat ini. Semua orang yang dia anggap keluarga tidak ada yang mau mendukungnya.
Kenzo sadar, ini memang salahnya. Ini semua adalah imbalan yang harus dia terima dari setiap perlakuannya kepada Zahra. Kenzo mencengkram kuat stir mobilnya dengan kecepatan mobil yang tak main-main. Bahkan banyak pengendara lain yang protes akan aksi Kenzo.
Buliran bening itu tidak pernah berhenti keluar dari mata Kenzo. "Kamu tidak menungguku, Zahra," ucap Kenzo sendu.
"Bahkan kamu tidak minta izin untuk pergi. Bukankah istri yang baik harus izin terlebih dahulu kepada suaminya jika ingin pergi," lanjut Kenzo sendu pada dirinya sendiri.
"Kamu harus tanggung jawab atas penyesalanku, Zahra," ucap Kenzo dengan harapan penuh.
Selang beberapa menit, Kenzo sampai dirumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kenzo memasuki rumah dengan keadaan yang sangat kusut.
Kenzo menghentikan langkahnya dan memandang kearah kamar kecil Zahra. Kenzo melangkahkan kakinya memasuki kamar Zahra. Kenzo mengerahkan pandangannya melihat setiap sudut kamar kecil bekas gudang yang dia jadikan sebagai kamar istrinya sendiri.
Mata Kenzo berhenti tepat di kasur kecil Zahra. Kenzo duduk di kasur tersebut dan meraba-raba setiap sudutnya.
"Di kasur kecil ini kita memadu kasih, Sayang. Malam itu adalah malam paling indah. Tidak ada yang lebih indah dari kamu, Zahra. Tidak ada wanita yang lebih pantas untukku selain kamu, Zahra. Bidadari surgaku," ucap Kenzo sendu.
Saat teringat sesuatu, Kenzo bangkit dan keluar dari kamar tersebut. Dia dengan langkah besar menaiki tangga menuju kamarnya. Kenzo langsung menuju lemari dan mengambil sprei yang digulung dengan tidak rapi itu.
Kenzo membawanya ke kasur dan merebahkan dirinya di kasur dengan sprei tersebut menutupi dirinya.
"Ini adalah kenangan cinta kita, Sayangi," ucap Kenzo mengusap lembut sprei kasur tersebut. Bahkan darah perawan Zahra yang sudah mengering masih melekat di sprei tersebut.
"Aku mohon kembali, Zahra, hiks," ucap Kenzo dengan tangisnya mencium sprei tersebut. Tidak ada rasa jijik dalam dirinya untuk mencium sprei tersebut.
Inilah yang harus dihadapi Kenzo. Penyesalan akan cinta yang dia korbankan hanya karena membalaskan sebuah dendam yang tak beralasan. Rasanya tidak ada manusia yang lebih bodoh dan siap darinya di dunia ini.
.....
Ibra berdiri di balkon kamarnya dengan pandangan jauh ke atas langit. Entah apa di pikirannya, Ibra sampai tidak menyadari Dee yang telah berdiri disebelahnya.
Dee melihat ada air bening di sudut mata Ibra. Tangannya tergerak untuk mengusap air bening tersebut, sehingga menyadarkan Ibra dari lamunannya.
"Eh, Sayang," ucap Ibra kaget karena keberadaan Dee.
"Mas lagi mikirin apa?" tanya Dee lembut.
Ibra membawa tubuh Dee kedalam dekapannya. Memeluk erat seorang wanita yang selalu memberikan sumber kehidupan untuknya. Nafasnya, dunianya, dan segalanya seakan tergantung pada wanita ini. Sungguh, tidak kata cinta yang bisa mewakili besarnya cinta yang dia miliki untuk wanita ini.
Dee merasakan badan Ibra yang bergetar dalam dekapannya. Bahunya juga terasa basah karena air mata Ibra.
"Mas," ucap Dee hendak melepaskan pelukannya pada Ibra. Namun Ibra malah mengeratkan pelukannya kepada Dee.
"Aku gagal, Sayang," ucap Ibra dengan suara bergetar.
"Mas," ucap Dee mencegah apa yang akan dikatakan oleh Ibra selanjutnya.
"Aku gagal, Sayang. Aku tidak bisa menjaga anak Perempuanku sendiri," ucap Ibra dengan tangis yang sejak tadi dia tahan kini pecah dalam pelukan Dee.
Air mata yang sejak tadi dia tahan saat mengantar Zahra ke bandara, kini sudah tidak sanggup lagi di tampung oleh hatinya. "Kamu nggak gagal, Mas," ucap Dee sambil mengusap lembut bahu Ibra.
Air mata yang dia tahan di depan semua keluarga kini keluar begitu saja. Beban yang sejak tadi menyesakkan hatinya sudah tidak bisa dia tahan.
"Kamu adalah Abi terbaik buat anak-anak, Mas. Tidak ada yang lebih baik dari kamu buat anak-anak kita," ucap Dee menguatkan Ibra.
"Mengapa kesalahanku harus berdampak sebesar ini, Sayang? Mengapa masa lalu selalu menghantui masa depan?" tanya Ibra seolah menyalahkan segala takdir yang terjadi dalam hidupnya.
"Apa kamu menyalahkan takdir, Mas?" tanya Dee melepaskan pelukannya dan menatap Ibra dalam.
"Aku rasanya ingin mengutuk hidup, Sayang," ucap Ibra sendu.
Dee menggeleng mendengar perkataan Ibra. "Apa kamu juga menyalahkan kehadiran aku dan anak-anak, Mas?" tanya Dee menatap Ibra sendu.
Ibra menatap Dee dengan pandangan bersalah akan kata-katanya. "Bukan begitu, Sayang," ucap Ibra.
"Jika kamu mengutuk hidup, itu artinya kamu mengutuk kehadiran aku, Mas. Jika kamu mengutuk hidup, itu artinya kamu mengutuk kehadiran Al dan Kina. Jika kamu mengutuk hidup, berarti kamu mengutuk kehadiran Zahra juga, Mas. Aku dan anak-anak bukan sebuah kutukan, Mas," ucap Dee sendu.
Ibra menggeleng dan langsung memeluk Dee. "Maaf Sayang," gumam Ibra berkali-kali mengecup pucuk kepala Dee.
"Mas, bukan hanya kamu yang sedih, bukan hanya kamu yang ikut merasakan sakit atas apa yang terjadi pada Zahra. Kami semua merasakannya, Mas. Apa kamu lupa, ada Kak Kevin dan Sofia yang lebih tersakiti. Jangan pernah menyalahkan hidup, Mas. Pasti ada hikmah dan berkah dibalik semua kesedihan kita. Jangan takut, Mas. Kita punya Allah tempat mengadu dan meminta solusi," ucap Dee menyampaikan apa yang ada di pikirannya kepada Ibra.
"Dari dulu sampai sekarang, bahkan rasa syukurku atas kehadiran kamu tidak pernah berkurang. Malah semakin hari semakin bertambah, Sayang. Terimakasih," ucap Ibra tulus.
Dee mengangguk. "Tidak ada tulang rusuk yang membiarkan raga tempat dia berlindung sedih, Mas," ucap Dee dengan senyum manisnya.
.....
Matahari telah menerangi Bumi. Dia muncul menggantikan tugas rembulan malam untuk menerangi Bumi.
Kenzo membuka matanya perlahan saat cahaya masuk dari celah fentilasi kamarnya. Mata lelaki itu nampak bengkak karena menangis semalaman atas segala penyesalannya.
"Kemanapun kamu pergi, aku akan mencarimu Zahra. Seorang istri harus kembali pulang ke rumah suaminya, Kan," ucap Kenzo meyakinkan dirinya.
Kenzo mengambil ponselnya dan menelpon Arman. "Halo Arman," ucap Kenzo setelah panggilannya tersambung.
"Iya Tuan," jawab Arman diseberang sana.
"Cek nama penumpang untuk setiap penerbangan kemarin dan jangan sampai ada yang tertinggal. Kau tunggu aku di Bandara," ucap Kenzo langsung menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban Arman.
Kenzo bangun dan berjalan menuju walk in closet. Kenzo mendorong sebuah pintu lemari kaca. Siapa sangka, itu bukan pintu lemari. Tapi itu adalah pintu menuju sebuah ruangan rahasia yang hanya dia ketahui.
Kenzo memandangi dinding ruangan tersebut yang dipenuhi foto seorang wanita yang duduk di kursi roda.
"Semoga doamu selalu menyertai perjuanganku, Sayang," ucap Kenzo mengusap lembut salah satu foto tersebut.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz