
🌹HAPPY READING🌹
"Halo, Nak. Kamu memang gadis yang cantik dan pintar," ucap Nenek Nende mengusap lembut pipi Sela.
Sela yang dipuji cantik pun bersemu merah. Sedangkan Zahra menatap jengah anaknya itu yang semakin percaya diri.
"Cucu Nenek dimana?" tanya Zahra. Karena sejak tadi, dia belum bertemu dengan cucu yang sering dikatakan oleh Nenek Nende.
"Mungkin masih dikelasnya," jawab wanita paruh baya itu.
Sela memandang wajah Nenek Nende yang nampak nyaman dimatanya. Hidung wanita itu yang mancung seperti orang timur dan matanya yang berwarna lain itu.. "Nenek Nende cantik, kayak Bunda," celetuk Sela dengan wajah polosnya.
Zahra yang mendengar perkataan Sela memandang wajah Bu Nende dengan lekat dan ekspresi yang tak biasa. Sedangkan Bu Nende, dia memandang Zahra dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya. "Kamu keberatan jika aku cantik sepertimu, Nak?" tanya Bu Nende.
"Eh," kaget Zahra.
Zahra menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak, Bu. Semua wanita berhak untuk cantik," ucap Zahra tak enak.
"Anakmu kelak akan menjadi seorang wanita yang dewasa dengan segala perjuangannya, Zahra," ucap Bu Nende memandang Sela.
"Iya dong, Nek. Sela harus dewasa biar nggak kecil terus," jawab anak itu bangga.
Lain dengan Sela, Zahra berusaha mencerna semua yang dikatakan oleh Bu Nende. "Maksud Ibu?" tanya Zahra tak paham.
"Namanya hidup memang begitu kan," jawab Bu Nende.
"Kalau begitu saya pamit dulu, ya. Cucu saya sudah menunggu," ucap Bu Nende berdiri.
"Sela, Nenek pamit dulu ya," lanjutnya pada Zahra.
"Nenek Nende hati-hati ya," ucap Sela ramah.
Bu Nende mengangguk. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Sela.
Sedangkan Zahra masih memandangi kepergian Bu Nende dengan segala pemikirannya.
"Jawab salam orang itu wajib loh, Bunda," ucap Sela menyindir Bundanya yang termenung.
"Udah dalam hati, Nak," jawab Zahra.
"Kapan? Kok Sela nggak dengar?" tanyanya bingung.
"Namanya dalam hati ya hanya Bunda yang dengar," jawab Zahra.
"Bilang aja nggak dijawab," ucap anak itu mencibir.
"Cibir mencibir nomor satu kayak bapaknya," gerutu Zahra kesal.
"Harus dong. Itu tu buat pertahanan diri biar nggak disakiti orang, Bunda," jawab Sela bangga dengan segala ajaran dari Kenzo.
"Ayo pulang. Ayah pasti sudah nunggu buat makan siang," ajak Zahra.
"Shasa?" tanya Sela mengingat sepupunya itu.
Zahra menepuk jidat lupa. "Ayo kita susul Shasa ke ruang guru," ucap Zahra menggandeng tangan Sela untuk kembali masuk ke arena sekolah menjemput Shasa. Tadi Kina sudah berpesan pada Zara untuk sekali membawa Shasa. Kina tidak bisa menjemput anaknya karena harus mengurus restoran cabang baru yang sebentar lagi akan launching.
.....
Malam telah menyapa. Zahra sedang berada di kamarnya sambil melihat-lihay sosial media dari ponselnya. Sedangkan Sela, anak itu tidur di kamarnya setelah sholat isya tadi. Zahra kesepian, karena setelah sholat isya Kenzo langsung masuk ruang kerjanya untuk melakukan pengecekan beberapa email.
Tangan Zahra yang tadi memegang ponsel kini beralih memegang perutnya. "Ya Allah, kenapa nyeri lagi," ucap Zahra lirih.
Zahra beristigfar berkali-kali menahan nyeri perutnya. Dengan kaki sedikit gemetar Zahra berjalan menuju kamar mandi untuk melihat sesuatu.
"Alhamdulillah nggak ada," ucap Zahra lega setelah melihat pakaian dalamnya yang masih bersih dan tidak ada bercak apapun.
Sedikit demi sedikit, nyeri di perut Zahra sedikit berkurang. Setelah merasa sedikit tenang, Zahra keluar dari kamar mandi.
"Sayang," panggil Kenzo yang ternyata sudah duduk diatas ranjang.
"Mas udah selesai?" tanya Zahra.
Kenzo mengangguk. Lelaki itu berdiri dan berjalan menggiring istrinya agar cepat sampai di ranjang. Setelah sampai di ranjang, dia menidurkan kepalanya dengan paha Zahra sebagai bantal.
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra melihat Kenzo yang sedang memikirkan sesuatu.
Kenzo menggeleng. "Sayang," panggil Kenzo lembut.
"Iya."
"Jika nanti kamu bertemu dengan keluarga kandungmu yang lebih kaya dari aku, bagaimana?" tanya Kenzo.
Alis Zahra berkerut heran mendengar pertanyaan Kenzo. "Pertanyaan macam apa itu Mas?" tanya Zahra balik.
Zahra tersenyum. Tangannya mengelus lembut rahang Kenzo yang memiliki sedikit bulu halus. "Harta berharga seorang istri adalah cinta suaminya, Mas. Kekayaan seorang istri adalah kasih sayang melimpah dari suaminya. Jadi, tidak ada yang bisa ngasih Zahra kekayaan atau harta yang baik selain Mas Kenzo yang manja ini," jawab Zahra menatap lembut suami manjanya itu.
"Are you sure?" tanya Kenzo lagi.
"Lebih yakin dari apapun," jawab Zahra pasti.
Kenzo tersenyum hangat. Lelaki itu memutar kepalanya menghadap perut Zahra dan mengusap lembut perut itu. "Kamu tahu kelebihan aku yang tidak dimiliki lelaki lain, Sayang?" tanya Kenzo.
"Apa?"
"Kamu," jawab Kenzo yang mampu membuat Zahra bersemu karena jawaban singkat itu.
"Iya. Tidak semua lelaki seberuntung aku bisa mendapat wanita surga ini," lanjut Kenzo.
"Tidak baik terlalu memuji, Mas," ucap Zahra.
"Hanya menyampaikan rasa syukur, Sayang. Tidak ada yang salahkan jika kita bersyukur?" tanya Kenzo yang dibalas gelengan oleh Zahra.
"Suamiku ini memang benar-benar lelaki dengan seibu kata-kata buaya," ucap Zahra bercanda.
"Yah, dan kata-kata buaya itu hanya untuk kamu, Sayang," jawab Kenzo bangga.
Zahra tersenyum dan terkekeh kecil mendengar perkataan yang dia anggap sebagai gombalan dari suaminya itu. Padahal sudah lama menikah, tapi gombalan itu masih saja membuat hatinya berbunga.
"Sayang," panggil Kenzo lagi.
"Iya Mas," jawab Zahra.
"Bagaimana kalau kita jodohkan Ayah Kevin dengan Ibu Sari?" tanya Kenzo.
"Jangan aneh-aneh, Mas," ucap Zahra kurang setuju.
"Kan duda sama janda bisa bersatu, Sayang."
"Ayah Kevin punya pilihan wanitanya sendiri, Mas."
"Siapa?"
"Kamu tidak tahu atau memang kamu pura-pura nggak tahu?"
"Sudahlah, ayo tidur. Nyesel juga aku nanya yang aneh-aneh," ucap Kenzo dan langsung mengajak Zahra untuk ikut merebahkan dirinya di kasur.
.....
Berbeda dengan Zahra dan Kenzo yang sedang berduaan dengan berbagai kata gombalnya, seorang lelaki di negeri jauh sedang memandangi jendela menatap jauh ke depan.
Seorang lelaki tua yang sejak tadi berdiri di belakang pria itu menghela nafas pelan. "Apa kau tidak menyadari kedatanganku?" tanya pria tua itu.
"Aku tahu Baba," jawabnya tenang.
"Jangan hukum dirimu seperti ini, Kevin. Berdiam diri akan membuatmu semakin tua," ucap pria tua itu sambil duduk di sofa panjang yang ada disana.
Lelaki itu berbalik. Ya, dia adalah Kevin. Lelaki yang hobinya kini sangat suka sekali bermenung.
"Dalam sehari kau sudah bermenung berapa kali?" tanya Pria tua itu.
Kevin terkekeh miris. "Entahlah. Sepanjang aku bernafas mungkin," jawabnya asal.
"Sebentar lagi cucuku akan datang. Kamu telah berhasil mempertemukan keluarga yang berpisah setelah sekian lama. Kini, saat kamu mencari tambatan hatimu itu," ucap pria tua itu.
"Sulit Baba," jawab Kevin singkat.
"Memang kau sudah menemukan petunjuknya?" tanya pria tua itu penasaran.
Kevin menggeleng. "Baba," panggil Kevin pelan.
Pria tua itu menaikkan sebelas alisnya menjawab panggilan Kevin.
Kevin menghela nafas pelan. Lelaki itu memejamkan mata sebentar menetralkan detak jantungnya yang entah kenapa sungguh tak karuan sejak kemarin. Kedua tangan dalam saku celananya mengepal meredam emosi untuk dirinya sendiri. Sungguh, dia benci dirinya sendiri saat ini.
"Ada apa?" tanya pria tua itu.
"Untuk sekali ini, aku butuh bantuan mu."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏