Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 209



🌹HAPPY READING🌹


Sesuai perkataan Murat tadi siang, kini mereka semua pergi ke Turk Mücevher untuk memperlihatkan pada Zahra peninggalan kedua orang tua kandungnya.


Dua mobil mewah saling beriringan membelah jalanan siang kota Turki yang kurang bersahabat.


"Kita mau kemana, Bunda?" tanya Sela pada Zahra yang duduk di kursi depan sebelah Kenzo. Sedangkan dibelakang ada Murat dan Zahra. Untuk Dee, Ibra dan Kevin ada di mobil lain yang melaju dibelakang mobil mereka.


"Kita mau ke kantor Bunda kamu, Nak," jawab Murat.


Kenzo yang mendengar jawaban Murat ikut tersenyum. "Bukannya kantor itu punya Ayah, ya?" tanyanya beralih menatap Kenzo.


Kenzo menggeleng. "Kantor itu tidak hanya satu, Nak. Tempat Ayah bekerja, itu adalah kantor milik Ayah. Tapi ini milik Bunda yang dijalankan oleh Kakek Kevin," jawab Kenzo menjelaskan.


"Kenapa Bunda tidak ke kantor setiap hari kayak Ayah?" tanya Sela lagi.


"Nanti kalau kamu besar juga pasti ngerti, Nak," jawab Zahra.


"Bunda jawabnya itu-itu terus ih!" ucap anak itu kesal melipat kedua tangannya di depan dada.


"Pertanyaan kamu itu bikin pusing," jawab Zahra kesal dengan tangan yang terus mengusap perutnya.


"Bunda aja yang nggak bisa jawab, malah salahi aku," jawab anak itu.


"Kamu yang banyak tanya. Ikuti aja kenapa sih?"


"Orang banyak tanya itu karena nggak tahu, Bunda. Orang yang malu bertanya itu sesat dijalan. Ih, bunda nggak belajar ya," ucap anak itu layaknya seorang wanita yang sedang melabrak musuhnya.


Mata Zahra membulat mendengar perkataan anak itu. Dia bersabar dengan menghela nafas pelan dan mengusap lembut perutnya. "Nanti kalau lahir, jangan nyebelin kayak Kakak kamu, ya Nak," ucap Zahra.


"Ayah," rengek Sela mengadu pada Kenzo.


Kenzo dan Murat tersenyum. "Kita ke kantor untuk melihat-lihat, Nak. Sama kayak pertama kali Sela datang ke kantor Ayah," ucap Kenzo.


Sela mengangguk. Kepalanya memutar kebelakang menatap Zahra. "Jawab itu kayak Ayah, Bunda!" ucapnya mengejek.


"Nyenyenye," ucap Zahra meledek Sela dengan bibir dibuat sejelek-jelek mungkin.


"Ih Bunda kesaaaal!" teriak Sela dan beralih menatap ke depan dengan kedua tangan dilipat di dadanya.


"Sudah, Nak. Jangan goda anaknya terus," ucap Murat mengusap lembut kepala Zahra.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Ternyata asik juga menggoda anaknya itu. Pantas saja suaminya suka sekali menjawab segala perkataan anak itu, meskipun dia akan kalah akhirnya. Karena anak gadis mereka itu memiliki kekuatan mulut yang sangat luar biasa.


"Bunda bercanda, Sayang. Maafin Bunda, ya," ucap Zahra lembut.


Sela mengangguk dengan wajah datar layaknya orang dewasa. "Hem," gumamnya menjawab perkataan maaf Zahra.


Zahra, Kenzo dan Murat terkekeh pelan melihat gadis kecil itu yang benar-benar tampak menggemaskan saat bertingkah layaknya orang dewasa.


.....


Sedangkan di mobil lain terjadi keheningan antara Ibra, Dee dan Kevin. Kevin dan Ibra yang memang duduk di depan saling pandang melihat Dee yang selalu diam sejak mereka berangkat dari rumah.


Ibra mengangkat bahu saat Kevin memberi kode bertanya kepadanya.


"Ekhem," deham Kevin memecah keheningan.


Dee tetap diam. Entah dia memang tidak mendengar atau berpura-pura tidak mendengar dehamannya Kevin.


Melihat Dee yang tetap diam, Ibra memilih untuk menoleh. "Sayang," panggil Ibra lembut.


Dee menoleh sebentar, setelah itu dia kembali menatap jalanan Turki yang nampak tidak terlalu ramai.


"Dee, apa terjadi sesuatu yang salah?" tanya Kevin pelan.


Dee menoleh. "Tidak Kak," jawab Dee singkat.


"Tidak biasanya kamu diam dengan wajah datar seperti itu. Apa sahabatku ini melakukan kesalahan?" tanya Kevin sambil melirik Ibra.


Bukan gue, tapi Lo yang bakal kena bantai. Batin Ibra meringis ketika mengingat omelan Dee kemarin malam.


Dee menatap tajam dua lelaki yang berada di depannya. "Kalian sama saja!" ucap Dee ketus.


"Udah tau buat kesalahan masih aja tanya!" jawab Dee ketus yang masih bisa mendengar bisikan Kevin.


Kevin dan Ibra tersentak kaget. Kucing betina akan sangat-sangat ganas jika ngamuk. Dia akan lebih ganas dari singa jantan yang akan tunduk pada singa betina.


"Ib," panggil Kevin pelan pada Ibra.


"Rasain Lo!" ucap Ibra ketus.


Dee yang mendengar itu memindahkan posisi duduknya menjadi ditengah-tengah kursi belakang.


"Siapa yang kakak hamili?"


Ciiittt.


Decitan ban dan aspal terdengar begitu keras karena Kevin menginjak rem dengan sangat kuat. Beruntung tidak ada kendaraan lain dibelakang mereka. Jika ada, maka akan terjadi kecelakaan beruntun karena hal ini.


"Dee," panggil Kevin pelan.


"Bukan Mas Ibra yang bercerita, tapi aku dengan sendiri saat kalian bercerita berdua kemarin. Maaf jika aku sedikit menguping, tapi aku tidak menyesalinya, Kak!" ucap Dee tegas.


"Bagus jika kamu memang sudah mengetahui semuanya, Dee. Aku tidak perlu susah payah mencari kata yang tepat untuk menceritakannya pada adikku ini," ucap Kevin berusaha santai membawa suasana agar tidak tegang.


"Rasanya mulutku ingin sekali mengutuk dua lelaki didepan ini," gumam Dee ketus.


"Aku nggak salah, Sayang," rengek Ibra memprotes karena tidak terima dengan apa yang dikatakan Dee. Yang bersalah saat ini adalah Kevin, kenapa dia yang ikutan kena batunya? Jelas dia protes keras.


"Karena kalian sama saja. Yang satu nggak bisa nasehati sahabatnya, yang satu nggak bisa berkaca dari kesalahan sahabatnya!" ucap Dee ngegas.


"Aku akan bertanggung jawab dan menyelesaikan semuanya, Dee. Aku butuh doa kalian untuk mengiringi usaha yang sedang aku lakukan," ucap Kevin.


"Aku pasti mendoakan, Kak. Berdoa diberi kekuatan untuk wanita malang itu, dan berdoa diberi azab untuk lelaki jahatnya!" jawab Dee.


Ibra dan Kevin menghela nafas pelan. "Maaf jika aku mengecewakanmu, Dee. Tapi satu hal yang pasti, aku akan bertanggung jawab. Aku pastikan semuanya akan kembali pada tempatnya," ucap Kevin serius.


Aku akan membawa kembali permaisuri ku pada keluarganya, Dee. Batin Kevin memandang jalanan di depannya.


"Harus. Dan jangan berhenti sebelum kebahagiaan itu datang," ucap Dee mulai lembut. Wanita itu tidak mungkin bisa marah dengan waktu yang lama pada siapapun. Apa lagi pada keluarganya sendiri. Wanita jika marah memang memiliki mulut yang pedas, tapi percayalah, kata-kata itu hanya luapan emosi yang tertahan. Sesungguhnya dalam hati ada rasa kasih sayang besar yang tersimpan dalam kata-kata tegas itu.


"Ayo jalan lagi, Kak. Kita ketinggalan jauh," lanjut Dee.


Kevin mengangguk. Dia kembali menginjak pedal gas dan menjalankan mobil menyusul mobil Kenzo yang sudah melaju jauh di depan.


.....


"Kok mobil Kakek lama sampainya?" tanya Sela ketika Kevin, Ibra dan Dee turun dari mobil. Mereka semua sudah menunggu di jalur khusus menuju ruangan khusus yang selama ini digunakan Kevin untuk memantau perusahaan.


"Tadi ada sedikit insiden, Sayang," jawab Dee.


"Insiden apa, Umi? Umi, Abi dan Ayah nggak apa-apa kan?" tanya Zahra khawatir.


Dee menggeleng. "Baik-baik saja, Nak. Ayah kamu aja tadi tiba-tiba berhenti mendadak," ucap Dee mengejek Kevin.


Kevin dan Ibra melongo tak percaya mendengar jawaban Dee. "Kenapa Ayah?" tanya Zahra.


Kevin menggeleng. "Bukan apa-apa, Nak. Hanya kucing ngamuk tadi lewat," jawab Kevin.


Zahra yang mendengar itu hanya mengangguk. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri lorong hampa dengan desain dinding yang sangat elegan.


Ya Allah, sekaya apa kedua orang tua ku hingga memiliki harta dengan begitu mewahnya. Batin Zahra bertanya-tanga saat mengamati perjalanan sepanjang menuju ruang khusus itu.


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau ya. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. TERIMAKASIH 🤗🙏