Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 54



🌹HAPPY READING🌹


Saat ini, Sela dan Shasa sedang bermain di taman belakang kediaman Hebi. Setelah selesai makan siang tadi, Shasa langsung menarik Sela untuk segera bermain tanpa mengganti pakaian sekolah mereka terlebih dahulu.


"Tidak apa kotor, Mama. Besok kan nggak pake baju ini," ucap Shasa ketika Kina meminta anaknya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Namun bukannya menurut, Shasa malah memilih untuk berdebat. Kina hanya bisa diam dengan anaknya yang kelewat cerewet, lagian besok baju sekolah mereka juga akan diganti dengan seragam lain, jadi Kina membiarkan saja. Jika tidak, maka perdebatan panjang akan terjadi di rumah tersebut.


"Caca, Cela pinjam tempat tidul ini, ya. Kasian Anna tidul di lantai," ucap Sela meminjam peralatan Barbie Shasa.


Shasa mengangguk. "Iya, Sela. Sekarangkan Anna jadi anak kamu, berarti dia adalah ponakan ku, jadi kamu boleh memakainya," jawab Sela. Saat ini, mereka sedang memerankan adik dan kakak. Permainan anak kecil yang lengkap dengan rumah-rumahan mini yang muat untuk mereka berdua, serta peralatan rumah tangga yang lengkap.


"Baiklah, telimakacih Kakak," jawab Sela senang. Shasa mengangkat kepalanya dan mengangguk semangat. Senang sekali rasanya Sela memanggilnya dengan sebutan Kakak.


Jika cemuanya jelas, kita akan telus cepelti ini, Caca. Batin Sela senang dengan terus melanjutkan kegiatan bermainnya.


.....


Di tempat lain, namun di rumah yang sama, Dee meminta Kenzo untuk menemuinya di taman samping rumahnya. Dia harus membicarakan semua ini kepada Kenzo. Dee yakin, Kenzo pasti bisa membantunya, dan Kenzo juga sangat berhak tahu akan hal ini.


"Ada apa, Umi?" tanya Kenzo. Kini mereka berdua sudah duduk di kursi panjang taman rumah.


Dee menghela nafas panjang sebelum membuka pembicaraannya. Kenzo yang melihat itu mengerutkan dahinya. "Umi kenapa?" tanya Kenzo lagi.


Dee memandang Kenzo. Mata wanita tersebut sudah berkaca-kaca mengingat apa yang akan dia bicarakan. "Zahra ada disini, Kenzo."


DEG


Jantung Kenzo berdetak cepat. Kenzo menatap Dee dengan pandangan terkejutnya Sungguh, ini adalah kabar baik yang selama ini dia tunggu.


"Ma-maksud Umi?" tanya Kenzo memastikan.


Dee mengangguk. "Zahra masih hidup, Ken. Dan sekarang dia ada di kota ini," jawab Dee.


"Ceritakan lagi, Umi," pinta Kenzo memohon.


Dee mengangguk. "Waktu pertama kali Mengantar Shasa ke sekolah, kami bertemu dengan Zahra, Kenzo. Lebih tepatnya Kina yang bertemu dengan tidak sengaja," jawab Dee.


Senyum haru terbit di bibir Kenzo. "Istri Kenzo baik-baik saja kan, Umi?" tanya Kenzo semangat.


Dee mengangguk dengan semangatnya. "Bahkan lebih baik dari sebelumnya, Ken. Zahra sekarang sudah bisa berjalan. Anak rapuh Umi itu sekarang sudah hidup layaknya kita semua," jawab Dee.


"Ini tidak bohong kan, Umi?" tanya Kenzo memastikan.


"Jangan beri harapan terlalu tinggi untuk Kenzo, Umi," lanjutnya sendu.


Dee menggeleng. "Ini benar, Ken. Dan nyawa yang hidup dalam kandungan Zahra masih hidup sampai sekarang. Dia bersekolah di tempat yang sama dengan Shasa," ucap Dee.


Entah harus berbicara apa, sungguh, ini adalah sebuah kabar yang mampu membuat kehidupan Kenzo merasakan bahagia yang teramat sangat bahagia. "A-anak Kenzo, Umi?" ucap Kenzo gugup.


Dee mengangguk. "Anak kalian dan cucu Umi," jawab Dee yakin.


"Izin kan Kenzo bertemu Zahra, Umi," pinta Kenzo memohon.


Wajah Dee berubah sendu mendengar permintaan Kenzo yang tidak bisa dia kabulkan. "Inilah alasan Umi membicarakan semuanya dengan kamu, Ken," jawab Dee.


"Maksud Umi?" tanya Kenzo bingung.


"Umi memberitahu kamu semua ini, karena Umi ingin kamu menyelidiki semua tentang Zahra. Cari tahu dimana keberadaannya. Saat Kina bertemu dengan Zahra waktu itu, dia bahkan menolak untuk bertemu dengan Umi, Ken. Entah apa yang terjadi, tapi Zahra hidup untuk menghindari kita semua," ucap Dee.


Jika bertemu dengan Umi, wanita yang sangat dia sayangi saja menolak, lantas bagaimana dengan aku yang memperlakukanmu layaknya binatang, Zahra? Masih adakah kesempatan untuk bahagia itu, Zahra?" Batin Kenzo sendu. Dia takut, jika nanti dia menemukan Zahra, maka Zahra akan menolak kehadirannya.


"Umi mohon, Ken. Tolong bawa Zahra kembali. Hanya kamu harapan Umi. Berikan Zahra dan kembalikan kebahagiaan di rumah ini. Terutama untuk Abi, Bunda Sofia dan Ayah Kevin," ucap Dee dengan tangan di kedua dadanya.


Kenzo menggeleng sambil mengambil tangan Dee dan menggenggamnya. "Jangan memohon untuk sesuatu yang pasti akan Kenzo lakukan, Umi. Kenzo akan bawa anak dan istri Kenzo," jawab Kenzo yakin.


Dee mengangguk dengan senyumnya. "Umi menanti kedatangan kalian," ucap Dee.


"Doakan dan restui langkah Kenzo, Umi," ucap Kenzo meminta restu seorang Ibu yang sangat luar biasa tersebut.


"Selalu, Nak," jawab Dee yakin.


Ada kelegaan di hati Dee setelah menceritakan semuanya kepada Kenzo. Harapannya semakin kuat untuk Zahra dan cucunya.


.....


"Iya," jawab Shasa yang sibuk memberi makan bonekanya.


"Cela ke kamal mandi dulu, ya. Cela mau pipis," ucap Sela menahan pipisnya.


Shasa mengangguk mengizinkan Sela pergi. "Cela titip Anna, ya," ucap Sela dan langsung pergi.


Sela memasuki rumah dan pergi ke kamar mandi yang ada di dapur. Anak itu berlari dengan kencang karena pipis yang sudah sangat mendesak tersebut.


"Hah, lega," gumam Sela ketika dia sudah memakai kembali celana dan roknya.


Anak itu keluar dari kamar dan mandi dan kembali berjalan menuju taman belakang. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Kenzo akan keluar dari rumah.


"Ayah," teriak Sela memanggil Kenzo.


Langkah Kenzo terhenti ketika mendengar suara seorang anak yang sekarang ini dia anggap sebagai anaknya sendiri. "Iya, Nak," jawab Kenzo lembut dengan berbalik menatap Sela sambil tersenyum.


Sela berlari menghampiri Kenzo. "Ayah mau kemana?" tanya Sela.


"Ayah harus pulang dulu, Nak. Ada sesuatu yang harus Ayah kerjakan," jawab Kenzo.


"Pulang?" beo Sela. Karena setahunya, Kenzo tinggal bersama di rumah Shasa.


Kenzo mengangguk sambil tersenyum. "Ayah harus pulang ke rumah dulu, Nak," jawab Kenzo lagi.


"Ayah tidak tinggal disini?" tanya Sela dengan wajah polosnya.


Sangat menggemaskan. Batin Kenzo yang merasa gemas sendiri dengan wajah imut dan manis Sela. "Ayah tidak tinggal disini, Nak. Tapi Ayah sering kesini," jawab Kenzo.


Sela mengangguk mengiyakan perkataan Kenzo. Anak itu nampak berpikir sebentar menatap Kenzo. "Boleh Cela ke lumah Ayah?" tanya Sela.


Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Tapi besok, ya Nak. Sekarang Ayah sedang ada pekerjaan," jawab Kenzo.


Sela mengangguk senang. Anak itu bahagia sekali karena dia akan ke rumah yang di tempati oleh Ayahnya besok.


"Besok Ayah akan jemput Sela pulang sekolah. Tapi sebelum itu, izin dulu sama orang tua Sela, ya," ucap Kenzo. Entah kenapa, hatinya begitu hangat dan senang jika sudah menyangkut mengenai anak ini.


"Oke Ayah," ucap Sela mengangkat harinya membentuk huruf O dan menunjukkannya kepada Kenzo.


Kenzo tersenyum senang dan mengusap lembut kepala Sela yang saat ini tidak tertutup kerudungnya. Karena anak itu dan Shasa membuka kerudung mereka saat akan bermain tadi. "Anak pintar," ucap Kenzo.


"Kalau begitu Ayah pulang dulu, Sayang," sambungnya pamit pada Sela.


"Ayah hati-hati di jalan, ya. Doa Sela selalu untuk Ayah," ucap Sela yang membuat Kenzo terdiam sebentar.


Semoga anakku bisa menerima kehadiranku sama seperti Sela. Batin Kenzo berharap akan kebahagiaannya.


Sela mensejajarkan tinggi badannya dengan bersimpuh didepan Sela.


Cup.


Satu kecupan mendarat di dahi Sela. "Ayah sangat menyayangi Sela," ucap Kenzo.


Sela mengangguk senang. Jadi begini rasanya dicium Ayah sendili, nyaman cekali. Batin Sela senang.


"Boleh Cela calim, Ayah?" pinta Kenzo.


Kenzo yang mengerti pertanyaan Sela mengangguk. Sela langsung menyalami tangan Kenzo dan mencuri satu kecupan di pipi Kenzo. Setelah itu dia berlari meninggalkan Kenzo yang hanya bisa menggeleng dengan senyum tampannya mendapat perlakuan istimewa dari anak kecil seperti Sela.


Sela kembali ke taman belakang dengan perasaan dan hati yang sangat berbunga. Sungguh, tidak ada hal lebih bahagia dari ini yang pernah Sela dapatkan.


Catu cita-cita Cela telcapai untuk calim dan mencium Ayah. Batin anak itu bersorak senang.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍