
🌹HAPPY READING🌹
"Bagaimanapun kamu memikirkannya, tapi ini adalah keputusannya sendiri, Dee," ucap Kevin ketika melihat Dee yang masih diam sejak eksekusi Sofia dilakukan.
Ya, mereka semua kini berada di depan ruang eksekusi. Sofia, wanita itu sudah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya sejak satu jam yang lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, namun tidak ada dia gara mereka yang nampak seperti orang menahan kantuk.
Sejak keluar dari ruang eksekusi, Dee hanya diam dengan badan yang masih sedikit bergetar. Wanita itu masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Wajah damai dan senyum Sofia untuk terakhir kali terlintas jelas dalam ingatannya.
"Cukup memikirkan nasib orang lain, Umi. Kita juga harus memikirkan hati dan diri sendiri kan," ucap Al mengusap lembut bahu Dee.
"Iya, Sayang. Dia yang meminta hukuman ini, jadi berhenti mengkhawatirkannya. Mungkin hidupnya di dunia sudah selesai, Sayang," ucap Ibra ikut menimpali.
Sedangkan Kenzo hanya diam. Dia masih terngiang perkataan Zahra tadi saat dia akan pergi. Titip salam untuk orang yang kamu temui, Mas. Perkataan Zahra itu terlintas begitu saja dipikiran Kenzo saat tadi dia minat Sofia yang sudah tak bernyawa.
"Hukuman mati ini rasanya tidak adil untuk Sofia, Mas," ucap Dee sendu.
"Kak Kevin," panggil Dee. Kaki wanita itu masih terasa lemas dan belum bertenaga.
Kevin beralih menatap Dee. Dee dapat melihat, ada pandangan terluka disana, tapi entah apa, yang pasti hanya Kevin yang tahu. Dee sungguh tidak menyangka, bahkan Kevin sanggup melihat Sofia di ekseskusi.
"Kak Kevin sayang Sofia kan? Dia istri Kakak. Kenapa Kakak tidak membantu meringankan hukumannya?" ucap Dee bertanya.
Kevin tertawa sumbang. "Dia yang meminta hukuman ini, Dee. Aku hanya memenuhi permintaan terakhirnya sebagai bentuk cintaku, pengabdian ku sebagai suaminya," jawab Kevin.
"Istri pasti akan mendengar bujukan suaminya, Kak," ucap Dee kekeuh.
"Jika dia mendengarkan, maka Sofia tidak akan berbuat sejahat ini, Dee. Dia menghancurkan mental dan melukai banyak orang," jawab Kevin.
Dee terdiam. Benar apa yang dikatakan Kevin, tapi semua ini tetap tidak masuk akal menurutnya.
"Tapi, apa Kak Kevin memaafkan Sofia? Meskipun tidak meringankan hukumannya, kita harus memaafkan, bukan?" tanya Dee lagi.
Kevin mengangguk. Urat matanya terasa sakit hingga air bening itu kembali membasahi matanya. "Tidak ada hak ku untuk tidak memaafkan, Dee. Allah saja maha memaafkan," jawab Kevin yakin.
Dee mengangguk. "Kak Kevin," panggil Dee lagi.
"Iya Dee," jawab Kevin menatap Dee.
"Terimakasih sudah kuat. Terimakasih atas semuanya, Kak," ucap Dee tulus.
Kevin mengangguk dan tersenyum. Setelah itu dia pergi meninggalkan mereka semua menuju mobilnya.
"Mas," panggil Dee pelan kepada Ibra.
"Iya Sayang," jawab Ibra mendongak menatap Dee.
"Kamu memaafkan almarhummah Sofia kan?" tanya Dee.
Ibra mengangguk. "Aku memaafkannya, Sayang. Tapi tidak melupakan semuanya. Karena menyakiti mental lebih berbahaya daripada melukai fisik, Sayang," ucap Ibra memandang lurus ke depan tanpa menatap Dee.
.....
Kenzo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumah sakit. Tapi sebelum itu, Kenzo menyempatkan untuk singgah ke restoran dua puluh empat jam untuk membeli makanan dan juga beberapa buah yang ada di restoran tersebut.
Pikiran Kenzo sejak tadi tertuju pada Zahra. Wanita yang saat ini dia yakini sedang tertidur di rumah sakit. Perkataan Zahra selalu terbayang dalam ingatannya.
Apa maksud perkataa**nmu, Sayang? Batin Kenzo bertanya-tanya.
Harusnya Kenzo memikirkan itu sejak tadi sebelum dia pergi dari rumah sakit. Harusnya dia paham atas apa yang dimaksudkan Zahra.
"Apa kamu tahu semuanya, Sayang?" gumam Kenzo sendiri. Entahlah, rasanya badan Kenzo meremang jika Zahra mengetahui semuanya.
"Titip salam pada orang yang kamu temui. Titip salam, titip salam pada orang yang kamu temui," gumam Kenzo mengulang-ngulanng perkataan Zahra.
"****!" umpat Kenzo keras memukul stir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia harus segera sampai di rumah sakit dan memastikan semuanya sendiri.
.....
Mobil Kenzo sampai di rumah sakit dengan waktu lima belas menit. Lelaki itu memarkirkan mobilnya dan segera berlari memasuki rumah sakit.
Ceklek.
Kenzo membuka pintu dan melihat Zahra yang tertidur dengan posisi menelungkup. Kenzo melihat tangan istrinya itu yang terus bergerak menggulir butir tasbih meski matanya tertutup rapat.
Kenzo berjalan perlahan mendekati ranjang Zahra. Tapi sebelumnya, dia meletakkan buah tangannya di meja dekat sofa.
Kenzo duduk di kursi sebelah ranjang. Dia melihat banyak Zahra yang basah disisi kanannya. Kamu menangis, Sayang. Batin Kenzo.
Kenzo mengusap lembut pipi Zahra yang terasa dingin dan sedikit lembab.
Zahra yang memang mudah terganggu dalam tidurnya membuka mata ketika merasakan tangan Kenzo menyentuh kulitnya.
"Mas," ucap Zahra dengan suara serak.
Kenzo tersenyum. "Aku bawa beberapa makanan," ucap Kenzo sambil menunjukkan apa yang tadi dia bawa lewat mata.
"Kamu menepati janji, Mas," ucap Zahra ikut tersenyum.
Kenzo terdiam mendengar penuturan Zahra. Menepati janji? Bahkan Kenzo baru paham akan apa yang dimaksudkan Zahra.
"Sayang?" tanya Kenzo menatap dalam Zahra.
Zahra merotasi kan matanya menatap mata Kenzo. "Kenapa, Mas?" tanya Zahra tenang.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Sayang. Sampaikanlah," ucap Kenzo sendu menatap Zahra.
"Pura-pura apa, Mas?" tanya Zahra masih tetap dengan ekspresi tenangnya.
"Kamu membuatku semakin lemah, Sayang. Jangan sekuat ini," ucap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.
Zahra terdiam. Apa Kenzo baru paham akan maksud perkataanya? Apa Kenzo paham akan kode yang dia berikan?
Air mata Zahra jatuh. Namun, bibirnya menampilkan senyum cantik untuk Kenzo. "Zahra adalah wanita kuat milik Kenzo," ucap Zahra.
"Maaf, aku tidak menyampaikan salam mu kepada Sofia," ucap Kenzo dengan nada bergetar dan menunduk dalam. Kenzo malu, sungguh dia malu menatap Zahra yang begitu kuat menerima segala kenyataanya. Dia mengetahui semua tentang dirinya, tapi wanita yang menjadi istrinya itu selalu menerima dengan lapang dada akan setiap permainan takdir kepadanya.
Zahra lagi-lagi tersenyum. "Itu hanya permintaan yang tidak harus kamu penuhi, Mas," ucap Zahra.
"Mas," panggil Zahra pelan.
Kenzo mengangkat kepalanya dan menatap Zahra. "Iya, Sayang," jawab Kenzo.
"Tolong urus pemakaman Bunda Sofia, ya. Zahra masih belum kuat untuk melakukannya," ucap Zahra sesak. Rasanya jantung Zahra sedang mengikuti lomba lari ketika mengucapkan hal tersebut.
Kenzo mengangguk. Tadi sebelum pergi, Kevin memang sudah meminta Polisi untuk mengantar jenazah Sofia ke rumahnya. Karena besok, mereka sendiri yang akan memakamkan jenazah Sofia. "Untuk sekarang, jenazah Sofia berada di rumah Ayah Kevin, Sayang. Di sana juga ada Al, Aska dan yang lainnya. Besok sebelum pukul sepuluh, Sofia akan dimakamkan," jawab Kenzo.
"Setelah pemakaman besok, bawa Ayah kesini, ya Mas. Zahra harus selalu ada untuk Ayah sekarang," ucap Zahra sendu.
Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan Zahra. "Kamu tidur lagi, ya. Besok pagi-pagi saat bangun, liat notifikasi pesan di hp mu dan buka, ya," ucap Kenzo.
"Memang ada apa, Mas?" tanya Zahra.
"Besok, Sayang," ucap Kenzo tersenyum.
Zahra mengangguk patuh. Dia kembali memejamkan mata walaupun sulit, namun dia harus memikirkan kesehatannya. Jika dia pulih lebih cepat, maka akan cepat dia kembali berkumpul bersama keluarganya.
Kenzo duduk dan tersenyum menatap Zahra. Tidak ada wanita yang lebih pantas untukku selain kamu, Sayang. Batin Kenzo menatap lekat wajah damai istrinya. Setelah itu, tangan Kenzo dengan lihai mengacak-ngacak ponselnya membuat sesuatu untuk sang istri.
......................
Waaahhhh, kira-kira Kenzo buat apa ya untuk Zahra? bagi kalian yang penasaran, boleh cek postingan di Ig aku, karena disana kalian akan tahu pesan apa yang dimaksudkan Kenzo.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏