
🌹HAPPY READING🌹
Besok adalah hari keberangkatan keluarga Kenzo ke Turki. Dan sebelum pergi, Kenzo benar-benar ingin memastikan terlebih dahulu kondisi kandungan istrinya agar lebih aman jika berpergian jauh.
Hari ini Kenzo sengaja meliburkan diri dari perusahaan karena ini membantu istri dan anaknya untuk mempersiapkan segala keperluan mereka. Untuk pekerjaan kantor sudah diserahkan kepada Arman untuk dua Minggu ke depan.
"Mas," panggil Zahra. Kini sepasang suami istri itu sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Iya sayang," jawab Kenzo yang masih fokus menyetir mobilnya.
"Apa tidak terlalu lama jika kita ke Turki untuk dua Minggu? Pekerjaan kamu pasti akan menumpuk, Mas," ucap Zahra tak enak.
"Itu sebentar untuk liburan, Sayang," jawab Kenzo.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Pekerjaan penting sudah aku kerjakan. Dan mengenai beberapa kerjasama yang akan dilakukan sudah ditangani oleh Arman. Jadi tidak akan ada masalah," ucap Kenzo cepat memotong perkataan Zahra.
"Padahal kan kita hanya akan melihat Ayah. Tidak perlu berlama-lama sebenarnya," jawab Zahra lagi.
Kenzo hanya tersenyum menanggapi perkataan Zahra. Jika nanti kamu sudah sampai disana, semoga kamu masih mau pulang bersama aku, Sayang. Batin Kenzo.
Jujur saja, dia takut akan apa yang mungkin terjadi. Takut jika Zahra menemukan kenyamanan lain bersama keluarganya, maka Zahra akan melupakan Kenzo. Takut jika kasih sayang keluarga Zahra lebih besar daripadanya, Kenzo takut Zahra akan berpaling. Tidak pantas menang jika cemburu dengan keluarga istri sendiri, tapi memang itulah yang dirasakan Kenzo saat ini. Dia takut, jika dulu Zahra pergi karena kesalahannya, maka dia takut nanti Zahra akan kembali pergi karena mendapat kebahagiaan lain selain dari dirinya.
Lima belas menit, mobil Kenzo sampai di rumah sakit. Mereka berdua turun mobil dan berjalan memasuki rumah sakit dengan saling bergandengan. Tepatnya Kenzo yang memeluk erat pinggang ramping sang istri.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra dan Kenzo ketika memasuki ruang pemeriksa kehamilan itu.
Sebelum pergi, Kenzo memang sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter. Jadi setelah datang, dia bisa langsung masuk tanpa harus menunggu antrian.
"Waalaikumsalam," jawab Dokter.
"Silahkan duduk Pak Kenzo dan Bu Zahra," lanjut Dokter sopan.
Kenzo menggeleng. "Kita langsung periksa saja, Dokter. Biar istri saya nggak susah bangun duduk bangun duduknya," ucap Kenzo yang tak mau Zahra kecapean.
"Jangan berlebihan, Mas," tegur Zahra sedikit malu.
Dokter yang mendengar perkataan Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa, Bu. Hal yang wajar jika sang suami memprioritaskan kenyamanan istrinya," ucap Dokter memahami.
"Iya maaf, Dokter," ucap Zahra tak enak.
Kenzo membantu Zahra berbaring di kasur singel itu dengan pelan. Dokter menyingkap sedikit baju Zahra pada bagian perut dan mengoleskan gel disana.
"Wah, bayinya berkembang dengan baik, Pak, Bu," ucap Dokter tersebut kagum.
Namun tak lama, dahi Dokter berkerut melihat hal.lain di layar monitor.
Zahra yang menyadari perubahan raut wajah Dokter tersebut langsung bertanya. "Kenapa Dokter?" ucap Zahra ikut khawatir.
Dokter tersebut diam. Tangannya terus menggerakkan alat diperut Zahra dengan mata tetap memandang layar monitor. Tidak beberapa lama, senyum terbit di wajah Dokter itu.
"Selamat, Pak, Bu. Kalian akan mendapatkan dua sekaligus," ucap Dokter memberikan kabar bahagia.
"Dua?" beo Kenzo.
Dokter mengangguk. "Posisi bayi yang sedikit tertutup oleh yang satunya membuat dia tidak begitu kelihatan. Sepertinya dia malu-malu untuk memperlihatkan diri. Anak kalian kembar," jawab Dokter.
"Alhamdulillah Ya Allah," senang Kenzo bersyukur atas segala kabar baik yang dia terima.
Kenzo dengan segala kesenangannya mengecup seluruh permukaan wajah Zahra yang masih terbaring di kasur. Sungguh, tidak ada hal yang lebih bahagia daripada ini menurut Kenzo.
Setelah selesai pemeriksaan, Zahra memperbaiki baju dan turun dari kasur dengan Kenzo yang senantiasa membantunya.
"Apa Ibu dan Bapak memiliki gen kembar?" tanya Dokter setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
Kenzo mengangguk. "Saya kembar, Bu. Dan anak saya yang pertama juga kembar," jawab Kenzo semangat.
"Wah, pantas sekali jika kali ini juga kembar. Tapi Pak, Bu, kandungan kembar yang dialami Bu Zahra kali ini yaitu kembar satu kantong, dimana keadaan ini sangat jarang terjadi. Itu juga yang membuat janin satunya sedikit tertutupi juga. Pada kehamilan seperti ini, janin yang dikandung akan identik, dan berbagi plasenta serta kantung ketuban, namun memiliki 2 tali pusat yang terpisah. Kondisi ini terbentuk karena 1 sel telur yang dibuahi 1 sel ****** namun terlambat membelah," ucap Dokter menjelaskan.
"Lalu Dokter?" tanya Zahra khawatir. Sedangkan Kenzo mencoba tenang agar bisa menangkan sang istri yang nampak cemas.
"Dibanding jenis kembar yang lain, kehamilan 1 kantung ini sangatlah berisiko Pak, Bu. Ada beberapa risiko kehamilan yang sering mengintai kehamilan seperti ini. Seperti janin terlilit tali pusar, twin to twin transfusion syndrome (TTTS), persalinan prematur, janin meninggal dalam kandungan (IUFD), bayi meninggal usai dilahirkan (stillbirth), dan sebagainya. Tapi semuanya kembali kepada Yang Maha Kuasa, Pak, Bu. Ini hanya kemungkinan saja. Tidak sedikit juga para Ibu berhasil melahirkan bayi kembarnya dengan selamat dalam keadaan yang seperti itu,"sambung Dokter menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik sampai untuk istri dan anak saya sampai saatnya lahiran nanti, Dokter," ucap Kenzo tegas.
Dokter mengangguk yakin. "Itu sudah menjadi tugas kami, Pak."
"Dokter, apa kandungan saya ini aman untuk berpergian jauh?" tanya Zahra.
Dokter mengangguk. "Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir. Setelah pemerikasaan yang saya lakukan, kandungan Bu Zahra semakin baik dan tumbuh dengan sehat. Saya harap Bu Zahra tetap menjaga kesehatan dan pola makannya. Karena saat ini, yang akan Bu Zahra beri nutrisi tidak hanya satu, tapi ada dua nyawa yang selalu bersama Bu Zahra," jawab Dokter menjelaskan.
Zahra mengangguk. "Saya akan ingat dan kerjakan nasehat Dokter," jawab Zahra senang.
"Dan satu lagi. Mood Ibu harus selalu dalam keadaan baik. Karena emosional ibu hamil sangat berpengaruh untuk sang anak. Jangan sampai ibu mengalami pikiran berat atau semacamnya. Apalagi stress berat," sambung Dokter.
"Saya pastikan istri saya tidak akan mengalami itu, Dokter," ucap Kenzo yakin.
Dokter mengangguk. "Saya yakin, Pak Kenzo akan menjaga istrinya."
"Apa vitamin yang pemeriksaan bulan kemarin masih ada?" tanya Dokter.
Zahra mengangguk. "Tinggal beberapa lagi, Dokter," jawab Zahra.
"Tetap gunakan resep itu untuk vitaminnya, Bu. Karena tidak ada lagi obat khusus yang perlu saya resep kan untuk kandungan Bu Zahra yang sudah normal."
"Baik Dokter."
"Kalau begitu kami pamit, Dokter," ucap Kenzo sambil membantu Zahra berdiri.
Dokter mengangguk.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏