Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 197



🌹HAPPY READING🌹


"Jika memang Kakak mengejar seorang wanita, maka lalui lah jalan yang sudah Allah tetapkan. Terkadang aib yang kita perlihatkan untuk mendapatkan ketulusan, adalah rahasia yang disembunyikan Allah untuk meninggikan derajat Kakak," sambung Zahra.


Kenzo dan Thomas terdiam mendengar penuturan Zahra. Zahra yang merasa suasana sedikit diam, tertawa garing. "Kata-kata Zahra bijaksana kan? Dan satu hal yang penting, Kak. Kakak tampan dan kaya, jadi setengah beban Kakak untuk mendapat pasangan sudah berkurang. Modal utama sudah kakak kantongi. Masa lalu? bisa dibicarain baik-baik kan?" lanjut Zahra dengan segala pengetahuannya mengenai wanita.


"Jarang wanita seperti itu, Zahra," jawab Thomas singkat.


"Jarang bukan berarti tidak ada, Kak," ucap Zahra yakin.


"Hanya laki-laki baik yang mendapat wanita seperti itu," ucap Thomas menatap jauh ke depan.


"Tidak semua lelaki baik mendapat perempuan baik, Kak. Kadang, perempuan baik diciptakan untuk menyempurnakan seorang lelaki yang tidak bersyukur karena kelebihannya sendiri. Dan satu hal yang pasti, Kak. Tidak ada manusia yang buruk, yang ada adalah manusia yang tidak bersyukur," ucap Zahra tegas pada Thomas.


"Dengerin istri gue," sahut Kenzo semangat.


"Lo cuma beruntung aja dapat Zahra. Coba kalau kedua mata Zahra dan mata hatinya benar-benar terbuka, maka dia nggak bakal mau sama lelaki brengsek kayak Lo," jawab Thomas peda.


"Mulut banci emang nggak pernah tinggal, ya!" ketus Kenzo kesal.


"Siap suruh Lo lawan banci!" jawab Thomas percaya diri.


"Jadi kak, siapa wanita yang sedang kakak kejar sekarang?" tanya Zahra penasaran. Intinya, ini lah yang sejak tadi ingin dia tanyakan.


Thomas menumpu kedua siku tangan dengan kedua lututnya. Matanya memandang lekat sepasang suami istri yang duduk di depannya itu. "Jika wanita itu kamu gimana, Zahra?" tanya Thomas lekat.


Zahra kelabakan. Kepalanya menjauh mencegah tatapan dalam Thomas.


BUGH


"Gue bunuh Lo!" ucap Kenzo meninju lengan Thomas dengan kepalan tangannya.


Thomas terkekeh pelan dan menggeleng. "Gue emang sempat kagum dengan Zahra saat bantuin Lo, Ken. Tapi hanya sebatas adik, tidak lebih. Jadi, berani sekali lagi Lo sakiti dia, Lo berurusan sama gue!" ucap Thomas tegas.


"Tanpa Lo bilang, gue nggak bakal nyakitin istri gue sendiri," jawab Kenzo nyolot.


"Ya mana tahu kan," ucap Thomas dengan sikap jahilnya.


"Sialan!" umpat Kenzo melempar kotak tissue yang sudah kosong kepada Thomas, namun tidak mengenainya.


Zahra yang mendengar perkataan Thomas langsung mengusap dadanya lega. Dia kira Thomas akan serius, ternyata hanya bercanda. Untunglah, jika tidak bisa dipastikan bayi besar yang duduk disebelahnya ini akan mengamuk.


Thomas yang berhasil mengerjai sahabatnya itu terkekeh pelan dan kembali melanjutkan mengobati lukanya.


Saat kegiatan mereka, Kina dan Aska datang dan langsung memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Kina dan Aska.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua yang ada disana.


"Udah bonyok aja wajah Lo," ucap Aska yang langsung duduk di sofa panjang berhadapan dengan Kenzo dan Zahra. Sedangkan Kina bersalaman dengan Zahra terlebih dahulu dan saling mengecup pipi kiri dan kanan mereka.


"Kak Thomas kenapa?" tanya Kina yang kini sudah duduk disebelah sang suami.


"Perjuangan," jawab Thomas sedikit meringis ketika tangannya tak sengaja menekan sedikit keras lebam di sudut bibirnya.


"Adek, bantuin Kakak buat minum, yuk," ajak Zahra yang langsung dianggukki Kina.


Setelah kepergian Zahra dan Kina, Kenzo dan Aska memandang serius Thomas.


"Ini pasti bukan hanya karena Lo jadi banci kan, Thom?" tanya Kenzo yang sudah curiga dari awal.


Aska mengangguk. Dia sudah tahu ceritanya karena tadi sempat diceritakan oleh Kenzo di telfon. "Setau gue, orang tua Lo udah tahu kepribadian Lo yang ini. Jadi pasti ada hal lain kan?" tanya Aska ikut penasaran.


Thomas menghela nafas pelan. Entah kenapa, untuk bercerita kepada dua orang yang sudah dia anggap sahabat ini terasa sangat berat. Dia merasa malu jika orang lain yang bukan keluarga mengetahui aibnya. "Bukan apa-apa," jawab Thomas singkat.


"Apapun itu, sahabat Lo nggak bakal pergi Thom," ucap Kenzo menatap lekat sahabatnya itu.


Thomas mengangguk. "Jika nanti gue nggak sanggup, gue pasti bakal cerita," jawab Thomas memasang bergantian Aska dan Kenzo.


Tidak mau memperbanyak pikiran sahabatnya, Kenzo dan Aska berbicara ringan dan bertanya mengenai pekerjaan mereka. Hingga ditengah perbincangan merek, dua gadis kecil yang tadi menjadi penyelamat Thomas datang menghampiri.


"Papa datang!" teriak Shasa senang. Anak itu langsung berlari kepangkuan Aska.


Shasa ikut duduk mendekat kepada Thomas. Kini, kedua gadis kecil itu duduk mengapit Thomas.


"Ada apa?" tanya Thomas heran.


"Uncle Thom, tadi waktu ke rumah Uncle Thom itu, kita punya rencana. Tapi belum sempat bilang karena Uncle Thom di pukul," jawab Sela.


"Rencana apa?" tanya Thomas.


"Bisnis," jawab Shasa cepat.


"Jadi begini Uncle Thom. Sela dan Shasa mau jual kambing sama Uncle Thom buat tambah uang liburan," ucap Sela menjelaskan.


Thomas yang mendengar penuturan kedua gadis itu menatap Aska dan Kenzo yang memalingkan wajah mereka.


"Ayah sama Papa kalian miskin?" tanya Thomas mengejek.


Dengan polosnya Sela dan Shasa mengangguk menjawab pertanyaan Thomas.


"Wah, sejak kapan Tuan Aska dan Tuan Kenzo menyuruh anaknya untuk minta-minta?" tanya Thomas lagi.


"Ih! Bukan minta-minta Uncle Thom, tapi bisnis. Kata Bunda, kita nggak boleh minta-minta, harus kerja dulu baru boleh dapat uang," jawab Sela kesal.


"Lagian kan kami jual kambing, bukan minta uang!" ucap Shasa menambahkan.


Thomas terkekeh pelan. Lukanya yang sedikit tertarik karena tertawa tiba-tiba sembuh karena mendengar ocehan kedua gadis kecil itu.


"Sela, Shasa," panggil Kenzo lembut.


"Iya Ayah."


"Iya Papi."


"Tadi kemana aja?" tanya Kenzo lagi.


"Pertama ke rumah Nenek sama Kakek. Kita dikasih ini," jawab Sela menunjukkan amplop coklat cukup tebal dari balik badannya.


Shasa mengangguk. "Iya Papi. Tapi tadi sebelum dapat, Shasa sama Sela juga jual kambing dulu dan dibelai sama Kakek. Tapi kambingnya tetap dikandang Kuta biar nggak ngotori kandang kuda Kakek," jawab Shasa.


"Kita juga bersihin kuda dulu baru dikasih uang," tambah Sela.


Aska dan Kenzo yang mendengarnya mengangguk.saja. Karena mereka tahu bagaimana Ibra dan Dee mengajarkan cucu-cucunya itu.


"Abis dari rumah Nenek?" tanya Aska.


"Ke rumah Daddy. Daddy juga beli kambingnya, sama kayak Kakek. Kambingnya di titip di kandang kita dulu. Soalnya dirumah Daddy kan nggak ada kandang. Tapi sebelum dikasih uang, kita disuruh jagain Adek Adam dulu," jawab Shasa.


"Daddy sama Mommy kemana?" tanya Thomas penasaran.


"Ke kamar, katanya mau main sebentar sama Mommy. Tapi lama banget, satu jam," jawab Sela polos dengan mengacungkan jari telunjuknya menunjukkan angka satu.


"Al mesum!" serentak ketiga lelaki dewasa itu berteriak ketika mendengar jawaban Sela. Lelaki itu benar-benar pandai memanfaatkan keadaan dan kedatangan Sela bersama Shasa ke rumahnya.


"Ih kaget!" reflek Sela dan Shasa memegang dadanya.


"Jadi gimana, Uncle Thom belikan kambing kita?" tanya Shasa.


Thomas tersenyum mengangguk. "Tapi dengan satu syarat," jawab Thomas.


"Apa-apa?" tanya kedua gadis itu tak sabaran.


Thomas memandang kedua sahabatnya dengan tatapan jahil. "Selama seminggu, Sela harus tidur sama Ayah dan bunda. Sedangkan Shasa, harus tidur sama Papa dan Mama. Gimana?"


"BIG NO!"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏