
🌹HAPPY READING🌹
"Ayah kayaknya cocok deh berteman dengan Dora," ucap Sela sambil berdiri.
"Kenapa?" tanya Kenzo bingung.
Anak itu berdiri dan menjawab. "Karena Ayah penyabar kayak monyet Dora," ujarnya lalu berlari menuju dapur meninggalkan Kenzo yang cengo dengan jawaban gadis itu.
"Maksudnya gue monyet gitu?"
"SELAAAAAAAA!" teriak Kenzo tak terima dan mengejar anak itu ke dapur.
"Sela kemari kamu," ucap Kenzo kesal mencari Sela yang sedang berlindung di balik tubuh Zahra.
"Haha, Ibu Ayah jahat," ucap Sela yang sudah ketar-ketir mencari persembunyian dibalik badan Zahra.
"Kenapa wajahnya kesal begitu, Mas?" tanya Zahra melihat Kenzo yang nampak sangat kusut.
"Masa aku dibilang monyet sama Sela, Sayang," rengek Kenzo mengadu pada Zahra yang sedang mengaduk susu untuk Sela, sedangkan kopi untuk Kenzo dan susu untuknya sudah ada di meja pantry.
"Dasar manja," cibir Sela pelan dari balik badan Zahra.
"Sela hanya bercanda, Mas," ucap Zahra membela anaknya.
"Kamu belain Sela, Sayang?" tanya Kenzo merajuk.
Sela melepaskan sendok di tangannya dan beralih mengusap pipi Kenzo. "Aku nggak bela Sela, Mas. Kan tadi suasananya lagi bercanda," jawab Sela.
Zahra sedikit menengok kan kepalanya kebelakang. Anak itu benar-benar menguji kesabaran Ayahnya. Lihatlah, bahkan sekarang dia mengejek Kenzo dengan menjulurkan lidahnya menggoda Kenzo.
"Sela keluar," ucap Zahra.
Dengan senang hati anak itu keluar dari persembunyiannya. Dia tidak takut sama sekali, kan dia hanya bercanda, jadi wajar-wajar saja.
"Hai Ayah," sapa anak itu riang dengan wajah polosnya seakan tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
"Dasar sok polos," cibir Kenzo yang masih kesal dengan anak itu.
"Nggak boleh mengumpat begitu, Ayah. Itu kerjaannya setan, iyakan Bunda," ucap Sela meminta persetujuan Zahra akan kata-katanya.
"Iya Nak," jawab Zahra.
"Kamu bilang Ayah setan?" tanya Kenzo lagi.
Sela berdecak pelan mendengar pertanyaan Ayahnya itu. "Aku cuma bilang kalau mengumpat itu tugasnya setan. Jadi Ayah jangan sambil tugas makhluk lain dong. Kan tugas Ayah hanya mencintai Bunda dan Sela," ucap Sela yang menerbitkan senyum di bibir Kenzo. Namun senyum itu kembali hilang karena sela kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi kalau Ayah merasa begitu, ya bagaimana lagi," ucapnya pelan dengan wajah tanpa dosa dan langsung melahap susu yang diberikan oleh Zahra.
"Mau tak hih anak ini," ucap Kenzo gemas sekaligus kesal.
"Hehe, bercanda Ayah tersayang," ucap Sela dan memeluk pinggang Kenzo.
Kenzo mengangkat tubuh Sela yang semakin berat. "Anak Ayah ini jahil sekali, ya. Anak siapa sih ini," ucap Kenzo menggelitik perut Zahra sehingga anak itu seperti cacing kepanasan dalam gendongan Kenzo.
"Haha geli, Ayah, haha, udah ayah, geli," ucap Sela tak mampu menahan dirinya. Namun dengan jahilnya, Kenzo malah semakin melanjutkan gelitikkannya.
Zahra yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil membawa gelas bekas susunya dan Sela yang sudah habis ke wastafel. Sudah biasa dengan sikap Ayah dan anak itu. Sebentar bertengkar, sebentar berbaikan, jika dekat selalu ribu, dan jauh malah saling menanyakan. Paket komplit memang.
Setelah selesai mencuci gelas, Zahra kembali ke ruang keluarga menyusup Kenzo dan Sela.
Kenzo masih terus menggelitik Sela yang ada di pangkuannya. Lelaki itu duduk di sofa dengan memangku Sela yang tak karuan. Bahkan wajah anak itu sudah memerah karena tertawa.
"Haha sudah, Ayah. Geli," ucap Sela memohon.
"Haha sudah Ayah. Nanti Sela pipis, haha," ucapnya lagi memohon pada Kenzo.
"Udah Mas. Nanti anaknya pipis kamu yang kena loh," ucap Zahra ikut duduk di sebelah Kenzo.
Sela yang ditanyapun mengangguk malu. Tawa Kenzo seketika pecah melihat jawaban anaknya. Ternyata anaknya ini bisa juga malu-malu.
"Mana pipisnya banyak banget lagi," ucap Kenzo mengangkat tubuh Sela hingga nampak lah celana bagian paha sampai lututnya yang ikutan basah.
"Lantainya juga tuh," ucap Zahra menunjuk lantai.
"Benar-benar bocor ya. Udah gede masih aja pipis, nggak malu sama adik diperut Bunda," ucap Kenzo mengecup seluruh wajah Sela.
"Udah nggak tahan, Ayah. Udah Sela bilangin berhenti, tapi Ayah masih gelitik juga," ucap anak itu yang nampak sudah sangat berkeringat karena tertawa.
"Biar aku bersihin dulu, Mas," ucap Zahra yang datang mengambil pel dan sapu.
"No! Biar aku yang bersihin. Kamu bantu Sela aja bersih-bersih, ya," ucap Kenzo melarang Zahra. Dua tidak mau Sela kelelahan karena ulahnya dan Sela.
Zahra mengangguk setuju. "Ayo nak, kita bersihin badan kamu," ucap Zahra menggandeng tangan Sela.
Sela mengangguk dan berjalan mengikuti Zahra. Anak itu berjalan dengan sedikit mengangkang karena merasa tidak nyaman dengan keadaan basah diarea bawahnya. Kenzo yang melihat tingkah anaknya itu menggeleng pelan. "Untung bukan anak orang lain," gumam Kenzo senang. Setelah itu dia melanjutkan kegiatannya membersihkan sisa pipis Sela.
.....
Kini Zahra dan Kenzo sudah berada di kamar mereka. Sela sudah tidur terlebih dahulu karena mengantuk. Anak itu juga kelelahan karena hal tadi. Dan Kenzo juga sudah mandi kembali karena merasa tak nyaman.
"Sayang," panggil Kenzo pelan. Seperti biasa, dua orang itu melakukan pillow talk terlebih dahulu sebelum tidur. Kenzo bersandar di kepala ranjang dengan Zahra yang ada di pelukannya.
"Kenapa Mas," jawab Zahra memainkan kancing kemeja piyama Kenzo.
"Tadi Ayah telfon, Sayang," ucap Kenzo berniat memberitahu.
"Kenapa Ayah malah telfon kamu bukan aku. Ayah kayaknya sering banget telfon ke kamu daripada ke aku," ucap Zahra menggerutu.
"Kamu nggak berpikiran kalau aku dan Ayah belokkan, Sayang?" tanya Kenzo.
Zahra mengabgkat bahunya. Kenzo yang melihat itu merasa gemes dan mengeratkan pelukannya. Sesekali dia mengecup singkat pucuk kepala Zahra
"Mungkin karena Ayah nggak mau ganggu waktu kamu, Sayang. Ayah kalau telpon aku juga kadang cuma buat nanya kabar kita semua," jawab Kenzo yang dianggukki Zahra.
"Tadi kamu mau bilang apa, Mas?" tanya Zahra.
"Tadi Ayah nanya, kapan kita kesana, Sayang," ucap Kenzo.
"Terus Mas jawab apa?" tanya Zahra.
"Tunggu kehamilan kamu kuat dulu, Sayang," jawab Kenzo.
Zahra mengangguk. "Lima hari lagi jadwal pemeriksaan, Mas. Kita ke Dokter sekaligus tanya ya," ucap Zahra.
Kenzo mengangguk. "Tapi satu hal, jika memang kandungan kamu tidak memungkinkan untuk kita melakukan perjalanan jauh, maka kita tidak akan pergi ke Turki," ucap Kenzo memperingati dari sekarang.
"Tapi Mas-"
"Demi anak kita, Sayang," potong Kenzo cepat. Kali ini dia akan tegas untuk anak dan juga istrinya.
"Baiklah," jawab Zahra tak bersemangat. Untuk kali ini dia akan menurut, karena apa yang Kenzo lakukan adalah untuk dia dan anaknya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏