
🌹HAPPY READING🌹
Zahra dan Sela berjalan menyusuri jalanan untuk pergi ke warung-warung menitipkan donat dan berbagai macam cemilan yang telah dia buat. Tangan mungil Sela digenggam erat oleh Zahra. Saling menggenggam dan mengayunkan tangan menikmati waktu kebersamaannya.
Mata Sela melirik kiri kanan melihat banyaknya orang yang berlalu lalang. Mata menggemaskan itu nampak memandang sendu sebuah pemandangan yang mampu membuatnya iri.
"Buna," panggil Sela lembut.
"Iya Nak," jawab Zahra menunduk menatap anaknya.
Sela memandang Zahra dengan pandangan tak bisa diartikan. Setelah itu anak itu kembali menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kenapa Nak?" tanya Zahra lembut menghentikan jalannya dan berjongkok di depan Sela. Zahra ikut memandang ke arah taman yang ada di tepi jalan.
"Sela mau main di Taman?" tanya Zahra ketika melihat anak-anak bermain di Taman.
Sela terus menunduk dan memainkan boneka yang selalu dia bawa. "Tidak Buna. Cela lebih cenang main dengan Anna," jawab Sela menyebut boneka lusuh yang selalu menjadi temannya bercerita. Dia ragu, jika dia bicara, maka dia akan melihat kesedihan di wajah Bundanya.
Sela mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Zahra. "Nanti kalau ada uang lebih, kita ke pacal malam ya, Buna," ucap Sela senang.
"Benar itu yang mau Sela katakan?" tanya Zahra.
Dengan yakin Sela mengangguk disertai senyum manisnya. "Nanti kalau ada rezeki, kita akan ke pasar malam dan bermain dengan sepuasnya," ucap Zahra.
"Telimakaci, Buna," ucap Sela senang.
"Apapun untuk bidadari kecil Bunda," ucap Zahra mengusap lembut pipi Sela. Zahra berdiri dan kembali berdiri di sebelah Sela. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju warung berikutnya.
Cela bica menahan dili buat tidak beltanya dimana Ayah, asal Buna tidak menangis lagi. Batin Sela sendu. Pemandangan Anak dan Ayah yang dia lihat di taman membuat dia ingin merasakan hal yang sama. Tapi setiap kali dia menanyakan Ayahnya, maka air mata Bundanya yang akan menjawab.
.....
Sedangkan di dalam mobilnya, Kenzo memandangi jalanan yang nampak ramai. Dari dalam mobil dia dapat melihat banyaknya orang-orang yang akan melaksanakan aktivitasnya.
Pandangan pria itu nampak sendu dengan mata yang sedikit berair. Tangan Kenzo mengusap sudut matanya yang sudah basah. Anakku pasti sudah besar sekarang. Batin Kenzo sendu.
Setiap hari selalu ada air mata yang menemani hari-harinya. Keyakinan akan keselamatan istri dan anaknya karena kejadian Banjir di Kota Tarim masih ada sampai saat ini. Tapi mengapa takdir tidak pernah mengiringi keyakinanku untuk mempertemukan kita, Sayang?" Batin Kenzo beralih menatap foto Zahra yang selalu ada di dompetnya.
"Kita sudah sampai, Pak," ucap Sopir yang membuyarkan lamunan Kenzo.
Kenzo mengangkat kepalanya dan mengangguk. Dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki perusahannya. Tidak ada sepatah katapun yang Kenzo ucapkan kepada Sopirnya. Dingin, Tegas, Diam, bekerja dan bekerja adalah sifat Kenzo setalah ditinggalkan Zahra. Senyum tampan itu seolah hilang dari wajahnya bersama dengan kepergian Zahra dari hidupnya.
"Selamat siang, Tuan," ucap Arman menyambut kedatangan Kenzo.
Kenzo berhenti dan mengangguk. "Apa jadwal saya, Arman?" tanya Kenzo.
Arman membacakan jadwal Arman yang begitu padat hingga sore. "Nanti pukul lima sore, kamu silahkan pulang. Saya akan menginap di kantor," ucap Kenzo setelah mendengar jadwalnya.
"Tapi Tuan-"
"Tidak ada bantahan, Arman!" ucap Kenzo tegas dan berlalu meninggalkan Arman untuk memasuki ruangannya.
Arman menghela nafas pelan. Meskipun Kenzo memintanya untuk pergi, tapi yang dilakukan Arman adalah tetap berada di Kantor tanpa sepengetahuan Kenzo. Ini semua dia lakukan atas perintah Anggara, Papa Kenzo. Dia takut jika Kenzo akan melakukan hal-hal yang diluar kendali.
.....
Waktu malam telah menjelang, Sela duduk di tepi jendela dengan kepala disandarkan di kayu jendela. Matanya menatap Bulan malam yang nampak sangat indah ditemani Bintang yang mengelilinginya.
Di sebelah kursi yang di duduki Sela ada sebuah kursi kecil yang diduduki oleh boneka kesayangannya.
"Anna," panggil Sela lembut seolah Boneka tersebut mendengar dan mengerti semua perkataanya.
"Kila-kila Ayah Cela tampan tidak?" ucap Sela.
Sela mengambil Boneka tersebut dan mendekatkan ke telinganya. Dia mengangguk seolah Anna berbicara sesuatu padanya. "Cela cetuju. Ayah Cela pasti tampan. Bunda cantik, Ayah tampak, makanya Cela cantik juga," ucap Sela pada Anna.
Sela kembali mendekatkan telinganya kepada Anna. "Anna memang teman telbaik Cela," ucap Sela dengan senyum manisnya kepada Anna.
Sela menghabiskan waktunya bermain dengan Sela. Pernah Sela mencoba untuk bermain dengan anak-anak lainnya di taman komplek, tapi tidak ada yang mau bermain dengan Sela. Mereka mengejek bahwa Sela tidak punya Ayah. Sela sedih, bahkan sangat sedih. Tapi dia menahan dan tidak mengatakan apapun pada Bundanya mengenai ini. Karena dia tahu, jika dia mengatakan semuanya, maka Bundanya akan ikut sedih.
Tanpa Sela sadari, Bu Sari melihat dan mendengar segala yang dilakukan dan dikatakan Sela dari pintu kamar kecil milik Sela.
"Sela belum tidur?" ucap Bu Sari memasuki kamar Sela.
Sela menoleh ke belakang dan menggeleng. "Nenek belum tidul?" ucap Sela bertanya balik pada Bu Sari.
"Cela tidul cendili aja, Nek," jawab Sela.
"Buna dimana, Nek?" tanya Sela lagi.
"Bunda lagi buat adonan donat, Nak," jawab Bu Sari. Sela membulatkan bibirnya membentuk huruf O dan mengangguk menanggapi jawaban Bu Sari.
"Em ... Nek," panggil Sela ragu.
Bu Sari bersimpuh di depan Sela untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan anak itu. "Kenapa Sayang?" tanya Bu Sari lembut.
Sela mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu kamarnya. Dia berjalan menuju pintu dan menutupnya. Setelah itu Sela kembali mendekati Bu Sari.
"Sela mau bicara sesuatu?" ucap Bu Sari yang melihat gelagat gugup sekaligus ragu di wajah Sela.
Sela mengangguk. "Apa cela boleh beltanya, Nek?" ucap Sela.
Bu Sari mengangguk dengan senyumnya. "Sangat boleh, Nak," ucap Bu Sari lembut.
"Boleh bawa Cela beltemu Ayah?" tanya Sela menatap mata Bu Sari dengan pandangan polosnya.
Jantung Bu Sari berdetak kencang mendengar pertanyaan yang lebih tepatnya seperti memohon akan hal ini.
"Tidak boleh ya, Nek?" ucap Sela melihat Bu Sari yang hanya diam.
"Kenapa tiba-tiba Sela bicara hal ini?" ucap Bu Sari.
"Cela hanya tidak bica menahan lindu untuk melihat wajah Ayah," jawab Sela dengan kepala menunduk.
"Nek, Apa Ayah macih di dunia atau di culga? Buna tidak pelnah menjawab kalau Cela beltanya tentang ini. Jika Ayah di culga, maka Cela akan memeluk Ayah lewat Doa, seperti Nenek memeluk Kakek," ucap Sela sendu.
Bu Sari tidak tahu harus bagaimana berbicara untuk saat ini. Dia tidak mau membuat Sela sedih, tapi dia juga tidak bisa mendahului hak Zahra untuk memberitahu kebenaran mengenai hal ini. Zahra yang lebih berhak dari pada dirinya.
"Sela," panggil suara dari arah pintu.
Sela menunduk dalam ketika mendengar suara Bundanya. Zahra yang melihat itu berjalan mendekati Sela dan Bu Sari.
"Ibu keluar dulu. Jangan marah padanya, Nak. Dia hanya menuntut haknya sebagai seorang anak," ucap Bu Sari memperingati Zahra.
Zahra mengangguk dengan pandangan yang tak lepas dari Sela.
Setelah Bu Sari keluar. Zahra membawa Sela untuk duduk di kasur. Sedangkan dia bersimpuh di lantai dengan kedua lutut sebagai tumpuannya.
"Lihat Bunda, Nak," ucap Zahra lembut.
Sela menggeleng. Dia takut menatap Bundanya yang dia kira akan memarahinya. "Bunda tidak marah, Sayang," ucap Zahra.
Sela yang mendengar perkataan Zahra mengangkat kepalanya pelan. Mata anak itu sudah berkaca-kaca menatap Bundanya. "Maaf, Buna," ucap Sela.
"Maaf untuk apa, Nak?" tanya Zahra.
"Maaf karena sudah menanyakan Ayah," cicit Sela pelan.
"Itu adalah hak Sela untuk bertanya," ucap Zahra dengan senyumnya.
"Kenapa tidak menanyakan langsung pada Bunda?" lanjut Zahra.
"Apa Buna akan menjawab pertanyaan Cela?" tanya Sela balik.
Zahra mengangguk menjawab pertanyaan Sela. "Buna akan menjawabnya. Tapi dengan ail mata, kan," ucap Sela dengan suara bergetar mengusap pipi Bundanya.
"Maafkan Bunda, ya Nak," ucap Zahra sendu.
Sela menggeleng. "Buna tidak calah. Mulut Cela yang nakal," ucap Sela memukul pelan bibirnya dengan sebelah tangannya diiringi dengan senyum anak itu. Seolah dia menghibur Bundanya dengan tingkah yang dia lakukan.
Zahra memeluk anaknya erat. Rasa syukur selalu dia ucapkan karena diberi anugrah terindah dalam hidupnya. Sela Arunika Kenzar, bidadari kecil yang menjadi alasannya untuk tetap bernafas.
Maafkan Bunda, Nak. Bunda hanya tidak mau kita kembali pada masa lalu. Kehidupan itu sangat menyakitkan jika Sela bertemu dengannya. Maafkan Bunda, Nak. Maaf jika trauma Bunda karena pernikahan yang menyakitkan itu membuat Zahra harus merasakan hidup Yatim seperti ini. Batin Zahra sendu.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya. Di part selanjutnya aku akan kasih visual Sela, Zahra dan Kenzo ya teman-teman.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍