Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 38



🌹HAPPY READING🌹


Kina meminta izin pada mereka semua untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. Karena posisinya yang paling dekat dengan telepon rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Kina mengangkat teleponnya.


Badan Kina menegang mendapat kabar tak baik dari salah satu orang suruhan Ibra yang berada di kota Tarim untuk selalu mengawasi Zahra.


Telepon itu terjatuh begitu saja dari tangan Kina. Badannya terhuyung ke belakang dan akan jatuh kalau Aska tidak sigap menangkap istrinya.


"Kenapa Sayang?" tanya Aska.


Mereka semua berdiri dan mendekati Kina yang sudah menangis tanpa alasan yang mereka ketahui.


"Adek kenapa, Nak?" tanya Dee khawatir.


"Kina kenapa, Nak?" tanya Ibra ikut khawatir.


"Hiks," hanya tangis yang keluar dari mulut Kina. Matanya memandang sendu mereka semua, termasuk Kenzo.


"Semuanya baik-baik saja kan, Nak?" tanya Sofia.


Kina menggeleng. "Hiks, Ko-kota Tarim, Umi, Bunda," ucap Kina dengan suara tangisnya.


"Tarim?" beo Kenzo yang tak mengerti apapun.


"Kenapa Nak? Adek tenang dulu baru ngomong, ya," ucap Dee menenangkan Kina.


Kina mengangguk patuh dan mengambil nafas dalam-dalam. Melepaskannya perlahan untuk menenangkan perasaanya.


"Kota Tarim terkena Banjir Bandang, Umi, Bunda, hiks," ucap Kina memberitahu mereka semua.


"Dan tempat tinggal Kak Zahra merupakan tempat yang paling parah terkena Banjir, hiks," lanjut Kina yang membuat mereka semua syok.


"Mas, Zahra," ucap Sofia tak percaya memeluk Kevin yang juga terdiam di tempatnya.


Dee menggeleng kuat menyakinkan diri bahwa Zahra pasti baik-baik saja.


"Katakan sebenarnya ini ada apa?" tanya Kenzo takut-takut. Dia takut apa yang akan dia dengar akan menghancurkan dunianya untuk yang ke dua kalinya.


"Ken," panggil Al lirih.


"Ada apa Al?" tanya Kenzo.


"Zahra ada di kota Tarim, Yaman, Ken," ucap Al memberitahu Kenzo.


Ketakutan itu akhirnya terjadi. Belum dia bertemu dengan istrinya, Kenzo harus mendapat kabar buruk seperti ini. "Ini semua bohong kan, Al? Zahra pasti baik-baik aja. Istri dan anak gue pasti baik-baik aja, Al," ucap Kenzo meyakinkan dirinya.


Kenzo beralih menatap Dee yang sudah menangis dalam pelukan Ibra. "Umi dan Bunda berjanji akan memberitahu Kenzo mengenai keberadaan Zahra, kan. Sekarang katakan kalau Zahra baik-baik saja kan, Umi? Zahra masih ada di negara ini kan, Umi?" tanya Kenzo pada Dee.


Dee hanya diam dan menatap Kenzo dengan mata yang penuh air mata. Melihat Dee yang hanya diam, Kenzo beralih kepada Sofia dan Kevin.


"Bunda, Ayah, Zahra masih di negara ini kan? Zahra tidak kemana-mana kan, Bunda, Ayah?" tanya Kenzo sendu.


Sofia hanya mampu menangis mendengar semuanya. Para lelaki harus tegar dan kuat untuk para wanita mereka. Jika mereka lemah dan ikut menangis, maka siapa yang akan memberi kekuatan.


Badan Kenzo terasa lemas, bahkan untuk menanggung berat tubuhnya sendiri, dia tidak sanggup. Seluruh sandinya terasa lunglai, tulangnya terasa tidak bertenaga.


"Aku mohon, kamu harus baik-baik saja, Zahra," gumam Kenzo pelan dengan wajah yang sudah basah karena air mata.


"Kita harus terus berdoa, Ken," ucap Al pelan.


"Bahkan gue belum bertemu dengan istri gue, Al. Anak gue bahkan belum lahir ke dunia, tapi sudah mendapat cobaan seperti ini bersama Zahra," ucap Kenzo sendu.


Sofia yang melihat Kenzo seperti itu semakin tak kuasa menahan tangisnya. Lelaki yang dulu menyiksa anaknya, kini nampak seperti seorang lelaki yang kehilangan arah hidupnya.


Kevin yang melihat itu mengeratkan pelukannya pada Sofia. "Sayang, kamu tenang, ya. Zahra pasti selamat. Kamu harus kuat buat anak-anak," ucap Kevin menenangkan Sofia.


"Kenapa harus Zahra terus?" tanya Sofia disela-sela tangisnya.


Dee yang melihat Sofia seperti itu, melepaskan diri dari pelukan Ibra dan berjalan mendekatinya. "Sofia," panggil Dee lembut.


"Zahra-" ucap Sofia tak sanggup melanjutkan perkataannya.


Dee mengangguk. "Zahra anak yang kuat. Dia wanita yang spesial dengan segala kekuatan dan keyakinannya kepada Pencipta. Kita harus yakin kalau Zahra pasti baik-baik saja," ucap Dee.


Sofia memeluk Dee dengan erat. "Zahra, Dee," ucap Sofia dengan tangisnya.


"Sekarang yang dibutuhkan Zahra adalah doa kita. Jika kita selalu begini, maka siapa yang akan mendoakan Zahra?" tanya Dee sambil mengusap lembut punggung Sofia.


Sofia mengangguk dalam pelukan Dee. Dia menatap Ibra dan memberi kode untuk segera mengurus semuanya.


Ibra mengangguk mengerti atas apa yang maksud Dee. "Kenzo, ikut Abi sama Ayah Kevin. Al dan Aska tolong jaga disini, ya," ucap Ibra pada Kenzo, Al dan Aska yang dianggukki mereka semua.


"Ayo Vin," ajak Ibra dan segera berjalan keluar rumah diikuti Kevin dan Kenzo untuk mencaritahu kebenaran mengenai informasi ini dan mengetahui keberadaan Zahra.


.....


"Tidak ada cara lain, kita harus kesana, Abi, Ayah," ucap Kenzo panik saat anak buah Ibra mengatakan bahwa rumah yang dihuni Zahra habis terendam banjir.


"Kalian! Kalian diminta Abi untuk menjaga Zahra dari jauh mengapa tidak sigap membantunya?" ucap Kenzo memarahi anak buah Ibra. Meskipun tidak memarahi secara langsung, tapi anak buah Ibra nampak sangat ketakutan. Mereka lalai dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Ibra. Anak buah Ibra berada di Yaman, mereka berkomunikasi lewat panggilan Video. Nampak semua raut wajah ketakutan pada anak buah Ibra.


"Kita semua khawatir, Kenzo. Tapi jaga emosimu," ucap Kevin mencoba meredakan emosi Kenzo.


"Tapi Zahra, Ayah," ucap Kenzo.


"Zahra juga anakku."


"Zahra juga anakku," jawab Kevin dan Ibra tegas.


Kenzo menghela nafas dalam dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Tolong jaga istri dan anak yang masih berada dalam rahim istriku, Tuhan. Batin Kenzo.


"Katakan bagaimana kalian bisa kecolongan?" tanya Ibra tegas. Dalam hal ini dia tidak bisa meluapkan segala emosinya seperti Kenzo. Dia harus tenang agar anak buahnya bisa menjelaskan dengan tenang dan jelas.


"Maaf, Tuan. Bencana terjadi pada saat subuh. Itu membuat kami kesulitan untuk memantau Nona Zahra. Apalagi tempat tinggal Nona Zahra sangat kuat akan adab. Jadi, kami hanya bisa memantau dan menjaga dari jauh. Tidak mungkin kami para lelaki menerobos masuk dan membuat Nona Zahra risih," ucap salah satu anak buah Ibra menjelaskan dengan tenang.


Ibra mengangguk mengerti, meskipun dalam hatinya sangat khawatir mengenai Zahra yang entah bagaimana kondisinya.


"Lalu bagaimana keadaan disana sekarang?" tanya Ibra ragu.


"Masyarakat sedang diungsikan, Tuan. Kami sudah mencari keberbagai tempat pengungsian. Tapi maaf, Tuan, kami tidak menemukan keberadaan Nona Zahra," ucap anak buah Ibra menunduk dalam menghindari tatapan maut Ibra.


"Pantau terus dan jangan pernah berhenti mencari keberadaan anakku. Aku akan segera kesana," ucap Ibra dan langsung memutus panggilannya.


"Aku ikut, Abi," ucap Kenzo yakin.


"Kita akan pergi, Ib. Zahra tanggung jawab kita," ucap Kevin sendu mengingat anak yang selama ini dia besarkan, selalu mendapatkan berbagai cobaan yang bahkan, tidak semua orang bisa menghadapinya.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz