
🌹HAPPY READING🌹
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Mata yang biasanya menatap tajam itu, kini memandang sendu langit malam yang dipenuhi cahaya bintang. Tanpa terasa, setitik air bening jatuh dari sudut mata Kenzo.
Setiap kata yang tadi di ucapkan Zahra berputar-putar dalam ingatannya. "Perlakuanku memang sangat keterlaluan, Zahra. Bahkan memang tidak termaafkan. Tapi setiap orang berhak atas kesempatan kedua, bukan?" gumam Kenzo sendu entah pada siapa. Berbicara pada angin malam melampiaskan segala sesak hatinya yang tak kunjung hilang.
"Aku menyesal, Zahra. Sangat menyesal," ucap Kenzo menunduk memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
Ucapan Zahra yang mengatakan bahwa mereka tidak akan kembali membuat hati Kenzo sakit bagaikan teriris sembilu. Tidak rela rasanya jika Zahra akan hidup dengan lelaki lain di kemudian hari. Membayangkannya saja bahkan sudah membuat Kenzo ingin mati rasanya.
Kenzo mencengkram kuat dadanya dan terduduk bersandar di besi balkon. Sudah enam tahun, namun penyesalan itu tidak pernah hilang dari dirinya. "Aku selalu memohon agar penyesalan ini tidak pernah hilang, Zahra. Agar aku tahu dan bisa merasakan bagaimana neraka yang dulu aku berikan padamu," gumam Kenzo.
Di pintu balkon, Kinzi menyaksikan dan mendengar apa yang dikatakan Kenzo. Ternyata benar perasaannya beberapa hari ini, kembarannya itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ken," panggil Kinzi lembut berjongkok di depan Kenzo.
Kenzo mengangkat kepalanya. Dia menatap Kinzi dengan mata memerah menahan tangis. "Aku sudah melarangmu untuk tidak datang kesini, Kinzi. Pulanglah," ucap Kenzo lemah menatap Kinzi.
Sejak penyesalan itu semakin dalam, Kenzo memang melarang seluruh keluarganya untuk datang ke rumah. Dia ingin orang yang menginjak kaki di rumah ini hanyalah dirinya dan Zahra. Tidak boleh ada orang lain. Bahkan kedua orang tuanya, dan juga keluarga Ibra tidak ada yang berani datang ke rumah Kenzo.
Kinzi menggeleng menjawab perkataan Kenzo. "Kali ini biarkan aku melanggar perintahmu, Ken," ucap Kinzi.
Kinzi duduk di sebelah Kenzo. Mereka berdua duduk di lantai ditemani bulan dan bintang malam.
"Apa Kakak iparku kembali, Ken?" tanya Kinzi lembut menatap Kenzo.
Kenzo menatap Kinzi dan mengangguk. "Bahkan wanitaku sekarang menjadi wanita dan Ibu sempurna, Kinzi," ucap Kenzo.
"Benarkah?" tanya Kinzi antusias.
Kenzo mengangguk, tapi wajah sendu itu tidak berubah sedikitpun dari wajah Kenzo. "Wanita sempurna itu membenciku, Kinzi," ucap Kenzo.
Kinzi menatap Ken. Tangannya terulur menggenggam erat tangan Kenzo. "Bisakah aku bertemu dengannya, Ken?" tanya Kinzi.
"Untuk apa?" jawab Kenzo dengan pertanyaan kembali.
"Semua hal yang terjadi antara kamu dan Zahra adalah karena aku, Ken. Dendam yang kamu tanam, ada karena aku. Andai saja aku bangun lebih cepat, mungkin cintamu tidak akan jadi korban untuk semua ini," ucap Kinzi sendu.
"Hatiku memang sakit saat itu ketika Al menolakku, Ken. Tapi Al meyakinkan ku dengan sangat baik bahwa ada orang baik yang akan menjadi jodohku kelak. Satu yang aku syukuri, jika aku memaksakan Al untuk hidup bersamaku dulu, maka kami tidak akan bahagia. Dan mungkin saja, aku akan menerima perlakuan yang sama seperti yang Zahra dapatkan," ucap Kinzi yang mampu membuat Kenzo langsung menatapnya lekat.
"Jika kau diperlakukan seperti itu, maka aku akan membalasnya, Kinzi," ucap Kenzo.
Kinzi mengangguk. "Tapi sayangnya Al tidak membalasmu, Ken," ucap Kinzi yang membungkam mulut Kenzo.
"Harusnya Al membunuh lelaki sepertimu. Aku juga wanita yang akan menjadi istri orang, Ken. Jangan sampai aku menerima karma atas segala tindakanmu pada Zahra," ucap Kinzi.
"Aku menyesal, Kinzi," ucap Kenzo.
Kinzi mengangguk. "Dan kau hanya menyesal?" ucap Kinzi tak percaya.
"Maksudmu?" tanya Kenzo dengan dahi berkerut bingung menatap Kinzi.
"Penyesalan tidak akan berguna jika tidak ada usaha, Ken. Pergi dan peluk malaikat kecilmu. Hati seorang Ibu akan luluh karena kasih tulus anak untuk orang tuanya Ken," ucap Kinzi.
"Dekati anakmu, ambil hatinya, setelah itu baru genggam hati ibu dari anakmu," lanjut Kinzi tersenyum menatap Kenzo. Berharap semangat yang dia berikan dapat mengobati sedikit sedih di hati kembarannya itu.
Ini semua terjadi karena aku, Ken. Aku akan membantu perjuanganmu. Batin Kinzi menatap Kenzo yang kini menampilkan senyum semangatnya.
Kenzo berdiri dan menghirup nafas dalam. "Aku harus pulang dan memeluk anakku, Kinzi," ucap Kenzo menyebut kata pulang yang dia tuju adalah rumah Zahra.
Kinzi mengangguk. "Jangan biarkan anakmu merasakan hidup sebagai yatim lagi, Ken. Sedangkan disini, dia mempunyai keluarga yang lengkap," ucap Kinzi ikut berdiri.
Kenzo mengangguk. Dia memeluk kembarannya itu dan mengucapkan terimakasih. "Terimakasih karena tidak membenciku, Kinzi," ucap Kenzo.
"Pergi dan peluk malaikat kecilmu," ucap Kinzi.
Kenzo mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dan segera pergi meninggalkan kamar.
"Raih bahagia, Ken," gumam Kinzi memandangi punggung Kenzo yang sudah menghilang dari balik pintu.
.....
"Sudah gelap," ucap Kenzo melihat lampu rumah Zahra yang sudah mati.
Kenzo melihat sekeliling rumah dan menemukan sebuah jendela yang masih terbuka. Kenzo berjalan mendekati jendela tersebut. Senyum semakin lebar di wajahnya ketika melihat kepala anaknya yang ada dibalik jendela tersebut tengah menengadah menatap bintang.
Kenzo bersembunyi sebentar di balik daun pintu jendela untuk bersembunyi. Senyum yang tadinya lebar itu, kini hilang ketika mendengar isakan kecil keluar dari mulut Sela.
Tidak ingin penasaran, Kenzo keluar dan berdiri tepat di depan jendela Sela. "Nak," panggil Kenzo lembut.
Sela yang sejak tadi menatap bintang mengalihkan pandangannya. Mata anak itu membulat sempurna melihat seorang lelaki yang selama ini selalu di la rindukan kehadirannya. "Ayah," ucap Sela senang.
Anak itu menghapus air matanya dan tersenyum kepada Kenzo. "Macuk Ayah," ucap Sela mundur agar Kenzo bisa melompat untuk masuk ke kamarnya dari jendela.
Kenzo mengangguk. Dia mulai memanjat jendela dan mendarat sempurna di lantai kamar Sela.
"Ayah," ucap Sela memeluk Kenzo erat.
"Kenapa belum tidur, Nak?" tanya Kenzo.
"Cela tunggu Ayah," jawab Sela.
Kenzo tersenyum. "Sekarang Ayah datang. Sela tidur, ya," ucap Kenzo.
Sela mengangguk. Anak itu menggiring Kenzo untuk untuk ikut ke ranjangnya.
Akhilnya bica tidul dipelukan Ayah. Batin Sela senang dengan senyum indah di bibirnya.
Kenzo yang melihat itu ikut senang. "Sela akan tidur seperti ini setiap malam, Nak. Sela mau?" tanya Kenzo.
Sela mengangguk senang. Tapi setelah itu wajahnya sendu mengingat sesuatu. "Tapi nanti Buna cedih," ucap Sela mengingat Zahra yang melarangnya bertemu Kenzo.
"Sela mau bantu Ayah tidak?" tanya Kenzo.
"Mau, Ayah," ucap Sela semangat.
"Jangan pernah bilang sama Bunda kalau Ayah datang setiap malam. Dan biarkan ini jadi rahasia kita berdua," ucap Kenzo.
Sela berpikir sebentar. Kata Buna bohong itu doca. Tapi Cela pelnah dengal, bohong untuk bahagia tidak apa-apa. Tapi mana yang benal, ya? Yacudahlah, Cela kan macih kecil, yang culuh bohong juga Ayah. Jadi, yang tanggung doca Ayah. Maafkan Cela Ya Allah. Batin Sela meyakinkan dirinya.
Sela mengangguk menatap Kenzo. "Ini jadi lahacia kita, Ayah," ucap Sela.
Kenzo tersenyum dan mengecup dahi Sela. "Besok, subuh sekali, Ayah akan pulang. Biar Bunda nggak tahu, dan Ayah akan jemput Sela untuk pergi sekolah, ya. Sela tunggu Ayah, ya," ucap Kenzo.
"Telus Buna?" tanya Sela.
"Itu akan jadi urusan Ayah," ucap Kenzo meyakinkan Sela.
Sela mengangguk. Anak itu semakin membenamkan tubuh mungilnya kedalam pelukan Kenzo. Kenzo mengusap lembut rambut Sela hingga anak itu benar-benar merasakan kenyamanan.
"Ayah," panggil Sela pelan karena sudah mengantuk.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
"Jika nanti Cela udah tidul, dan Ayah mau tahu catu lahacia, maka pelgi ke kamal Buna ya, Ayah," ucap Sela.
"Maksudnya Nak?" tanya Kenzo.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Sela, Kenzo menunduk dan melihat Sela yang sudah tidur dengan ibu jari yang berada di dalam mulutnya, sangat lucu sekali.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz, banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Maaf karena keterlambatan author update ya teman-teman, ada kendala yang membuat author tidak jadi update tadi pagi.