
🌹HAPPY READING🌹
Meskipun berada di lantai bawah tanah, tapi ruangan mereka terkesan sangat elit. Tidak kalah dengan ruang pimpinan pada umumnya. Ada akses tersendiri yang hanya diketahui oleh beberapa orang.
"Ada apa, Emre?" tanya Kevin begitu melihat kedatangan Emre.
"Zahra sudah mengetahui identitasnya," ucap Emre yang langsung mendapat pelototan tajam dari Kevin.
"Apa maksudmu, Emre?" tanya Kevin serius.
"Zahra sudah mengetahui identitasnya sebagai pewaris perusahaan ini, Vin," ucap Emre memperjelas maksud perkataanya.
"Jangan ngelantur," ucap Kevin tak percaya.
"Ngelantur apa?" tanya Emre dengan terbata karena tidak terlalu mengerti dengan apa yang Kevin ucapkan.
"Jangan ngomong sembarangan," ucap Kevin mengulang perkataanya dengan kata lain.
"Aku tidak bicara sembarangan, Vin. Barusan, Zahra menelpon ku," ucap Emre memberitahu Kevin.
"Ceritakan!" ucap Kevin tegas yang langsung dianggukki oleh Emre.
Maaf, Zahra. Ayahmu harus tahu semua ini untuk kepentingan dan kebaikanmu juga. Batin Emre memantapkan dirinya untuk menceritakan pada Kevin.
"Tadi saat aku istirahat diruangan, Zahra tiba-tiba menelpon ku. Ini adalah kali pertama kali menelpon ku setelah beberapa tahun. Aku kira dia akan lupa dengan keberadaan ku, ternyata tidak. Anakmu memang memiliki ingatan yang baik," ucap Emre.
"Intinya," ucap Kevin gregetan dengan Emre yang tidak mengatakan langsung ke inti pembicaraan mereka.
Emre menghela nafas pelan. "Zahra menelpon untuk meminta agar Türk Mücevher menjalin kerjasama dengan perusahaan suaminya, Dk Group dari Indonesia," ucap Emre menyebutkan inti pembicaraannya dengan Zahra.
"Lalu?" tanya Kevin lagi.
"Zahra sangat meminta ku untuk melakukan itu. Dia ingin perusahaan ini segera mengirimkan surat kerjanya dengan Perusahaan suaminya," ucap Emre.
"Tunggu dulu. Apa Zahra mengatakan padamu darimana dia mengetahui semua ini?" tanya Kevin.
Emre menggeleng. "Aku tidak banyak tanya. Yang pasti, aku senang Zahra mengetahui statusnya. Setidaknya, dia mengetahui jati dirinya yang sebenarnya," ucap Emre.
"Tapi itu bahaya untuk keselamatannya," ucap Kevin tak setuju karena khawatir dengan keselamatan Zahra.
"Kita ada untuk Zahra. Lagi pula, selama ini kita sudah melatih bodyguard pilihan untuk menjaga Zahra jika suatu saat nanti tiba waktunya untuk kita memberitahu Zahra dan mempublikasikannya. Ingat, Zahra tidak sendiri, Kevin," ucap Emre memperjelas.
Kevin terdiam. Benar juga dengan apa yang dikatakan Emre. Tapi yang menjadi pertanyaanya, darimana Zahra tahu semua ini?
Apa Kenzo menceritakan semuanya? Batin Kevin bertanya-tanya.
"Aku akan pastikan semua ini," gumam Kevin.
"Apa kita turuti permintaan Zahra?" tanya Emre.
"Kenap tidak? Tuan Putri meminta untuk pertama kalinya, maka ikutilah," ucap Kevin yang langsung disambut anggukkan dan senyum sumringah dari Emre.
"Aku akan segera mengurusnya," ucap Emre semangat.
Emre keluar dari ruangan Kevin untuk segera pergi keruangan nya mengurus kerjasama yang akan dia lakukan bersama DK Group.
Kevin masih duduk termenung di kursinya. Saat asik dengan pikirannya, ponsel laki-laki itu berdering. Kevin dapat melihat nama 'Si Tua Ibra' tertera di ponselnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menggeser layar ke tombol hijau.
"Assalamu'alaikum," ucap Kevin.
"Waalaikumsalam. Gue mau ngomong serius sama Lo," ucap Ibra tanpa basa-basi sedikitpun.
"Kenapa Lo sembunyiin semuanya sama gue?" tanya Ibra to the point.
"Apa?" tanya Kevin tak paham dengan maksud perkataan Ibra.
"Jangan sok nggak tahu dan sok bego, Bapak Kevin. Bego beneran tahu rasa Lo," ucap Ibra.
"Kenapa sih Lo? Bikin emosi gue?!" tanya Kevin ketus mendengar perkataan Ibra yang semakin tua semakin menyebalkan.
Terdengar tawa kecil dari Ibra diseberang sana. Sepertinya lelaki itu puas sekali sudah memancing emosi Kevin. "Tenang Vin. Becanda astaga. Jangan marah-marah terus Mas nya," ucap Ibra menggoda Kevin.
"Hem," balas Kevin malas dengan dehaman singkat.
"Apa hubungan Zahra dengan Türk Mücevher?" tanya Ibra serius yang mampu membuat Kevin menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar ke kursi kerjanya.
"Lo udah tahu?" tanya Kevin.
"Jadi bener?" tanya Ibra.
"Iya," jawab Kevin pelan.
Terdengar helaan nafas dari Ibra diseberang sana. "Dan Lo nggak ngasih tahu semua ini, Vin?" tanya Ibra sedikit kecewa. Sudah dari dulu dia menahan rasa kecewa ini. Tapi dia menyembunyikan dari Al dan Kenzo. Dia tidak ingin mengganggu pikiran anak dan menantunya hanya karena rasa kecewa yang dia dapatkan.
"Gue nggak bermaksud, Ib. Gue nunggu waktu yang tepat buat ngasih tahu semuanya," ucap Kevin.
"Sampai kapan? Andai gue nggak denger perbincangan Lo sama Kenzo di ruang Zahra waktu itu, mungkin selamanya gue nggak bakalan tahu. Bagaimanapun juga, Zahra anak gue, Vin," ucap Ibra pelan.
"Ib, gue-"
"Lo nggak percaya gue sampai Lo menyembunyikan semua ini sendiri selama bertahun-tahun, Vin? Lo nggak anggap gue saudara Lo? Sekuat apa Lo sampai tahan menahan semua ini sendiri?" tanya Ibra yang terdengar lirih di ponsel Kevin.
"Ib, Lo-"
"Gue nggak marah, Vin. Gue cuma sedikit mikir aja? Apa gue emang nggak guna sekarang sampai hal sebesar ini Lo sembunyiin dari gue? Gue cuma kecewa terhadap diri gue sendiri," lanjut Ibra memotong perkataan Kevin.
"Saat itu keadaannya nggak mungkin buat gue ngasih tahu Lo semuanya, Ib," ucap Kevin membantah semua yang Ibra katakan.
"Dan sampai sekarang masih nggak mungkin, Vin?" tanya Ibra cepat.
"Ib."
"Gue paham," ucap Ibra yang langsung menutup sambungan teleponnya.
"Gue harus ke Indonesia kalau begini ceritanya," gumam Kevin menghela nafas pelan. Dia tahu dia salah, memang sudah saatnya semua tahu mengenai identitas Zahra. Mengenai keselamatan Zahra, mereka semua akan ada di depan wanita itu.
Sedangkan di Indonesia, Ibra menatap jalanan ibu kota yang sangat padat dari dinding kaca besar yang ada di ruang pribadinya. Meskipun Ibra sudah pensiun, tapi dia masih memiliki ruang pribadi di perusahaanya itu.
Tangan Ibra terulur mengusap sedikit air mata yang membasahi sudut matanya. "Tua-tua cengeng," ucap Ibra dengan senyum getir di wajahnya.
Hatinya hanya sedikit iba karena hanya dirinya yang belum tahu mengenai semua ini. Dan dia adalah lelaki terkahir yang memastikan kebenaran mengenai identitas Zahra. "Aku ini masih Ayahnya juga," gumam Ibra lagi sambil menutup mata dan menghirup dalam udara untuk menyegarkan sedikit sesak yang ada di dadanya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏