
🌹HAPPY READING🌹
Sela terdiam sebentar dan menatap Zahra lekat. Anak itu menatap mata Zahra penuh harap. "Main ke lumah Ayah, Buna."
DEG
Zahra memandang Sela lekat, menatap mata yang memancarkan kebahagiaan itu. Nampak raut wajah gugup dari Zahra ketika mendengar jawaban Sela.
Zahra mencoba tersenyum dan mengusap lembut pipi Sela. "Besok jangan main ke rumah orang lagi, ya, Nak. Tidak enak sama keluarga mereka yang lain," ucap Zahra takut. Dia takut kehadiran Sela akan mengganggu ketenangan Kenzo dan yang lainnya.
Buna kenapa, Ya Allah? Batin Zahra sendu setelah mendengar jawaban Zahra. Mata anak itu nampak berkaca-kaca karena perkataan Zahra. Tanpa mengucap kata, Sela berlari memasuki rumah dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Zahra yang melihat itu menghela nafas berat. Tangannya terulur mengusap air bening di sudut matanya. "Maafkan, Bunda. Bunda hanya ingin kita bahagia, Nak," ucap Zahra sendu.
Zahra berdiri dan berjalan memasuki rumah. Sampai di ruang tamu, langkah Zahra terhenti melihat pintu kamar Sela yang tertutup rapat.
Air matanya kembali jatuh karena itu. "Tidak pernah anakku seperti ini," ucap Zahra dengan suara bergetar. Dalam kesehariannya, Sela tidak pernah menutup rapat pintu kamarnya, kecuali malam saat tidur. Sela akan membiarkan pintu terbuka, katanya agar sang Bunda selalu bisa melihat dirinya. Tapi sekarang, pintu itu tertutup rapat seperti tidak akan terbuka kembali.
Zahra berjalan mendekati kamar Sela. Langkahnya terhenti ketika mendengar isakan anaknya. Tanpa aba-aba, Zahra langsung membuka pintu kamar Sela yang memang tidak di kunci, tapi tertutup rapat.
"Sela," panggil Zahra.
Sela yang duduk di atas kasur dengan kepala terbenam di kedua lututnya menoleh. Anak itu memandang Zahra dengan mata sembabnya. Jilbabnya sudah terlepas dari kepalanya, namun seragam yang nampak kebesaran itu masih membalut tubuhnya.
Zahra duduk di tepi kasur menghadap Sela. "Apa Bunda menyakiti Sela?" tanya Zahra lembut.
Sela hanya menggeleng menjawab perkataan Bundanya. Tidak banyak yang bisa anak itu katakan. Berbicara yang sebenarnya, dia takut akan semakin dilarang oleh Bundanya. Jika tidak jujur, dadanya terasa sangat sesak sekali menahan semuanya.
"Nak," panggil Zahra sekali lagi dengan lembut.
Sela kembali menggeleng dan menghapus air matanya. Anak itu menegakkan badannya dan menatap Sela. "Cela mau cholat Ashal dulu, Buna," ucap Sela langsung pergi keluar kamar untuk mengambil wudhu di kamar mandi.
Zahra memandangi kepergian Sela dengan pandangan sendu. "Maafkan Bunda," ucap Zahra lagi. Hanya maaf yang bisa dia sampaikan untuk saat sekarang ini.
.....
Kenzo dengan senyum mengembangnya membawa mobil dengan Dee disebelahnya. "Semua ini benarkan, Kenzo? Jadi Sela adalah cucu Umi? Sela adalah anak kamu, Ken?" tanya Dee memastikan kabar apa yang dia dapatkan dari Kenzo.
Setelah dari kantornya tadi, Kenzo langsung pergi ke rumah Ibra dan beruntungnya sekali dia bertemu dengan Dee yang sedang menyiram tanamannya di teras depan. Dengan segera Kenzo menghampiri Dee dan menceritakan semuanya. Awal kecurigaannya mengenai jati diri Sela, lalu pekerjaan anak buahnya yang menemukan semua kebenaran ini.
Kenzo mengangguk mengiyakan pertanyaan Dee. "Kenzo tidak berani berbohong mengenai semua ini, Umi," ucap Kenzo.
Senyum mengembang di bibir Dee. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Zahra. Anak wanita yang sangat dia rindukan.
Pantas Sela bertanya mengenai foto Zahra. Dia sedang melihat Ibu Kandungnya sendiri. Apa anak itu sudah tahu semuanya? Tapi jika sudah, kenapa dia tidak memberitahu? Ada apa semua ini? Kenapa cucuku harus merasakan hal yang dirasakan anakku dulu? Kenapa masa lalu buruk selalu menghampiri? Jika ini takdirmu, Ya Allah, suatu saat berikan kebahagiaan lebih untuk Sela dan Zahra. Untuk anak dan cucuku. Batin Dee bertanya sendu. Lagi dan lagi, anak kecil dalam keluarganya harus dipaksa dewasa oleh takdir dan keadaan.
"Apa tidak sebaiknya kita beritahu yang lainnya, Umi? Terutama Bunda Sofia, Ayah dan Abi?" lanjut Kenzo bertanya menghentikan lamunan Dee.
Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan Dee. entar juga apa yang Dee katakan. Jika nanti Zahra menolak kedatangan mereka seperti yang pernah Dee katakan tadi siang, maka itu akan membuat semuanya tambah rumit.
Jangan heran mengapa Ibra bisa melepas Dee pergi tanpa dirinya. Itu karena Ibra yang sedang ada urusan bersama Al dan Aska untuk membahas pembukaan cabang baru perusahaan mereka, sedangkan Kina dan Bella di rumah.
Tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Kenzo sampai di depan gang rumah Zahra. "Disini Ken?" tanya Dee tak percaya melihat gang kecil tersebut.
Kenzo mengangguk dan tersenyum. "Iya Umi," jawab Kenzo.
Dee turun dari mobil dan memperhatikan sekelilingnya. Mengapa seperti ini, Zahra?" Batin Dee sendu. Rasanya tidak terbayang, anak seorang pengusaha terkaya, adik dari pengusaha muda sukses, istri dari seorang pengusaha muda sukses, dan anak dari seorang pengusaha tersukses di Turki hidup di tempat sepertu ini. Bukannya jijik, Dee merasa gagal menjadi Ibu sambung untuk Zahra. Dia hidup enak dengan kecukupan, sedangkan Zahra? Dee tidak tahu harus bicara apa.
"Ayo Umi," ajak Kenzo.
Dee mengangguk. Dee mengikuti langkah kaki Kenzo yang berjalan di depannya. Hingga beberapa menit, langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah kecil yang membuat hati Dee terasa sangat tercabik-cabik.
"Ken ..."
Kenzo mengangguk mengerti arti tatapan Dee. "Iya Umi," ucap Kenzo.
Kenzo mengambil nafas dalam dan mencoba mengurangi kegugupannya. Setelah sekian lama, akhirnya sekarang dia akan bertemu dengan wanita yang sudah sangat lama dia nanti kehadirannya.
Sama halnya dengan Kenzo, Dee tidak bisa membendung senyum di bibirnya. Meski mata itu tidak berhenti mengeluarkan air beningnya, namun bibirnya sangat menunjukkan bahwa dia sangat bahagia sekali. Pelukan dari Zahra yang sudah lama kosong itu akhirnya akan terisi mulai sekarang.
.....
Zahra yang saat ini masih berada di kamar Sela mengalihkan pandangan pada Sela yang tengah Sholat menghadap kiblat dengan posisi membelakanginya. .
Dengan sangat jelas, Zahra dapat melihat punggung anaknya yang bergetar. Apa permintaanku berlebihan? Tapi Sela belum tahu siapa Kak Ken sebenarnya. Apa aku begitu menyakiti anakku hingga dalam sholatnya dia menangis seperti itu? Batin Zahra memandangi sela.
Perhatian Zahra teralihkan ketika mendengar ketukan pintu dari luar. "Siapa yang bertamu?" gumam Zahra. Karena sangat jarang sekali orang datang ke rumah mereka.
"Apa mungkin orang panti?" tanya Zahra entah pada siapa. Karena biasanya, pada saat seperti ini, Bu Sari yang pulang dengan beberapa pekerja panti untuk membawa sisa bahan makanan.
"Perasaan tadi pintu nggak dikunci. Kenapa di ketuk segala sama Ibu?" lanjut Zahra bingung.
Tidak ingin penasaran, Zahra berdiri dan keluar dari kamar Sela. Tapi sebelum keluar, Zahra memandangi Sela yang sudah dalam posisi sujudnya. Setelah itu dia berjalan menuju pintu dan segera membukanya.
"Waalaikumsa-"
DEG
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍