
🌹HAPPY READING🌹
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Setelah kejadian yang begitu menguras air mata, Sela tertidur dipangkuan Dee di kamarnya. Kepolosan Sela membuat dia mengajukan banyak pertanyaan yang sangat sulit untuk Dee jawab. Anak ini benar-benar lebih dewasa dari umurnya.
Dee mengusap lembut sisa-sisa air mata yang ada di pipi Sela. "Kamu begitu luar biasa, Sayang. Kamu benar-benar mencontoh Tante dan Pamanmu," ucap Sela mengingat Al dan Kina saat kecil dulu.
"Satu penyesalan Nenek, Nak. Kenapa harus anak dan cucu Nenek yang menerima semuanya? Tapi kamu harus percaya, ya. Sebentar lagi akan ada takdir bahagia dalam hidup kamu dan Bunda," gumam Dee dengan terus mengusap lembut pipi dan rambut Sela.
.....
Sedangkan di luar kamar, Kenzo dan Zahra duduk berdua untuk membicarakan semuanya sesuai apa yang di minta oleh Dee. Zahra hanya bisa memandang lurus ke tembok rumahnya tanpa menoleh pada Kenzo sedikitpun.
Kenzo yang melihat itu semua hanya tersenyum sendu. "Apa kabar, Zahra?" tanya Kenzo membuka pembicaraan mereka.
Zahra mengangguk. "Seperti yang Kakak lihat, baik-baik saja," jawab Zahra lembut, namun terdengar sangat tegas untuk Kenzo.
Kenzo tersenyum dan ikut mengangguk. "Alhamdulillah," ucap Kenzo menjeda sedikit pembicaraannya. "Kamu tidak bertanya keadaanku, Zahra?" lanjut Kenzo.
Zahra menoleh sebentar, setelah itu kembali melihat ke depan. "Kamu baik tanpa kami," jawab Zahra.
Kenzo yang mendengar itu hanya bisa diam dan menatap dirinya sendiri. Dia terkekeh kecil mendengar jawaban Zahra. "Ya, tubuhku baik-baik saja," ucap Kenzo. Dia yakin, Zahra pasti tahu bagaimana keadaan hatinya saat ini. Bukan hanya luka, hati itu sudah hancur dengan segala penyesalan yang dia terima atas segala perbuatannya.
"Bagaimana keadaan Om Anggara dan Tante ?" ucap Zahra bertanya mengenai kedua orang tua Kenzo tanpa embel-embel Mama dan Papa.
Perasaan Kenzo sakit mendengar ucapan Zahra. Mulut yang dulu memanggil orang tuanya dengan sebutan Mama dan Papa seperti dirinya, kini memanggil kedua orang tuanya seperti orang asing.
"Mertua kamu baik-baik saja, Zahra," jawab Kenzo yang mampu membuat Zahra memandangnya dengan tatapan datarnya.
Zahra tersenyum kecut mendengar penuturan Kenzo. Mertua? Apa Kenzo tidak salah dengan pembicaraannya?
"Jangan membuat hubungan yang tidak ada, Kak Ken," jawab Zahra.
Kenzo menggeleng. "Selamanya mereka juga orang tua kamu, Zahra," ucap Kenzo.
Zahra hanya diam tanpa berniat membalas perkataan Kenzo. Jika diteruskan, maka pembicaraan ini akan mengungkit kembali luka yang hampir sembuh itu.
"Mengapa kembali masuk ke kehidupan kami, Kak Ken?" tanya Zahra sendu. Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, namun kedatangan Kenzo membuatnya kembali takut akan semuanya.
"Lalu kenapa tidak pulang, Zahra?" ucap Kenzo tanpa menjawab pertanyaan Zahra.
"Pulang? Tidak ada tempat untuk saya pulang," jawab Zahra.
Sakit! Sakit sekali rasanya mendengar Zahra menyebut dirinya dengan kata saya. Wanita lembut yang selalu memanggil dirinya dengan panggilan manja 'Ara' itu kini menjadi wanita tegas dengan segala keteguhan hatinya.
"Mungkin aku tidak akan bisa kamu jadikan alasan untuk pulang, Zahra. Tapi setidaknya demi keluarga yang selama ini menyayangimu," jawab Kenzo.
Zahra mengangguk. "Keluarga akan selalu di hati saya. Tidak ada satu dari mereka yang namanya terlewatkan dalam doa saya," jawab Zahra memandang lekat Kenzo.
Apa ada aku dalam doa itu, Zahra? Batin Kenzo dengan segala harapannya.
"Hanya keluarga saya!" ucap Zahra kembali menegaskan ucapannya. Seolah dia bisa mengetahui arti dari balasan tatapan yang diberikan oleh Kenzo.
"Jika tidak ada lagi, silahkan pergi," ucap Zahra menunjuk pintu rumahnya.
"Ayo kembali, istriku," ucap Kenzo sendu memandang Zahra dalam.
DEG
Zahra mematung mendengar perkataan Kenzo. Dia menoleh menatap Kenzo. Mata yang dulu memandangnya dengan penuh kebencian itu, kini menatapnya dengan penuh cairan bening nan sangat ketara jika dia sedang memohon kepada Zahra.
"Maaf, tidak ada tempat untuk saya kembali. Saya hanya seroang janda yang ditinggal setelah direnggut kesucian oleh suaminya sendiri," jawab Zahra yang mampu menabur garam dan air asam di luka hati Kenzo. Perih sekali bagi Kenzo mengingat bagaimana dia dengan lihainya membohongi Zahra. Setelah kenikmatan itu dia dapatkan, dia malah memberikan surat yang sangat menyakitkan untuk Zahra.
"Ada alasan untuk semua itu, Zahra," jawab Kenzo.
"Alasan? Apa? Dendam?" ucap Zahra bertubi-tubi.
Zahra menggeleng. "Ya, semuanya pasti beralasan. Apa dendam itu sudah terbalas?" lanjut Zahra bertanya menatap Kenzo sendu.
Kenzo menggeleng. "Maaf, Zahra," ucap Kenzo mengangkat kedua tangan di depan dadanya memohon kepada Zahra.
"Saya selalu memaafkan. Bahkan menjadi murahan untuk suami sendiripun sudah saya coba dulu. Namun, semua itu sia-sia. Bahkan saya juga pernah menyaksikan suami saya bertukar saliva dengan sangat nikmatnya kepada wanita lain. Tapi memaafkan bukan untuk melupakan, Saya memaafkan hanya untuk mendapat ketenangan. Mencoba memanjakan hati saya agar tidak terlalu sakit. Hati saya sudah terlalu letih menerima semuanya," jawab Zahra.
"Demi Sela," ucap Kenzo membawa nama Sela.
Zahra tersenyum sendu. "Dia hanya anak saya," jawab Zahra.
"Tapi dia tidak akan ada tanpa aku, Zahra," jawab Kenzo kesal mendengar jawaban Zahra.
Zahra memandang Kenzo. "Bukan, dia hanya anak saya. Karena dulu, Ayahnya pernah mengatakan bahwa dia tidak sudi dan tidak akan pernah menerima anak yang lahir dari seorang wanita tidak sempurna seperti saya," ucap Zahra sendu memandang Kenzo dengan lekat.
Kenzo menggeleng sendu. "Bukan begitu, Zahra. Jangan egois hanya karena masa lalu," ucap Kenzo.
"Tapi masa lalu itu yang membuat saya seperti ini," jawab Zahra cepat.
"Apa semuanya begitu menyakitkan, Zahra?" tanya Kenzo dengan mata berkaca-kaca.
Zahra terkekeh pelan mendengar pertanyaan Kenzo. Tidak bisakah Kenzo berpikir apa yang Zahra rasakan dulu?
"Sangat sakit sekali. Wanita lumpuh yang dipaksa untuk berjalan dengan pahanya. Membersihkan rumah dengan pakaian yang melekat di badannya, merangkak di tanah halaman rumah, kesakitan mana yang masih perlu dipertanyakan?" jawab Zahra.
Kenzo hanya diam mendengar penuturan Zahra. Seperti ini rasanya jika diperlakukan asing oleh orang yang kita cintai. Inilah yang dulu Zahra rasakan ketika dia dengan kejamnya menyiksa Zahra yang merupakan istrinya sendiri.
"Boleh aku minta satu hal, Zahra?" ucap Kenzo sendu.
Zahra hanya diam menunggu Kenzo melanjutkan perkataannya.
"Jangan pernah menikah lagi jika bukan dengan ku, Zahra."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz, banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘