
🌹HAPPY READING🌹
Sela keluar dari UGD dengan wajah yang dia buat seceria mungkin. Sebelum keluar dari UGD, Sela menghapus wajahnya yang basah karena air mata terlebih dahulu. Anak itu mencoba untuk tersenyum keluar dari UGD.
"Sela," ucap Zahra yang langsung bangun dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Zahra di depan pintu UGD.
"Ayah bagaimana, Nak?" tanya Zahra menangkup kedua pipi anaknya.
Sela tersenyum dan menghapus jejak air mata di pipi Zahra. "Ayah baik-baik caja, Buna. Cekalang Ayah
cedang tidul. Ayah bilang, Ayah lelah, nanti akan bangun lagi," ucap Sela bohong.
Maafkan Cela Ya Allah, Cela hanya tidak mau Buna cedih. Batin Sela memohon ampun kepada penciptanya.
Zahra menatap dalam kedua mata Sela. Ada kegelisahan dalam matamu, Nak. Batin Zahra.
Zahra tersenyum dan mengangguk. Zahra tahu, Sela berbohong untuk menghibur dirinya. "Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Ayah, ya, Nak," ucap Zahra.
Sela mengangguk. Tanpa aba-aba anak itu langsung memeluk erat Zahra dan menangis disana. Pikiran mengenai keadaan Ayahnya yang tadi kejang-kejang selalu terbayang dibenaknya. Celamatkan Ayah Cela, Ya Allah. Batin Sela berdoa dengan harapan untuk kesembuhan Kenzo.
.....
Kenzo sudah di pindah ke ruang perawatan. Tentu saja ruangan pribadi tempat keluarga Hebi dirawat. Semua fasilitas lengkap ada disana. Bahkan di ruang rawat Kenzo terdapat beberapa kamar untuk anggota keluarga yang ingin menginap.
Hanya ada keheningan disana. Zahra selalu setia menemani Kenzo yang masih setia memejamkan matanya. Sedangkan yang lain diminta Zahra kembali pulang, dia ingin menghabiskan waktu bersama Kenzo dan Sela malam ini. Zahra juga ingin keluarga yang lain untuk beristirahat. Zahra dan Sela sudah berganti pakaian. Zahra juga nampak lebih cerah saat ini. Noda darah di tubuh dan pakaiannya juga sudah tidak ada.
Zahra memandang kesamping Kenzo. Di sana ada Sela yang setia tidur sambil memeluk sang Ayah. Senyum cantik terbit di wajah Zahra. "Lihat anak kamu, Kak. Dia begitu posessive dengan Ayahnya," gumam Zahra melihat tangan mungil Zahra melingkar erat di pinggang Kenzo.
"Andai aku tidak egois, andai aku tidak terlalu lama larut dalam masa lalu, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Zahra sendu beralih menatap Kenzo. Hati Zahra terasa sakit melihat perban yang membalut perut Kenzo serta lengan bagian kanannya. "Cepat bangun, ya, Ayah dari anak Zahra. Cepat sembuh, ya," ucap Zahra lirih mengusap pelan dahi Kenzo. Setelah itu dia merebahkan kepalanya di kasur Kenzo dan memejamkan mata. Menyusul Sela dan Kenzo memasuki dunia mimpi.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul dua malam. Namun di kediaman Kenzo, masih ada Ibra, Al, Aska, Anggara dan Tamara yang berunding duduk di ruang keluarga.
"Rencana gila ini membawa petaka," ucap Anggara menghela nafas kasar. Ya, Anggara memang sudah mengetahui semuanya dari Al dan Ibra. Awalnya Anggara marah, tapi atas segala penjelasan Al dan Ibra, Anggara bisa memahami semuanya. Sungguh, Kenzo benar-benar membuktikan cintanya pada Zahra kali ini.
Ada satu keajaiban yang terjadi malam ini. Thomas, atau yang lebih kita kenal sebagai Tamara sudah berpakaian layaknya laki-laki saat ini. Siapa sangka, Tamar nampak sangat tampan jika menjadi dirinya sendiri.
Thomas duduk dengan gagahnya di sofa. Pikirannya nampak berkelana pada kejadian beberapa waktu lalu. Insiden yang hampir saja melayangkan nyawanya jika Kenzo tidak mendorongnya. Tuhan masih baik, ngasih gue waktu untuk bertaubat. Batin Thomas bersyukur.
Al yang duduk di depan Thomas tidak hentinya memandang sahabatnya itu. Thomas yang menyadari pandangan Al padanya merasa risih sendiri. "Kenapa Lo?" tanya Thomas menatap Al.
Al menggeleng dan tersenyum. "Lo lebih gagah dari yang gue bayangin, Thom," ucap Al yang dianggukki oleh, Ibra, Aska dan Anggara.
Thomas mendengus kesal mendengar perkataan Al. Bisa-bisanya disaat seperti ini, Al malah mengejek dirinya. "Baru tahu Lo, kalau gue ganteng?" ucap Thomas percaya diri.
Al mengangguk. "Lo emang ganteng, tapi setelah gue," ucap Al yang mengundang tawa Ibra, Anggara dan Aska. Sedangkan Thomas mendelik mendengar perkataan Al. Thomas ganteng, Al juga ganteng, mereka sama-sama ganteng dan memiliki aura yang berbeda-beda.
"Melihat rumah tangga Kenzo, saya jadi berpikir dua kali, Om," ucap Thomas jujur.
"Apa maksud kamu?" tanya Anggara terkekeh mendengar jawaban Thomas.
"Ya, melihat rumah tangga Kenzo, saya jadi pikir dua kali untuk menikah. Tapi karena kejadian tadi, saya tidak perlu berpikir untuk jadi diri sendiri, Om," jawab Thomas yakin.
"Good answer, Baby," ucap Al mencolek dagu Thomas.
"Jijik," ucap Thomas mendelik menatap Al. Temannya yang satu ini benar-benar jahil sekali. Berbeda sekali jika sedang menjadi seroang CEO di perusahaannya, Al akan sangat dingin dan tegas.
"Kamu boleh berpikir dua kali, Thomas. Tapi jangan sampai mengatakan tidak, karena itu menyempurnakan agama kamu," ucap Ibra menasehati Thomas.
"Pasti, Om. Dan saya tidak akan mengulang kesalahan Om dan Kenzo," jawab Thomas dibarengi gelak tawa dari Al. Padahal Kenzo sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit, tapi Thomas tetap saja menyebutnya. Mungkin Kenzo sedang ter-batuk dalam mimpinya saat ini.
Thomas benar-benar membuat Ibra kesal. Padahal dia menceritakan masa lalunya pada Thomas hanya untuk sebuah pelajaran, tapi anak itu malah menjadikannya sebuah ejekan. "Dasar tidak tahu diri," ucap Ibra ketus.
"Damai, Om," ucap Thomas mengangkat kedua tangannya dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk V.
"Apa semua ini ada unsur kesengajaan?" tanya Anggara berubah serius menanyakan mengenai kecelakaan yang terjadi.
"Ini Om," ucap Aska memberikan sebuah pengikat besi yang sudah tak berfungsi.
"Apa ini?" tanya Aska.
"Al dan Aska menemukan itu tadi saat kami memeriksa semua yang berhubungan dengan lampu, Om. Karena lampu sebesar itu, tidak mungkin dipasang dengan sembarangan. Dan itu, kita bisa lihat besi itu sangat tebal dan besar. Pasti ada seseorang yang sengaja melakukannya, Om," ucap Al.
"Disengaja? Siapa?" tanya Anggara berpikir. Setahunya, Kenzo tidak memiliki musuh dalam bisnis.
"Jika tidak ada dari luar, berarti orang terdekat, Om. Karena, orang terdekat berpotensi paling besar dalam menjadi duri dan penghancur," ucap Al memandang Aska dan Thomas yang juga tengah menatapnya.
(Lampu yang membuat Ayah Kenzo harus terbaring lemah di rumah sakit)
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku, silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗