
🌹HAPPY READING🌹
Malam telah menyingsing. Tugas matahari kini digantikan oleh Bulan untuk menyinari Bumi. Keluarga kecil Kenzo kini sedang menikmati makan malam bersama. Di sana, juga tampak Kevin yang datang atas permintaan Zahra. Lelaki itu datang dengan membawa banyak mainan untuk cucu tersayangnya.
"Kwakek, hwabish ini itha ain ya," ucap Sela dengan mulut penuh dengan nasi dan ayamnya.
"Makan dulu, Nak, baru bicara," ucap Zahra menasehati Sela yang langsung dianggukki oleh anak itu. Jika Bundanya yang menasehati, itu pasti untuk kebaikannya. Tapi jika Ayahnya, maka dia pastikan itu sebuah jebakan untuk menjahilinya. Kecuali dalam waktu yang cukup tegang, maka Ayahnya itu akan berubah menjadi lelaki tegas.
"Aaaaarrrhhhggg," sendawa besar itu keluar dari mulut mungil Sela setelah dia menghabiskan makan malamnya.
"Uuuppss," anak itu reflek menutup mulutnya saat semua mata kini tertuju padanya. Terutama dengan sang Bunda yang sudah menatapnya tajam. Dua tahu, kali ini perbuatannya sangat tidak sopan.
"Hehe, maaf Buna. Mulut Celanya kelepasan," ucap Sela menyesal.
"Lain kali nggak baik, Nak. Orang-orang akan marah atau jijik mendengarnya nanti. Di depan orang lain jangan coba-coba, ya. Apalagi jika ada orang yang masih makan, bisa menghilangkan ***** makan seseorang, Nak. Dan itu bisa membuat orang bernilai buruk tentang kita. Jangan diulangi, ya," ucap Zahra lembut menasehati Sela.
"Ciap, Buna," ucap Sela dengan gaya hormat mengiyakan nasehat Zahra.
.....
Kini mereka semua sudah berada di ruang keluarga. Saling bertukar cerita dan bercengkrama.
"Zahra, dua hari lagi Ayah kembali ke Turki, Nak?" ucap Kevin yang mengalihkan fokus Zahra dari televisi.
"Ayah yakin mau kembali ke Turki?" tanya Zahra memandang Kevin memohon agar Ayahnya itu tidak pergi.
"Jika Ayah tidak pergi, siapa yang mengurus perusahaan disana, Nak?" tanya Kevin yang membuat Zahra menghela nafas pelan.
Ya, niat kedatangan Kevin memang untuk memberitahu kepergiannya ke Turki dua hari lagi. Pekerjaan disana tidak bisa ditinggalkan terlalu lama dan menuntutnya untuk segera kembali.
"Ayah, tinggal disini bareng Zahra, ya," minta Zahra dengan nada me mohonnya.
Kevin menggeleng. "Perusahaan butuh ayah, Nak," jawab Kevin.
"Ayah tidak mau tinggal bareng sama Zahra?" tanya Zahra lagi. Saat ini, wanita itu merengek bagaikan anak kecil yang menahan kepergian orang tuanya.
Kevin tersenyum dan menggeleng. Lucu sekali ketika melihat Zahra yang merengek seperti ini. Mengingatkan Kevin akan Zahra masa kecil yang sangat cengeng dan juga ceria dalam waktu bersamaan.
"Ayah tidak bisa, Nak. Perusahaan tidak bisa ditinggal lebih lama lagi. Sudah terlalu lama Ayah disini, ada tanggung jawab yang harus Ayah selesaikan disana," ucap Kevin.
"Ayah jahat! Nggak mau nurutin Zahra!" pekik Zahra tertahan dan langsung berdiri meninggalkan mereka semua dan berjalan menuju kamarnya.
Semua orang disana tentu terkejut dengan sikap wanita ini. Wanita yang biasanya lembut dan penuh pengertian ini kini nampak merajuk.
"Apakah itu Buna Cela, Ayah?" tanya Sela mengerjap polos menatap kepergian Zahra.
"Kalau bukan Bunda, siapa lagi, Nak," jawab Kenzo mencubit hidung mungil anaknya.
"Wah, Cela nggak nyangka Buna bica ngambek. Iyakan, Nek?" ucap Sela takjub dan kini bertanya pada Bu Sari.
Bu Sari ikut mengangguk. "Tidak biasanya Zahra seperti itu," ucap Bu Sari ikut menimpali.
"Ini pertama kali lho, Cela liat Buna cepelti itu," lanjut gadis kecil itu.
Kevin dan Kenzo menghela nafas pelan. "Biar Ken yang bicara dengan Zahra, Ayah. Dia hanya belum siap.jika Ayah pergi lagi. Percayalah, nanti Zahra pasti akan kembali baik lagi," ucap Kenzo meyakinkan Kevin.
Kevin mengangguk. "Ayah percaya padamu, Ken," jawab Kevin.
Kenzo mengangguk. "Ken susul Zahra dulu, Ayah," ucap Ken berdiri dari duduknya.
"Pergilah, beri istrimu pengertian," jawab Kevin yang langsung dianggukki oleh Kenzo.
.....
Kenzo membuka pintu kamar dan kembali menutupnya setelah masuk. Kenzo melihat keadaan kamar yang kosong, namun pintu balkon terbuka.
Dengan perlahan Kenzo berjalan mendekat dan melihat Zahra yang berdiri sambil menatap langit.
"Sayang," panggil Kenzo memeluk Zahra dari belakang. Tangan Kenzo melingkar erat di perut Zahra.
Kenzo mencondongkan sedikit lagi badannya. Dia dapat melihat pipi sang istri yang basah. Dapat dia tebak, Zahra menangis.
"Kenapa menangis?" tanya Kenzo lembut dengan sebelah tangan mengusap pipi Zahra agar air mata itu menyingkir dari pipi mulus istrinya.
Zahra hanya menggeleng. Bibirnya masih bergetar menahan tangis. Dia juga bingung, mendengar Kevin akan kembali ke Turki, membuat Zahra tidak rela hingga dia bersikap seperti anak kecil begini.
"Jangan dipendam, Sayang," ucap Kenzo lagi.
Zahra langsung berbalik dan memeluk erat Kenzo. Wajahnya tenggelam di dada bidang milik Kenzo untuk menyembunyikan sedihnya.
"Sedih karena Ayah akan pergi?" ucap Kenzo lagi mencoba bertanya pada Zahra.
Zahra mengangguk. Dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa marah seperti ini, Sayang? Ayah pergi untuk mengurusi pekerjaannya, bukan untuk bermain-main atau lainnya," ucap Kevin menjelaskan.
"Kenapa harus pergi? Bukankah pekerjaan bisa diurus dari sini? Kayak Mas kemarin yang bekerja dari rumah sakit," jawab Zahra lirih.
"Ayah pergi bukan untuk tinggal selamanya disana, Sayang. Ayah pasti akan balik lagi kesini. Yang namanya orang pergi, pasti akan kembali, Sayang," ucap Kenzo.
Tapi dalam hidupku, orang yang pergi tidak pernah kembali, Mas. Aku takut mendengar kata pergi. Batin Zahra menjawab.
"Dan juga, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, Sayang. Kamu nggak lihat kemarin aku ke perusahaan karena ada urusan penting?" tanya Kevin yang dianggukki oleh Zahra.
"Begitu juga dengan Ayah, Sayang. Tidak semua pekerjaan Ayah bisa di selesaikan dari sini," lanjut Kenzo memberi penjelasan kepada Zahra.
Dan ada perusahaan kamu yang masih harus Ayah urus, Sayang. Ada amanah yang harus Ayah Kevin jaga. Batin Kenzo.
Zahra mengangkat kepala dan menatap lekat Kenzo yang juga menatapnya. Harusnya aku tidak se egois ini. Aku tahu, Mas, ada perusahaan keluarga kandungku yang harus Ayah urus juga disana. Batin Zahra dengan terus menatap mata Kenzo.
Cup.
Satu kecupan kecil mendarat di bibir merah Zahra. "Jadi, izinkan Ayah ke Turki, Sayang. Kita masih bisa ke sana kapanpun kita mau untuk bertemu Ayah," ucap Kenzo.
Zahra mengangguk. Dia kembali menenggelamkan kepalanya di dada sang suami mencari kenyamanan untuk menenangkan hatinya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏