Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 46



🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini senyum cerah nampak terpancar dari wajah menggemaskan Sela. Pasalnya, ini adalah hari pertama anak itu untuk sekolah TK. Sejak bangun dari tidurnya, senyum tidak henti terbit dari bibirnya.


"Ada yang senang sekali kayaknya, ya," ucap Zahra yang sedang membantu memakaikan seragam TK Sela.


"Halus cenang dong, Buna. Ini hali peltama Cela cekolah," ucap Sela bahagia.


"Buna, nanti jika teman-teman mengejek Cela kalna bicala tidak bagus, bagaimana?" tanya Sela berubah sendu. Karena sampai umur lima tahun ini, Sela memang masih belum bisa mengucapkan kata yang ada huruf s dan r dengan benar. Ini adalah salah satu keterlambatan dalam perkembangan Sela. Dia bisa berjalan dengan cepat, bahkan di umur sepuluh bulan. Tapi dalam hal bicara, Sela termasuk lambat.


Zahra tersenyum menghibur putrinya. "Cara bicara Sela yang seperti ini menggemaskan di telinga Bunda," ucap Zahra.


"Dan satu hal lagi, Nak. Jika Sela mau berusaha untuk bisa, maka tidak akan ada yang sia-sia, Nak," lanjut Zahra menasehati anaknya.


Sela nampak berpikir sebentar. Jika berusaha tidak ada yang sia-sia. Belalti itu telmasuk usaha untuk beltemu Ayah. Batin Sela.


Sela menatap Zahra dan mengangguk dengan senyum mengembangnya. Seragam yang sedikit kebesaran itu tertutup oleh jilbab yang sedada yang Sela gunakan. Anak itu semakin terlihat cantik karenanya.


"Siap berangkat, Sayang?" tanya Zahra berdiri dan menyodorkan tangannya.


Tangan mungil Sela menerima uluran tangan Zahra. "Ayo belangkat," seru Sela dengan bahagianya.


Ibu dan Anak itu keluar dari kamar Sela dan berpamitan dengan Bu Sari yang sedang duduk di ruang tamu. Setelah berpamitan, mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah Sela dengan berjalan kaki.


Lima belas menit berjalan kaki, Zahra dan Sela sampai di depan gerbang sekolah dengan tulisan TK ANUGERAH.


"Antal Cela ke dalam ya, Buna?" pinta Sela dengan puppy eyesnya. Dia takut untuk masuk sendirian. Dan anak itu juga melihat banyak orang tua yang mengantar anaknya pergi sekolah. Ini adalah hari pertamanya, jadi Sela masih takut untuk berkenalan dengan orang baru. Bayangan teman-teman komplek yang tidak mau berteman dengannya berputar di otak Sela.


Zahra mengangguk mengiyakan perkataan Sela. "Ayo kita masuk, Nak," ucap Zahra. Sela mengangguk dan mengikuti langkah kaki Zahra memasuki sekolah. Jangan lupakan Boneka Anna yang selalu dibawa oleh Sela. Boneka itu selalu ada dalam genggaman tangan mungilnya.


"Saya titip Sela ya, Buk Guru," ucap Zahra pada guru Zahra.


"Iya, Mama. Sela, ayo Nak," ucap Buk Guru mengajak Sela.


Sela mengangguk. Dia menatap Zahra dan meminta Zahra untuk mensejajarkan tubuhnya. Zahra menurut, dia bersimpuh di depan Sela dengan kedua lutut sebagai tumpuan. "Kenapa Sayang?" tanya Zahra.


Cup. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Zahra. "Cela cayang Buna," ucap Sela.


Zahra tersenyum senang. "Bunda lebih sayang sama Sela," ucap Zahra.


Sela memeluk Zahra. Anak itu seolah meminta kekuatan dari Zahra untuk menguatkan dirinya. Setelah puas saling berpelukan, akhirnya Sela ikut Buk Guru untuk segera memasuki kelas. Zahra memandangi anaknya dengan perasaan gembira, sedih dan kecewa. Lebih tepatnya kecewa pada dirinya sendiri yang belum bisa memberikan segala yang terbaik untuk putrinya.


Semoga kebaikan selalu bersama kita, Nak. Batin Zahra memandang punggung Sela yang sudah menjauh.


Saat akan berbalik, tidak sengaja Zahra menabrak tubuh seorang anak kecil. "Bruk!" tas yang dipegang oleh anak itu terjatuh.


"Astagfirullahalazim," ucap Zahra kaget. Zahra membantu anak tersebut untuk berdiri dan merapikan kembali jilbabnya yang sedikit berantakan.


"Hati-hati ya, Nak," ucap Zahra lembut.


Anak tersebut mengangkat kepalanya dan tersenyum. Memperlihatkan gigi depannya yang ompong. "Hehe, maaf ya, Tante," ucap anak perempuan tersebut.


Zahra tergelak kecil melihat reaksi anak tersebut, sangat lucu sekali. "Lain kali jangan buru-buru, ya. Untuk sekarang tidak apa-apa kan. Kalau tadi lututnya berdarah bagaimana? Pasti akan sakit nanti," ucap Zahra layaknya mengomeli Sela.


Anak kecil tersebut hanya bengong dan memperhatikan Zahra yang terus berbicara. "Tante seperti Mama, ngomel terus," celetuk anak tersebut yang mampu membuat Zahra langsung terdiam. Zahra memukul pelan bibirnya.


Zahra berbalik dan melangkahkan kakinya untuk segera pergi. Namun langkah kakinya terhenti kala mendengar sebuah suara yang sudah tidak asing baginya.


"Sasha," panggil suara tersebut.


"Iya, Nenek," jawab anak kecil tadi yang menabrak Zahra. Ya, nama anak itu adalah Sasha.


"Kenapa tinggalin Nenek di mobil?" tanya wanita tersebut.


Zahra yang mendengar suara itu berbalik. Badan Zahra menegang melihat seorang wanita yang sangat dia sayangi. Seorang wanita yang sangat dia hormati lebih dari Ibu Kandungnya sendiri. Wanita yang selalu dia jadikan panutan untuk setiap kesabarannya.


"Ini pakaian Sasha kenapa kotor?" tanya wanita tersebut.


"Tadi jatuh, Nenek. Tapi tidak apa-apa kok. Ada Tante baik dan cantik yang bantu Sasha," ucap Sasha memberitahu wanita tersebut.


"Tante baik dan cantik?" tanya Wanita itu memastikan.


Sasha mengangguk. "Tante it-" ucapan Sasha terpotong kala matanya tidak lagi melihat Zahra yang dia kira masih ada di depannya.


"Loh, Tantenya kemana?" tanya Sasha entah pada siapa.


Wanita tersebut mengikuti arah tunjuk cucunya. "Tidak ada siapa-siapa, Sha," ucap wanita tersebut.


"Tadi ada, Nek," ucap Sasha kekeuh.


"Jangan halu. Sekarang kita ke kelas Sasha," ucap wanita tersebut.


Sasha dengan mata kesal menatap Neneknya karena dibilang halu. "Nanti matanya dicolok," ucap wanita tersebut.


"Hehe, maaf Nenek cantik," ucap anak tersebut. Mereka berjalan menyusuri koridor dan segara pergi ke kelas Sasha.


Zahra yang bersembunyi dibalik dinding memegang dadanya yang terasa sesak, senang, sekaligus sedih. Ingin sekali di memeluk wanita tersebut. Ingin sekali dia menangis dipelukan wanita itu.


"Umi," panggil Zahra lirih memegang dadanya sambil memejamkan mata. Seolah dia merasakan Dee tengah memeluknya saat ini.


Ya, wanita itu ada Dee. Wanita yang sangat Zahra sayangi. Air mata Zahra mengalir begitu saja tanpa bisa dia cegah. Rasa rindu yang sudah lama dia tahan akhirnya kini sedikit terobati. Meskipun belum sepenuhnya, tapi Zahra bersyukur bahwa Umi yang sangat dia sayangi dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa tadi itu anaknya Kina?" tanya Zahra entah pada siapa.


"Sangat cantik sekali. Sama seperti Adek, cerewet dan periang," monolog Zahra pada dirinya sendiri.


"Bukan, dia cantik seperti Tantenya."


DEG


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Maaf ya teman-teman, untuk visual di part berikutnya ya, author belum sempat cari, jangan marah teman-teman 🙏🙏🥰


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍